Share

Chapter 5

Author: Asayake
last update Last Updated: 2025-07-22 11:59:10

Siang telah berlalu, Isela yang telah cukup lama beristirahat akhirnya pergi ke dapur untuk membantu Lilith dan Regina menyiapkan makan malam.

Mengenyahkan segala kesedihan dan kecewanya dari kenyataan, Isela memutuskan untuk tidak terpuruk.

Isela harus tetap memanfaatkan setiap kesempatan yang datang sekecil apapun itu, Isela harus optimis bahwa masih ada cahaya untuk masa depannya sekalipun rumah yang dia pikir akan menjadi tempatnya pulang hanya memberinya tempat berteduh sementara waktu.

Isela tidak akan mengeluh, dia harus bertahan dan berjuang untuk mengubah masa depannya agar bisa menyelamatkan Catelyna.

“Ibumu dan nyonya Dahlia pasti sangat dekat, sampai-sampai nyonya Dahlia bersedia menampung dan menyekolahkanmu disini,” kata Regina sambil bersandar di meja dapur.

Isela hanya tersenyum tanpa kata, dia memilih fokus pada pekerjaannya mencuci satu persatu sayuran dan merapikannya di keranjang untuk dikeringkan.

"Bagaimana ibumu bisa mengenal artis papan atas seperti nyonya Dahlia?" tanya Regina.

"Saya juga tidak tahu," jawab Isela dengan jujur, bahkan Isela tidak tahu jika ternyata Dahlia adalah seorang artis terkenal.

Suara gonggongan kencang seekor anjing terdengar dari balik pagar tinggi rumah sebelah. Regina bertolak pinggang sambil bersungut-sungut membicarakan tetangga baru yang membuat kebisingan dengan hewan peliharaannya.

Sudah pernah dua kali Regina menelpon polisi agar bisa menghentikan kebisingan, tampaknya sang pemilik rumah tidak mempedulikannya.

“Isela,” panggil Avery ditengah kesibukan Isela yang tengah bekerja. “pergi ke rumah sebelah dan minta mereka untuk tidak membuat kebisingan.”

“Biar saya saja yang melakukannya, Nona,” tawar Lilith.

“Isela juga pelayan kan? Biar dia yang melakukannya,” tolak Avery tetap mengingikan Isela yang pergi.

Sesaat Isela berpandangan dengan Lilith dan Regina, gadis itu tersenyum samar merasakan kekhawatiran tersirat dari tatapan kedua pelayan itu seolah memberitahu Isela, perintah Avery bukanlah sesuatu yang sederhana.

“Tunggu apa lagi? Cepat pergi dan jangan kembali sebelum kau melakukan pekerjaanmu dengan baik!” perintah Avery dengan penuh tekanan.

Isela menyeka tangannya yang basah pada celemek, gadis itu akhirnya pergi mematuhi perintah Avery.

Begitu melihat Isela menghilang dari balik pintu gerbang, Avery pun pergi meninggalkan dapur.

“Bagaimana jika Isela digigit oleh anjing galak itu?” bisik Regina terdengar khawatir.

Lilith menelan salivanya dengan kesulitan, wajahnya mendadak pucat pasi begitu teringat kejadian beberapa hari lalu, seorang tukang pos dilarikan ke rumah sakit karena kakinya digigit hingga terkoyak.

Anehnya, meski itu kejadian yang sangat serius, anjing itu tidak dibawa, kepolisian pun tidak datang melakukan investigasi pada rumah itu.

***

Di depan sebuah gerbang besar yang tidak tertutup dengan baik, Isela berjinjit menekan bel beberapa kali ditengah gonggongan suara anjing.

Setelah menekan bel berkali-kali, sang pemilk rumah tidak kunjung muncul menampakan diri.

Meski sadar prilalunya dia tidak sopan, Isela tetap melangkah masuk melewati gerbang itu, dia berpikir bahwa seseorang yang sedang berada dalam rumah besar itu tidak mendengar suara bel.

Isela melangkah ragu-ragu, semakin jauh dia masuk ke dalam rumah itu, setiap inch kulitnya meremang merasakan suasana yang mencekam seperti memberi pertanda pada nalurinya bahwa itu tempat yang berbahaya.

Napas Isela memberat, memandangi pintu rumah yang tertutup rapat. Suasana rumah berlantai dua itu terasa dingin dan menyebarkan intimidasi kuat, membuat Isela tidak memiliki keberanian untuk melangkah lebih jauh melewati batas rumput dan teras rumah.

Dari kejauhan Isela melihat seekor anjing jenis cane corso duduk tegak disudut tempat yang kekurangan cahaya, bulunya yang hitam pekat terlihat menakutkan dengan postur tubuhnya yang tinggi besar.

“Siapa kau?”

Isela tersentak, refleks ia melompat menjaga jarak begitu mendengar suara yang memanggil tepat dibelakangnya menyapukan hangat dipuncak kepala.

Isela menelan salivanya dengan kesulitan, tubuhnya menggigil terintimidasi dibawah tatapan tajam seorang pria berpostur tinggi terbalut pakaian formal, matanya yang berwarna safier itu terlihat seperti pemburu.

Pandangan pria itu menyapu lambat ke arah bibir Isela yang bergetar, lalu berhenti pada sepasang mata di balik kacamata berbingkai emas.

“A-aku ingin bertemu pemilik rumah ini,” jawab Isela gelagapan.

“Aku pemiliknya, kau mau apa?” tanya pria itu.

“Suara gonggongan anjingmu mengganggu ketenangan sekitar, tolong tenangkan peliharaanmu, ini sudah malam.”

“Mau bagaimana lagi, anjing kan hanya bisa menggonggong, bukan berkicau,” jawab Jach, bahunya terangkat acuh. Ia melangkah melewati Isela tanpa menoleh, hanya sekilas menatap dengan mata tajam, tatapan yang mengisyaratkan agar gadis itu enyah dari pandangannya.

Gonggongan anjing itu kembali terdengar, mengguncang kandang besi yang mengurungnya.

“Kau pemiliknya, setidaknya kau harus tahu bahwa suara anjingmu mengganggu orang lain,” ucap Isela menegur untuk yang terakhir kalinya.

Alih-alih menanggapi ucapan Isela, secara tidak terduga Jach mendekati kandang dan membuka pengaitnya perlahan. Bunyi logam berderit, pintu kandang terbuka dan membiarkan anjing itu berlari ke arah Isela.

Wajah Isela memucat, tubuhnya membeku di tempat, dan naluri bertahan hidupnya mulai berteriak panik di dalam kepala.

Dengan napas berat dan tubuh menggigil, sekuat tenaga tidak menoleh ke samping, tidak sanggup melihat taring dan mata binatang besar yang kini berdiri hanya beberapa inci dari kakinya.

Isela tahu, hewan buas akan menerkam jika dia membalas tatapannya, apalagi berlari dan membelakanginya.

Jach menyandarkan tubuhnya santai ke dinding, tangan dimasukkan ke saku. “Bicara langsung pada anjingku, siapa tahu dia memahami keinginanmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
kyara
ini jach nya mantan kekasih audrey?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Isela: Putri yang Terbuang   Part 10

    Riuh suara penonton terdengar menggema di tribun. Sebuah gelanggang es, kini tengah dijadikan panggung penting untuk para pair skating yang mengikui olimpiade musim dingin. Keluarga Grayson duduk berbaris mengisi kursi. Marizawa yang pernah menjadi tokoh penting di dunia es skating, kehadirannya menjadi pusat perhatian banyak orang. Ditengah pusat perhatian itu, Marizawa tersenyum dengan mata berkaca-kaca terharu, jantungnya berdebar kencang diletupi oleh kebahagiaan. Marizawa merasa seperti dibawa kembali pada masa mudanya yang dia habiskan di lantai es, mengekspresikan seluruh jiwanya dengan menari. Marizawa sangat bangga, warisan bakat yang sangat dia cintai telah menurun pada kedua cucunya yang sebentar lagi akan tampil. Marizawa tidak mengharapkan apapun, hanya dengan menyaksikan Isela dan Riven tampil bersama, itu sudah menjadi sebuah kehormatan yang tak terhingga untuknya. “Kapan mereka akan tampil? Aku sudah sangat gugup,” ucap Grayson tampak gelisah. “Sabarlah, Grayson.

  • Isela: Putri yang Terbuang   Part 9

    Begitu proses putusan persidangan telah selesai dilakukan. Grayson langsung meninggalkan kursinya bersama Aurelie, menghampiri Riven dan Sanders untuk memberikan mereka dukungan.Grayson tidak berbicara sepatah katapun pada Dahlia yang saat ini sedang menangis pilu di kursinya. Setelah resmi bercerai, bagi Grayson segalanya telah selesai, tidak ada tanggung jawab yang perlu dia lakukan pada Dahlia. Grayson tidak sudi harus memberinya perhatian, mengingat seberapa teganya Dahlia selama ini padanya.Dari tempatnya, Isela masih duduk dan memperhatikan tanpa berani mendekat.Isela cukup puas mendengar hukuman yang harus Dahlia jalani selama sepuluh tahun di dalam pejara. Mungkin terdengar tidak adil untuk keluarga korban yang meninggal. Tetapi, ini akan memberikan peringatan yang cukup keras untuk Dahlia, yang harus menjalani masa tuanya dalam kesendirian di balik jeruji besi.Air mata terus berlinangan tanpa henti, tangannya terulur kembali harus diborgol. Wanita itu menatap ke sekelil

  • Isela: Putri yang Terbuang   Part 8

    Setelah enam bulan menanti dan melewati proses penyelidikan, akhirnya hari putusan pengadilan akhirnya telah tiba.. Dahlia menjalani tahanan di penjara berfasilitas terbaik. Setiap hari dia menghabiskan waktunya dalam ruangan, sekalinya keluar hanya untuk merasakan hangatnya sinar matahari tanpa mau berinteraksi dengan siapapun. Dunia Dahlia yang gemerlap oleh kebebasan, kesenangan dan kemewahan telah berubah, sangat gelap dan sunyi. Dahlia masih sering menangis setiap kali dia merasakan kesepian, dia masih tidak menyangka bahwa di penjara lah dia menghabiskan masa tuanya. Seumur hidupnya Dahlia, dia selalu diberi kemudahan, dia selalu berada di atas angin sebelum akhirnya sebuah ‘karma’ datang merusak sayapnya dan membuat Dahlia jatuh, sejatuh-jatuhnya. Dahlia terperosok di dalam kesendiria, putus asa, hingga titik dimana dia sampai malu saat memandangi diri sendiri di cermin. Berkali-kali Dahlia jatuh sakit dengan kondisi kejiwaan yang tidak stabil. Dalam perenungannya,

  • Isela: Putri yang Terbuang   Part 7

    Sapuan cahaya merah menyentuh kulit yang bertelanjang tak tertutupi sehelai benang pakaianpun. Jach terbaring miring menyandarkan kepalanya pada kepalan tangan. Kehangatan dari panas tubuh masih menguar disekitar.. Suara deru napas terdengar ditengah kesunyian Jach yang tengah memandangi Isela yang memunggunginya. Tangan Jach terulur, ujung telunjuknya menjangkau tubuh telanjang Isela dan mengusap cekungan tulang pinggangnya yang menggoda pandangan. Pakaian mereka berceceran dilantai dengan beberapa pengaman yang telah terpakai. Jach bergeser mendekat, tidak sempat dia memeluk, tangan Isela menepisnya, seketika gadis itu berguliang ke pinggiran ranjang dan menggulung diri dengan selimut. Matanya yang sambab habis menangis menatap curiga gerak-gerik Jach. “Apa yang akan kau lakukan?” tanya Isela dengan suara serak. “Aku hanya ingin membangunkanmu. Kupikir kau sedang tidur,” jawab Jach dengan sorot mata cerahnya, bahkan tidak ada elah sedikitpun yang tersirat diwajahnya. “Bohong!”

  • Isela: Putri yang Terbuang   Part 6

    Rambut Isela menyapu pipi, terlepas dari ikatanya. Gadis itu mengangkat wajahnya menyaksikan cahaya matahari yang sudah berada di puncaknya, bersiap turun ke ufuk barat.Hamparan bunga matahari yang bermekaran membentang sejauh mata memandang, terlihat cerah menyilaukan.Ibukota yang terlukis mewah dan modern terlihat jauh berbeda dengan kondisi sudut tempat lainnya yang seperti tidak banyak tersentuh kemajuan. Kendaraan bergerak cepat di jalanan berkelok, menyusuri sepanjang pesisir danau, melewati luasnya ladang dan hutan sampai akhirnya mereka sampai di depan sebuah gerbang hitam yang terbuka.Kaca kendaraan menurun, memperjelas penglihatan Isela dari sebuah mansion bergaya artistik menghadap kangsung ke arah danau dengan sebuah yacht koru yang bertengker tepat didepannya.Isela berkedip pelan, teringat dengan sebaris dongeng yang menceritakan istana kerajaan yang berdiri di tengah hutan. Rasanya, kini dia sedang berada dalam dongeng itu.Pintu disisi Isela terbuka, membawanya kel

  • Isela: Putri yang Terbuang   Part 5

    “Kau menghindariku ya?” tanya Asteria mengomentari Riven yang berkali-kali menghindar setiap kali berpapasan dengan Asteria, Riven membuang pandangan setiap tidak sengaja bertatapan.Sikap Riven seperti seorang anak kecil yang tengah merajuk karena Asteria telah melakukan kesalahan padanya.Sejak hari itu.. tepatnya sejak kencan tiga hari yang Asteria tawarkan. Hubungan Riven dan Asteria menjadi ambigu, bukan teman, bukan musuh, bukan pula pacar, namun mereka sangat sering kedapatan berdua.Asteria telah ingkar janji dengan ucapannya untuk berhenti mengganggu Riven. Asteria tidak dapat membendung ketertarikannya, ada kesenangan yang dia rasakan setiap kali berdekatan dan menggoda Riven. Dibalik sifatnya yang jutek, Riven adalah pemuda yang manis, polos dan perhatian.Wajahnya yang pernah menjadi alasan Asteria tertarik padanya, kini telah barubah pada hatinya yang menjadi alasan kuat Asteria benar-benar menyukainya.Lantas apa yang dirasakan Riven terhadap Asteria?Riven tidak menam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status