LOGIN“Apa kamu tidak mengantuk, jam segini masih nonton televisi," kata Hanna dengan nada yang lembut, sambil memandang ke arah Evan dengan mata yang hangat. Evan yang masih menonton TV, tidak langsung menjawab. Hanna sedikit penasaran, "Evan, kamu baik-baik saja?" kata Hanna dengan nada yang sedikit lebih keras.Evan tiba-tiba berubah sikap, menatap Hanna dengan mata yang dingin dan tajam. "Bukan urusan kamu, jangan sok peduli padaku. Ingat, kamu hanya sebatas ibu susu putraku, tidak lebih, mengerti!" kata Evan dengan nada yang keras dan menusuk.Hanna terkejut dengan kata-kata Evan, niat baik tidak pernah di hargai oleh Evan. Ia tidak bisa percaya bahwa Evan yang selama itu selalu lembut dan peduli, bisa berubah menjadi seperti ini. Hanna merasa hatinya terluka, dan air matanya mulai menggenang di matanya.“Kamu tidak perlu peduli dengan urusanku, karena itu tidak akan mengubah apa-apa. Kamu hanya perlu fokus menjadi ib
Hanna tiba di rumah Evan, matanya langsung tertuju pada mobil Evan yang terparkir di garasi rumah. Perasaannya tiba-tiba tidak enak, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Apakah Evan sudah pulang? Atau ada sesuatu yang terjadi?Saat dia masuk, dia melihat Evan duduk di sofa, sedang menonton TV. Tapi yang membuat Hanna merasa tidak enak adalah ada seorang wanita lain di sebelahnya, mereka berdua sedang tertawa bersama. Evan mendapati Hanna baru saja pulang, dari semulanya ceria tiba-tiba ekspresinya berubah garang. Dia menatap Hanna dengan mata yang tajam, "Bagus, baru pulang? Anak saya sadari tadi minta susu," katanya dengan nada yang dingin, sambil memelakan mata ke jam tangan di tangannya.Hanna merasa seperti ditampar, dia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Dia melihat wanita lain di sebelah Evan, yang sedang memandanginya dengan senyum yang tidak bersahabat."Maaf, aku sedikit telat." Hanna berkata, suaranya sedikit bergetar.Eva
Di ruang makan, Hanna duduk dengan wajah yang tenang, dia terlihat seperti hanya ada untuk satu tujuan saja, yaitu sebagai ibu susu untuk Raihan. Evan, yang duduk di sebelahnya, tidak menoleh ke arahnya, seolah-olah dia tidak ada di sana. Tatapannya tertuju pada makanan di atas meja, tapi pikirannya jelas tidak ada di situ. Ada jarak yang jelas antara mereka, membuat suasana menjadi tidak nyaman.Hanna mencoba untuk memulai percakapan, "Evan, aku ingin meminta izin sebentar, untuk keluar hari ini. Tenang saja, aku sudah menyisakan stok Asi di dalam kulkas," katanya dengan nada yang lembut. Tapi Evan tidak menanggapi, dia masih fokus melantak makanannya, tidak memperdulikan Hanna.Hanna merasa kesal, tapi dia tidak menunjukkan, "Jika, kamu tidak menjawab! Berarti aku menganggap kamu memberi izin." Evan masih tidak menanggapi, membuat Hanna merasa diabaikan.Evan berdiri di samping Hanna, suaranya rendah dan dalam, "Tidak perlu meminta izin pada ku, jika kamu mengerti posisimu di rumah
Evan menghembuskan napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan egonya. Ia tahu bahwa ia harus melakukan ini demi putranya. Dengan langkah berat, ia pergi ke alamat yang dikirim oleh Hanna, mencoba untuk tidak memikirkan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.Saat ia tiba di tempat alamat dikirimkan, Hanna sudah menunggu di sana, wajahnya terlihat sedikit khawatir. Evan mencoba untuk tidak memperhatikannya, langsung menyuruh Hanna untuk masuk ke dalam mobil "Masuklah," Evan mengatakan, suaranya terdengar nyaris.Sepanjang jalan, hanya ada keheningan tanpa saling bicara. Hingga akhirnya, mereka tiba di tujuan. Hanna lekas turun, dia tidak sabar bertemu Raihan dan juga Maira. Namun, Evan meraih tangannya yang mana membuat langkahnya berhenti.Dengan bingung, Hanna menatap pria yang sedang menatapnya serius saat ini. “Kamu disini hanya sebatas ibu susu bagi putraku, dan jangan dekati putriku seolah-olah kamu adalah sosok ibu yang baik! Jadi … jaga batasanmu! Cukup Maira tahu kamu ada
Hanna terus mencari kosan yang sesuai dengan bujetnya, sambil memikirkan rencana untuk mencari pekerjaan baru. Ia tidak ingin kembali ke rumah orang tuanya, tidak ingin mereka khawatir tentang keadaannya. Ia ingin membuktikan diri bahwa ia bisa hidup mandiri, tanpa bantuan siapa pun. Dengan tekad yang kuat, Hanna terus mencari informasi tentang lowongan pekerjaan, sambil berharap bisa menemukan sesuatu yang sesuai dengan keahliannya.Setelah beberapa jam mencari, Hanna akhirnya menemukan sebuah kosan yang cukup terjangkau dan nyaman. Ia langsung menghubungi pemilik kosan untuk melakukan survei dan memastikan bahwa tempat itu sesuai dengan kebutuhannya. Dengan semangat baru, Hanna mulai mencari pekerjaan baru. Ia membuka laptopnya dan mulai mencari lowongan pekerjaan di internet, sambil mempersiapkan resume dan surat lamaran. Ia juga meminta rekomendasi dari teman-temannya, berharap bisa mendapatkan informasi tentang lowongan pekerjaan yang tidak dipublikasikan. Hanna merasa tidak
Evan berjalan mondar-mandir di ruang tamu, mencoba menenangkan Raihan yang terus menangis. Ia memeluk anak itu erat, mencoba memberikan kehangatan dan kenyamanan. Tapi, Raihan tidak berhenti menangis, suaranya terus meninggi dan meninggi.“Sssestt, Raihan! Ini papa, Nak.” Evan merasa frustrasi, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia mencoba memberikan botol susu, tapi Raihan menolaknya. Ia mencoba menggendong anak itu, tapi Raihan terus menangis.Evan baru ingat kata-kata bibinya, bahwa Raihan tidak cocok dengan susu formula. Evan merasa sedih, bahwa ia tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tiba-tiba, Evan teringat sesuatu. Ia berlari ke dapur, lalu membuka kulkas, mencari ASI yang Hanna tinggalkan. Mungkin, ini bisa menjadi solusi untuk menenangkan Raihan sementara.Dian muncul di balik tubuh Evan, memandang pria itu dengan mata yang tajam. "Kenapa kamu mengusir Hanna?" tanyanya, suaranya penuh dengan kekhawatiran. "Apa, kamu tidak ingat? Putramu memerlukan ASI Hanna







