Beranda / Romansa / Ibu Susu Bayi Mantan / Tidak mungkin Dia

Share

Tidak mungkin Dia

Penulis: Idatul_munar
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-19 00:36:00

Hanna menoleh, wajah ayahnya tampak panik. Hatinya berdebar, khawatir ada sesuatu yang terjadi pada ibunya.

“Nyonya, terima kasih untuk kainnya, saya akan mengembalikannya nanti. Saya harus melihat kondisi mama saya sekarang!” Hanna berlari meninggalkan wanita paruh baya itu. tanpa sempat berkata lebih banyak, wanita itu menatap Hanna yang berlalu, perlahan menghela nafasnya.

“Ibu Dian!”

Suara suster memanggil wanita itu, Dian terkejut dan segera berdiri mengikuti suster yang tampak cemas.

“Ada apa, Sus?” tanya Dian, wajahnya menunjukkan kekhawatiran.

“Bisa ikut dengan saya buk?”

Dian mengangguk, suster pun membawanya ke ruang bayi. Di sana terlihat bayi laki laki di inkubator, menangis dengan wajah terlihat merah.

“Bayi ini terus memuntahkan susu formula yang kami beri. Baru 20 Ml yang bisa masuk, sementara bayi yang baru lahir seharusnya mengonsumsi 45-90 ml. Jika kondisi ini berlanjut, berat badannya tidak akan naik,” jelas dokter dengan penuh perhatian.

“Jadi susu formula tidak cocok untuknya?” Dian bertanya dengan cemas, melihat bayi yang semakin lemah itu.

“Bisa jadi. Setiap bayi memiliki kemampuan berbeda dalam mencerna susu formula.”

“Bagaimana solusinya, Dok?” Dian bertanya lagi dengan suara pelan.

“Apakah ada kerabat yang sedang menyusui?” tanya dokter.

Dian terdiam. “Tidak ada, kami tidak punya siapa-siapa.”

“Tapi, jika ASI diberikan oleh wanita lain, apakah itu aman, Dok?” tanya wanita lagi.

“Iya, asal ibu susu yang dipilih sehat dan ASI yang diberikan sudah melalui pemeriksaan ketat,” jelas dokter itu dengan tenang.

Dian mengangguk, matanya kembali menatap bayi di inkubator, hati penuh kekhawatiran, bayi itu terus menangis. Seakan meminta sesuatu yang tidak bisa dipenuhi.

Sedangkan diruang tunggu rumah sakit yang sunyi, Hanna masih memikirkan keadaan ibunya yang terbaring di UGD rumah sakit. Ia merasa khawatir dan tidak sabar menunggu keputusan dokter. Tiba-tiba, seorang suster muncul dan menghampirinya dengan wajah yang simpatik.

"Maaf, nona... sesuai prosedur rumah sakit kami, kami tidak bisa memberikan kamar perawatan sebelum anda membayar biaya pengobatan," katanya dengan nada yang lembut, namun membuat Hanna merasa seperti telah dipukul keras.

Hanna terdiam, tubuhnya lemas, hanya bisa menangis. Dokter itu menunggalkannya, tidak bisa berbuat lebih banyak karena kebijakan rumah sakit yang ketat.

Namun, sebuah suara mengejutkan Hanna. “Maaf, saya tadi tidak sengaja mendengar apa yang kamu bicarakan dengan dokter,”

Wanita yang tadi tiba-tiba muncul di sampingnya, menepuk bahunya dengan lembut.

“Jangan khawatir, saya bisa membantu kamu.”

Hanna menatapnya dengan terkejut, masih belum percaya. “Apa? Apa yang anda maksud?”

“Saya akan membantu membayar biaya perawatan ibumu,” Dian berkata pelan, tapi pasti. “Tapi … bisakah kamu menjadi ibu susu untuk anak keponakan saya?”

“Ibu susu?”

“Iya, keponakan saya mencari ibu susu. Istrinya meninggal, bisakah kamu membantunya? Kami akan membayar, berapapun yang kamu inginkan. Bahkan, sampai pengobatan ibumu selesai.” Ucap Dian dengan nada yakin.

Pandangan Hanna beralih, menatap sang ibu yang masih terbaring di ruang UGD. Hanna menghela nafas pelan, otaknya tengah berpikir keras untuk mengambil keputusan ini. Hingga akhirnya, dia memilih keputusan yang sudah dia mantapkan dalam hatinya.

“Saya mau, Tapi … kalau anak dari ponakan Anda tidak mau, bagaimana?”

Senyum Dian merekah, ia memeluk Hanna dengan perasaan bahagia. “Kita coba dulu, ayo!”

Dian membawa Hanna ke dalam ruang bayi untuk melihat langsung bayi yang akan disusui Hanna. Sebelum itu, dokter bertanya lebih dulu tentang kesehatan Hanna dan apakah wanita itu mengidap penyakit tertentu.

Setelah di periksa semuanya baik, mulailah seorang suster mengeluarkan bayi itu dari inkubator dan memberikannya pada Hanna dengan perlahan.

Saat bayi itu sampai di dekapannya, air mata Hanna kembali luruh. Dirinya teringat akan putranya yang telah tiada, bahkan dia belum sempat menyusuinya.

Namun, semesta seolah memberiksnya pengganti dari rasa sakit dan kehilangan yang dirinya alami lewat bayi itu.

“Hanna, ayo. Lihat, dia menangis dan berharap segera disusui.” Ucap Dian dengan antusias.

Hanna mengangguk, perlahan membuka kancing bajunya. Namun, dia menatap Dian dengan ragu. “Apa anda akan melihat saya menyusui?”

Dian mengerjapkan matanya pelan, “Ya, tentu saja. Memangnya kenapa? Saya juga memilikinya, hanya saja tidak ada isinya. Kenapa harus malu?” Ucapnya heran.

Hanna malu saat dilihat sedang menyusui. Namun, benar apa kata wanita itu. Kenapa dirinya harus malu? Sesama wanita.

Perlahan Hanna mengeluarkan ASI-nya. Suster pun membantunya untuk memposisikan bayi di gendongan agar dapat menyusu dengan bauk. Saat bibir kecil itu berhasil meraih sumber nutrisinya, Hanna memenjamkan matanya, merasakan sakit yang terasa menyenangkan sebagai seorang ibu.

“Sakit ya? Biasanya lidah bayi memang kasar, nanti juga terbiasa.” Ucap Dian sambil mengelus punggung Hanna.

Hanna mengangguk, matanya menatap bayi di gendongannya dengan mata berkaca kaca. Bayi itu mengisap kuat sumber nutrisinya, seolah dia sangat kehausan.

“Lihat, dia meminumnya dengan lahap. Astaga Hanna, terima kasih banyak.” kata Dian dengan rasa haru, melihat bayi itu yang kuat menyusu.

Hanna tersenyum. “Sama-sama, nyonya.” Matanya mulai kembali memandang bayi di gendongannya, dengan lembut jarinya menyentuh pipi kenyang bayi itu. Seperti ada ikatan batin di antara keduanya yang Hanna rasakan.

Ponsel Dian berdering, ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat siapa yang menghubunginya. Setelah melihatnya, Dian tersenyum senang dan mengusap layar ponselnya sebelum menempelkan ke telinganya.

“Disini sudah aman, sekarang sudah ada ibu Susu yang memberikan ASI untuk putramu, Evan.”

Jantung Hanna berdegup kencang, pikirannya kalut saat mendengar nama yang tak asing di telinganya.

“Tidak mungkin Evan, Nama Evan banyak … mantan suamiku tidak memiliki kerabat. Jadi sudah pasti, Evan yang berbeda.” Batinnya cemas.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ibu Susu Bayi Mantan   Rahasia Antara Dian dan Hanna

    Hanna yang sedang menyusui Baby Raihan, seketika tidak bisa fokus karena pikirannya yang sedang sibuk memikirkan bagaimana cara ia bisa pulang sebentar ke rumahnya untuk menjenguk ibunya. Beberapa hari ini Hanna tidak bertemu dengan ibunya, dan dia sangat ingin melihat kondisi ibunya yang sedang sakit. Namun, Baby Raihan yang sedang menyusu, tidak bisa lagi ditinggalkan karena anak itu tidak mau lagi minum asi dari botol. Oek! Oek! “Reihan... tante ada di sini, Nak," kata Hanna, sambil mencoba menenangkan Baby Raihan yang mulai menangis karena merasa ketegangan dari ibu susunya. Namun, Babby Raihan tidak mau diam, dia terus menangis dan menggenggam-genggam tangan Hanna. Hanna merasa sedikit sabar, mencoba untuk fokus pada menyusui Baby Raihan, namun pikirannya terus melayang ke ibunya. "Aku harus pulang sebentar, tapi bagaimana dengan Reihan?" kata Hanna, sambil berbicara sendiri. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena Raihan sangat bergantung pada asi langsung dar

  • Ibu Susu Bayi Mantan   Perhatian Hanna

    Tangan Hanna membuka gagang pintu kamar dengan hati-hati, lalu pintu terbuka dengan pelan. Dia langsung masuk ke dalam kamar dan melihat Reyhan yang tertidur pulas di tempat tidurnya. Bayi itu sama sekali tidak rewel, membuat Hanna tersenyum kecil. Hanna mendekati tempat tidur Reyhan dan mengusap pelan pipi cumbinya yang lembut. Dia merasa hatinya dipenuhi dengan kasih sayang dan kehangatan. "Tidur yang nyenyak ya, sayang," bisik Hanna, suaranya hampir tidak terdengar. Reyhan yang sedang tertidur, sedikit menggerakkan kepalanya, membuat Hanna tersenyum lagi. Dia terus mengusap pelan rambut Reyhan, merasa bahagia melihat bayi itu tidur dengan damai. Hanna terus mengusap pelan rambut Reyhan, merasa bahagia melihat bayi itu tidur dengan damai. Dia merasa seperti memiliki dunia di tangannya, dengan damai. Tiba-tiba, Hanna teringat dengan Maira yang masih di kamar sebelah. Dia merasa sedikit bersalah karena tidak bisa memberikan perhatian yang sama kepada Maira. Hanna memutus

  • Ibu Susu Bayi Mantan   Tangisan Maira

    Huaaaa!Tangisan Maira terdengar pecah dari belakang kursi kemudi, seperti letusan gunung yang telah lama menumpuk. Anak itu masih tidak rela pulang ke rumah, masih ingin tinggal di rumah Cila yang menurutnya sangat menyenangkan. "Maira, kenapa kamu?" tanya Evan, suaranya terdengar lembut tapi sedikit panik, sambil menyitir mobil dengan hati-hati.Maira yang menangis, mengangkat wajahnya yang merah dan basah oleh air mata. "Ini semua karena papa! Maira tidak mau pulang... kenapa papa jemput Maira," teriak Maira di sela-sela tangisnya, suaranya terdengar seperti protes yang tidak ingin didengar.Evan yang mendengar itu, menghela napas dan suaranya sedikit meninggi. "Diam, Maira. Kamu masih punya rumah sendiri kan? Papa tidak izinin kamu tidur di rumah orang lain," ujar Evan, mencoba untuk menenangkan anaknya, tapi suaranya masih terdengar sedikit tenang.Hanna yang duduk di samping kemudi hanya diam saja melihat interaksi anak dan ayah itu yang sedang berdebat.Maira yang masih mena

  • Ibu Susu Bayi Mantan   Luluh

    Sementara di rumah Marco, kedua gadis kecil sedang asik bernyanyi bersama melalui mikrofon yang tersambung dari televisi. "Kupu kupu terbang melayang... aku cantik banyak yang sayang... aku anak mami papi lalalala" Kedua anak itu bergoyang-goyang mengikuti irama lagu tersebut, suara mereka yang ceria dan riang memenuhi ruangan.Bella datang menghampiri kedua anak kecil itu, ia tersenyum melihat keasikan mereka. Cila hanya anak tunggal sangat bahagia kedatangan temannya seharian. "Maira..." panggil Bella lembut pada gadis kecil itu, suaranya yang lembut membuat Maira berhenti bernyanyi dan menoleh ke arah Bella.Maira tersenyum, "Iya, Kenapa Tante?" tanya Maira, suaranya yang ceria masih terdengar. Bella duduk di sebelah Maira, "Maira sudah ngabarin orang rumah, karena tidak pulang. Tante takut nanti papa Maira khawatir," kata Bella, suaranya yang manis membuat Maira tersenyum.Cila yang duduk di sebelah Maminya, mengangguk-angguk, "Tapi Maira tidur di rumah kita Mami. Maira bilang

  • Ibu Susu Bayi Mantan   Jemput Maira

    Evan baru saja pulang dari perusahaan, setelah seharian ia bekerja. Ia memarkirkan mobilnya di depan rumah, kemudian masuk ke dalam dengan rencana bisa beristirahat sejenak. Namun, saat melangkah masuk, ia disambut oleh pemandangan yang membuat hatinya terasa lebih ringan.Di ruang tamu, Hanna sedang mengayunkan Raihan di dalam ayunan dorongan kecil, sambil bernyanyi dengan suara yang manis dan irama yang ceria. "Clubb baaaa, anak genteng! Anak ganteng!" ujar Hanna, membuat Raihan tertawa kecil. Evan tersenyum, merasa hatinya terasa lebih hangat melihat interaksi antara Hanna dan Raihan.Tampa disadari, Evan telah berdiri di sana beberapa saat, menikmati pemandangan itu. Ia merasa pikirannya yang lelah seketika hilang, digantikan oleh perasaan yang lebih bahagia. "Wanita itu..." Evan cepat-cepat menggelengkan kepalanya, menetralkan pikirannya. Ia tidak ingin memikirkan hal-hal yang tidak perlu, terutama saat ia melihat Hanna dan Raihan yang begitu bahagia.Evan mencoba untuk tidak

  • Ibu Susu Bayi Mantan   Nasehat Dian

    Dian yang masih mengusap rambut Hanna dengan penuh kasih sayang, seperti putrinya sendiri berkata dengan nada yang lembut."Hanna, Tante minta kamu maklumi dengan sikap Evan ya," sambil memandang ke arah Hanna dengan mata yang penuh pengertian.Hanna yang tertegun, memandang ke arah Dian dengan mata yang penuh keterkejutan."Tante...?" sambil mencoba memahami apa yang Dian katakan.Dian tersenyum, "Tante tahu, Evan sangat keras dengan kamu. Di karenakan masalah di masa lalu, tante berharap kamu banyak bersabar, Hanna," kata Dian sambil mengangguk.Hanna merasa terharu, merasa bahwa Dian masih berpihak pada dirinya. Hanna mengira jika Dian akan ikut membenci dirinya tentang kesalahan di masa lalu, tapi ternyata tidak."Tante... terima kasih," kata Hanna dengan suara yang lembut, sambil memandang ke arah Dian dengan mata yang penuh rasa syukur."Tante hanya ingin kamu tahu bahwa tante ada di sini untuk kamu,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status