ログインSinar matahari pagi yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit menyentuh kelopak mata Chika, memaksanya terbangun. Ia mengerjap, menyadari dirinya tidak terbangun di atas kasur busa tipis kos-kosannya, melainkan di atas sofa kulit Italia yang empuk. Dan yang lebih mengejutkan, sebuah jas wol berwarna charcoal—yang baunya sangat maskulin dan akrab—menyelimuti tubuhnya.Chika terduduk tegak, jantungnya berpacu. Ia melirik ke arah meja kerja. Dewa sudah di sana, duduk rapi dengan kemeja baru yang entah kapan ia ambil dari ruang ganti pribadinya. Pria itu sedang menyesap kopi, matanya tertuju pada layar tablet seolah insiden "cokelat murah" semalam tidak pernah terjadi."Sudah bangun?" tanya Dewa tanpa menoleh. Suaranya kembali dingin, namun tidak setajam biasanya.Chika segera berdiri, merapikan seragam birunya yang kusut. "Maaf, Pak. Saya... saya ketiduran. Harusnya saya tidak boleh di sini.""Kamu memang tidak boleh di sini kalau hanya untuk tidur," Dewa meletakkan tabletnya dan
Malam di lantai tiga puluh biasanya hanya menyisakan kegelapan yang dipantulkan oleh gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Namun bagi Chika, malam ini adalah lembur paksa. Bukan karena perintah Dewa, melainkan karena kesalahannya sendiri yang menumpahkan sebotol tinta printer di atas karpet ruang arsip saat mencoba merapikan berkas yang diminta Rahmat.Setelah hampir dua jam berlutut dan menggosok karpet hingga tangannya memerah, Chika akhirnya menyerah. Ia berjalan menuju pantry untuk mencuci tangannya yang bernoda hitam. Saat melewati koridor menuju ruang kerja Dewa, ia melihat cahaya redup merayap dari balik pintu jati yang sedikit terbuka.Jam satu pagi? Dia masih di sini?Chika berniat lewat begitu saja. Urusan Dewa bukan urusannya. Namun, sebuah suara aneh menghentikan langkahnya. Bukan suara ketikan keyboard atau gumaman telepon, melainkan suara napas yang pendek dan berat, diikuti bunyi denting kaca yang bersentuhan dengan meja.Didorong oleh rasa ingin tahu yang lebih besar
Pagi itu, suasana di ruang kerja Dewa terasa lebih berat dari biasanya. Chika masuk dengan langkah waspada, membawa nampan berisi kopi hitam tanpa gula—persis seperti yang Dewa minta sejak insiden "Ujian Kafein".Dewa tidak ada di kursinya. Pintu ruang rapat pribadinya terbuka sedikit, menunjukkan bahwa pria itu sedang menerima telepon penting. Chika bernapas lega, setidaknya ia punya waktu lima menit untuk membersihkan meja tanpa harus merasa diawasi oleh sepasang mata elang itu.Namun, saat ia hendak mengangkat tumpukan berkas yang berserakan, matanya tertuju pada sesuatu yang sangat tidak biasa.Di sudut meja, tergeletak sebuah jam tangan Patek Philippe—bukan yang ia kenali kemarin, tapi seri yang jauh lebih langka. Di sampingnya, sebuah dompet kulit buaya terbuka, memperlihatkan tumpukan uang tunai pecahan seratus ribu yang sangat tebal, serta kartu kredit Black Card yang tergeletak begitu saja.Chika mematung. Ini gila. Orang se'epik Dewangga tidak mungkin seceroboh ini meninggal
Jakarta sore itu seolah sedang ingin menumpahkan seluruh kemarahannya. Langit yang tadinya hanya abu-abu mendadak pekat, lalu dalam hitungan menit, hujan deras mengguyur aspal ibu kota dengan intensitas yang membutakan. Bunyi petir bersahutan, menggetarkan kaca-kaca jendela di lantai tiga puluh Dewangga Corp.Chika berdiri di lobi samping, menatap deretan air yang jatuh seperti tirai raksasa. Ia baru saja menyelesaikan shifnya. Tubuhnya terasa remuk setelah seharian berkutat dengan tumpukan berkas teknis yang diberikan Dewa-sebuah "tugas tambahan" yang sebenarnya adalah ujian terselubung."Sial, payung gue ketinggalan di loker," gumam Chika pada diri sendiri.Ia melirik jam tangannya-bukan jam tangan mewah kemarin, melainkan jam digital murah yang baru ia beli di pasar malam agar tidak memancing kecurigaan lagi. Sudah jam setengah enam sore. Angkutan umum pasti akan penuh sesak, dan di cuaca seperti ini, mencari ojek online adalah sebuah kemustahilan.Chika menarik napas panjang, mena
Setelah insiden di lobi yang nyaris membongkar kedoknya, Chika memutuskan untuk tampil "low profile" se-ekstrem mungkin. Ia sengaja memakai kacamata berbingkai hitam besar yang membuat wajahnya terlihat lebih culun dan mengikat rambutnya dalam gelungan yang sangat berantakan. Ia ingin Dewa-dan seluruh dunia-melupakan bahwa seorang OG pernah memakai jam tangan mewah.Pagi ini, Chika bertugas membersihkan area lobi belakang dekat pos keamanan, sebuah area yang jarang dilalui oleh petinggi kantor. Di sana, ia melihat Pak Satrio, satpam senior yang biasanya ramah, sedang duduk lesu di bangku kayu sambil menatap layar ponselnya dengan wajah frustrasi."Pak Satrio, kok lemes gitu? Belum sarapan?" tanya Chika sambil mulai mengelap deretan kursi di dekat pos.Pak Satrio mendesah berat. "Eh, Mbak Chika. Ini lho, Mbak. Saya lagi pusing liat porto saham. Tabungan buat anak masuk kuliah malah makin merah warnanya. Kata orang-orang di grup WhatsApp, saham teknologi lagi bagus, tapi kok punya saya
Pagi di Dewangga Corp biasanya berjalan seperti jam Swiss—presisi, dingin, dan tanpa cela. Namun bagi Chika, setiap detik di gedung ini kini terasa seperti berjalan di atas hamparan kulit telur. Permintaan Dewa soal dokumen identitas asli kemarin masih menghantuinya. Ia tahu, alasan "ijazah tertinggal di kediaman lama" hanya akan bertahan sebentar sebelum Sang Kulkas Berjalan itu mulai melakukan audit latar belakang yang lebih dalam."Chika! Jangan bengong aja. Itu lobi depan kena tumpahan kopi tamu, buruan bersihin sebelum Pak Dewa turun!" tegur seorang petugas keamanan.Chika tersentak dari lamunannya. Ia menarik masker medisnya hingga menutupi hidung dan menurunkan topi seragam birunya serendah mungkin. "Iya, Pak. Siap."Ia menarik troli kebersihan menuju lobi utama yang megah. Aroma parfum mahal dan suara denting sepatu hak tinggi bergema di sana. Chika baru saja hendak menumpahkan cairan pembersih ke lantai marmer saat sebuah suara melengking menghentikan aliran darah di nadinya.
Dean Harisson, ayah Aurora setiap hari berkeliling kota mencari putrinya yang kabur dari rumah. Dean meninggalkan pekerjaannya hanya untuk fokus mencari putri semata wayangnya tersebut.Sebenarnya Dean bisa hanya menyuruh anak buahnya saja untuk mencari Aurora. Tapi rasa sayangnya terhadap putrinya
Di dalam kantor Darius memandangi foto selfie dirinya dan Aurora. Pria itu tersenyum sendiri, apakah secepat itu semua ini akan berakhir?Entah kenapa hatinya terasa seperti sedikit diremas saat membayangkan bahwa Aurora tidak akan lagi bersama dirinya. Tapi dia harus melakukan demi masa depan Auro
Sudah seminggu Aurora tinggal di rumah Darius. Sejak melihat drama rumah tangga itu. Sekarang Aurora rajin bangun pagi. Gadis itu sudah ada di dapur begitu Darius keluar dari kamar."Lagi apa, Ra?" tanya Darius."Lagi bikinin kopi buat, Om."Darius terheran. Rupanya karena drama rumah tangga dampak
Suasana di dalam mobil malam ini begitu tenang. Baru kali ini mereka setenang ini saat bersama. Biasanya Aurora akan seperti chanel radio yang tidak pernah berhenti siaran.Meski Aurora setuju, entah kenapa hatinya begitu berat meninggalkan Darius. Bagi Darius pun sama. Padahal mereka belum lama ke







