MasukRuang rapat privat di lantai tiga puluh itu beraroma cerutu mahal yang menyesakkan. Dewa duduk di kursi kebesarannya dengan rahang mengeras, sementara di seberang meja, Tuan Baskoro—seorang taipan minyak yang dikenal sebagai "predator" di bursa saham—menyandarkan punggungnya dengan angkuh.Dewa butuh suntikan modal dari konsorsium Baskoro untuk membentengi Dewangga Corp dari serangan susulan Barata. Namun, Baskoro bukan sedang bernegosiasi bisnis; ia sedang menikmati posisi tawarnya yang di atas angin."Dewa, Dewa... kamu ini masih muda, terlalu idealis," Baskoro tertawa, suaranya parau dan merendahkan. "Kamu butuh uang saya, tapi kamu bicara soal etika lingkungan? Di dunia ini, yang hijau itu cuma dollar, bukan pohon."Chika masuk dengan kepala menunduk, membawa baki berisi dokumen audit tambahan dan segelas wiski pesanan tamu tersebut. Kacamata besarnya sengaja ia turunkan sedikit agar menutupi sebagian besar wajahnya."Lama sekali, Cantik," celetuk Baskoro saat Chika meletakkan gel
Dingin. Itulah satu-satunya kata yang bisa menggambarkan atmosfer di apartemen The Penthouse pagi ini. Kehangatan nasi goreng gila dan pengakuan tentang mimpi semalam menguap begitu saja, digantikan oleh tembok es yang lebih tebal dari sebelumnya. Penemuan foto tua itu—foto Dean Adiwangsa dan mendiang ibu Dewa—telah mengubah segalanya.Dewa berangkat ke kantor lebih awal tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Chika yang terpaku menatap sisa-sisa sketsa arsitektur di meja perpustakaan.Pukul sepuluh pagi, Chika terpaksa turun ke lantai tiga puluh lewat lorong rahasia. Ia mengenakan seragam administratifnya, namun kacamata besarnya kembali ia pakai sebagai perisai. Saat ia melangkah keluar dari lift servis, pemandangan di depan meja Rahmat membuatnya berhenti bernapas.Seorang wanita dengan gaun bodycon berwarna krem setinggi lutut sedang berdiri angkuh sambil mengikir kukunya. Rambutnya pirang abu-abu hasil salon kelas atas, dan aroma parfumnya—Baccarat Rouge—menyengat hidung bahkan dari
Apartemen The Penthouse di jam dua pagi terasa seperti akuarium raksasa yang sunyi. Cahaya lampu kota dari balik jendela kaca raksasa memantul di lantai marmer, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari mengikuti gerak awan. Dewa sudah masuk ke kamar utamanya setelah sesi "nasi goreng gila" yang ganjil itu, meninggalkan Chika sendirian di ruang tengah yang luas. Chika tidak bisa tidur. Adrenalin dari ancaman detektif Argo dan sisa kehangatan dari sentuhan tangan Dewa tadi masih menyengat saraf-sarafnya. Ia berjalan menuju perpustakaan pribadi Dewa yang terletak di sayap kiri apartemen. Ruangan itu berdinding kayu jati gelap, penuh dengan buku-buku tebal tentang makroekonomi, biografi tokoh dunia, dan tumpukan majalah bisnis internasional. Di sudut ruangan, sebuah meja kerja kecil tampak berdebu, seolah jarang disentuh. Di atasnya, tersampir sebuah seragam biru OG Dewangga Corp yang masih bersih—seragam cadangan milik Chika yang dibawa Rahmat semalam. Chika mengusap kain p
Gedung apartemen The Penthouse berdiri angkuh tepat di sebelah gedung kantor Dewangga Corp, dihubungkan oleh lorong bawah tanah eksklusif yang hanya bisa diakses oleh pemilik unit tertinggi. Di sinilah Chika sekarang—berdiri di tengah ruang tamu minimalis yang didominasi warna abu-abu dan kaca. Apartemen Dewa sangat mencerminkan pemiliknya: luas, dingin, sangat teratur, dan sedikit angkuh.Di dinding ruang tamu, sebuah layar monitor besar menampilkan live feed dari beberapa kamera tersembunyi yang dipasang Rahmat di area parkir dan lobi kantor. Chika menatap layar itu dengan perasaan tidak menentu.Di layar, ia melihat Dewa keluar dari lobi utama. Pria itu tampak sangat tampan dengan setelan jas hitam tanpa dasi. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan gaun merah menyala dan tas branded keluaran terbaru sedang menggandeng lengannya dengan mesra."Sherly," gumam Chika lirih.Ia mengenali wanita itu. Sherly adalah putri dari pemilik bank swasta besar, salah satu teman lama Chika di
Cahaya fajar yang merayap masuk dari celah tirai kantor tidak pernah terasa seberat ini bagi Chika. Ia kini tidak lagi mengenakan seragam biru OG-nya. Sebagai gantinya, ia memakai kemeja oversized putih dan celana bahan berwarna krem—pakaian yang dibelikan Rahmat atas perintah Dewa agar ia tampak seperti staf administrasi biasa.Namun, identitas barunya sebagai "asisten bayangan" di ruangan Dewa justru membuatnya merasa lebih terkurung daripada saat ia memegang sapu."Fokus, Chika. Kalau angka ini tidak sinkron, Barata punya celah untuk menggugat balik di pengadilan niaga minggu depan," suara Dewa memecah lamunan Chika.Dewa duduk di kursi kebesarannya, sementara Chika duduk di meja kecil di sudut ruangan yang kini dipenuhi laptop dan berkas-berkas audit. Sejak insiden di ruang arsip kemarin, suasana di antara mereka berubah. Ada profesionalisme yang sangat kaku, namun sesekali, saat mata mereka bertemu, bayangan napas yang beradu di ruang sempit itu kembali menghantui.Tiba-tiba, pon
Dunia seolah berhenti berputar bagi Chika. Suara langkah sepatu pantofel yang tegas terdengar bergema di koridor luar, semakin mendekat ke arah pintu jati ruang kerja Dewa. Itu adalah irama langkah yang sangat ia kenal—langkah kaki Dion Adiwangsa, pria yang tidak pernah menerima kata "tidak" dan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan."Sembunyi," bisik Dewa tajam.Chika panik. Matanya menyapu ruangan. Kolong meja kerja Dewa terlalu terbuka. Lemari buku? Terlalu sempit. Satu-satunya jalan keluar adalah pintu samping yang menghubungkan ruang kerja langsung ke ruang arsip pribadi Dewa yang kedap suara.Tanpa membuang waktu, Chika melesat masuk ke ruang arsip tersebut tepat saat pintu depan ruangan Dewa terbuka dengan dentuman pelan namun mengintimidasi.Klik.Chika menutup pintu ruang arsip dari dalam. Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya biru dari indikator mesin penghancur kertas dan barisan rak besi yang penuh dengan map rahasia. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia taku
Satu minggu setelah Aurora menjemput Darius pulang, sebuah pertemuan yang selama ini mustahil terjadi akhirnya terlaksana. Di beranda belakang rumah keluarga Harrison, tempat Marion dulu sering menghabiskan sorenya, dua pria yang pernah saling menghancurkan kini duduk berhadapan. Hening menyelimuti
Apartemen Darius biasanya terasa seperti pelarian yang sempurna bagi Aurora. Namun malam ini, setelah status mereka resmi menjadi suami istri, ruangan itu terasa terlalu luas dan terlalu sunyi. Tidak ada perayaan mewah. Darius hanya memesan makanan dari restoran steak tempat mereka pertama kali ber
Pagi itu, aroma rumah sakit terasa lebih menyesakkan dari biasanya. Hasil tes kecocokan sumsum tulang belakang sudah keluar. Darius berdiri di lorong, menunggu Dean yang sedang berbicara dengan dokter di dalam ruangan. Ketika pintu terbuka, wajah Dean tidak menunjukkan kebahagiaan, melainkan sebuah
Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan bagi setiap wanita, terasa seperti sebuah upacara pemakaman bagi Aurora. Tidak ada gaun putih megah dengan ekor panjang, tidak ada dekorasi bunga lili yang harum, dan tidak ada riuh rendah sanak saudara. Hanya ada dinding bercat putih gading kantor ur







