MasukMatahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai, menyinari debu-debu yang berputar di udara. Biasanya, sinar ini akan menjadi alarm alami yang tidak diinginkan bagi Felicity, penanda dimulainya hari baru yang akan diisi dengan tuntutan dan desakan di kepalanya.
Tapi hari ini berbeda. Hari ini, Felicity membuka mata dan dengan sengaja memalingkan wajahnya ke bantal. Tubuhnya terasa seperti dikeruk hingga habis. Otaknya, yang biasanya sudah berderak dengan ide-ide sejak dia terjaga, terasa kosong dan peka, seperti luka terbuka. Presentasi di istana kemarin bukan hanya menghabiskan tenaganya; itu seperti menguras satu tahun tenaganya hanya untuk satu hari. Bahkan bayangan pertemuan dengan Lysander di taman, yang semestinya menyenangkan, tak mampu mengusir kelelahan mendalam yang menyelimuti seluruh keberadaannya. Dia mendengar ketukan halus di pintu, diikuti dengan suara Bea yang tenang. "Flick? Sudah bangun?" "Tidak," gerutnya, suaranya parau, sambil menarik selimut hingga menutupi kepalanya. "Aku memutuskan untuk tidak bangun hari ini. Tolong beri tahu dunia." Bea membuka pintu dan masuk, membawa nampan dengan semangkuk kaldu ayam hangat dan sepotong roti sederhana, bukan sarapan lengkap yang mewah. Dia melihat gundukan selimut di tempat tidur dan mendengus pelan. Ruangan masih remang-remam, dan Bea dengan hati-hati menutup tirai lebih rapat sebelum mendekati tempat tidur. "Gundukan selimut itu bilang dia tidak mau diganggu," ucap Bea kepada gundukan itu, suaranya mengandung humor lembut. "Gundukan selimut ingin dikubur di sini sampai musim semi tahun depan," sahut suara dari dalam selimut, terdengar parau dan letih. Bea meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. Aroma kaldu ayam yang hangat mulai memenuhi ruangan. "Lady Evangeline mengirim pesan. Dia ingin Anda menemani sarapan dan membahas langkah selanjutnya." "Dia bisa sarapan dengan laporan keuangan dan ambisinya sendiri," balas Felicity, suaranya tertahan. "Aku sedang cuti. Sakit. Sekarat. Pilih salah satu." Bea tidak memaksa. Sebaliknya, dia dengan lembut duduk di tepi tempat tidur, membuat kasur sedikit amblas. "Aku sudah mengantisipasi ini," bisiknya. "Aku sudah beri tahu seluruh staf rumah bahwa kamu mengalami kelelahan ekstrem dan butuh ketenangan total. Bahkan pelayan lain tidak boleh membersihkan koridor di dekat sini hari ini." Felicity akhirnya menyibakkan selimut, memperlihatkan wajahnya yang pucat dan lingkaran hitam yang semakin dalam. Rambut pirangnya yang biasanya diatur rapi kini berantakan di atas bantal. "Benarkah?" Bea mengangguk, matanya penuh perhatian. "Selama seminggu, jika perlu. Aku akan katakan kamu terkena migrain parah akibat kelelahan. Bibimu mungkin tidak percaya, tapi dia tidak bisa memaksa seorang 'jenius' yang sedang sakit." Ada sedikit kelicikan di mata Bea, sebuah ekspresi langka yang hanya diperlihatkannya saat melindungi Felicity. Rasa lega yang begitu besar menyelimuti Felicity sampai-sampai matanya berkaca-kaca. "Aku berhutang nyawa padamu, Bea." "Bayar hutangmu dengan minum kaldu ini dan tidur lagi," perintah Bea dengan lembut sambil menyuapkan sendok berisi kaldu hangat ke mulut Felicity. "Dunia tidak akan kiamat jika Felicity Ashworth berhenti sejenak. Biarkan mereka semua menunggu." Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Ketukan yang lebih keras dan berwibawa terdengar di pintu. Suara Lady Evangeline yang tajam menusuk melalui kayu pintu. "Felicity! Aku tahu kau sudah bangun. Kita perlu segera membahas rencana ke depan setelah kesuksesanmu di istana!" Felicity dan Bea saling memandang dengan panik. Dalam bayangan Felicity, sudah terlihat serangkaian pertemuan tak berujung, permintaan baru, dan desakan yang akan menghancurkan sisa tenaganya. Dengan gerakan cepat, Bea berdiri dan mengatur wajahnya menjadi ekspresi netral yang sempurna. Dia membuka pintu selebar celah, cukup untuk berbicara tanpa mengizinkan siapa pun masuk. "Lady Evangeline," ucapnya dengan hormat tapi tegas, "Lady Felicity mengalami migrain yang sangat parah. Dokter melarangnya dari segala bentuk kegaduhan atau stres setidaknya untuk seminggu ke depan. Dia bahkan tidak bisa mentolerir cahaya." "Dia baik-baik saja kemarin!" bantah Evangeline dengan nada tidak percaya, mencoba mengintip melalui celah pintu. "Kemarin dia mengandalkan adrenalin, Nyonya. Sekarang harganya harus dibayar," jawab Bea tanpa ragu, dengan sengaja menghalangi pandangan Evangeline. "Memaksanya hanya akan memperburuk keadaannya. Apakah Yang Mulia Raja akan senang jika asset berharganya jatuh sakit berkepanjangan karena dipaksa bekerja?" Diam sejenak. Bea telah memainkan kartu yang tepat. Evangeline mendesis kesal, "Baiklah. Tapi pastikan dia sembuh tepat waktu. Kerajaan tidak akan menunggu selamanya. Dan Theron Blackwood sudah menawarkan investasi besar-besaran untuk proyek Felicity berikutnya." Begitu langkah kaki Evangeline menjauh, Bea mengunci pintu dengan mantap dan kembali ke tempat tidur. Felicity menarik napas lega yang dalam, tubuhnya bergetar karena campuran rasa kaget dan kelegaan. "Kau benar-benar pahlawan," pujinya pada Bea dengan suara bergetar. "Bukan pahlawan," bantah Bea sambil merapikan selimut Felicity. "Hanya seorang pelayan yang tahu bahwa majikannya lebih berguna ketika dia tidak seperti mayat hidup." Sarkasme lembut dalam nada Bea membuat Felicity tersenyum kecil untuk pertama kalinya hari itu. Felicity perlahan meminum kaldu hangat itu, rasanya seperti kehangatan yang menyebar ke seluruh tubuhnya yang dingin. Setiap tegukan terasa seperti mengembalikan sedikit kehidupan padanya. Dia membenamkan dirinya kembali ke bantal, mengetahui bahwa untuk beberapa hari ke depan, tidak akan ada blueprint yang harus diselesaikan, tidak ada pertemuan yang menguras tenaga, tidak ada tuntutan dari siapa pun. Hanya dirinya, kasurnya yang nyaman, dan perlindungan setia Bea. Dia menutup matanya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dia tertidur bukan karena kelelahan total, tetapi karena perasaan aman yang diciptakan oleh sahabatnya. Minggu "penyakit"-nya telah dimulai, dan itu adalah resep terbaik yang pernah dia terima dalam hidupnya yang penuh tekanan.Pemakaman Felicity telah selesai, semua orang kembali masuk untuk meratapi kesedihan masing masing tapi Theron tetap berdiri dihadapan batu nisan. Ia tidak menangis. Matanya kering, terlalu kosong. Ia hanya menatap batu nisan itu, membaca nama yang terukir di sana berulang kali, seolah jika ia membaca cukup lama, nama itu akan berubah, dan Felicity akan bangkit tersenyum padanya.Dalam kedipan mata sebuah amplop tergeletak di samping bunga kering itu.Jantungnya berhenti sejenak. Ia tahu dari siapa surat ini.Dengan tangan gemetar seperti orang demam, ia membukanya. Membacanya. Dan dunia di sekelilingnya runtuh."Theron, kau adalah kejutan terbesar dalam hidupku..."Ia membaca sambil berdiri air mata jatuh tanpa bisa ia bendung. Ia membaca tentang bagaimana Felicity melihat perjuangannya, tentang bagaimana ia menghargai keputusannya untuk melepaskan, tentang cinta yang tidak sempat terbalas."Aku akan selalu mencintaimu, Theron. Dari tempat yang lebih damai nanti."Surat itu jatuh. Th
Dari dalam saku jas abu-abunya, ia mengeluarkan sesuatu yang kecil, terbungkus kain sutra tipis. Dengan tangan gemetar, ia membuka bungkusan itu.Bunga kering.Bukan bunga sembarangan. Ini adalah bunga yang ia petik, pada malam sebelum Isabella meninggal untuk pertama kalinya. bunga yang Isabella letakkan di rambutnya saat mereka berpiknik di bukit. Bunga yang sama yang ia simpan selama berabad-abad, melalui dua belas kehidupan.Setiap kelopaknya telah mengering, warnanya memudar menjadi coklat keemasan, tetapi bentuknya masih utuh—seperti cintanya yang tidak pernah layu meskipun waktu berlalu.Alexander meletakkan bunga kering itu di atas tangan Felicity yang tersilang. Tangannya bergetar hebat saat melakukannya, air mata jatuh membasahi kelopak-kelopak rapuh itu."Ini milikmu," bisiknya. "Sudah seharusnya aku mengembalikannya sejak dulu. Maaf aku menahannya terlalu lama."Ia memandang Felicity untuk terakhir kalinya. Wajah yang sama dengan Isabella. Jiwa yang sama, meskipun telah me
Ia menarik napas panjang. Dadanya sesak, tetapi ia tersenyum—senyum yang getir, hancur, tapi tulus."Jika itu benar-benar keinginanmu... maka akan kukabulkan."Air mata jatuh dari mata Alexander. Untuk pertama kalinya di hadapan orang lain, makhluk abadi itu menangis.Felicity menatapnya, dan untuk sesaat, ada sesuatu di matanya. Mungkin keheranan. Mungkin pertanyaan. Mungkin secercah perasaan yang sudah lama padam.Tapi Alexander belum selesai. "Sebelum itu... apa kau ingin mengucapkan perpisahan pada orang-orang? Martha? Bernard? Atau..." ia ragu, "Theron?"Felicity terdiam lama. Matanya berpaling ke jendela, ke bulan yang bersinar dingin. Pikirannya melayang pada Martha yang memeluknya, pada Bernard yang mengajarinya memerah susu, pada Cokelat yang selalu mengekor, pada Liam yang berdiri di bawah pohon dengan mata basah.Juga pada Theron, yang telah mencarinya berminggu-minggu. Pada Bea, yang setia menemaninya sejak kecil. Pada Rowan, yang nakal tapi ia sayangi. Pada Bibi Evangelin
Dua minggu telah berlalu sejak kereta itu membawa Felicity menjauh dari Oakhaven. Kesedihan, penyesalan, serta Frustasi membuat Felicity Ashworth perlahan-lahan mati.Bukan mati secara fisik, tubuhnya masih bernapas, jantungnya masih berdetak. Tapi sesuatu yang lebih berharga dari sekadar nyawa telah padam di dalam dirinya.Jiwanya.Kamarnya di Ashworth Manor menjadi penjaranya. Para pelayan datang dan pergi dengan nampan berisi makanan yang kembali utuh. Lady Evangeline duduk di sampingnya berjam-jam, berbicara, memohon, bahkan menangis tapi Felicity hanya diam. Matanya yang dulu berbinar kini kelabu, kosong, seperti kaca mati yang hanya memantulkan cahaya tanpa menyerapnya.Bea mencoba segala cara. Ia membacakan buku favorit mereka, bercerita tentang kekonyolan Rowan, tidak ada reaksi. Higgins berdiri di pintu setiap hari, menatap majikan mudanya dengan hati hancur. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Rowan berhenti nakal. Bocah itu hanya duduk di pojok kamar Felicity, memeluk lutu
Felicity bangkit berdiri, meskipun lututnya gemetar. "Aku tidak peduli dengan tanggung jawab itu, Bibi! Aku lelah! Aku lelah menjadi harapan semua orang! Aku lelah ketakutan setiap malam! Aku lelah hidup dalam bayang-bayang!"Lady Evangeline menatapnya dengan mata membara. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau rasakan? Aku juga kehilangan! Aku juga takut! Tapi lari bukan jawaban!""Ini bukan lari, Bibi! Ini... ini memilih. Memilih hidup yang kuinginkan.""Memilih?" ulang Lady Evangeline, suaranya getir. "Kau masih anak-anak, Felicity. Belum cukup umur. Belum cukup matang untuk membuat keputusan sebesar ini. Dan tugasku sebagai wali adalah memastikan kau tidak membuat kesalahan."Felicity mundur selangkah, merasakan bahaya. "Bibi, jangan..."Lady Evangeline menarik napas dalam, berusaha mengendalikan diri. Selama beberapa detik, ia diam, berusaha bersabar. Tapi ketika Felicity tidak juga bergerak mengikutinya, kesabaran itu habis."Baiklah." Suaranya dingin seperti es. "Jika kau tidak
Di desa terpencil itu, Felicity tidak tahu apa yang akan datang. Ia sedang duduk di teras gubuk Liam, ditemani Cokelat yang setia, memandangi matahari terbenam. Liam duduk di sampingnya, lebih tenang dari biasanya. "Kau bahagia di sini?" tanya Liam tiba-tiba. Felicity menoleh, tersenyum. "Sangat." Liam mengangguk pelan. Ada sesuatu di matanya kesedihan yang dalam, tetapi juga... keikhlasan? Felicity tidak tahu. "Felicity," panggilnya lembut. "Apa pun yang terjadi, ingatlah... kau berhak bahagia. Kau berhak memilih." Felicity mengerutkan kening. "Liam, kau bicara aneh sekali hari ini." Liam tersenyum, senyum yang sama seperti pertama kali mereka bertemu. Hangat, akrab, dan penuh arti. "Hanya berpikir keras, mungkin." Mereka tertawa kecil. Di kejauhan, kabut mulai turun, menutupi desa Oakhaven seperti selimut pelindung. Tapi di balik kabut itu, badai sedang bersiap. Dan Felicity tidak tahu bahwa besok, dunianya akan kembali diguncang. --- Matahari bersinar lembut di ata
Theron menelan ludah, berusaha menenangkan diri. "Felicity, aku..."Ia terisak, tubuhnya bergetar. "Aku sudah memilih mati karena aku pikir itu satu-satunya jalan keluar. Tapi takdir berkata lain. Takdir memaksaku hidup. Dan sekarang... sekarang aku menemukan kedamaian di sini, di desa kecil ini, de
Udara senja terasa berat, penuh dengan kata-kata yang belum terucap."Aku... aku tidak bisa memutuskan sekarang," kata Felicity akhirnya, suaranya bergetar. "Ini terlalu tiba-tiba. Terlalu banyak."Theron ingin membantah, ingin memohon, ingin menariknya segera. Tapi ia melihat k
Matahari mulai condong ke barat, menerangi langit dengan warna jingga keemasan. Mereka berjalan perlahan, kadang berhenti saat Liam kelelahan. Felicity terus menopangnya, tidak mengeluh sama sekali."Mungkin kita tidak akan sampai sebelum gelap," gumam Felicity cemas."Tidak apa
Pagi itu Liam terlihat lebih pucat dari biasanya. Batuk-batuknya terdengar lebih keras saat Felicity datang dengan keranjang sarapan. Wajah Felicity langsung berubah cemas."Kau semakin parah," katanya, meletakkan keranjang dan segera duduk di samping Liam. "Aku harus memanggil tabib—"







