Beranda / Romansa / Ibu Kost yang menggoda / Diantara Luka & Rasa

Share

Diantara Luka & Rasa

last update Tanggal publikasi: 2025-10-26 13:14:20

Langit malam meneteskan gerimis tipis ketika Ravika mendorong perlahan pintu kamar kos yang selama ini menjadi tempat Arven beristirahat. Cahaya lampu temaram dari lorong menyusup masuk, membentuk bayangan lembut di dinding kamar sempit namun hangat itu. Di sana, Arven duduk bersandar di atas ranjang, wajahnya pucat, napasnya masih teratur tapi lemah. Meski sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, tubuhnya belum sepenuhnya pulih.

Ravika menutup pintu, lalu melangkah pelan mendekat. “Kamu ud
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ibu Kost yang menggoda   Cara Kita yang Sederhana

    Pagi itu datang dengan suasana yang lebih… santai. Ravika bangun tanpa rasa canggung seperti kemarin. Masih ada sedikit rasa aneh, iya. Tapi tidak lagi membuatnya kikuk. Ia malah tersenyum sendiri saat mengingat kemarin. “Adaptasi dikit-dikit ya…” gumamnya pelan. Ia bangun, merapikan diri, lalu keluar kamar. Di dapur— kopi sudah siap. Ravika langsung mengambilnya tanpa ragu. “Udah balik normal lagi,” katanya pelan sambil tersenyum. Ia berjalan ke teras. Arven sudah duduk di sana. Seperti biasa. Dan kali ini— tidak ada lagi jeda canggung. “Pagi,” kata Ravika. “Pagi.” Ravika duduk di sebelahnya. Mereka saling melirik. Lalu… sama-sama tersenyum kecil. Natural. “Udah nggak aneh lagi ya,” kata Ravika. Arven tertawa pelan. “Iya.” Ravika mengangguk. “Bagus.” Beberapa detik mereka diam. Tapi bukan diam yang kosong. Lebih ke… nyaman. Tak lama kemudian, Bima muncul seperti biasa. “Pagi pasangan harmonis!” Ravika langsung melirik tajam. “Bima…” “Apa?” “Turunin

  • Ibu Kost yang menggoda   Menyesuaikan Diri dengan “Kita”

    Pagi itu terasa… agak canggung. Bukan canggung yang bikin tidak nyaman. Tapi lebih ke… belum terbiasa. Ravika bangun seperti biasa, tapi ada satu hal yang berbeda— Ia langsung ingat. “Kita pacaran sekarang…” Ia menutup wajahnya dengan bantal sebentar. “Ya ampun…” Ada rasa malu. Ada rasa aneh. Tapi juga… ada senyum yang tidak bisa ditahan. Ia akhirnya bangun, merapikan diri, lalu keluar kamar. Lorong sudah mulai hidup. Semua terlihat sama. Tapi Ravika merasa… dirinya yang berubah. Ia berjalan ke dapur. Dan seperti biasa— Kopi sudah ada. Ravika berhenti. Menatap gelas itu. Lalu tersenyum kecil. “Masih sama…” Ia mengambilnya. Hangat. Seperti biasanya. Tapi kali ini… rasanya sedikit berbeda. Ketika ia keluar ke teras— Arven sudah duduk di sana. Seperti biasa. Tapi saat mata mereka bertemu— keduanya langsung sedikit kikuk. “Pagi,” kata Ravika. “Pagi.” Ravika duduk di sebelahnya. Untuk beberapa detik— tidak ada yang bicara. Tidak seperti biasanya. Ravi

  • Ibu Kost yang menggoda   Setelah Kata Itu Terucap

    Pagi itu terasa… aneh. Bukan aneh yang buruk. Bukan juga sesuatu yang membuat tidak nyaman. Lebih seperti… baru. Ravika bangun lebih cepat dari biasanya. Matanya langsung terbuka, tanpa perlu alarm, tanpa rasa berat. Dan hal pertama yang terlintas di pikirannya— semalam. Ia menutup wajahnya dengan tangan. Lalu tertawa kecil sendiri. “Gue beneran ngomong ya…” Rasanya masih sulit dipercaya. Selama ini, ia menahan. Menghindar. Berputar-putar di perasaan yang sama. Dan sekarang… semuanya sudah keluar. Ia duduk di tepi kasur. Menarik napas pelan. Dadanya terasa lebih ringan. Bukan karena semua jadi pasti. Tapi karena ia tidak lagi menyimpan semuanya sendirian. “Ya udah…” gumamnya. Lalu berdiri. Saat membuka pintu kamar, lorong sudah mulai hidup. Suara langkah kaki, pintu dibuka, dan aktivitas pagi seperti biasa. Semua terlihat sama. Tapi Ravika tahu— ada satu hal yang berbeda. Dirinya. Di dapur— Kopi sudah siap. Seperti biasa. Ravika tersenyum kecil. “Mas

  • Ibu Kost yang menggoda   Saat Kata Itu Akhirnya Sampai

    Pagi itu terasa berbeda. Bukan hanya lebih terang. Bukan hanya lebih tenang. Tapi… lebih jelas. Sejak membuka mata, Ravika sudah tahu— hari ini bukan hari biasa. Ia tidak langsung bangun. Masih berbaring, menatap langit-langit. Tapi kali ini bukan karena ragu. Bukan karena takut. Melainkan karena… ia sedang mengumpulkan keberanian terakhir. Tangannya menutup wajah sebentar. Lalu ia tersenyum kecil. “Udah ya…” gumamnya pelan. Ia bangun. Langkahnya lebih pasti. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak ragu. Saat membuka pintu kamar, lorong masih sepi. Suasana pagi masih lembut. Dan seperti biasa— aroma kopi sudah tercium. Ravika berhenti sejenak. Menarik napas dalam. Lalu berjalan ke dapur. Kopi sudah siap. Ia mengambilnya. Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena dingin. Tapi karena hari ini… berbeda. Ketika ia sampai di teras— Arven sudah di sana. Duduk seperti biasa. Tenang. Seolah dunia tidak berubah. “Pagi,” kata Ravika. “Pagi.” Ravika duduk di sebela

  • Ibu Kost yang menggoda   Satu Langkah lagi

    Pagi itu terasa lebih sunyi. Bukan karena kos benar-benar sepi. Suara langkah kaki masih ada. Pintu kamar masih sesekali terbuka. Dan dapur tetap hidup seperti biasa. Tapi di dalam diri Ravika… Ada ketenangan yang berbeda. Seperti setelah semalaman berpikir, akhirnya ada sesuatu yang… mengendap. Bukan jawaban besar. Bukan keputusan. Tapi keberanian kecil. Ravika bangun tanpa tergesa. Ia duduk di tepi kasur, menatap jendela. Cahaya pagi masuk perlahan. Ia menarik napas panjang. “Kayaknya… hari ini,” gumamnya pelan. Ia sendiri tidak yakin. Tapi ada dorongan yang terasa lebih kuat dari kemarin. Ia berdiri, merapikan diri, lalu keluar kamar. Di dapur— Kopi sudah ada. Seperti biasa. Ravika tersenyum kecil. “Teratur banget ya…” Ia mengambil gelas itu, lalu berjalan ke teras. Arven sudah duduk di sana. “Pagi,” kata Ravika. “Pagi.” Ravika duduk di sebelahnya. Hari itu, mereka tidak langsung diam lama. Ravika terlihat lebih siap. Lebih tenang. “Ven,” katanya.

  • Ibu Kost yang menggoda   Kata yang Hampir Terucap

    Pagi itu terasa sedikit berbeda. Bukan karena suasana kos berubah. Bukan juga karena ada kejadian besar. Tapi karena sejak bangun, Ravika merasa… ada sesuatu yang mengganjal. Bukan hal buruk. Lebih seperti… sesuatu yang ingin keluar. Tapi belum sempat. Ia duduk di tepi kasur beberapa detik lebih lama dari biasanya. Menatap kosong ke depan. Lalu menarik napas. “Kenapa sih…” gumamnya pelan. Ia berdiri, merapikan diri, lalu keluar kamar. Di dapur, seperti biasa— Kopi sudah ada. Ravika tersenyum kecil. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil gelas itu. Hangat. Selalu pas. Ia langsung berjalan ke teras. Arven sudah duduk di sana. “Pagi,” kata Ravika. “Pagi.” Ravika duduk di sebelahnya. Hari itu mereka tidak langsung diam seperti biasanya. Ravika terlihat ingin bicara. Tapi masih menahan. “Ven,” katanya akhirnya. “Iya?” Ravika membuka mulut. Lalu menutup lagi. Arven memperhatikan. “Kamu mau ngomong apa?” Ravika menggeleng kecil. “Enggak… nanti aja.” Arven tid

  • Ibu Kost yang menggoda   Jarak yang Tidak Lagi Dijaga

    Pagi itu Ravika bangun dengan posisi miring, setengah menghadap sisi ranjang yang lain. Udara masih dingin, jam dinding belum menunjukkan pukul enam. Ia tidak langsung bangun. Ada rasa malas yang nyaman—jenis malas yang tidak disertai rasa bersalah.Di sampingnya, Arven sudah terjaga. Tidak berger

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Ibu Kost yang menggoda   Hal-hal Kecil yang Terasa Serius

    Pagi itu kosan lebih ramai dari biasanya.Belum juga matahari naik penuh, sudah terdengar suara ember diseret, sandal diseret-seret di lantai, dan seseorang memutar musik dari speaker kecil dengan volume yang terlalu semangat untuk jam segini.Ravika membuka mata pelan.Ia menatap langit-langit kam

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Ibu Kost yang menggoda   Rumah yang Pelan-pelan Berubah

    Pagi itu Ravika terbangun oleh suara yang tidak asing, tapi jarang ia dengar dengan penuh perhatian.Suara anak kos bercanda di dapur.Bukan ribut. Bukan berisik. Hanya suara gelas saling bersentuhan, tawa pendek, dan langkah kaki yang santai. Biasanya, Ravika akan bangun dengan refleks waspada—men

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Ibu Kost yang menggoda   Waktu yang Tidak Dikejar

    Hari itu berjalan sedikit lebih cepat.Bukan karena Ravika terburu-buru, tapi karena pikirannya tidak lagi tersangkut di banyak tempat. Ia bangun, bersiap, dan berangkat tanpa ritual tambahan. Semua terasa cukup—tanpa harus dibuat istimewa.Sementara Di dapur, Arven sudah lebih dulu ada. Ia sedang

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status