Beranda / Romansa / Ibu Pengganti Bagi Aruna / Bab 4 : Bantuan dari Julian

Share

Bab 4 : Bantuan dari Julian

Penulis: Meilin Liner
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-25 19:51:39

Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden ruang tengah, memantul pada permukaan meja kayu besar yang kini dipenuhi oleh tumpukan jurnal, draf skripsi, dan satu cangkir kopi yang sudah mendingin. Jihan terbangun dengan leher yang kaku. Semalaman ia hanya tidur ayam di sofa samping tempat tidur Aruna, dan begitu fajar menyingsing, ia memaksakan diri menghadapi tumpukan data penelitiannya agar tidak tertinggal jadwal bimbingan.

​Jihan menghela napas panjang, jemarinya menari ragu di atas keyboard laptop. Ia sedang terjebak pada analisis data korelasi yang tidak kunjung sinkron. "Kenapa hasilnya begini terus, sih?" bisiknya frustrasi.

​"Analisis korelasi kamu tidak akan pernah akurat kalau kamu tidak membersihkan data outlier di bagian variabel distribusi."

​Suara berat dan bariton itu mengejutkan Jihan. Ia menoleh dan menemukan Julian sudah berdiri di sampingnya. Pria itu sudah rapi dengan kemeja kerjanya yang berwarna abu-abu gelap, namun lengan kemejanya masih tergulung hingga siku, dan ia tidak mengenakan dasi.

​"Mas Julian? Sejak kapan di situ?" tanya Jihan gugup.

​"Cukup lama untuk melihat kamu menghapus paragraf yang sama sebanyak lima kali," jawab Julian datar. Ia menarik kursi di samping Jihan tanpa meminta izin. "Biar saya lihat. Sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah menjaga Aruna semalaman, saya rasa membantu sedikit urusan skripsi ini bukan hal besar."

​Julian mengambil alih tetikus (mouse) dari tangan Jihan. Ia membungkuk sedikit untuk melihat layar lebih dekat, membuat jarak di antara mereka terkikis drastis.

​Pada awalnya, Jihan mencoba fokus. Ia mendengarkan penjelasan Julian tentang cara membaca tabel statistik dengan logika bisnis yang sangat tajam. Julian bukan hanya seorang CEO yang pandai memerintah; dia adalah otak di balik gurita bisnis Adiwangsa. Penjelasannya jauh lebih mudah dimengerti daripada penjelasan dosen pembimbing Jihan di kampus.

​Namun, fokus itu perlahan luruh.

​Aroma tubuh Julian—campuran antara sabun mandi maskulin, aroma kopi hitam, dan sedikit jejak parfum cendana—mulai memenuhi indra penciuman Jihan. Aroma yang sama dengan malam di bawah hujan empat tahun lalu. Aroma yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan diri Jihan.

​Jihan tidak lagi mendengar penjelasan tentang regresi linier atau margin of error. Matanya justru terpaku pada figur wajah Julian dari samping. Rahangnya yang tegas, bulu mata yang ternyata cukup lentik untuk pria sedingin dia, dan bagaimana konsentrasi penuh terpancar dari tatapannya.

​Dia masih secemerlang dulu, batin Jihan perih.

​Getaran cinta itu masih ada. Sangat ada, bahkan setelah dua tahun mereka dilingkupi duka. Jihan merasakan dadanya sesak oleh rasa kagum yang bercampur dengan kesedihan. Ia sadar diri. Sangat sadar. Sedekat apa pun posisi mereka saat ini, ada jurang tak kasat mata yang tak akan pernah bisa ia seberangi. Julian adalah milik Airin. Selamanya. Hati pria itu telah terkunci rapat, kuncinya dibawa pergi oleh Airin ke liang lahat, dan tak akan ada perempuan mana pun—termasuk Jihan—yang bisa membukanya kembali.

​Jihan segera membuang muka saat Julian menoleh ke arahnya. "Paham, Jihan?"

​"Ah... iya, Mas. Paham," jawab Jihan bohong, padahal jantungnya sedang berdegup kencang seperti baru saja lari maraton.

​****

"Cieee... Papa sama Kak Jihan lagi ngapain, kok dekat-dekat kayak owang pacalan?"

​Suara cempreng itu memecah keheningan yang intens. Aruna muncul dari balik pilar, mengenakan piyama motif bunga-bunga. Wajahnya sudah jauh lebih segar, meski bicaranya masih terdengar sangat cadel. Ia berdiri sambil berkacak pinggang, menatap Julian dan Jihan dengan mata yang berkilat usil.

​"Aluna lihat lho! Papa tadi lihat laptop Kak Jihan telus kepalanya dekat-dekat!" goda Aruna sambil tertawa kecil.

​Wajah Jihan seketika memerah padam. Ia segera berdiri dengan gerakan kikuk, hampir saja menyenggol cangkir kopinya. "A-Aruna sudah bangun? Kak Jihan buatkan sarapan dulu, ya!"

​Tanpa menunggu jawaban, Jihan melesat ke dapur secepat kilat. Ia merasa sangat malu, merasa seolah rahasia hatinya baru saja dikuliti oleh seorang anak berusia lima tahun. Di dapur, ia memegang pipinya yang panas, berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan.

​Di ruang tengah, Julian berdehem keras untuk menutupi rasa canggungnya. Ia menutup laptop Jihan dengan gerakan tegas.

​"Aruna Juvina, jangan bicara sembarangan. Papa hanya membantu Kak Jihan supaya dia cepat lulus kuliah," tegur Julian dengan nada suara yang kembali dingin dan berwibawa.

​Aruna justru cemberut, tidak takut dengan teguran ayahnya. "Tapi kan Aluna cuma bilang cie-cie! Papa galak banget, pantesan Mama Allin pelgi ke sulyga, Papa sih sukanya malah-malah!"

​Kalimat polos Aruna itu bagaikan sembilu yang menyayat hati Julian. Ia terdiam, menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada luka yang kembali terbuka di sana.

​"Masuk ke dapur, Aruna. Jangan ganggu Papa," perintah Julian pendek, suaranya terdengar sangat kaku.

​Aruna menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. "Papa jahat! Aluna nggak mau sama Papa! Aluna mau sama Kak Jihan aja di dapul!"

​Aruna berbalik dan berlari menyusul Jihan ke dapur, meninggalkan Julian yang terpaku sendirian di ruang tengah yang luas. Pria itu menunduk, menatap kursi kosong yang tadi ditempati Jihan. Ia menghela napas panjang, meremas jemarinya sendiri. Julian sadar, kehadiran Jihan mulai mengusik ketenangan yang selama ini ia bangun dengan susah payah, dan ia tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan dalam kedinginan yang ia buat sendiri.

​****

Di dapur, Aruna langsung memeluk kaki Jihan. "Kak Jihan, Papa jahat! Papa malah-malah telus!"

​Jihan yang sedang memecahkan telur untuk membuat omelet segera berjongkok untuk menenangkan Aruna. "Papa tidak marah, sayang. Papa cuma... Papa cuma lagi lelah."

​"Aluna mau Kak Jihan di sini telus, jangan pulang. Kalau ada Kak Jihan, Papa nggak galak banget," bisik Aruna sambil menyembunyikan wajahnya di celemek Jihan.

​Jihan hanya bisa tersenyum sedih. Ia mengusap rambut Aruna, sambil matanya menatap ke arah ruang tengah. Ia bisa melihat Julian sedang berdiri di dekat jendela, menatap ke arah luar dengan punggung yang tampak sangat kesepian.

​Di rumah ini, fajar mungkin sudah menyingsing secara harfiah, namun di dalam hati Julian, malam tampaknya masih sangat panjang. Dan Jihan, dengan segala cintanya yang salah alamat, hanya bisa menjadi saksi bisu dari kedinginan yang tak kunjung usai itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 14 : Pertengkaran

    Satu bulan pertama pernikahan seharusnya menjadi masa bulan madu yang penuh bunga. Namun, bagi Jihan, realitas mulai menunjukkan wajah aslinya. Menikah dengan seorang Julian Pratama Adiwangsa bukan hanya tentang mendapatkan cinta, tetapi juga harus siap berhadapan dengan tembok besar bernama ego dan kebiasaan. Julian adalah pria yang sudah terlalu lama memegang kendali penuh atas hidupnya, perusahaannya, dan rumah tangganya tanpa intervensi siapa pun.Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar, menambah dingin suasana rumah. Jihan sudah menyiapkan makan malam spesial—ayam bakar bumbu rujak kesukaan Julian—dan menunggunya dengan sabar di ruang makan. Namun, ketika pintu depan terbuka sekitar pukul sembilan malam, yang masuk bukanlah Julian yang hangat, melainkan sosok pria dengan kemeja kusut, dasi yang sudah ditarik lepas, dan rahang yang mengeras."Mas, sudah pulang? Mas mau makan dulu atau mandi air hangat?" Jihan menghampiri dengan senyum tulus, berniat mengambil alih tas kerja s

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 13 : Malam Pertama

    Malam itu, lampu-lampu di kediaman Adiwangsa sudah mulai diredupkan. Aroma pengharum ruangan sandalwood dan vanilla menyeruak di kamar utama yang kini telah berubah suasananya. Tidak ada lagi kesan dingin; kamar itu kini terasa lebih hangat dengan sentuhan barang-barang Jihan yang mulai tertata rapi. Julian, yang baru saja selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahu. Ia menatap ranjang besar mereka dengan senyum kecil yang tertahan. Hari ini adalah hari paling membahagiakan sekaligus melelahkan baginya. Namun, senyum itu seketika memudar saat ia melihat sesosok kecil sudah meringkuk di tengah ranjang, memeluk guling dengan erat. "Aruna?" gumam Julian. Aruna mendongak, matanya yang bulat tampak berkaca-kaca. "Papa... Aluna mau tidul di sini. Aluna mau tidul baleng Bunda dan Papa." Julian menghela napas panjang, ia mendekati ranjang dan duduk di tepiannya. "Sayang, Aruna kan punya kamar sendiri yang bagus. Malam ini Papa mau berdua dulu sama Bu

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 12 : Hari Pernikahan

    Seminggu sebelum hari besar itu tiba, suasana di kediaman Adiwangsa mendadak terasa sepi bagi Julian. Sesuai dengan adat dan kesepakatan keluarga, kedua calon mempelai harus menjalani masa pingitan, yaitu tidak boleh bertemu selama tujuh hari sebelum akad nikah dilangsungkan. Jihan memutuskan untuk menghabiskan masa-masa terakhirnya sebagai gadis lajang di rumah peninggalan orang tuanya, sebuah rumah sederhana namun penuh kenangan yang telah ia rapikan kembali.Namun, Julian tidak menyangka bahwa ia tidak hanya kehilangan calon istrinya untuk sementara, tetapi juga putri kecilnya. Saat hari pertama pingitan dimulai, Aruna bersikeras ingin ikut bersama Jihan. Julian sudah mencoba membujuk, merayu dengan mainan, hingga menjanjikan es krim, namun Aruna tetap kekeh."Aruna, sini pulang sama Papa dong. Papa kesepian loh di sini sendirian. Aruna nggak kasihan sama Papa?" ucap Julian sore itu melalui sambungan video call. Wajah Julian tampak sedikit kuyu, duduk di ruang tengah yang biasanya

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 11 : Persiapan Pernikahan

    Persiapan pernikahan yang hanya berjarak satu bulan lagi membuat kediaman Adiwangsa berubah menjadi pusat kesibukan yang manis. Kotak-kotak undangan beludru berwarna biru dongker mulai menumpuk di ruang kerja Julian, bahkan aroma bunga melati serta mawar putih sudah mulai tercium meski hari besar itu belum tiba. Namun, di tengah kesibukan memesan katering dan menyusun daftar tamu, ada satu sosok yang paling sibuk: Aruna.Bocah itu seolah menjelma menjadi bayangan Jihan. Ke mana pun Jihan melangkah—ke dapur, ke taman, bahkan saat Jihan ingin ke kamar mandi—Aruna selalu mengekor di belakang sambil memegang ujung baju Jihan."Bunda, nanti pas Bunda pakai baju pengantin, Aluna boleh pegang ekol bajunya nggak?" tanya Aruna sambil duduk di pangkuan Jihan saat mereka sedang memilih desain suvenir.Jihan mengusap rambut Aruna dengan sayang. "Tentu boleh, sayang. Aruna kan putri kecil Bunda.""Bunda nggak boleh pelgi-pelgi lagi ya? Bobonya sama Aluna telus ya?"Julian yang baru saja pulang ker

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 10 : Meminta Izin dan Restu

    Pagi itu, langit Yogyakarta tampak cerah dengan semburat jingga yang lembut. Jihan, Julian, dan Aruna berdiri di depan sebuah pusara yang sangat terawat. Gundukan tanah itu milik Airin Saraswati. Bunga-bunga segar baru saja ditaburkan oleh tangan mungil Aruna, memberikan aroma wangi yang menenangkan di tengah sunyinya area pemakaman.​Jihan berlutut, menyentuh nisan batu marmer yang dingin itu dengan jemari bergetar. "Kak Airin... Jihan datang," bisiknya lirih. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Jihan datang untuk cerita. Mas Julian sudah membuka hatinya. Dan Jihan... Jihan minta izin untuk menempati ruang itu, Kak. Jihan janji akan menjaga Mas Julian dan Aruna seumur hidup Jihan."​Ingatan Jihan melayang pada malam terakhir di rumah sakit, beberapa hari sebelum Airin mengembuskan napas terakhirnya. Saat itu, Airin menggenggam tangan Jihan dengan sisa kekuatannya dan berbisik pelan, "Jihan, kalau suatu saat Julian akhirnya jatuh cinta padamu, berjanjilah untuk bersamanya. Ja

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 9 : Misi Rahasia Aruna

    Pasca kejadian di restoran seafood, suasana di rumah keluarga Adiwangsa berubah secara halus namun signifikan. Julian tidak lagi sedingin es, meski ia masih tetap menjadi pria yang irit bicara. Namun, penggerak utama di rumah itu bukanlah Julian ataupun Jihan, melainkan Aruna. Bocah berusia lima tahun itu seolah memiliki radar tajam; ia tahu bahwa Papanya sudah mulai "kalah" oleh pesona Kak Jihannya, dan ia tidak akan membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. ​Hari Minggu pagi yang cerah biasanya diisi dengan kegiatan santai. Jihan sedang membantu Bibi di dapur menyiapkan sarapan, sementara Julian duduk di teras belakang sambil membaca laporan kerja di tabletnya. Aruna, dengan daster kecil motif stroberinya, berlari menghampiri Jihan. ​"Kak Jihan, Papa bilang Papa mau makan roti panggang buatan Kak Jihan, bukan buatan Bibi," dusta Aruna dengan wajah polosnya. ​Jihan mengernyitkan dahi. "Oh ya? Mas Julian bilang begitu?" ​"Iya! Katanya buatan Bibi nggak enak, cuma buatan Kak J

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status