로그인"Kamu gak apa-apa?" Tanya pria itu khawatir sembari memegang bahu Elsa, membuat Adrian mengerutkan dahinya penuh tanya.
Elsa tersenyum lega, dia tidak tahu di sebut apa kebetulan seperti ini. Mungkin Landy adalah penolong yang Tuhan kirimkan padanya dalam situasi ini, pria itu selalu datang tepat waktu dan dengan cara yang tidak dia duga.“Ini teman saya, Dok!” Elsa tersenyum lega, menatap Landy dengan binar cerah setelah perasaannya yang kacau sejak tadi, kedatangan Land"Saya sudah muak dengan semua ancaman kamu, Bram!" Bisik Elsa dengan wajah menantang,"... Jika kamu berani menganggu orang terdekat saya, saya akan hancurkan kamu dan hidup kamu!" Mendengar ancaman Elsa Bram tercekat sejenak, kemudian secepat kilat dia merubah raut wajahnya. Pria itu tertawa sumbang melihat kegigihan Elsa untuk mengalahkannya. "Sebelum semua ancaman kamu itu terjadi, kamu mungkin akan hancur lebih dulu bahkan sebelum kamu keluar dari ruangan ini, Elsa!" Sahut Bram, dengan seringai licik di wajahnya. Elsa mendecih, kemudian tertawa sumbang atas kalimat Bram,"Saya memang sudah hancur! apa lagi yang mau kamu hancurkan dari saya? kamu mau bunuh saya? silahkan!" Elsa mengulurkan kedua tangannya dengan gestur pasrah yang di buat-buat. Bram mengerutkan dahinya, gelagat Elsa sangat aneh. Wanita itu berbeda dari biasanya, dia menjadi sangat liar dan berani. Seolah dia punya dua kepribadian. "Kamu enggak berani? Bukankah bia
"Kamu mungkin harus istirahat lebih banyak dan mengunjungi dokter, Elsa! saya akan menghadapi Bram sendirian," Kalimat itu masih terngiang di telinganya, meski kini dia hanya bisa meringkuk di atas ranjang dengan tubuh gemetar. Elsa belum selesai dengan masa lalunya, dirinya terus menolak untuk mengingat masa-masa menyakitkan itu. Tubuhnya terus bereaksi berlebihan ketika dia memikirkan apa yang harus dia lakukan di club ketika bertemu dengan Bram nanti. Dia bangkit dan duduk di sisi ranjang dengan napas yang seolah tercekat, kemudian Elsa mengikuti instruksi Landy lagi untuk menenangkan diri. Dia sudah menolak ide pria itu untuk tetap di hotel dan membiarkan Landy menyerahkan uangnya sendiri. Elsa tidak mungkin membiarkannya masuk ke dalam kandang singa seorang diri. Wanita itu memberanikan diri, dia bertekad untuk datang ke tempat Bram bekerja seorang diri, siang ini, Elsa akan menemui Bram dan memohon sekali lagi. "Saya minta m
"Malam ini, kita ke Club tempat kamu bekerja dulu ya! saya sudah hubungi Bram! dia meminta untuk bertemu di sana,"Elsa mendadak kelu, napasnya tersengal dan dadanya berdegup kencang. Mendengar bahwa dia akan kembali ke tempat kerjanya yang dulu, membuat nyalinya ciut dan dia mendadak kehilangan kata-kata. "Elsa? kamu masih di sana kan?" Panggil Landy dari balik telepon genggamnya, ketika dia menyadari wanita itu hanya diam."Eh, Iya Mas! Aku masih di sini!" Sahutnya terbata dengan wajah penuh kerisauan."Ada apa? Kamu enggak ingin datang ke Club?" Tanya Landy yang seolah bisa membaca gelagat Elsa dari jauh. Elsa menarik napas panjang, menetralkan perasaannya yang kini takut dan kalut,"Entah Mas! aku bingung dengan diri ku sendiri, tiba-tiba aku merasa enggak nyaman, mendengar kamu menyebut tempat itu! aku, aku merasa takut dan asing," Ujarnya dengan wajah lesu. "Kamu enggak mau kembali ke sana? kalau begitu, kamu enggak perlu
".Enggak mungkin, Mah! bukan hidup seperti itu yang aku inginkan, aku enggak mau menjalani hidup dengan cara kotor seperti itu lagi, aku ingin bertobat, Mah!" "Lancang sekali kamu menyebut itu kotor! Elsa, kamu bisa hidup selama ini dari dunia yang kamu sebut kotor itu, " Sahut Ibu tidak mau kalah. Elsa menggeleng, menolak perkataan Ibunya,"Maafkan Elsa, Mah! Bukan maksud Elsa membangkang. Hanya saja, kita punya pandangan berbeda tentang hidup. Elsa enggak akan memaksa Mamah untuk setuju dengan pendapat dan pilihan hidup Elsa. Aku sudah memutuskan untuk menjalani hidup dengan cara ku sendiri, Mah. Jadi aku mohon Mamah mengerti!" Elsa berujar lirih, berharap Ibu paham maksud hatinya. Ibu menggertak gigi dari balik ponsel dengan wajah geram,"Lalu bagaimana dengan keluarga mu? Ibu dan Ayah? terus Rian? kamu tega menelantarkan kami?" tuntut Ibu.Elsa menggeleng pelan,"Aku pikir Rian susah cukup dewasa untuk mencari nafkah sendiri, Mah. Dan untuk
"Saya akan cari Elsa! dan menyerahkannya pada kalian," Ibu memekik, suaranya parau oleh tangis yang tertahan. Membuat kedua penagih hutang itu berhenti mengacak-acak isi rumah. "Saya- saya akan memaksanya untuk menikah dengan Bram,"Ujar Ibu dengan suara yang terpotong karena takut dan kalut, dia berusaha mengiba agar para rentenir itu memberi kelonggaran,"... Saya mohon! saya akan lakukan apapun untuk dapatkan Elsa dan membawanya pada Bram. Saya- saya janji!" Sambungnya lagi dengan terbata. "Sayangnya Bos tidak memberi kami opsi lain. Segera kosongkan rumah ini, dan jangan harap kalian bisa hidup dengan tenang!" Ancam salah satunya, dia kembali melempar figura foto keluarga di atas dinding. Prang! Pecahan kaca berserakan, membuat Ibu tidak kuasa menahan tangisnya yang akhirnya pecah. kedua orang itu melenggang pergi, meninggalkan ibu yang menangis sembari mengepalkan tangan di atas lantai yang penuh serpihan barang hancur.
"... Mengenai Ibu kamu, Mas! Apa dia mau menerima aku lagi?" Landy bungkam, dia kembali terdiam sejenak. "Elsa! saya pikir, kita sudah sama-sama dewasa dan cukup paham dengan hidup kita sendiri. Ibu kamu, maupun Ibu saya, mereka enggak bisa lagi mengatur hidup kita seolah kita anak belasan tahun,"Sahut Landy pelan. Elsa sangat tahu apa artinya kalimat itu, Landy tidak bisa menjamin bahwa langkah mereka selanjutnya akan mudah. Dulu, orang tua Landy melarangnya menikah dengan Elsa karena statusnya sebagai pekerja malam. Hingga mereka harus menikah tanpa restu orang tua, sampai akhirnya mereka berpisah. Pandangan orang tua Landy atas dirinya tidak pernah berubah "Enggak perlu di pikirkan! sekarang lebih baik kamu istirahat ya. Saya akan antar kamu ke Hotel. Besok, kita akan datangi Bram dan kembalikan uang dia," Elsa mengangguk pelan, dia tidak ingin memberatkan kepalanya dengan segala pikiran buruk mengen







