MasukHari-hari berlalu tanpa benar-benar meninggalkan jejak.Apartemen Anora tetap berada dalam keadaan yang sama—perlindungan sihir berdenyut stabil, cahaya tipis mengalir di dinding seperti nadi yang tidak pernah tidur. Di dalamnya, waktu bukan lagi garis lurus, melainkan lingkaran kecil yang terus berputar di sekitar satu hal: napas Kael.Anora menjadi pusat lingkaran itu.Dia jarang benar-benar tidur. Jika pun matanya terpejam, itu hanya beberapa menit—cukup untuk membuat tubuhnya tidak roboh. Begitu napas Kael berubah, sekecil apa pun, Anora selalu terjaga. Seolah ada benang tak terlihat yang menghubungkan kesadarannya dengan ritme di ranjang itu.Pada hari ketiga, Sebastian mencatat sesuatu."Napasnya," katanya pelan, sambil mengamati simbol sihir yang bergetar halus di udara. "Mulai menyesuaikan."Ink menoleh. "Menyesuaikan bagaimana?""Sinkron," jawab Sebastian. "Saat Anora tenang, napas Kael ikut stabil. Saat dia lelah—irama Kael ikut goyah."Anora mendengarnya. Dia tidak menoleh.
Apartemen Anora tidak pernah terasa setenang ini. Perlindungan sihir aktif di setiap sudut—lapisan cahaya tipis berdenyut lembut di dinding, jendela, dan lantai. Dunia di luar boleh saja runtuh, tapi di dalam sini, segalanya terkunci. Aman. Sangat aman. Kael dibaringkan di tengah lingkaran perlindungan utama—di atas ranjang Ink. Dadanya naik turun teratur. Napasnya ada—kembali, sebelum tadi sempat menghilang. Kulitnya tidak sedingin sebelumnya. Secara teknis, semua tanda kehidupan masih melekat pada tubuh itu. Namun tidak ada satu pun yang terasa benar. Anora duduk di sampingnya sejak mereka tiba. Jaketnya masih berlumur debu dan sisa sihir, rambutnya acak-acakan, tapi dia tidak peduli. Tangannya bertumpu di sisi Kael, jari-jarinya sesekali bergerak kecil—merapikan kerah baju, meluruskan lipatan kain. "Kau selalu keras kepala," gumamnya pelan, seperti mengomel biasa. "Tidak pernah mengeluhkan apa pun, ke siapa pun..." Kael tidak menjawab. Sunyi itu merayap pelan, bukan menghant
Setelah kemusnahan sang Ghoul, medan perang tidak langsung menjadi sunyi.Dia hanya… perlahan kehilangan suaranya.Api naga masih menyisakan panas di udara, cahaya keemasan Anora berpendar redup di antara asap tipis yang menggantung rendah. Tanah yang tadinya berdenyut oleh sihir kini retak-retak, mengeluarkan uap hangat seolah mengembuskan napas terakhir setelah dipaksa menanggung kekuatan yang bukan miliknya.Ink berdiri terpaku di dekat Kael.Ilusi itu telah pecah, namun rasa dinginnya masih tertinggal di tulang belakangnya. Dadanya naik turun cepat, satu tangannya terkepal, yang lain gemetar tanpa dia sadari. Pandangannya kembali fokus—pada tubuh Kael yang tergeletak tak bergerak, pada darah tipis di pelipisnya, pada sihir pelindung yang sudah lama padam.Belum sempat Ink bergerak, udara di sekeliling mereka bergetar.Penyihir itu masih ada.Dia berdiri beberapa langkah dari reruntuhan pohon besar, jubahnya nyaris tak tersentuh. Tatapannya menyapu mereka satu per satu—Ink, Sebasti
Setelah kedatangan Naga, Anora kembali memusatkan diri pada peperangan di hadapannya. Tidak ada jeda. Tidak ada keraguan. Semua yang telah direncanakan—semua kesepakatan sunyi yang dia dan Siluman Naga bicarakan sebelumnya—kini bergerak serempak, seolah satu kehendak yang terbelah dalam dua wujud.Kekuatannya dan kekuatan naga itu bersatu.Api naga dan cahaya Dewi menyatu.Bukan sekadar bertabrakan—melainkan saling mengenali.Cahaya keemasan mengalir deras dari tubuh Anora, berkelindan dengan nyala putih-perak milik Siluman Naga. Dua kekuatan itu berpintal di udara, membentuk pusaran raksasa yang menggantung di atas medan perang. Api itu tidak membakar seperti api biasa. Dia bernapas. Hidup. Bergerak dengan irama yang menyerupai nyanyian kuno—gema purba yang membuat tanah bergetar, akar-akar pepohonan meronta di bawah permukaan, dan langit berdenyut seolah memiliki nadi sendiri.Anora melayang di pusat pusaran itu.Sayapnya terbentang penuh, tiap helai memantulkan cahaya ilahi yang ki
Flashback On. Langit di atas puncak itu tidak sepenuhnya malam, namun juga tak bisa disebut siang. Tidak ada matahari, tidak pula bintang. Hanya bentangan luas kelabu keperakan, di mana awan berlapis cahaya pucat menggantung rendah, berputar perlahan—seolah mengikuti napas makhluk kuno yang bersemayam di sana.Udara terasa berat. Bukan karena tekanan, melainkan usia. Seakan tempat itu telah menyaksikan terlalu banyak perjanjian, terlalu banyak sumpah, dan terlalu banyak pengkhianatan.Anora berdiri di tengah lingkaran batu kuno, langkahnya mantap meski setiap makhluk rasional pasti sudah memilih mundur sejak awal.Di hadapannya—Siluman Naga.Tubuhnya raksasa, menjulang dengan keanggunan yang menakutkan. Sisik putih-peraknya berlapis cahaya yang tidak pernah benar-benar padam, seolah setiap sisik menyimpan pantulan langit purba. Saat dia bergerak sedikit saja, cahaya itu bergeser, hidup, seperti permukaan danau yang disentuh angin.Matanya—emas tua, dalam, dan penuh penilaian—menatap
Darah menetes.Hangat.Alaric berlutut di samping tubuh Anora tanpa memedulikan apa pun selain napasnya yang nyaris tak terdengar. Tangannya gemetar saat dia menggenggam belati kecil, lalu—tanpa ragu—menggores telapak tangannya sendiri.Darah vampir bercampur sihir mengalir deras."Maafkan aku," gumamnya lirih.Dia menahan rahang Anora, meneteskan darah itu perlahan ke bibirnya. Setetes. Dua. Tiga. Cairan merah pekat itu meresap di sela bibir pucat Anora, menyentuh lidahnya.Tidak ada reaksi.Detik berlalu.Alaric menahan napas sejenak sebelum berujar, "Anora… bangunlah."Kelopak mata Anora bergetar.Satu tarikan napas tajam menghantam dadanya, diikuti desahan kasar seolah paru-parunya baru saja terbakar dari dalam. Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat.Energi meledak.Udara di sekeliling mereka berdenyut liar, memaksa Alaric terdorong mundur beberapa langkah. Tanah retak, dedaunan terangkat, dan cahaya samar—keemasan bercampur merah—merambat dari tubuh Anora.Ink merasakannya.Sesu







