Share

Identitas yang Dihapus
Identitas yang Dihapus
Penulis: Echo

Bab 1

Penulis: Echo
Pesan-pesan bernada mengejek dari selingkuhan suamiku mulai berdatangan dua bulan lalu.

Foto-foto mereka yang saling berbelit di ranjang, detail-detail vulgar tentang obsesinya pada tubuh perempuan itu … kebenaran brutal tentang perselingkuhan mereka terpampang tanpa sisa.

Aku tidak memergokinya. Diam-diam aku mengatur identitas baru dan menetapkan tenggat untuk diriku sendiri, yaitu tujuh hari.

Di sebuah gudang terbengkalai di sisi barat Kota Segara, sebuah bohlam tunggal yang berkedip memancarkan cahaya kuning pucat yang lemah.

Aku mendorong setumpuk uang tunai tebal ke seberang meja, ke arah pria bertopi datar itu.

"Aku butuh identitas baru." Suaraku bergema di ruang yang luas dan kosong. "Buat namanya Eva."

Pria itu mengambil uangnya, mengipasi lembaran-lembaran itu dengan ibu jari yang sudah terlatih. Desir uang terdengar sangat jelas di tengah keheningan.

"Paspor, SIM, lengkap?"

"Lengkap." Aku mengangguk, jari-jariku mencengkeram tas kulit di pangkuanku. "Dan rekening bank dengan riwayat kredit."

"Harganya dua kali lipat." Dia mendongak, gigi emasnya berkilat samar di bawah cahaya redup.

Aku tak ragu sedikit pun. Keluarkan lagi satu gepok uang.

Pria itu menyelipkan uang tunai ke dalam jaketnya, lalu condong ke depan, menurunkan suaranya.

"Satu minggu. Tapi perlu aku peringatkan, Nona. Begitu kamu menggunakan identitas baru ini, masa lalu harus mati dan terkubur. Keluarga Dharmawangsa punya mata dan telinga di seluruh negeri ini. Tinggalkan satu jejak saja, mereka pasti akan menemukanmu."

Aku berdiri, suara hak sepatuku berketuk tajam di lantai beton. "Aku mengerti."

Tekadku sekeras baja.

Dua puluh menit kemudian, aku terbaring di atas sebuah meja di studio tato pribadi.

Sengatan tajam dari mesin penghapus laser menjadi kontras dengan nyeri tumpul di dadaku saat lambang elang milik Keluarga Dharmawangsa perlahan menghilang dari tulang selangkaku. Rasa sakitnya teramat menyiksa, seperti besi panas yang berulang kali membakar kulitku.

Namun, aku mengatupkan rahang dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Aku hanya merasakan lima tahun kenangan cintaku pada Reynald terbakar habis, sama seperti tinta itu.

Pukul sebelas malam ketika aku kembali ke rumah besar kami di Taman Arkanta, vila bergaya Victoria senilai 120 miliar, hadiah pernikahan Reynald untukku, kini terasa tak lebih dari sebuah sangkar emas.

Aku menyalakan televisi. Tayangan ulang wawancara "Pria Terbaik" dari Segara Tribune Global sedang diputar.

Suamiku, Reynald Dharmawangsa, tampil di layar televisi. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, tak sehelai pun keluar dari tempatnya. Mata cokelat tuanya dipenuhi aura wibawa yang seakan melekat sejak lahir, menatap langsung ke kamera.

Sang reporter bertanya apa arti kesetiaan baginya. Reynald perlahan membuka kancing teratas kemejanya, memperlihatkan lambang keluarga di dadanya, seekor elang dengan sayap mengembang, cakar mencengkeram sekuntum mawar dan sebilah belati.

"Kesetiaan itu seperti ini," katanya, suaranya rendah dan magnetis, seraya menunjuk tinta di atas jantungnya. "Dan ini."

Kamera melakukan zoom, dan aku melihatnya dengan jelas. Tato biola yang rapuh tepat di bawah lambang itu yang dia buat lima tahun lalu untukku.

"Istriku, Alyssa, adalah seorang musisi berbakat," ujar Reynald. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya sambil mengangkat tangan yang mengenakan cincin kawin platinum. "Dia mengorbankan mimpinya untuk menjadi pemain biola kelas dunia demi aku. Pengorbanan itu terpatri di hatiku. Takkan pernah bisa dihapus."

Aku meraih ke atas dan menyentuh perban kasa di tulang selangkaku, kulit di sana masih terasa nyeri.

Takkan pernah dihapus?

Ingatan tentang foto itu menghantamku keras.

Dua bulan lalu. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

Ponselku bergetar, dan sebuah foto muncul.

Duniaku sontak runtuh.

Di dalam foto itu, seorang bartender berambut cokelat terang bernama Jenny terkulai telanjang di dalam pelukan Reynald.

Tubuhnya menjadi kanvas penuh cupang yang masih baru dan bekas-bekas mentah dari gairah mereka. Jelas mereka baru saja selesai bercinta.

Jarinya yang panjang dan ramping menunjuk dengan bangga ke dada Reynald, di mana, di samping biolaku, sebuah desain baru yang kasar telah dicoret dengan spidol.

Namanya, "Jenny," tertulis dengan tulisan sambung yang berantakan.

Itu hanyalah spidol, sesuatu yang bisa dicuci dan dihapus, tetapi kenyataan bahwa Reynald membiarkannya melakukan itu adalah sebuah pengkhianatan yang jauh lebih tajam daripada bilah pisau mana pun.

Belasan foto lainnya menyusul.

Foto mereka di rumah liburan kami. Di restoran favorit kami. Bahkan di hari ulang tahunku saat aku mengira dia sedang mengurus urusan keluarga, ternyata dia sedang menekan wanita lain ke dinding ruang kerjanya.

"Reynald bilang, satu-satunya hal yang membuatnya masih merasa seperti lelaki adalah saat berada di dalam diriku. Kamu bahkan sudah tidak bisa membuatnya terangsang lagi, 'kan, Alyssa? Mungkin sudah waktunya kamu menyingkir."

Suara kunci yang diputar di lubang kunci menarikku kembali ke kenyataan.

Reynald sudah pulang.

Langkah kakinya menggema di lantai marmer, makin mendekat. Aku mencium bau itu di tubuhnya, parfum murahan. Bukan Tom Ford yang pernah kubelikan untuknya, melainkan aroma manis menyengat, terlalu berbunga hingga membuat mual. Bau perempuan lain bercampur dengan asap rokok dan vodka.

Kemeja putihnya sedikit kusut, dasinya longgar. Ada bekas gigitan yang tak mungkin salah di lehernya.

"Alyssa? Kamu belum tidur?" Dia melangkah ke arahku, siap memelukku seperti yang selalu dia lakukan.

Gelombang rasa muak menyergapku. Aku mengangkat tangan, menghentikannya.

Reynald tampak bingung. Lalu pandangannya jatuh ke tulang selangkaku, ke perban kasa putih yang menutupi tempat lambang Keluarga Dharmawangsa dulu berada.

"Alyssa." Suaranya merendah, berubah rendah dan berbahaya. "Apa yang terjadi dengan tatomu?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Identitas yang Dihapus   Bab 19

    Setelah meninggalkan rumah sewaan, aku pindah ke sebuah kota terpencil di bagian barat Glacivik, sebuah tempat di mana bisa melihat aurora.Pemilik rumah sewaanku adalah seorang pria tua yang baik bernama Gunnar. Dia tidak begitu fasih berbicara bahasa Inggris, dan kami sebagian besar berkomunikasi dengan gerakan dan kata-kata sederhana, tetapi kesunyian itulah yang benar-benar aku butuhkan.Setiap malam, aku memainkan biolaku di dekat perapian. Melodi yang familier bergema di kabin kecil itu, disertai suara angin laut dan pegunungan di kejauhan. Aku melukis, membaca, minum kopi, dan menyaksikan aurora menari di langit.Aku merasakan ketenangan yang sesungguhnya.Suatu sore, Gunnar mengetuk pintuku. Dia tampak ragu, memegang sebuah ponsel pintar lama di tangannya."Eva," katanya, menggunakan nama baruku. "Aku tidak tahu apakah aku harus menunjukkan ini padamu … tapi ada beberapa video yang beredar di internet … tentang seorang mafia di Ameriko. Mereka bilang … mereka bilang pria itu se

  • Identitas yang Dihapus   Bab 18

    Sudut pandang Alyssa.Ketika telepon berdering, aku sedang membuat secangkir kopi, sendok perak berdesing pelan menyentuh keramik saat aku mengaduk susu panas.Telepon di wisma terpencil ini jarang sekali berdering, apalagi di kamarku."Halo?"Sebuah suara yang familier menjawab. Suara yang dulu pernah memberiku kebahagiaan, lalu rasa jijik, dan sekarang, hanya ketenangan yang sunyi."Alyssa … apa itu kamu?"Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara, "Ada apa?""Oh, Tuhan, Alyssa, itu kamu … benar-benar kamu .…" Suara Reynald gemetar, nyaris menangis. "Aku pikir … aku pikir aku tak akan pernah mendengar suaramu lagi .…"Aku berjalan ke jendela dan menatap pemandangan Frostrvik. Pegunungan di kejauhan tertutup salju, berkilau di bawah sinar matahari senja. "Kamu mau apa?""Sayang, aku … aku sangat menyesal." Reynald mulai menangis tersedu-sedu. Pria yang dulu menguasai Kota Segara itu kini menangis seperti anak kecil. "Aku tahu apa yang kulakukan salah. Aku mengkhianatimu, aku meny

  • Identitas yang Dihapus   Bab 17

    Fabian menghela napas berat.Selama lebih dari sebulan, Reynald hampir tidak makan dengan layak atau tidur nyenyak semalam penuh.Seluruh bisnis Keluarga Dharmawangsa menderita."Ayah .…" Reynald mendongak, matanya bersinar penuh keputusasaan. "Aku sudah mencari di seluruh Ameriko Utara, seluruh Eropa. Aku telah mengirim semua orangku … kenapa aku tidak bisa menemukannya? KENAPA?!"Fabian berlutut dan meletakkan tangannya di bahu putranya. "Reynald, dengarkan aku. Jika cara konvensional tidak berhasil, maka kita akan menggunakan cara yang tidak konvensional.""Apa maksudmu?"Mata Fabian berkilau penuh tekad. "Keluarga Dharmawangsa telah beroperasi di dunia mafia internasional selama puluhan tahun. Saatnya menagih semua jasa yang pernah diberikan."Reynald mendongak. "Maksud Ayah …?""Kita sebarkan kabar secara global. Melalui jaringan kita di setiap benua, Camorra, Yakuza, Triad, Bratva … Kita beri tahu setiap organisasi, siapa yang dicari Keluarga Dharmawangsa."Isabella menatap suami

  • Identitas yang Dihapus   Bab 16

    Setelah berurusan dengan Jenny, Reynald berbaring di sisi tempat tidur, tempat Alyssa biasa tidur, merasakan apa pun selain kekosongan yang luas dan hampa.Jenny benar. Menyingkirkannya tidak akan membuat Alyssa memaafkannya.Dering ponselnya terdengar mengganggu di ruangan yang sunyi."Bos." Itu Mario, suaranya tegang dan bersemangat. "Kami punya informasi baru?"Jantung Reynald berdebar kencang. Dia menggenggam telepon. "Katakan padaku.""Seseorang di bandara melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Nyonya naik pesawat menuju Frostrvik, Glacivik. Tapi aku tidak menemukan namanya di daftar penumpang mana pun."Reynald terlompat dari kursinya. Entah mengapa, dia merasakan firasat yang kuat. Itu dia."Siapkan jet." Suara Reynald bergetar. "Kita berangkat malam ini."Angin musim dingin di Frostrvik, Glacivik begitu ganas, tetapi Reynald tidak merasakan dinginnya.Untuk pertama kalinya dalam sebulan, dia merasa dekat dengan Alyssa.Sebuah rombongan mobil hitam melaju di jalanan, ak

  • Identitas yang Dihapus   Bab 15

    Kawasan rumah bordil Kota Segara, sesaat setelah tengah malam.Sebuah SUV hitam berhenti mendadak di sudut jalan yang diterangi lampu neon. Pintu-pintunya terbuka lebar, dan dua pria bertubuh besar menyeret seorang perempuan keluar ke trotoar."Tidak! Tolong!" Jenny meronta, kukunya mencakar lengan para pengawal hingga meninggalkan guratan berdarah. "Aku bisa memberimu uang! Banyak uang!"Namun, wajah para pria itu tetap tanpa ekspresi, menjalankan perintah Reynald secara mekanis. Dalam pergulatan itu, lengan blus sutra mahal milik Jenny tersangkut di pintu mobil dan terkoyak dengan suara sobekan yang menusuk telinga. Kain halus itu rapuh seperti kertas, seketika berubah menjadi compang-camping."Ah!" Dia menjerit, berusaha menutupi dadanya, tetapi sudah terlambat. Para pria itu melepaskannya, dan tubuhnya terhempas ke trotoar yang kotor.Beton dingin menusuk kulitnya yang terbuka, dan pecahan kaca dari botol yang dibuang menyayat lututnya. Darah merembes menembus stokingnya yang robek

  • Identitas yang Dihapus   Bab 14

    Matanya memerah seperti darah, Reynald mengamuk menghampiri Jenny dan mencengkeram pergelangan tangannya."Kembalikan. sekarang." Suaranya rendah, mengerikan, seperti geraman yang merayap naik dari kedalaman neraka.Dia merenggut cincin itu dari jari Jenny. Gerakan kasar itu merobek kulitnya, dan Jenny menjerit sambil berusaha melepaskan diri, tetapi kekuatan Reynald begitu mengerikan.Begitu cincin itu kembali berada di tangannya, dia menggenggamnya dengan lembut, seolah-olah benda itu adalah hal paling berharga di dunia."Reynald! Kamu sudah gila, ya?" Jenny mencengkeram jarinya yang berdarah, suaranya melengking tinggi. "Kamu memukulku demi seorang wanita yang sudah meninggalkanmu? Dia tidak mencintaimu! Kalau memang iya, dia tidak akan pergi begitu saja!"Ucapannya terputus ketika Reynald mendorong ponsel tepat ke depan wajahnya.Pesan demi pesan, foto vulgar, ejekan beracun, semuanya terpampang jelas di bawah cahaya lampu yang terang.Jenny menatap layar itu, wajahnya berubah puca

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status