LOGINWaktu berjalan begitu cepat bagaikan aliran air yang tenang. Hari-hari yang dilalui Arunika di rumah 'Aman' perlahan mengubah seluruh auranya. Luka, tekanan batin, dan bayang-bayang masa lalu yang kelam bersama keluarga Gantara berangsur-angsur sirna tanpa sisa. Paras Arunika kini tampak jauh lebih segar, bersih, dan memancarkan ketenangan yang teramat anggun.Pagi itu, pendar sinar matahari hangat menembus kaca ruang tamu. Arunika duduk berselonjor di atas karpet bulu yang empuk, sedang asyik bermain bersama Bintang. Bayi mungil berumur dua bulan lebih satu minggu itu kini bertambah gempal, menggemaskan, dan makin pintar melontarkan celotehan polos yang memanjakan telinga.Di sudut lain ruang tamu, Bu Tami berdiri diam-diam memegang ponselnya, mengabadikan momen manis antara ibu dan anak itu dari jarak jauh untuk dikirimkan secara berkala kepada Altair.Srettt.Mira yang mendadak muncul dari balik lorong dapur menyenggol pelan bahu Bu Tami. Matanya melirik layar ponsel sang asisten r
Langkah kaki Gantara dan Steffi terdengar terburu-buru menelusuri lorong berkarpet tebal di salah satu hotel bintang empat. Tubuh David yang sudah berada dalam kondisi tidak sadarkan diri diangkut dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan kecurigaan staf hotel. Dengan cekatan, Gantara menempelkan kartu akses kamar yang telah dipesan sebelumnya, menyibak pintu, lalu menyeret tubuh tegap David masuk ke dalam.Tanpa membuang waktu, Gantara melucuti kemeja dan pakaian David, menyisakan kondisi yang sangat kompromistis. Ia kemudian membopong tubuh David dan membaringkannya di atas ranjang berseprai putih.Setelah situasi kamar siap, Steffi memberi isyarat kepada seorang wanita sewaan yang sudah menunggu di luar untuk segera masuk. Wanita bayaran itu diminta menanggalkan pakaian luarnya, menyisakan posisi di mana bahu mulusnya terekspos sempurna di atas selimut tebal, memberi kesan kuat seolah-olah ia baru saja menghabiskan malam intim bersama David."Ganti posisimu, tempelkan badan
Suasana malam di kamar utama rumah 'Aman' terasa amat tenang. Namun, raut wajah Arunika tampak teramat serius saat menempelkan ponselnya ke telinga. Suara bariton nan dingin milik Altair terdengar dari seberang sambungan internasional. "Arunika... dengarkan saya baik-baik," pukas Altair dengan nada tegas yang begitu berhati-hati. "Jika suatu hari nanti di saat saya belum kembali, Alice secara tidak terduga berhasil menemukan kamu dan bertanya apakah kamu mengenal saya... kamu cukup menjawab tidak kenal." Arunika menggenggam ponselnya makin erat, mendengarkan setiap instruksi dengan saksama. "Jika dia sampai menunjukkan foto saya kepada kamu... kamu cukup menjawab, 'Oh, saya pernah bertemu dengan pria ini satu kali. Waktu itu beliau menolong saya saat saya hampir jatuh di pinggir jalan.' Hanya itu. Jangan tambahkan informasi apa pun lagi," lanjut Altair memberikan arahan yang amat presisi. Arunika menghembuskan napas pelan. "Baik, Pak Al... Saya mengerti." "Semua instruksi ini s
Beberapa hari sebelum hari kebebasan Arunika...Suasana ruang kerja Altair di lantai atas gedung pencakar langit pusat kota terasa amat hening dan serius. Cahaya matahari sore memantul dari kaca jendela besar, menyinari meja mahoni tempat sang CEO sedang mencermati beberapa lembar dokumen.TOK! TOK!Pintu ruangan terketuk. Arjuna melangkah masuk membawa sebuah folder cokelat tebal dan sebuah tablet digital di tangannya. Wajah asisten kepercayaan Altair itu tampak amat tegang, memendam informasi penting yang siap digulirkan."Bos... saya sudah mendapatkan bukti dari penyelidikan yang Bos minta terkait istri dari Tuan David Albara," ujar Arjuna seraya mengulurkan folder cokelat tersebut dan menyiapkan rekaman video di layar tabletnya.Altair menerima berkas itu, menyingkap lembar demi lembar foto berresolusi tinggi di dalamnya. Matanya memicing tajam. Rekaman video di tablet yang kemudian diputar Arjuna memang bukanlah video intim tingkat ekstrem yang melanggar hukum, tidak sejauh itu.
Suasana rumah 'Aman' menyambut kedatangan mereka dengan kedamaian yang begitu menyejukkan. Langkah kaki Arunika melangkah perlahan ke dalam ruang tamu, disusul Altair yang berjalan tegap di sampingnya.Melihat Arunika memberi isyarat ingin bicara, Mira dengan sigap mengambil alih Bintang dari dalam dekapan. Bayi berumur dua bulan itu sungguh sangat baik budi dan menggemaskan, sama sekali tidak rewel, hanya mengedipkan matanya yang bulat tenang dalam gendongan Mira."Saya bawa ke dalam dulu ya, Bu Bos," bisik Mira pamit dengan kedipan mata jahil, membawa Bintang ke area kamar bawah.Setelah langkah Mira menghilang di balik lorong, Arunika memutar tubuhnya, menatap Altair yang berdiri anggun."Terima kasih banyak untuk hari ini, Pak Al..." ujar Arunika tulus membuka suara.Altair menatap mata indah wanita di hadapannya, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang teramat tipis."Kamu tidak mungkin menahan saya di sini hanya untuk mengucapkan terima kasih saja, kan?"Arunika tersenyum kecil.
Sore itu, suasana hati Alice benar-benar berada di titik terendah usai menyelesaikan rapat bisnis bersama mitra lokal Chantika Skincare. Pertemuan yang sejujurnya teramat membosankan dan menyita energi itu terpaksa ia jalani demi menjaga citra publiknya.Namun, bukannya langsung pulang ke rumah, Alice melangkah cepat menuju area parkir basemen yang temaram. Ia masuk ke dalam kabin sedan hitam bertitik kaca gelap yang sudah menunggu di sudut sepi.Begitu pintu mobil tertutup rapat, raut wajah Alice seketika berubah masam dan penuh kekesalan. Dengan nada ketus dan tajam, ia langsung menyemprot pria ber-hoodie hitam yang duduk di kursi kemudi."Apa lagi kali ini?!" ketus Alice tanpa basa-basi."Bukankah aku sudah menegaskan padamu, aku sendiri yang akan memastikan Altair tidak akan pernah melakukan adopsi anak?!"Pria bertopeng hoodie itu tidak langsung menjawab. Dari pantauan kaca spion tengah, ia hanya terkekeh sinis, lalu melempar amplop cokelat berisi beberapa lembar foto cetak ke pa







