Home / Romansa / Istana yang Retak / Bab 27. Ketika Roda Berputar Terbalik

Share

Bab 27. Ketika Roda Berputar Terbalik

Author: Lia Lintang
last update publish date: 2026-04-30 00:36:36

Pagi di rumah kecil itu kini selalu dimulai dengan bunyi alarm pukul lima, suara kompor menyala, dan langkah cepat Julia yang tak pernah lagi punya waktu untuk bermalas-malasan.

Perempuan itu berubah drastis dalam hitungan bulan. Jika dulu ia hanya berkutat pada popok, susu, dan menu harian rumah tangga, kini tangannya lihai membuka laptop sambil mengaduk mie goreng untuk Hana, menjawab pesan klien sambil menyetrika seragam anak, lalu menerima panggilan telepon sambil menyisir rambutnya sendiri
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istana yang Retak   Bab 27. Ketika Roda Berputar Terbalik

    Pagi di rumah kecil itu kini selalu dimulai dengan bunyi alarm pukul lima, suara kompor menyala, dan langkah cepat Julia yang tak pernah lagi punya waktu untuk bermalas-malasan.Perempuan itu berubah drastis dalam hitungan bulan. Jika dulu ia hanya berkutat pada popok, susu, dan menu harian rumah tangga, kini tangannya lihai membuka laptop sambil mengaduk mie goreng untuk Hana, menjawab pesan klien sambil menyetrika seragam anak, lalu menerima panggilan telepon sambil menyisir rambutnya sendiri. Hidup seolah memaksanya tumbuh lebih cepat dari yang ia inginkan. Anehnya, Julia justru terlihat semakin kuat. Wajahnya memang lebih tirus, tetapi sorot matanya tak lagi selemah perempuan yang pernah ambruk karena racun pembersih porselen. Ada garis tegas di sana. Ada sesuatu yang dingin, terlatih, dan tidak lagi bergantung pada siapa pun.Sebaliknya, Bram semakin tenggelam dalam rasa tidak berguna yang nyaris menyesakkan.Pagi itu, Bram duduk di ruang tamu dengan kaus kusut dan celana traini

  • Istana yang Retak   Bab 26. Lelaki yang Kehilangan Segalanya

    Dua minggu setelah kekacauan demi kekacauan itu, Bram akhirnya kembali ke rumah bersama Julia dan Hana. Namun kata kembali terdengar terlalu manis untuk menggambarkan keadaan mereka. Tidak ada sambutan hangat, tidak ada rasa lega seperti keluarga yang berhasil melewati badai.Rumah itu memang masih berdiri, atapnya masih menaungi mereka, perabotannya masih di tempat yang sama, tetapi suasananya berubah total seakan dingin, canggung, dan dipenuhi sisa-sisa luka yang belum mengering. Julia menjalani hari seperti mesin. Ia bangun, menyiapkan sarapan, memandikan Hana, membereskan rumah, lalu diam. Bram yang biasanya disambut secangkir kopi dan obrolan ringan kini hanya mendapat piring makan yang diletakkan tanpa sepatah kata.Bahkan Hana pun tak lagi seceria dulu ketika ayahnya pulang. Gadis kecil itu memang masih memanggil “Papa”, tetapi selalu dengan mata waspada, seolah takut sewaktu-waktu rumah mereka kembali meledak.Pagi itu Bram mengenakan kemeja kerjanya yang tersisa satu-satun

  • Istana yang Retak   Bab 25. Rumah yang Tidak Lagi Bernama Pulang

    Tangisan Rini masih memenuhi ruang tamu bahkan setelah perempuan muda itu pergi tergesa-gesa. Suara isaknya pecah, naik turun, kadang berubah menjadi tawa putus asa yang terdengar jauh lebih menyakitkan. Surya berdiri beberapa langkah dari istrinya dengan wajah kusut, seperti lelaki yang baru saja tertangkap basah tetapi masih berusaha mencari celah untuk membela diri. Sementara Twin terduduk di lantai dengan lutut ditekuk, kedua tangannya menutup wajah. Kepalanya berdengung. Ruangan berputar. Ia merasa baru saja dilempar ke dalam lubang yang selama ini tak pernah ia sadari sudah menganga di bawah kakinya.Rumah ini bukan rumah. Rumah ini medan perang lama yang baunya kini kembali menyengat. Semua kepalsuan yang bertahun-tahun ditutupi dengan pura-pura baik-baik saja, hari itu ambruk tanpa sisa. Twin yang dulu selalu menganggap keluarganya setidaknya masih lebih terhormat dari keluarga orang lain, kini dipaksa melihat bahwa akar kehancuran itu ternyata tumbuh dari tempat ia sendiri

  • Istana yang Retak   Bab 24. Dirusak Pelakor

    Tiga hari setelah keluar dari rumah sakit, Twin akhirnya memutuskan pulang ke rumah orang tuanya. Bukan karena ia ingin, melainkan karena ia sudah tidak memiliki pilihan lain. Apartemen kontrakannya telah menjadi sarang bisik-bisik beberapa tetangga mengenalinya dari berita viral, bahkan pemilik unit dengan halus memintanya segera mengosongkan tempat sebelum penghuni lain merasa terganggu.Sungguh ironis. Perempuan yang dulu berjalan pongah dengan tas mahal di lengan, kepala tegak, dan bibir selalu dipoles sempurna, kini pulang dengan wajah kusut, tubuh lemah, serta jiwa yang compang-camping. Di sepanjang perjalanan menggunakan taksi online, Twin hanya memeluk tas kecilnya tanpa bicara. Tatapannya kosong menembus kaca jendela. Sesekali ia meringis karena nyeri di beberapa bagian tubuhnya belum benar-benar hilang. Namun rasa sakit fisik itu tak seberapa dibanding perasaan remuk yang menumpuk di dalam dada.Rumah orang tuanya berada di sebuah gang perumahan lama. Cat pagarnya mulai p

  • Istana yang Retak   Bab 23. Saat Semua Menjauh

    Ruang rawat intensif itu dingin, terlalu dingin untuk seseorang yang sedang berusaha bertahan hidup. Bau antiseptik menusuk hidung, bunyi mesin monitor berdetak teratur, dan cahaya putih dari lampu neon memantul di dinding pucat tanpa memberi sedikit pun rasa hangat. Twin terbaring kaku di atas ranjang, tubuhnya dibalut selimut rumah sakit, tetapi dingin itu tetap menembus hingga ke tulang. Kelopak matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit yang buram. Beberapa detik ia tidak tahu sedang berada di mana. Namun ketika kesadaran itu datang, semuanya datang sekaligus seperti potongan kejadian semalam, sorot lampu, wajah-wajah samar, tawa yang menyesakkan, dan rasa tak berdaya yang belum pernah ia rasakan sedalam itu. Napasnya mendadak memburu. Jemarinya mencengkeram sprei. Air mata mengalir begitu saja.“Aaakh…!” erangnya lirih, tubuhnya berusaha bangun, namun rasa sakit di sekujur badan membuatnya kembali jatuh ke bantal.Seorang perawat segera masuk. “Nona, tenang! Anda masih lem

  • Istana yang Retak   Bab 22. Pagi yang Mengguncang

    Fajar belum benar-benar pecah ketika sirene ambulans memecah kesunyian di sebuah gang sempit yang jarang dilalui orang. Lampu biru-merah berkelip memantul di dinding-dinding kusam, sementara beberapa warga yang penasaran mulai berkerumun di kejauhan, berbisik satu sama lain dengan wajah tegang dan penuh rasa ingin tahu. Di atas aspal yang dingin, seorang perempuan tergeletak tak berdaya, tubuhnya kotor, rambutnya berantakan, dan napasnya nyaris tak terdengar. Beberapa petugas medis bergerak cepat, memasang tandu, memeriksa denyut nadi, lalu saling bertukar pandang dengan ekspresi serius.“Masih hidup, tapi lemah sekali,” ujar salah satu petugas dengan suara rendah.Perempuan itu adalah Twin.Matanya setengah terbuka, tapi kosong. Bibirnya bergerak sedikit, seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tidak ada suara yang keluar. Hanya napas tipis yang naik turun dengan susah payah. Dunia di sekitarnya terasa jauh, kabur, seolah ia berada di antara sadar dan tidak. Yang tersisa hanyalah s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status