Mag-log inSeminggu berlalu sejak Arven tiba di kota barunya.Awalnya semuanya terasa berjalan lancar.Mereka masih rutin saling mengirim pesan.Masih melakukan panggilan video setiap malam.Masih saling bercerita tentang hal-hal kecil yang terjadi sepanjang hari.Namun memasuki minggu kedua...ritme itu mulai berubah.Pekerjaan Arven semakin padat.Proyek yang ditanganinya ternyata lebih besar dari perkiraannya.Beberapa kali ia harus lembur sampai larut malam.Bahkan ada hari ketika makan siang baru sempat dilakukan menjelang pukul tiga sore.Di sisi lain, kos juga sedang ramai.Dua penghuni baru masuk hampir bersamaan.Salah satu kamar mengalami kebocoran saat hujan deras.Pompa air sempat bermasalah.Dan Ravika harus mengurus semuanya.Tanpa mereka sadari...kesibukan mulai menggerus waktu yang biasa mereka miliki.Suatu siang, Ravika mengirim pesan.Lagi apa?Pesan itu terkirim.Namun tidak segera dibaca.Satu jam.Dua jam.Tiga jam.Menjelang sore barulah muncul tanda telah dibaca.Lalu be
Pukul enam pagi.Alarm Arven berbunyi nyaring di apartemen kecilnya.Untuk beberapa detik ia lupa di mana dirinya berada.Ia menatap langit-langit kamar yang masih terasa asing.Tidak ada suara penghuni kos yang berlalu-lalang.Tidak ada aroma masakan dari dapur bersama.Tidak ada suara Bima yang biasanya sudah berisik sejak pagi.Hanya keheningan.Arven mengembuskan napas pelan sebelum bangkit dari tempat tidur."Hari kedua."gumamnya pelan.Di waktu yang hampir bersamaan, Ravika juga sudah bangun.Rutinitas di kos tidak berubah.Ia membuka gerbang, menyapu halaman, lalu mengecek pompa air.Namun ada satu kebiasaan yang hilang.Biasanya, setelah menyapu halaman, Arven akan muncul sambil membawa dua gelas teh hangat.Sekarang...Meja teras itu kosong.Ravika tersenyum kecil."Belum juga terbiasa."Ponselnya bergetar.Pesan dari Arven.Pagi.Udah bangun?Ravika langsung membalas.Udah.Jangan lupa sarapan.Tak lama kemudian muncul balasan.Iya.Kamu juga.Sesederhana itu.Namun cukup m
Perjalanan Arven memakan waktu hampir lima jam.Sepanjang jalan, ia beberapa kali berhenti di rest area.Bukan hanya untuk beristirahat.Melainkan untuk memastikan satu hal.Ponselnya.Setiap kali berhenti, ia membuka aplikasi pesan.Dan hampir setiap kali itu pula, ada pesan dari Ravika.Udah sampai mana?Jangan lupa minum.Jalannya pelan-pelan.Pesan-pesan sederhana.Tidak panjang.Tidak berlebihan.Namun cukup membuat Arven tersenyum setiap kali membacanya.Sesampainya di kota tujuan, langit sudah mulai sore.Gedung-gedung tampak lebih tinggi.Jalanan lebih ramai.Dan suasananya jauh berbeda dari lingkungan kos yang sudah begitu akrab baginya.Perusahaan sudah menyiapkan tempat tinggal sementara.Sebuah apartemen studio yang sederhana.Tidak besar.Namun cukup nyaman untuk ditinggali selama tiga bulan.Arven meletakkan tasnya di lantai.Lalu memandang sekeliling ruangan.Sunyi.Tidak ada suara Bima yang berteriak.Tidak ada penghuni kos yang mengetuk pintu meminta bantuan.Tidak ad
Pagi itu datang terlalu cepat.Ravika bahkan merasa baru saja memejamkan mata ketika alarm berbunyi.Untuk beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar.Lalu ingat.Hari ini.Hari keberangkatan Arven.Dadanya langsung terasa berat lagi.Namun ia segera bangun.Karena ia tidak ingin menghabiskan pagi itu dengan menangis.Ia ingin mengingatnya dengan baik.Saat keluar kamar, suasana kos masih lebih sepi dari biasanya.Namun lampu dapur sudah menyala.Dan tentu saja—Arven sudah bangun.Tas besar berada di dekat pintu.Pemandangan itu langsung membuat semuanya terasa nyata.Benar-benar nyata."Pagi."kata Arven pelan."Pagi."Mereka saling tersenyum.Sedikit canggung.Sedikit sedih.Namun sama-sama berusaha terlihat tenang.Sarapan pagi berlangsung sederhana.Namun entah kenapa—semua orang yang biasanya ribut justru menjadi jauh lebih pendiam.Bahkan Bima.Yang merupakan tanda bahwa situasinya memang serius."Kok diem?"tanya Ravika.Bima mengaduk makanannya pelan."Saya sedang b
Pagi itu datang dengan cara yang berbeda.Bukan karena cuacanya.Bukan karena suasana kos.Melainkan karena Ravika bangun dengan satu kesadaran yang terus mengganggu pikirannya.Besok.Besok Arven berangkat.Bukan minggu depan.Bukan beberapa hari lagi.Besok.Dan untuk pertama kalinya sejak keputusan itu dibuat,kata itu terasa sangat nyata.Saat keluar kamar, Ravika melihat dapur masih sepi.Namun aroma kopi sudah memenuhi ruangan.Dan seperti yang ia duga—Arven ada di sana.Sedang berdiri di depan kompor sambil membuat dua cangkir kopi."Pagi."katanya saat melihat Ravika."Pagi."Tidak ada yang menyebut soal besok.Belum.Karena keduanya sama-sama tahu.Dan tidak ingin pagi itu langsung dipenuhi kesedihan.Hari ini adalah hari yang mereka janjikan.Hari terakhir sebelum keberangkatan.Hari yang ingin mereka habiskan dengan baik.Setelah sarapan sederhana, mereka pun berangkat.Bukan ke tempat mewah.Bukan ke restoran mahal.Bukan juga ke lokasi wisata terkenal.Mereka hanya pergi
Hari-hari berikutnya berlalu jauh lebih cepat dari yang dibayangkan Ravika.Terlalu cepat.Seolah waktu tahu bahwa mereka sedang berusaha menikmatinya.Dan karena itu—waktu sengaja berlari.Satu minggu tersisa.Lalu lima hari.Empat hari.Dan setiap kali Ravika melihat kalender,lingkaran merah itu terasa semakin dekat.Namun anehnya—ia tidak lagi menghitung hari dengan kesedihan yang sama seperti sebelumnya.Karena setelah beberapa malam berpikir,ia menyadari satu hal.Jika terus fokus pada hari keberangkatan,ia akan kehilangan kesempatan menikmati hari-hari yang masih ada.Jadi ia memutuskan sesuatu."Mulai hari ini."katanya suatu pagi.Semua orang yang sedang sarapan langsung menoleh."Apa lagi?"tanya Bima curiga."Kita bikin minggu terakhir yang menyenangkan.""Definisi menyenangkan?""Pokoknya nggak boleh murung."Bima mengangkat tangan."Saya mendukung.""Lo bahkan belum dengar rencananya.""Saya mendukung secara emosional."Suasana langsung dipenuhi tawa.Dan sejak hari i







