Share

Kepergok

Bu Aminah tersenyum saat mendapat notifikasi M.Banking secara bersamaan dari anak sulungnya, Rendi, beserta istrinya, Maura. Selama ini Bu Aminah tak pernah meminta ataupun berharapkan uang dari anak juga menantunya. Tapi anak juga menantunya selalu rutin memberinya uang setiap satu atau tiga bulan sekali, tak hanya mereka, bahkan Rudi pun selalu rutin memberinya uang setiap gajian, meski sering Bu Aminah tolak.

"Kenapa Ibu senyum-senyum sendiri?" tanya kedua anak gadisnya yang tengah asyik memainkan ponselnya di ruang keluarga, sementara ayah mereka tengah fokus nonton bola.

"Ibu dapat transferan dari Rendi juga Maura."

"Horeee! Boleh dong minta buat beli sepatu baru!" ujar Retha, anak Bu Aminah nomor 3 yang masih kuliah.

"Aku juga mau sepatu baru." Risa, si bungsu tak mau ketinggalan.

"Oke, ayo sekarang juga kita beli." Bu Aminah menyahut.

"Horeeee!" Kedua gadis itu bersorak.

"Beruntung sekali punya menantu kayak Maura, gak pernah ngerepotin mertua, terus suka ngasih uang juga buat kita, beda banget sama si Anisa," celetuk Pak Arman tiba-tiba.

"Iyalah kayak bumi dan langit, yang satu wanita karir yang satu lagi beban suami hahahhaha." Retha menyahut.

"Hahahahhaha!" Risa tak ketinggalan menertawakan Anisa.

"Diaaaaaaaam!" teriak Bu Aminah hingga dua anak gadis beserta ayahnya itu langsung terkejut.

"Kenapa, Bu? Ayah kan cuma ngomong apa adanya."

"Kamu itu lelaki, udah tua pula, kenapa nyinyir kayak nenek-nenek, persis seperti ibumu!"

"Kenapa Ibu bawa-bawa ibuku yang sudah meninggal?" Pak Arman mulai kesal karena menganggap istrinya terlalu berlebihan membela menantunya.

"Aku masih ingat saat ibumu juga adik-adikmu membandingkan aku dengan Mbak Bunga. Kamu tau rasanya bagaimana? Sakit!" bentak Bu Aminah sembari menginjak kaki suaminya hingga ia mengaduh kesakitan.

"Lalu kalian! Mengapa kalian menertawakan Anisa dan mengatainya beban suami, sama saja kalian menertawakan ibu!" Bu Aminah membulatkan matanya pada kedua anak gadisnya.

"Tapi, Bu.."

"Kalian tidak akan tahu, bagaimana nasib kalian nanti. Bisa jadi nanti kalian mendapatkan nasib seperti Anisa yang menjadi ibu rumah tangga, apa kalian mau dibandingkan oleh ibu mertua dan ipar kalian?"

"Aku akan bekerja biar gak jadi beban suami." Retha menyahut.

"Apa nanti kalian mau bekerja dan tak dinafkahi oleh suami? Lalu menitipkan anak kalian pada ibu, iya?!" Bu Aminah melantangkan suara.

"Tapi seorang istri seharusnya tidak menjadi beban suami, dia harus cerdas dan mandiri secara finansial," ucap Risa.

"Oh, jadi kamu ingin punya suami seperti ayahmu yang lebih mementingkan dirinya, ibunya juga adik-adiknya, sementara istrinya sendiri ia biarkan mencari uang dengan cara mencuci setrika di rumah tetangga, padahal ia kerepotan dengan anak-anaknya yang masih kecil."

"Kenapa sih Ibu terus menerus mengungkit masa lalu. Ayah kan sudah mencoba untuk berubah dan menjadi suami yang baik buat Ibu."

"Memangnya kata maafmu bisa menghidupkan kembali Riswan? Memangnya kata maafmu bisa menyembuhkan luka di hatiku! Kamu melarangku berKB, tapi kamu tak pernah mau bertanggung jawab padaku!"

Retha dan Risa langsung menangis mendengar penuturan ibunya, ia tak menyangka bahwa ibunya memiliki masa lalu yang sangat pedih.

"Maafkan ayah, Bu." Pak Arman tampak merasa bersalah karena mengingatkan Bu Aminah pada kepedihannya di masa lalu.

"Maafkan kami juga, Bu." Retha dan Risa tampak menyesali ucapannya tadi.

"Asal kalian tahu, selama ini ibu berusaha untuk menjadi mertua yang baik dan adil pada semua menantu ibu, agar kelak kalian juga diperlakukan baik oleh mertua kalian."

"Iya, Bu, kami minta maaf." Retha dan Risa menciumi punggung tangan ibunya.

"Sudahlah, ibu kesal sama kalian!"

"Ayo ayah antar ke alun-alun, buat beli bakso favorit kita sejak dulu!"

Mendengar itu hati Bu Aminah langsung mencair, ia memang paling tak bisa menolak jika diajak makan bakso berukuran besar yang didalamnya terdapat tetelan sapi bercampur sambal super pedas.

"Ibu kok hobby banget jajan, kadang martabak, kadang bakso, memangnya Ibu gak takut diabetes atau kolestrol?" tanya Retha saat ibunya hendak berganti pakaian.

"Alhamdulillah gula darah ibu normal, darah normal, gak ada kolesterol juga. Makanya jadi orang jangan suka nyinyir dan julid, biar masa tua masih bisa menikmati makanan enak!"

Mendengar itu kedua anak gadisnya tak berani lagi menjawab.

"Ngomong-ngomong kalian mau ikut?"

"Enggak ah, aku lagi diet."

"Sama, aku juga diet, makan bakso jumbo gitu takut gemuk." Si bungsu menyahut.

Setelah itu Bu Aminah dan Pak Arman bergegas menaiki motor menuju warung bakso favorit mereka. Beberapa waktu kemudian, mereka telah tiba di sana, keduanya langsung terhenyak saat melihat Rudi tengah menikmati bakso bersama seorang wanita.

"Aku kagum banget deh sama kamu, doyan makan tapi badannya tetep seksi." Rudi terus melancarkan gombalan mautnya tanpa menyadari keberadaan kedua orangtuanya.

"Rudi!" bentak Bu Aminah hingga membuat Rudi terhenyak.

"I..ibu..." Rudi tampak terkejut saat melihat kedua orangtuanya yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Ngapain kamu disini, ayo cepetan pulang!"

"Tante, Om, perkenalkan saya Miranda," ujar wanita berparas ayu itu sembari mencium punggung tangan Bu Aminah juga Pak Arman.

Bu Aminah mencoba menahan dirinya untuk mencakar wajah anak lelakinya juga menjambak wanita itu saat semua orang langsung memperhatikan mereka.

"Bolehkah saya duduk bersama kalian?" tanya Bu Aminah yang mencoba lembut, padahal sebenarnya ia tengah mencoba menahan amarah yang terus bergemuruh dalam dadanya.

"Iya, silahkan Tante pesan saja bakso atau mie ayam, biar Miranda yang traktir."

Bu Aminah dan Pak Arman langsung duduk di sebelah mereka.

"Apa kamu tahu kalau Rudi sudah punya istri?"

"Tahu, Tante."

"Lalu kenapa kamu makan berdua dengannya seperti ini?"

"Kami hanya saling bertukar pikiran kok, katanya Rudi bosan lihat istrinya yang kucel dan sibuk dengan bayinya tanpa memperdulikan suaminya."

Bu Aminah mulai mengepalkan tangannya, wajahnya mulai memerah karena marah, tetapi tiba-tiba suaminya mengusap pundaknya dan memintanya untuk tenang.

"Nak, Miranda, sebagai wanita, gak boleh loh jalan sama suami orang apalagi mendengarkan curhatannya yang menjelekkan istrinya sendiri."

"Maaf, bukan menjelekan, tapi Rudi pantas mendapatkan pendamping yang lebih baik dan bisa membahagiakannya."

"Oooh! Kamu mau jadi pelakor?" Bu Aminah langsung meninggikan suara hingga semua orang yang tengah menikmati bakso langsung menoleh ke arah mereka.

Wajah Miranda langsung memerah karena malu, gegas ia bangkit dari tempat duduknya karena sudah tak sanggup lagi menahan malu ketika semua orang melirik sembari saling berbisik membicarakannya.

"Saya duluan," ujar Miranda sembari bergegas pergi.

"Tunggu Mir!" Rudi berniat mengejar Miranda, tapi tangan Bu Aminah dengan sigap menariknya.

"Sekarang juga kamu pulang ke rumah ibu atau jangan menganggap lagi saya sebagai ibumu," ucap Bu Aminah sembari membulatkan mata.

Rudi mengangguk lalu segera mengikuti kedua orangtuanya pulang.

Plaaak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Rudi ketika mereka semua telah tiba di rumah.

"Bu, aku ini anak Ibu, kenapa ibu lebih membela Anisa dibandingkan aku?"

Plaaaak! Bu Aminah kembali menampar Rudi, tadi pipi kanannya yang menerima tamparan tersebut, kini giliran pipi kirinya.

Sementara Pak Arman hanya diam dan tak berani ikut campur.

"Aku tahu, sepertinya waktu bayi aku dan Anisa tertukar, makanya Ibu lebih membela Anisa dibandingkan aku, karena dia anak kandung Ibu, kan?"

Bu Aminah langsung mengambil sapu dan berniat memukuli anak lelakinya itu.

"Hentikan, Bu, jangan terus menyiksanya." Pak Arman mencoba menghentikan istrinya.

Bersambung.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status