Share

Perlahan terungkap

Alurnya maju mundur ya teman-teman. Lanjutan dari part sebelumnya. 

Aku sudah ada janji dengan Feni untuk sarapan bubur ayam di warung Mas Tejo. Aku bersiap berangkat ke butik. Seperti biasa pakaianku sudah di siapkan di atas tempat tidur oleh Gina. Kami tidak mempunyai asisten rumah tangga yang menginap. Hanya ada orang yang membantu membersihkan rumah, mencuci, dan menyetrika pakaian kami secara harian dan tidak menginap, dia bekerja dari pagi sampai siang. Sedangkan untuk urusan memasak, Gina lah yang mengurusnya. Karena sedari kecil dia pandai memasak.

Aku sudah terlanjur janji pada Feni. Kalau tidak di turuti bisa-bisa dia marah. Bergegas aku berangkat.

"Mas, kok buru-buru?" tanya Gina kepadaku.

"Iya, di butik aku harus briefing karyawan baru dulu," jawabku asal. Tentu saja kalian tahu kalau aku bohong.

"Sejak kapan ada karyawan baru di butik kita, Mas?" tanya Gina lagi. 

"Ya, kan produk dan barang yang kita jual bertambah banyak. Otomatis karyawan yang ada kewalahan. Tidak ada salahnya toh kita merekrut karyawan baru." Aku berkilah.

"Kamu kok nggak bilang sama aku, Mas?" protes Gina.

"Halah kelamaan minta persetujuan dari kamu. Sudah, ah! Pagi-pagi sudah mengajakku berdebat! Bikin pusing tahu nggak!" Aku beranjak langsung meninggalkan ruang makan.

"Mas, rantang bekalnya!" teriak Gina yang menyusul sambil menyodorkan rantang bersusun.

"Ya". Dengan malas aku mengambilnya. Sebenarnya aku enggan makan makanan ini. Ah nanti lebih baik ku berikan karyawanku atau ku buang saja. Simpel kan!

Aku langsung meninggalkan Gina yang masih terpaku di muka pintu. Dan segera melajukan mobilku untuk menjemput kekasih hatiku tersayang.

Sesampainya di rumah Feni, lebih tepatnya rumah yang kubelikan untuknya secara kredit dengan cicilan yang rendah karena hanya rumah sederhana dengan tipe 36 plus yang memiliki dua kamar tidur. Aku bilang pada Feni kalau aku membelinya secara tunai. Gengsi dong masa aku harus bilang jujur kalau aku menyicil.

Feni rupanya sudah menunggu di luar rumah. Penampilannya pagi ini begitu mempesona. Langsung saja dia naik ke mobilku.

Kami menuju warung bubur ayam Mas Tejo. Warung sederhana sebenarnya. Tetapi rasanya enak. Apalagi di makan bareng dengan selingkuhan. Hahaha.

Hari ini aku memutuskan untuk tidak ngantor. Malas sekali. Lebih baik aku bersenang-senang dengan Feni. Oh ya, aku ingat bekal dari Gina. Lebih baik ku buang saja. Malas sekali memakan bekal darinya.

"Mas, kok berhenti?" tanya Feni dengan heran. 

"Sebentar, Sayang. Mas mau buang sampah dulu." Aku segera mengambil rantang bekal dari Gina yang sudah dibungkus dengan plastik hitam sebelumnya. Nanti aku bilang saja ke Gina kalau rantangnya hilang karena aku lupa dimana menaruhnya. 

Setelah membuang 'sampah' tersebut. Aku menemani Feni berbelanja kebutuhan sehari-hari dan baju di mall. Kami seperti pasangan muda yang sedang di mabuk asmara. Bergandengan tangan erat dan saling memeluk pinggang. Setelah itu, kami memutuskan untuk ke hotel. Kalian tahukan setelah ini apa yang kami lakukan.

Flasback selesai.

* * *

Tika pulang ke rumah di antar dengan Ibu. Aku sibuk menonton televisi. Sebenarnya aku tidak memperhatikan siarannya. Pikiranku resah dan tenggelam mengingat Gina. Ya Allah. Kenapa baru sekarang aku tersadar, betapa aku sesungguhnya mencintai Gina. Selama beberapa tahun ini aku mengabaikannya, selingkuh dengan beberapa wanita. Karena kulihat Gina sudah tidak cantik lagi dan makin menua. Istilahnya aku ini mengalami puber kedua. Hingga hampir setahun belakangan ini aku dengan Feni. Yang begitu kumanjakan hingga tanpa sadar aku telah menguras harta Gina.

Kulirik Tika dan Ibu ribut-ribut turun dari lantai dua. Kudengar pembicaraan mereka, apa sih yang mereka bicarakan!

"Kok bisa hilang sih Nek sertifikat rumah ini?" tanya Tika kepada Neneknya. 

"Nenek juga nggak tahu, Tik. Emang kamu ada memindahkannya?" tanya Neneknya Tika balik.

"Nggak ada, Nek. Kan surat berharga dan perhiasan Mama di taruh di brankas di kamar Mama dan Papa," jawab Tika dengan ragu.

Aku tepok jidat. Kok bisa sih mereka tiba-tiba mencari sertifikat rumah? Selama ini bukannya mereka acuh tak acuh dengan harta Gina? Ngapain juga sih Ibu mencari-cari segala! Lha wong harta Ibu dan Bapak tidak akan habis tujuh turunan. Masa cuma rumah ini aja mereka permasalahkan! 

Sejurus kemudian Ibu menatapku dengan curiga. Sedangkan aku yang di tatap pura-pura tidak tahu.

"Riko, kamu tahu dimana sertifikat rumah ini?" tanya Ibu dengan tatapan matanya yang tajam. 

"Ng, nggak, Bu. Riko nggak tahu!" jawabku gugup.

"Jangan bohong kamu! Itu kan kamar kamu. Yang tahu barang-barang di sana kan cuma kamu!" 

"Lagipula Ibu juga nggak sopan! Pakai masuk segala ke kamar Riko tanpa izin!"

"Heh, menantu gila!" hardik Ibu dengan berkacak pinggang. "Siapa sih yang sebenarnya nggak tahu etika dan sopan santun! Aku atau kamu! Kamu juga nggak ada izin memasukkan wanita lain ke kamar Gina. Pakai acara berzina segala. Cuih!! Aku sebenarnya malas menganggap kamu sebagai menantu lagi!"

"Papa harusnya juga sadar. Kalau kakek belum menendang Papa dari rumah ini. Tapi tunggu tanggal mainnya, Pa. Kakek nggak akan membiarkan Papa hidup tenang bersama gundik Papa itu!" sahut Tika yang membuatku terbelalak. 

"Apa maksud perkataan kamu, Tika? Kamu tuh ya yang sopan berkata pada orangtua!" jawabku dengan penuh emosi.

"Huh! Semenjak Papa selingkuh, sudah hilang rasa hormatku padamu! Apa Papa tahu kalau sebenarnya Feni itu..." balas Tika sambil terdiam memenggal kalimatnya.

"Sebenarnya apa? Cih! Anak kecil macam kamu tahu apa sih!" bantahku geram.

* *

Kira-kira apa ya yang mau di ucapkan Tika ke Papanya? Tunggu kelanjutannya ya teman-teman. ❤

 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status