MasukPagi itu dimulai seperti biasa. Terlalu biasa, malah. Ravika bangun, keluar kamar, dan menemukan kopi sudah tersedia di meja dapur. Ia tidak lagi terkejut. Tidak lagi berhenti lama seperti beberapa hari lalu. Sekarang, ia hanya mengambil gelas itu, meniup pelan, lalu meminumnya seperti itu memang sudah seharusnya terjadi. “Udah jadi rutinitas,” gumamnya pelan. Ketika ia keluar ke teras, Arven sudah duduk di sana. “Pagi,” kata Ravika. “Pagi juga.” Mereka duduk berdampingan. Diam. Nyaman. Sampai suara langkah kaki tergesa-gesa memecah suasana. “BU KOS!” Ravika langsung menutup mata sebentar. “Bima lagi bima lagi…” Bima muncul dari lorong dengan wajah panik. “Kenapa?” tanya Ravika. “Motor aku nggak bisa nyala!” Ravika menghela napas. “Kenapa tiap pagi harus ada masalah sih…” Arven langsung berdiri. “Coba biar aku lihat.” Bima mengangguk cepat. “Cepat ya, aku sudah telat nih!” Di halaman, motor Bima terparkir miring. Arven langsung jongkok, memeriksa. Ravika b
Pagi itu terasa sedikit lebih lambat. Bukan karena waktu benar-benar berjalan pelan, tapi karena Ravika tidak terburu-buru bangun. Ia masih berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar. Pikirannya kosong. Atau mungkin… justru terlalu penuh. Tentang kemarin. Tentang perjalanan tanpa tujuan. Tentang perasaan yang datang tanpa rencana. Ravika menarik napas panjang, lalu akhirnya bangun. “Udah kebiasaan mikir pagi-pagi,” gumamnya. Ia membuka pintu kamar. Lorong masih sepi. Hanya suara kipas dari salah satu kamar yang terdengar pelan. Ravika berjalan ke dapur. Dan seperti beberapa hari terakhir— Kopi sudah ada. Ia berhenti sejenak. Menatap gelas itu. Lalu tersenyum kecil. “Ya ampun…” Ia mengambil gelas itu. Hangat. Selalu pas. Ketika Ravika keluar ke teras, Arven sudah duduk di sana. Seperti biasa. Seolah semuanya memang sudah punya tempat masing-masing. “Pagi,” kata Ravika. “Pagi.” Ravika duduk di sebelahnya. Beberapa detik mereka diam. Tidak ada p
Pagi itu datang tanpa rencana apa pun. Tidak ada daftar pekerjaan. Tidak ada hal penting yang harus dilakukan. Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir yang cukup penuh, Ravika merasa… kosong. Bukan kosong yang buruk. Lebih seperti jeda. Ia duduk di teras dengan secangkir kopi di tangan, menatap jalan kecil di depan kos yang mulai ramai. Beberapa penghuni sudah pergi kerja. Suasana kembali seperti hari biasa. Arven keluar dari dalam sambil menguap ringan. “Pagi,” katanya. “Pagi juga.” Arven duduk di sebelahnya. “Kamu lagi ngapain?” “Lagi nggak ngapa-ngapain.” Arven tersenyum kecil. “Jarang banget kamu kaya gini.” Ravika mengangguk. “Iya lagi pengen nyantai aja nih.” Beberapa menit mereka hanya duduk. Tanpa obrolan. Tanpa rencana. Lalu tiba-tiba Ravika berkata, “Ven.” “Iya?” “Pergi yuk.” Arven menoleh. “Ke mana?” Ravika mengangkat bahu. “Nggak tahu.” Arven tertawa kecil. “Serius?” “Iya.” “Sekarang?” Ravika mengangguk. “Sekarang.” Arv
Pagi itu terasa lebih ringan. Bukan karena ada sesuatu yang berubah di luar. Kos masih sama. Lorong masih sempit. Suara pintu kamar masih terdengar satu per satu. Dan dapur masih penuh dengan aroma kopi dan mie instan seperti biasanya. Tapi di dalam diri Ravika… ada sesuatu yang sedikit berbeda. Ia bangun tanpa rasa berat. Tidak seperti kemarin yang penuh pikiran. Hari ini terasa lebih… tenang. Ia duduk di tepi kasur sebentar, lalu tersenyum kecil. “Pelan-pelan aja,” gumamnya pada diri sendiri. Ia berdiri dan membuka pintu kamar. Di dapur, Arven sudah lebih dulu ada. Seperti beberapa hari terakhir. Ia sedang menuang air panas ke dalam dua gelas. “Pagi,” katanya saat melihat Ravika. “Pagi.” Ravika berjalan mendekat. “Kopi lagi?” Arven mengangguk. “Iya.” Ravika mengambil gelasnya. Masih hangat. Pas. “Lo hafal ya takarannya,” kata Ravika. Arven tersenyum. “Belajar dari yang ahli.” Ravika mendengus pelan. Mereka duduk di teras seperti biasa. Dua gelas kopi.
Pagi itu tidak terlalu ramai. Setelah hari Sabtu yang cukup hidup kemarin, kos kembali ke ritme yang lebih tenang. Beberapa penghuni bangun lebih siang. Lorong tidak seramai biasanya. Ravika sudah duduk di teras dengan secangkir kopi di tangannya. Ia tidak langsung melakukan apa-apa. Hanya duduk. Menatap halaman kecil di depannya. Pikirannya masih tertinggal di percakapan kemarin sore. Tentang “lebih dari sekadar kos”. Tentang “rumah”. Tentang sesuatu yang bahkan dulu tidak pernah berani ia pikirkan. Langkah kaki terdengar dari dalam. Arven keluar sambil menguap ringan. “Pagi,” katanya. “Pagi.” Arven duduk di kursi sebelahnya. “Kopi lagi?” “Iya.” Arven mengangguk. Ia mengambil gelas dari meja. Beberapa detik mereka diam. Lalu Arven berkata pelan, “Kamu masih kepikiran ya?” Ravika tidak menoleh. “Iya.” Arven tidak kaget. Ia sudah menduga. Angin pagi berhembus pelan. Beberapa daun jatuh ke halaman. Suasana terasa tenang. Ravika akhirnya berkata, “Ven.”
Pagi itu terasa lebih sibuk dari biasanya. Bukan karena ada masalah. Tapi karena hampir semua penghuni kos bangun lebih awal. Hari Sabtu memang sering seperti itu. Ada yang mencuci pakaian. Ada yang bersih-bersih kamar. Ada juga yang hanya duduk di teras sambil main ponsel. Ravika berdiri di dapur, memotong sayur untuk dimasak siang nanti. Pisau bergerak pelan di atas talenan. Sementara di sampingnya, Arven sedang mencuci beras. Air mengalir pelan. Suara-suara kecil itu bercampur dengan obrolan dari luar. “Bu Kos lagi masak ya?” suara Bima terdengar dari teras. “Iya,” jawab Ravika tanpa menoleh. “Masaknya banyak nggak?” Ravika berhenti memotong sebentar. “Kenapa?” “Kalau banyak, aku mau ikut makan.” Arven langsung tertawa. Ravika menggeleng. “Cuci piring dulu baru boleh ikut.” Bima menghela napas panjang. “Kenapa syaratnya selalu itu sih…” Arven menoleh ke arah pintu. “Karena kamu paling jarang cuci piring.” Bima pura-pura tidak dengar. Dapur terasa lebih hi
Api unggun kecil memantulkan cahaya oranye ke wajah pria asing itu. Senyum dinginnya membuat udara hutan semakin mencekam. Ravika meraih lengan Arven, menariknya sedikit mundur, sementara pistol kecil di tangannya terangkat refleks.“Siapa kau?” tanya Ravika tegas, suaranya bergetar namun mantap.P
Ujung pistol berkilat samar diterpa cahaya api. Asap hitam mengepul, suara kayu terbakar berderak, dan di tengah neraka kecil itu, Arven berdiri dengan tangan gemetar. Pelatuk di bawah jarinya seakan jauh lebih berat daripada dunia yang kini menekan pundaknya.Ravika menahan napas, matanya berair.
Suara langkah Bayu menggema, setiap hentakan sepatu seperti palu yang memukul jantung Ravika dan Arven. Udara dalam gua mendadak terasa semakin sempit, pengap, dan penuh ancaman.Ravika merapatkan tubuhnya ke Arven. “Dengar aku. Jangan lepaskan flashdisk itu, apa pun yang terjadi.”Arven mengangguk
Suara tembakan bergema di dalam gua, memantul ke setiap dinding batu hingga seakan seluruh ruangan bergetar.Waktu seolah berhenti. Ravika merasakan cengkeraman Bayu di bahunya melemah sesaat, lalu ia mendengar suara erangan rendah keluar dari mulut pria itu.Peluru Darman menancap di bahu kiri Bay







