Share

Masa Lalu Bu Aminah

"Bu, sabar ya, Bu, walau bagaimanapun Rudi ini anak kandung kita, jangan menyiksanya, Bu, ayah mohon." Pak Arman memelas.

"Apa yang sekarang dilakukan Rudi, sama persis seperti yang dilakukan kamu 30 tahun yang lalu!" teriak Bu Aminah sembari menatap suaminya dengan tatapan tajam.

"Duh, aku lagi." Tubuh Pak Arman langsung lemas saat mendengar ucapan istrinya, ia mulai bersiap untuk mendengarkan istrinya yang akan kembali membuka luka lamanya di masa lalu.

"Maksud Ibu apa sih? Kok bawa-bawa Ayah segala?"

"Saat itu anak pertama ibu baru berusia 2 tahun, Riswan namanya, sementara ibu sedang mengandung kakakmu Rendi. Ibu merasakan sulitnya hidup di tengah-tengah mertua dan ipar yang semena-mena, sementara ayahmu malah berselingkuh dengan janda muda. Ibu nyaris setress dan depresi, hingga mengabaikan Riswan."

"Lalu, apa yang terjadi pada dia, Bu?" tanya Rudi.

"Riswan main sendiri keluar rumah, sementara ibu linglung dan nyaris gila, ibu membiarkan Riswan berlari ke jalan hingga akhirnya dia tertabrak motor." Tangis Bu Aminah pecah saat menceritakan hal itu, ia menampar dirinya karena merasa bersalah, luka yang telah lama ia simpan itu kembali menganga hingga membuatnya merasakan sakit yang teramat pedih.

"Bang Riswan meninggal?" tanya Rudi.

"Iya, semua itu gara-gara ayahmu yang malah enak-enakan bermain gila bersama janda muda, sementara ibu harus menanggung semua kepedihan itu seorang diri."

Air mata Bu Aminah semakin mengalir deras, sementara suaminya hanya tertunduk dengan wajah penuh penyesalan.

"Selain Riswan meninggal, ibu juga tidak bisa menyusui abangmu, Rendi, ASI ibu mengering karena tertekan dengan sikap ayahmu juga keluarganya."

Hati Rudi seakan diiris pisau ketika mendengar penuturan ibunya, apalagi saat melihat air matanya yang terus berjatuhan.

"Aku gak nyangka kalau hidup Ibu begitu pedih." Rudi menggenggam erat tangan ibunya dengan tatapan nanar.

"Ayahmu itu sama sepertimu, tukang selingkuh, egois dan gak pernah peka terhadap istri. Dan yang lebih bodohnya lagi ibu terus saja terbuai dengan rayuannya, padahal ia terus menyakiti perasaan ibu dan tak pernah berubah."

"Aminah, aku mohon maafkan aku. Tolong, jangan ungkit lagi masa lalu, aku sudah sangat menyesal dan berusaha untuk menjadi suami yang baik."

"Sangat lama kamu melukai hatiku, selama 15 tahun aku hidup dalam penderitaan, semua itu tak bisa aku lupakan begitu saja."

Pak Arman tak berani lagi menjawab ucapan istrinya, ia lalu bergegas masuk kamar lalu membaringkan tubuhnya. Ia sadar, selama ini ia terlalu lama membuat istrinya tersakiti. Hingga penyesalannya kini tak mampu menghilangkan luka di hati istrinya.

"Aku minta maaf karena telah mengingatkan Ibu pada luka lama Ibu. Tapi jujur saja aku mulai bosan pada Anisa, aku mulai merasa nyaman pada Miranda."

Tanpa banyak bicara Bu Aminah langsung berlari ke dapur lalu mengambil pisau.

"Lebih baik kamu mati daripada Anisa harus mengalami nasib seperti ibu. Apakah kamu ingin anakmu memiliki nasib seperti Riswan!" teriak Bu Aminah.

"Ampun, Bu, ampun." Rudi berlutut di kaki ibunya.

"Lupakan Miranda, kembalilah pada Anisa, ibu janji tak akan memberitahunya. Tapi, kalau kamu sampai ketahuan masih berhubungan dengan Miranda, ibu tak akan mau lagi menganggapmu sebagai anak!"

"Tapi, Bu!"

"Pergi! Sebelum pisau ini menebas lehermu!"

Rudi langsung bergidik ngeri lalu bergegas pulang, sementara Bu Aminah langsung bergegas ke kamarnya sembari memegangi kepala.

"Bu, maafkan ayah, ya," ucap Pak Arman saat melihat istrinya yang tampak memegangi kepalanya.

"Ibu pusing, ibu mau tidur."

Sementara itu Rudi telah tiba di rumahnya dengan wajah lesu.

"Mas sudah pulang? Kok telat?" tanya Anisa sembari meraih tangannya lalu menciumnya.

"Tadi lembur."

"Ooh, mau makan?"

"Tadi sudah makan di tempat kerja," ujar Rudi lalu bergegas menuju kamar mandi.

Beberapa saat kemudian setelah selesai mandi, Anisa langsung menyodorkan celana beserta kaus bahkan celana dalam untuk Rudi.

"Sengaja aku ambilkan biar Mas gak ngacak-ngacak lagi," ujar Anisa.

"Oh, makasih."

Rudi langsung mengenakan pakaian, sementara Anisa langsung bergegas menuju dapur untuk makan.

"Kamu jam segini masih makan aja? Pantesan pipimu makin chubby gitu."

"Akhir-akhir ini aku sering merasa lapar, mungkin karena terus menyusui. Apalagi kalau malam."

"Emang kamu gak takut gendut?"

"Kan yang penting anak kita tercukupi gizinya. Itu yang sering Ibu katakan."

Rudi mendengus kesal, lalu segera bergegas ke kamar. Setelah selesai makan, Anisa melihat dirinya di cermin, ia tak merasa dirinya gemuk, ia lalu meraih timbangan lalu segera menimbang berat badannya.

"Masih tetap 48, kok," gumamnya lalu bergegas menuju kamarnya.

Ia sangat bingung mengapa suaminya bilang ia gemukan, padahal selama beberapa malam ia sama sekali tak tidur, sehingga pipinya terlihat tirus dan wajahnya tampak pucat pasi.

Sementara itu Rudi mulai memejamkan matanya, ia terus membayangkan wajah Miranda yang menurutnya sangat menawan, meski ia tahu bahwa Miranda masih bersuami bahkan memiliki dua orang anak.

Tiba-tiba ia menoleh ke arah bayinya yang baru berusia seminggu. Ia teringat tentang kisah pilu ibunya. Ia tak ingin anaknya mengalami kepedihan yang dialami abangnya, Riswan dan Rendi.

"Nisa, maafkan mas, ya."

Anisa langsung tersenyum mendengar ucapan suaminya tanpa bertanya lebih lanjut tentang alasan ucapan maaf tersebut.

"Maaf karena selama ini mas selalu egois dan tak pernah membantu kesulitanmu."

"Iya, Mas." Anisa mengangguk sembari tersenyum, ia sangat senang karena akhirnya Allah mengabulkan doanya selama ini.

Keesokan paginya, Rudi bangun lebih awal , ia langsung mencuci piring, bahkan mencuci pakaian.

"Makasih, loh, Mas," ujar Anisa saat melihat suaminya menjemur pakaian.

Ia benar-benar tak menyangka suaminya akan berubah secepat itu.

"Sama-sama. Sekarang bisa kan bikinin aku sarapan?"

Anisa mengangguk lalu bergegas menuju dapur. Beberapa saat kemudian, Anisa menghidangkan nasi goreng sambal terasi beserta telur dadar dan irisan mentimun juga tomat.

Rudi segera meraih nasi goreng buatan istrinya, lalu segera melahapnya.

"Enak gak? Aku tadi gak nyobain soalnya pasti pedas."

"Masih enakan buatan ibuku," sahut Rudi tanpa memperdulikan perasaan istri

"Jangan dibandingkan dengan masakan Ibu, soalnya masakan Ibu kan yang paling enak."

Dalam hatinya, Rudi mengakui bahwa masakan istrinya itu sangat enak, tapi ia merasa gengsi untuk memujinya.

Tiba-tiba ponsel Rudi bergetar, dilihatnya ada satu buah pesan dari ibunya.

[Pokoknya kalau kamu tidak memperbaiki sikapmu pada Anisa, kamu tidak akan melihat ibu lagi di dunia ini.]

Rudi terhenyak saat membaca pesan tersebut, lagi-lagi ia merasa ibunya memiliki indra keenam hingga selalu mengetahui semua gerak-geriknya.

"Anisa..."

"Iya, Mas."

"Nasi goreng buatan kamu sangat enak."

Anisa mengernyitkan dahi saat mendengar ucapan suaminya yang tiba-tiba berubah. Namun, ia hanya menanggapinya dengan senyuman karena Anisa tipe wanita yang tidak suka berdebat.

Setelah menghabiskan nasi goreng buatan istrinya, Rudi segera pamit untuk berangkat kerja.

"Kamu makan yang banyak, jangan banyak pikiran, biar ASI kamu mengalir dengan deras."

Anisa kembali mengernyitkan dahi mendengar ucapan suaminya, lalu setelah itu Rudi langsung mengecup keningnya.

"Ini uang buat jajan atau beli skincare, terserah," ujar Rudi sembari memberikan lima lembar uang berwarna merah.

"Loh, bukankah belum waktunya gajian?" tanya Anisa.

"Sebenarnya itu jatah buat Ibu, tapi Ibu menolaknya, malah disuruh diberikan padamu. Maaf baru bisa ngasih sekarang, soalnya mas sempat lupa."

Meskipun bingung dengan sikap suaminya yang tiba-tiba berubah, Anisa memutuskan untuk tidak banyak bertanya lagi, karena takut merusak mood suaminya. Setelah itu Rudi bergegas untuk segera berangkat kerja.

Menjelang siang, tiba-tiba Anisa terus kepikiran ibu mertuanya. Maka ia putuskan untuk membuat pepes ayam. Maka ia langsung berbelanja semua bahan-bahannya di warung sayur tidak jauh dari rumahnya. Beberapa saat kemudian, setelah pepesnya matang, Anisa segera bersiap lalu membawa anaknya menuju rumah ibu mertuanya sembari membawa pepes ayam.

Setibanya disana, Anisa langsung terhenyak saat melihat Miranda yang tengah berbincang dengan ibu mertuanya di kursi teras.

Bersambung

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status