Home / Romansa / Ibu Susu Bayi Mantan / Penyelamat Kesedihan Hanna

Share

Penyelamat Kesedihan Hanna

Author: Idatul_munar
last update Huling Na-update: 2025-10-19 00:18:00

Wanita itu tersenyum manis, mata indahnya berbinar-binar dengan kemenangan yang jelas terlihat. Dengan langkah santai, ia mendekati Lian, dan tanpa sungkan, ia memeluk lengan suami Hanna, menempelkan tubuhnya yang seksi ke tubuh Lian.

“Putra kita baru saja meninggal, dan kamu malah berduaan dengan wanita lain? Di kamar kita?!" bentak Hanna, kata-katanya penuh dengan rasa sakit dan kekecewaan. Lian tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan, bahkan wajahnya terlihat dingin dan tidak peduli.

"Kamu benar-benar pria brengsek!" Hanna melanjutkan, suaranya semakin keras. "Bisa-bisanya kamu berselingkuh sementara aku terpuruk atas meninggalnya anak kita! Kamu benar-benar..." Namun, kata-katanya terhenti di tengah jalan.

Blugg!

Wajah Lian tertoleh ke samping dengan ekspresi terkejut dan sakit, pipinya terasa panas yang membara. Hanna terkejut juga, matanya melebar saat ia menyadari bahwa ayahnya, Alex, telah meninju Lian dengan sekuat tenaga.

“Saya menikahkan kau dengan putri kami, karena melihat kau pria yang baik. Tapi … kau adalah pria yang jahat! Brengsek! Suatu saat, kau akan merasakan balasan dari kejahatan yang kau lakukan pada keluarga kami!” bentak Alex dengan hati yang membara.

“Ayo, Hanna,” Alex menarik tangan putrinya dan mengajaknya pergi.

“Putri kalian itu sedang membayar kejahatannya di masa lalu. Sebaiknya kalian berkaca, putri kalian sendiri membuang anaknya tapi putraku yang harus menanggung akibat dari kejahatan ibunya!”

Langkah Hanna terhenti, wajahnya pucat padi. Genggaman tangannya pada kursi roda ibunya menguat, di sertai dengan air matanya yang luruh membasahi pipinya. Perkataan Lian, memukul telak dirinya.

Lalu, disepanjang perjalanan, Hanna hanya dian, melamun. Rasa sakit kehilangan putranya belum juga hilang. Ditambah lagi, suaminya mengkhianati dan mengusirnya dari rumah mereka. Orang tuanya harus menanggung penderitaan yang ditimbulkan oleh perbuatannnya.

“Pa, aku minta maaf,” lirih Hanna dengan perasaan sesak. Ia menunduk, malu untuk menatap orang tuanya.

“Papa harap, kamu dapat belajar dari kesalahan yang menimpamu. Papa marah, tapi untuk saat ini hal itu bukanlah solusi.”

Saat keduanya mengobrol, tiba tiba Pina memegangi dadanya yang terasa sakit. Hanna dan Alex yang melihat itu terkejut, dan segera mereka berlari mendekat.

“Mama kenapa, mah?” tanya Alex panik.

“Pak, kita ke rumah sakit!” titah Hanna pada supir taksi. Kondisi pina semakin buruk, jalanan pun semakin ramai dari biasanya.

Sesampainya di rumah sakit, para tenaga medis segara membawanya ke ruang UGD. Hanna dan Alex menunggu dengan penuh kecemasan, sudah terlalu banyak cobaan yang datang.

Beberapa saat kemudian, seorang dokter datang dengan wajah serius, membawa hasil pemeriksaan awal.

“Bapak, setelah memeriksa kondisi pasien, kami mendapati bahwa pasien mengalami serangan jantung. Mengingat kondisinya yang sebelumnya sudah terpengaruh oleh stroke, tubuhnya kini sangat rentan terhadap komplikasi lain, seperti itu.”

“Apa?” Hanna kaget hingga dirinya sulit mengatakan apapun.

“Kami melihat adanya tanda-tanda bahwa pembuluh darah di jantungnya mulai tersumbat. Kami juga sudah melakukan tes darah, yang menunjukkan ada tekanan yang sangat tinggi pada jantungnya, kemungkinan karena pengaruh dari stroke yang sudah ia alami sebelumnya.”

Hanna merasa tubuhnya seakan melemas. Ibunya sudah cukup berjuang untuk pulih dari stroke, dan sekarang, ia harus menghadapi ancaman baru yang jatuh lebih mematikan.

Dokter melanjutkan penjelasannya dengan nada yang lebih serius. “Karena kondisinya yang sudah terpengaruh oleh stroke, kami harus melakukan tindakan dengan sangat hati-hati. Kami akan melakukan angiogram untuk melihat lebih jelas pembuluh darah yang ada, untuk menentukan apakah ada sumbatan yang parah dan apakah kami perlu melakukan prosedur lebih lanjut, seperti pemasangan stent atau bypass.”

Hanna menggigit bibirnya, berusaha untuk tidak menangis di hadapan dokter, namun perasaan khawatir dan cemas itu sulit untuk ditahan.

“Kami akan terus memantau kondisinya dengan cermat, ini adalah waktu yang sangat krusial. Dan kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk menyelamatkan pasien,” kata dokter itu dengan penuh pengertian.

Hanna menggagul pelan, meskipun hatinya penuh dengan ketakutan. Ia merasa seolah tidak punya lagi tenaga untuk berjuang, namun ia tahu satu hal, ia harus terus berusaha demi keluarganya.

Hanna terburu-buru menuju resepsionis untuk membayar pengobatan ibunya. Ia membuka dompet dan mengeluarkan kartu ATM miliknya, berharap bisa segera menyelesaikan pembayan dan Pina dapat segera mendapatkan kamar perawatan.

“Maaf, apa Anda punya kartu lain? Kartu ini tidak bisa di gunakan,” ucap suster dengan suara lembut.

“Hah? Kok bisa, Sus?” Hanna kebingungan.

“Coba lagi, pakai kartu ini, Sus.” Hanna mencoba kartu lain, namun tetap saja sama.

“Maaf. Mba … semua kartu tidak bisa digunakan. Mungkin anda punya uang tunai?” tanya suster itu dengan cemas.

Hanna menggenggam erat dompetnya. Begitu dibuka, ia hanya menemukan dua lembar uang merah. Dalam situasi seperti ini, seharusnya ia mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

“Saya ambil dulu uangnya, ya Sus?” Hanna bergegas meninggalkan resepsionis, berusaha menenangkan dirinya.

Seketika, ia merasa semakin lelah, baik secara fisik maupun mental. Ia duduk terkulai di kursi ruang tunggu. Pikirannya mulai kacau, hatinya kosong. Begitu banyak hal yang harus dipikirkan, namun ia merasa semuanya terlalu berat untuk dihadapi.

Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya duduk di sebelahnya. Tanpa berkata apa-apa, wanita itu menyampirkan kain di dada Hanna. Hanna tersentak dan merasa tak nyaman, ingin menolaknya. Namun, wanita itu menenangkan.

“Jangan di lepas, pakaianmu basah. Tidak enak dipandang orang.” Ujar wanita itu dengan lembut.

Hanna terdiam, ia menunduk menatap dadanya yang basah. Karena kepanikannya, dia tak sadar jika asinya membasahi bajunya. Seharusnya asi miliknya sudah di minum oleh putrinya. Namun, hal tak terduga terjadi.

“Terima kasih,” Hanna berbisik pelan.

“Sama-sama, segera susui anakmu. Kalau tidak, bisa terjadi penyumbatan dan itu bisa sangat sakit.”

Hanna menatap wanita itu dengan tatapan hampa.

“Anak saya meninggal kemarin, jadi saya tidak bisa memberikannya.” Suaranya bergetar. Wanita itu tampak terkejut, lalu mengelus bahu Hanna dengan lembut.

“Saya mengerti, dengan perasaan kamu, Nak. Saya juga dulu pernah ngerasain seperti kamu. Anak saya baru lahir tapi meninggalkan saya untuk selamanya.”

Suasana di rumah sakit semakin membuat Hanna terhimpit, namun tiba-tiba suara panggilan nama terdengar.

“Hanna!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ibu Susu Bayi Mantan   Rahasia Antara Dian dan Hanna

    Hanna yang sedang menyusui Baby Raihan, seketika tidak bisa fokus karena pikirannya yang sedang sibuk memikirkan bagaimana cara ia bisa pulang sebentar ke rumahnya untuk menjenguk ibunya. Beberapa hari ini Hanna tidak bertemu dengan ibunya, dan dia sangat ingin melihat kondisi ibunya yang sedang sakit. Namun, Baby Raihan yang sedang menyusu, tidak bisa lagi ditinggalkan karena anak itu tidak mau lagi minum asi dari botol. Oek! Oek! “Reihan... tante ada di sini, Nak," kata Hanna, sambil mencoba menenangkan Baby Raihan yang mulai menangis karena merasa ketegangan dari ibu susunya. Namun, Babby Raihan tidak mau diam, dia terus menangis dan menggenggam-genggam tangan Hanna. Hanna merasa sedikit sabar, mencoba untuk fokus pada menyusui Baby Raihan, namun pikirannya terus melayang ke ibunya. "Aku harus pulang sebentar, tapi bagaimana dengan Reihan?" kata Hanna, sambil berbicara sendiri. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena Raihan sangat bergantung pada asi langsung dar

  • Ibu Susu Bayi Mantan   Perhatian Hanna

    Tangan Hanna membuka gagang pintu kamar dengan hati-hati, lalu pintu terbuka dengan pelan. Dia langsung masuk ke dalam kamar dan melihat Reyhan yang tertidur pulas di tempat tidurnya. Bayi itu sama sekali tidak rewel, membuat Hanna tersenyum kecil. Hanna mendekati tempat tidur Reyhan dan mengusap pelan pipi cumbinya yang lembut. Dia merasa hatinya dipenuhi dengan kasih sayang dan kehangatan. "Tidur yang nyenyak ya, sayang," bisik Hanna, suaranya hampir tidak terdengar. Reyhan yang sedang tertidur, sedikit menggerakkan kepalanya, membuat Hanna tersenyum lagi. Dia terus mengusap pelan rambut Reyhan, merasa bahagia melihat bayi itu tidur dengan damai. Hanna terus mengusap pelan rambut Reyhan, merasa bahagia melihat bayi itu tidur dengan damai. Dia merasa seperti memiliki dunia di tangannya, dengan damai. Tiba-tiba, Hanna teringat dengan Maira yang masih di kamar sebelah. Dia merasa sedikit bersalah karena tidak bisa memberikan perhatian yang sama kepada Maira. Hanna memutus

  • Ibu Susu Bayi Mantan   Tangisan Maira

    Huaaaa!Tangisan Maira terdengar pecah dari belakang kursi kemudi, seperti letusan gunung yang telah lama menumpuk. Anak itu masih tidak rela pulang ke rumah, masih ingin tinggal di rumah Cila yang menurutnya sangat menyenangkan. "Maira, kenapa kamu?" tanya Evan, suaranya terdengar lembut tapi sedikit panik, sambil menyitir mobil dengan hati-hati.Maira yang menangis, mengangkat wajahnya yang merah dan basah oleh air mata. "Ini semua karena papa! Maira tidak mau pulang... kenapa papa jemput Maira," teriak Maira di sela-sela tangisnya, suaranya terdengar seperti protes yang tidak ingin didengar.Evan yang mendengar itu, menghela napas dan suaranya sedikit meninggi. "Diam, Maira. Kamu masih punya rumah sendiri kan? Papa tidak izinin kamu tidur di rumah orang lain," ujar Evan, mencoba untuk menenangkan anaknya, tapi suaranya masih terdengar sedikit tenang.Hanna yang duduk di samping kemudi hanya diam saja melihat interaksi anak dan ayah itu yang sedang berdebat.Maira yang masih mena

  • Ibu Susu Bayi Mantan   Luluh

    Sementara di rumah Marco, kedua gadis kecil sedang asik bernyanyi bersama melalui mikrofon yang tersambung dari televisi. "Kupu kupu terbang melayang... aku cantik banyak yang sayang... aku anak mami papi lalalala" Kedua anak itu bergoyang-goyang mengikuti irama lagu tersebut, suara mereka yang ceria dan riang memenuhi ruangan.Bella datang menghampiri kedua anak kecil itu, ia tersenyum melihat keasikan mereka. Cila hanya anak tunggal sangat bahagia kedatangan temannya seharian. "Maira..." panggil Bella lembut pada gadis kecil itu, suaranya yang lembut membuat Maira berhenti bernyanyi dan menoleh ke arah Bella.Maira tersenyum, "Iya, Kenapa Tante?" tanya Maira, suaranya yang ceria masih terdengar. Bella duduk di sebelah Maira, "Maira sudah ngabarin orang rumah, karena tidak pulang. Tante takut nanti papa Maira khawatir," kata Bella, suaranya yang manis membuat Maira tersenyum.Cila yang duduk di sebelah Maminya, mengangguk-angguk, "Tapi Maira tidur di rumah kita Mami. Maira bilang

  • Ibu Susu Bayi Mantan   Jemput Maira

    Evan baru saja pulang dari perusahaan, setelah seharian ia bekerja. Ia memarkirkan mobilnya di depan rumah, kemudian masuk ke dalam dengan rencana bisa beristirahat sejenak. Namun, saat melangkah masuk, ia disambut oleh pemandangan yang membuat hatinya terasa lebih ringan.Di ruang tamu, Hanna sedang mengayunkan Raihan di dalam ayunan dorongan kecil, sambil bernyanyi dengan suara yang manis dan irama yang ceria. "Clubb baaaa, anak genteng! Anak ganteng!" ujar Hanna, membuat Raihan tertawa kecil. Evan tersenyum, merasa hatinya terasa lebih hangat melihat interaksi antara Hanna dan Raihan.Tampa disadari, Evan telah berdiri di sana beberapa saat, menikmati pemandangan itu. Ia merasa pikirannya yang lelah seketika hilang, digantikan oleh perasaan yang lebih bahagia. "Wanita itu..." Evan cepat-cepat menggelengkan kepalanya, menetralkan pikirannya. Ia tidak ingin memikirkan hal-hal yang tidak perlu, terutama saat ia melihat Hanna dan Raihan yang begitu bahagia.Evan mencoba untuk tidak

  • Ibu Susu Bayi Mantan   Nasehat Dian

    Dian yang masih mengusap rambut Hanna dengan penuh kasih sayang, seperti putrinya sendiri berkata dengan nada yang lembut."Hanna, Tante minta kamu maklumi dengan sikap Evan ya," sambil memandang ke arah Hanna dengan mata yang penuh pengertian.Hanna yang tertegun, memandang ke arah Dian dengan mata yang penuh keterkejutan."Tante...?" sambil mencoba memahami apa yang Dian katakan.Dian tersenyum, "Tante tahu, Evan sangat keras dengan kamu. Di karenakan masalah di masa lalu, tante berharap kamu banyak bersabar, Hanna," kata Dian sambil mengangguk.Hanna merasa terharu, merasa bahwa Dian masih berpihak pada dirinya. Hanna mengira jika Dian akan ikut membenci dirinya tentang kesalahan di masa lalu, tapi ternyata tidak."Tante... terima kasih," kata Hanna dengan suara yang lembut, sambil memandang ke arah Dian dengan mata yang penuh rasa syukur."Tante hanya ingin kamu tahu bahwa tante ada di sini untuk kamu,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status