Se connecterPagi itu datang terlalu cepat.Ravika bahkan merasa baru saja memejamkan mata ketika alarm berbunyi.Untuk beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar.Lalu ingat.Hari ini.Hari keberangkatan Arven.Dadanya langsung terasa berat lagi.Namun ia segera bangun.Karena ia tidak ingin menghabiskan pagi itu dengan menangis.Ia ingin mengingatnya dengan baik.Saat keluar kamar, suasana kos masih lebih sepi dari biasanya.Namun lampu dapur sudah menyala.Dan tentu saja—Arven sudah bangun.Tas besar berada di dekat pintu.Pemandangan itu langsung membuat semuanya terasa nyata.Benar-benar nyata."Pagi."kata Arven pelan."Pagi."Mereka saling tersenyum.Sedikit canggung.Sedikit sedih.Namun sama-sama berusaha terlihat tenang.Sarapan pagi berlangsung sederhana.Namun entah kenapa—semua orang yang biasanya ribut justru menjadi jauh lebih pendiam.Bahkan Bima.Yang merupakan tanda bahwa situasinya memang serius."Kok diem?"tanya Ravika.Bima mengaduk makanannya pelan."Saya sedang b
Pagi itu datang dengan cara yang berbeda.Bukan karena cuacanya.Bukan karena suasana kos.Melainkan karena Ravika bangun dengan satu kesadaran yang terus mengganggu pikirannya.Besok.Besok Arven berangkat.Bukan minggu depan.Bukan beberapa hari lagi.Besok.Dan untuk pertama kalinya sejak keputusan itu dibuat,kata itu terasa sangat nyata.Saat keluar kamar, Ravika melihat dapur masih sepi.Namun aroma kopi sudah memenuhi ruangan.Dan seperti yang ia duga—Arven ada di sana.Sedang berdiri di depan kompor sambil membuat dua cangkir kopi."Pagi."katanya saat melihat Ravika."Pagi."Tidak ada yang menyebut soal besok.Belum.Karena keduanya sama-sama tahu.Dan tidak ingin pagi itu langsung dipenuhi kesedihan.Hari ini adalah hari yang mereka janjikan.Hari terakhir sebelum keberangkatan.Hari yang ingin mereka habiskan dengan baik.Setelah sarapan sederhana, mereka pun berangkat.Bukan ke tempat mewah.Bukan ke restoran mahal.Bukan juga ke lokasi wisata terkenal.Mereka hanya pergi
Hari-hari berikutnya berlalu jauh lebih cepat dari yang dibayangkan Ravika.Terlalu cepat.Seolah waktu tahu bahwa mereka sedang berusaha menikmatinya.Dan karena itu—waktu sengaja berlari.Satu minggu tersisa.Lalu lima hari.Empat hari.Dan setiap kali Ravika melihat kalender,lingkaran merah itu terasa semakin dekat.Namun anehnya—ia tidak lagi menghitung hari dengan kesedihan yang sama seperti sebelumnya.Karena setelah beberapa malam berpikir,ia menyadari satu hal.Jika terus fokus pada hari keberangkatan,ia akan kehilangan kesempatan menikmati hari-hari yang masih ada.Jadi ia memutuskan sesuatu."Mulai hari ini."katanya suatu pagi.Semua orang yang sedang sarapan langsung menoleh."Apa lagi?"tanya Bima curiga."Kita bikin minggu terakhir yang menyenangkan.""Definisi menyenangkan?""Pokoknya nggak boleh murung."Bima mengangkat tangan."Saya mendukung.""Lo bahkan belum dengar rencananya.""Saya mendukung secara emosional."Suasana langsung dipenuhi tawa.Dan sejak hari i
Setelah keputusan itu dibuat, semuanya terasa berbeda.Aneh.Padahal Arven masih ada di kos.Masih berangkat kerja dari tempat yang sama.Masih duduk di teras setiap malam.Masih membuat teh saat hujan turun.Namun sekarang—ada tanggal keberangkatan yang terus mendekat.Dan tanpa sadar,Ravika kembali melakukan kebiasaan lama.Menghitung hari.Pagi itu ia berdiri di depan kalender yang menempel di dinding dapur.Matanya berhenti pada satu tanggal yang sudah diberi lingkaran kecil.Dua minggu lagi.Hanya dua minggu."Kenapa lihat kalender terus?"Suara Arven membuatnya menoleh."Nggak kenapa-kenapa.""Bohong.""Sedikit."Arven tersenyum kecil.Karena sekarang ia sudah cukup mengenal Ravika.Kalau jawabannya "sedikit", biasanya artinya "banyak".Mereka akhirnya sarapan bersama seperti biasa.Namun kali ini Ravika lebih banyak diam.Bukan karena sedih.Lebih karena sedang berpikir.Tentang dua minggu yang tersisa.Tentang waktu yang terasa terlalu cepat.Dan tentang semua hal yang belum
Dua hari berlalu sejak pembicaraan itu. Dua hari yang terasa lebih panjang dari biasanya. Bagi Ravika. Bagi Arven. Dan entah kenapa— juga bagi Bima yang sama sekali tidak terlibat. "Aku ikut stres." katanya pagi itu. "Kenapa?" tanya Ravika. "Karena suasana kos kayak nunggu hasil ujian nasional." "Itu lebay." "Tapi bener." Dan untuk sekali ini— tidak ada yang membantah. Karena memang benar. Sebuah keputusan sedang menunggu. Dan semakin lama ditunda— semakin berat rasanya. Siang hari itu Arven dipanggil kembali oleh atasannya. Bukan rapat panjang. Bukan evaluasi. Hanya satu pertanyaan sederhana. "Sudah dipikirkan?" Arven duduk diam beberapa saat. Lalu mengangguk. "Sudah." "Dan?" Untuk sesaat— bayangan banyak hal melintas di kepalanya. Kos. Ruang tengah. Teras malam hari. Ravika yang selalu menunggunya pulang. Bima yang berisik setiap pagi. Dan juga masa depan yang sedang menunggu di depan sana. Arven menarik napas perlahan. "Saya terima." Kalimat itu
Setelah malam ketika Arven menceritakan tawaran penugasan itu, suasana kos berubah sedikit.Tidak ada yang mengatakannya secara terang-terangan.Namun semua orang tahu.Ada sebuah keputusan besar yang sedang menunggu.Dan keputusan itu bukan hanya akan memengaruhi Arven.Tapi juga Ravika.Dan sedikit banyak—seluruh kehidupan di kos.Pagi hari datang seperti biasa.Ada suara motor.Ada aroma kopi dari dapur.Ada Bima yang entah bagaimana sudah membuat keributan sebelum jam delapan.Namun kali ini—bahkan Bima pun terlihat lebih tenang."Jadi..."Ia duduk di depan Arven sambil membawa roti."Udah mutusin?""Belum."jawab Arven."Masih mikir."Bima mengangguk.Untuk ukuran dirinya—itu respons yang mengejutkan.Karena biasanya ia akan langsung mengeluarkan teori aneh.Namun kali ini tidak.Mungkin karena ia tahu masalahnya memang serius.Ravika yang sedang membuat teh hanya diam mendengarkan.Dan justru itulah yang membuat Arven semakin sulit membaca isi pikirannya.Karena sejak malam k







