Se connecter-Ruang Kerja Raja-
Beberapa jam kemudian, Lady Evangeline memasuki ruang kerja raja dengan langkah anggun. "Yang Mulia, semoga saya tidak mengganggu." "Tidak sama sekali," jawab Raja Edmund. "Saya sedang memikirkan keponakan perempuan Anda yang luar biasa." "Sebagai walinya, kekhawatiran saya sering mengalahkan kebanggaan," ujar Evangeline dengan senyum tipis. "Felicity adalah jiwa yang spesial. Jeniusnya datang dengan kepekaan yang luar biasa. Dia mudah kewalahan." Dia maju sedikit, suaranya lebih intim. "Hari ini, saya melihat sesuatu yang memberi harapan. Saya melihat bagaimana Lord Lysander memperhatikannya. Bukan sebagai jenius, tapi sebagai wanita." Raja Edmund terlihat tertarik. "Lysander?" "Ya, Yang Mulia." Evangeline tersenyum penuh perhitungan. "Bukankah menarik? Persatuan antara House Ashworth dan kerajaan. Felicity akan mendapat pelindung seumur hidup. Dan bakatnya tetap dalam pelukan kerajaan." Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada tidak bersalah, "saat ini Felicity masih di bawah umur, hanya dua tahun lagi (sampai pesta kedewasaannya). masa transisi akan lebih mulus di bawah bimbingan wali yang peduli." Raja Edmund mendelik. Dia memahami pesan tersirat: Jodohkan mereka, dan biarkan saya tetap memegang kendali. "Proposisi yang menarik," ujarnya akhirnya. "Saya akan mempertimbangkan saran Anda." Setelah bibi flick undur diri, raja Edmund memerintah pelayan untuk memanggil putranya. Lysander memasuki ruang kerja ayahnya dengan keheranan. "Kau mencari saya, Ayah?" Raja Edmund menyatukan ujung jarinya. "Ceritakan tentang Lady Felicity. Bukan sebagai jenius, tapi sebagai wanita." Lysander menarik napas dalam. "Dia berbeda, Ayah. Pikirannya tajam, pandangannya visioner. Tapi yang paling menarik justru kerapuhan di balik kecerdasannya. Ada kelelahan yang dalam, seolah dia memikul beban tak terlihat." "Jadi kau kagum padanya." "Lebih dari kagum," akui Lysander. "Saya khawatir padanya. Dunia kita yang penuh tuntutan seperti akan menghancurkannya." Raja mengangguk. "Lady Evangeline baru saja menemuiku. Dia mengusulkan persatuan antara kalian berdua." Lysander membeku. "Perjodohan?" "Ini langkah politik. Dengan ini, dia akan mempertahankan kendali atas Felicity sampai dia dewasa." Lysander berdiri, wajahnya memerah. "Felicity bukan barang yang bisa ditukar! Dia sudah merasa terjebak!" "Lalu apa saranmu?" tanya Raja. "Biarkan saya melakukannya dengan cara saya. Menjadi temannya, mendapatkan kepercayaannya. Felicity layak dicintai, bukan dijodohkan." Raja memandangi putranya dengan bangga. "Baiklah. Aku akan menolak usulan perjodohan untuk sementara. Tapi ingat, kau hanya punya dua tahun. Dan hati-hati dengan Lady Evangeliene—kau sekarang bagian dari permainannya." Lysander meninggalkan ruangan, menuju ruang kerjanya. Kata-kata ayahnya tentang perjodohan yang diusulkan bibinya sendiri masih terngiang di telinga Lysander seperti bel yang memekakkan. "Ini adalah langkah politik." "Dia akan mempertahankan kendali atas Felicity." Tangannya mengepal. Lady Evangeline—wanita itu seperti ular yang bersembunyi di antara bunga mawar. Di balik senyum dan kekhawatiran palsunya, dia memandang Felicity tidak lebih dari komoditas, kunci menuju kekuasaan yang lebih besar. Bahkan perasaan tulusnya sendiri dijadikan alat dalam permainan kotornya. Kemarahan membara di dadanya—bukan pada ayahnya yang telah memberinya ruang, bukan pada Felicity yang sama sekali tidak tahu rencana ini, tapi pada sistem yang kejam dan orang-orang seperti Evangeline yang mengorbankan keluarga sendiri demi ambisi. Perjodohan. Kata itu kini terasa kotor. Bagaimana mungkin sebuah ikatan suci, yang diam-diam dia impikan dengan hati berdebar, bisa direncanakan dengan begitu dingin dan penuh perhitungan? Dia tidak menginginkannya seperti itu. Jika suatu hari Felicity menjadi miliknya—dan jantungnya berdebar kencang hanya memikirkannya—itu harus karena pilihannya sendiri. Karena dia melihat sesuatu dalam dirinya, Lysander, yang layak untuk dicintai. Bukan karena perintah kerajaan atau rancangan bibinya yang manipulatif. Dia berdiri dan berjalan ke jendela. Bayangan Felicity—kurus namun tegar menghadapi raja—muncul dalam pikirannya. Dia ingat bagaimana jari-jari Felicity menggenggam lengannya ketika Lysander menemaninya. Dia mengingat kembali percakapan yang mengalir begitu saja di taman, sebuah tanda kepercayaan yang langka. "Dua tahun," bisiknya pelan. Dua tahun sampai Felicity berusia delapan belas tahun dan bebas dari perwalian bibinya. Dua tahun untuk meyakinkannya bahwa tidak semua orang ingin memanfaatkannya. Dua tahun untuk menunjukkan bahwa ada seseorang yang melihatnya bukan sebagai jenius atau alat, tetapi sebagai Felicity—wanita yang lelah namun kuat, yang sarkasmenya bisa membuatnya tertawa, dan kerentanannya membuatnya ingin menjadi pilar yang kokoh. Rencananya harus berubah. Ini bukan lagi sekadar menjadi teman atau sekutu. Sekarang, ini adalah misi. Pertama, melindungi Felicity dari manipulasi bibinya tanpa menimbulkan kecurigaan yang akan memperburuk situasinya di rumah. Kedua, menjadi tempat yang aman baginya—seseorang yang tidak menuntut apa pun, tempat dia bisa melepaskan topeng "Lady Ashworth" dan sekadar menjadi Flick. Ketiga, membantunya menemukan kebahagiaannya sendiri, bahkan jika itu berarti kebahagiaannya tidak termasuk dirinya. Itu risiko yang harus diambil. Ini akan seperti berjalan di atas tali yang tipis. Namun, mengingat senyum kecil dan getir Felicity hari ini di taman—senyum nyata yang ditujukan padanya—semua itu sepadan. Lysander menarik napas dalam-dalam. Hari ini, di ruang kerjanya yang sepi, seorang pangeran memutuskan untuk tidak mengejar seorang putri dengan petunjuk kerajaan, tetapi untuk memenangkan hati seorang wanita dengan kesabaran, kejujuran, dan mungkin, dengan secangkir teh chamomile serta janji untuk membiarkannya tidur nyenyak.Malam itu, di dua tempat berbeda, dua insan manusia menatap bulan yang sama. Alexander di ambang pintu pondoknya, Isabella di jendela kamar penginapan. Mereka tersenyum, masing-masing memegang surat yang baru selesai ditulis, masing-masing berbisik pada angin malam. "Aku mencintaimu, Isabella," bisik Alexander. "Aku mencintaimu, Alexander," bisik Isabella. Angin malam membawa bisikan itu entah ke mana, tapi mungkin, hati mereka masing-masing mendengarnya. Di kejauhan, Nell yang sedang membuang air cucian piring mendongak. Ia merasa ada yang aneh di udara. Sesuatu yang manis, seperti aroma bunga di tengah malam. "Dasar anak muda," gumamnya sambil tersenyum. "Bikin mual." Tapi matanya berkaca-kaca. Entah kenapa, ia teringat masa mudanya dulu. Masa di mana surat-surat cinta juga pernah singgah di hidupnya. Dan ia berdoa dalam hati, semoga dua anak muda itu tidak pernah kehabisan kata-kata untuk dituliskan satu sama lain. --- Malam itu, penginapan Angsa Putih lebih sepi
Surat Kedua Alexander ********** Untuk Isabella, Suratmu kubaca berulang kali sampai hampir hafal di luar kepala. Aku bahkan membacanya untuk sapi-sapiku, dan mereka mengangguk-angguk setuju. Hari ini aku gagal menanam bibit baru. Bukan karena bibitnya jelek, tapi karena aku terlalu bersemangat menyiramnya sampai hampir banjir. Kepala desa lewat dan bilang, "Alexander, kau mau bikin sawah atau ladang?" Aku hanya tersenyum malu. Pikiranku sedang melayang ke penginapan, ke seorang gadis berambut kastanye yang sedang memilah sutra. Kau tahu, sejak bertemu denganmu, aku jadi sering melamun. Kemarin aku hampir memberi makan sapi dengan topi jerami karena kupikir itu rumput. Beruntung sapi itu lebih cerdas dariku. Tapi serius, Isabella. Aku senang kau masih ada di sini. Setiap pagi ketika membuka pintu, aku selalu melihat ke arah penginapan dan berpikir, "Syukurlah, gerobak ayahnya masih ada di sana." Aku takut suatu hari nanti kau pergi, dan desa ini akan terasa kosong meskipun penuh
Hari-hari setelah pemberian bunga liar itu berjalan begitu cepat, namun terasa lambat bagi Alexander. Ada kebahagiaan yang mengapung di dadanya, tapi juga ada kerinduan yang aneh. Isabella tidak selalu ada di penginapan. Kadang ia pergi bersama ayahnya ke desa tetangga untuk membeli kain, kadang ia sibuk membantu menghitung stok dagangan, kadang ia hanya lelah dan beristirahat di kamarnya. Alexander pun tidak bisa setiap hari datang ke penginapan. Ladangnya yang sempat terbengkalai selama masa "operasi pendekatan" kini menuntut perhatiannya kembali. Gulma tumbuh di mana-mana, pagar yang ia perbaiki dulu ternyata masih perlu diperkuat, dan sapi-sapinya mulai protes karena jarang diperah. Namun hati yang telah tersambung tidak bisa dipisahkan hanya oleh kesibukan. Maka lahirlah sebuah tradisi baru di Desa Oakhaven: tradisi bertukar surat. --- Surat Pertama Alexander untuk Isabella ********** Untuk Isabella, Semoga surat ini menemukanmu dalam keadaan sehat dan bahagia. Ak
Matahari sudah cukup tinggi ketika Alexander tiba di Penginapan Angsa Putih. Ia berdiri di depan pintu dapur, menarik napas dalam-dalam sepuluh kali, sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuk. Nell yang membuka pintu. Matanya langsung tertuju pada ikatan bunga di tangan Alexander. Alisnya terangkat tinggi—sangat tinggi—sampai nyaris menyatu dengan garis rambutnya. "Alexander," katanya pelan. "Itu... bunga?" "Iya," jawab Alexander dengan nada bertahan. "Bunga liar. Aku... merangkainya sendiri." Nell menatap bunga itu, lalu menatap Alexander, lalu kembali ke bunga itu. Selama beberapa detik, tidak ada suara. Kemudian, tanpa bisa ditahan lagi, Nell tertawa. Bukan tawa kecil, tapi tawa keras yang mengguncang seluruh tubuh tambunnya. "Astaga, Alexander!" pekiknya di sela-sela tawa. "Itu... itu rangkaian bunga atau... atau jerami bekas? Kenapa bisa miring begitu? Ikatannya kok pakai tali rami? Itu tali buat kandang kambing, bodoh!" Alexander merasa mukanya memanas. "Aku... aku
Pagi itu, Alexander bangun sebelum matahari terbit. Bukan karena kebiasaannya sebagai petani, melainkan karena hatinya terlalu bersemangat untuk memejamkan mata. Hari ini adalah hari yang ia janjikan: hari di mana ia akan datang tanpa membawa hasil kebun, hanya membawa dirinya sendiri dan setangkai bunga liar.Ia berdiri di tengah ladangnya, memandangi hamparan luas yang telah ia garap bertahun-tahun, tapi matanya tidak melihat ke sana. Pikirannya melayang pada Isabella, pada senyumnya, pada tawanya yang jernih bagai air sungai, pada cara ia memiringkan kepala ketika mendengar Alexander berbicara konyol."Sekarang, bunga liar," gumamnya pada diri sendiri. "Di mana gerangan bunga liar yang cantik?"Ia berjalan meninggalkan ladangnya yang gundul—korban dari operasi pendekatan selama empat hari terakhir—dan menyusuri pinggir hutan kecil di ujung desa. Di sanalah biasanya bunga-bunga liar tumbuh semusim, tanpa dirawat, tanpa diperhatikan siapa pun. Namun hari
Hari Ketiga: Wortel dan "Kebetulan"Pada hari ketiga, Alexander datang tidak hanya dengan membawa wortel (yang katanya "kebetulan sedang panen raya"), namun juga membawa... sebuah buku.Ya, Alexander membawa buku. Sebuah buku tentang tanaman obat yang dipinjamnya dari pendeta desa. Ia telah membaca halaman pertama sebanyak sepuluh kali dan masih belum memahaminya, namun buku itu membuatnya terlihat cerdas—atau setidaknya itulah harapannya.Nell melihat buku itu dan langsung merasa curiga. "Sejak kapan kau bisa membaca, Alexander?""Sejak... lahir? Maksudku, ya, aku bisa sedikit membaca," jawabnya dengan nada defensif.Untungnya, Isabella keluar sambil membawa jahitan. Ia melihat buku itu dan matanya berbinar. "Wah, kau membawa buku? Boleh aku lihat?""Ini hanya buku biasa," kata Alexander merendah, meskipun dalam hatinya berteriak, Ia tertarik! Ia tertarik dengan kecerdasanku!Isabella membaca sampulnya. "Tanaman Obat Nu







