Home / Romansa / Istana yang Retak / Bab 48. Retak yang Semakin Dalam

Share

Bab 48. Retak yang Semakin Dalam

Author: Lia Lintang
last update publish date: 2026-05-21 19:27:15

Pagi datang tanpa kehangatan. Rumah kecil itu tetap berdiri seperti biasa, tetapi suasananya terasa berbeda. Tidak ada lagi obrolan ringan di meja makan. Tidak ada suara Julia yang mengingatkan Bram agar segera mandi atau meminum kopi sebelum dingin. Semua terasa asing, seolah mereka hanya tiga orang yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama.

Julia sibuk menyiapkan bekal Hana tanpa banyak bicara. Rambutnya digelung sederhana, wajahnya tampak pucat karena kurang tidur. Sesekali ia memaksaka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istana yang Retak   Bab 50. Surat Gugatan

    Pagi itu rumah terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Tidak ada suara televisi menyala, tidak ada percakapan kecil di meja makan, bahkan langkah kaki Julia terdengar begitu pelan seperti seseorang yang tak lagi ingin meninggalkan jejak.Bram terbangun di sofa ruang tamu dengan tubuh pegal. Semalaman ia tertidur di sana setelah terlalu lama memikirkan ucapan Julia.'Kalau suatu hari aku benar-benar pergi… jangan salahkan siapa-siapa lagi.'Kalimat itu terus menghantui kepalanya sampai pagi.Ia mengusap wajah kasar lalu menoleh ke arah kamar. Pintu kamar Hana sedikit terbuka. Dari celah itu, ia melihat Julia sedang memakaikan seragam sekolah untuk putri mereka dengan wajah tenang.Terlalu tenang.Dan Bram mulai membenci ketenangan itu.Karena ketenangan Julia sekarang terasa seperti jarak yang perlahan tak bisa lagi ia gapai.“Papa!” Hana tiba-tiba melihatnya lalu berlari kecil menghampiri. “Hari ini anter Hana sekolah?”Bram memaksakan senyum. “Iya.”“Janji?”“Iya, Sayang.”Hana l

  • Istana yang Retak   Bab 49. Di Ambang Perpisahan

    Malam turun perlahan, tetapi ketegangan di dalam rumah itu belum juga reda. Udara terasa berat, dipenuhi amarah, kekecewaan, dan ego yang saling bertabrakan. Julia berdiri di dekat meja makan dengan wajah pucat, sementara Bu Sulastri masih mengomel tanpa henti seperti merasa dirinya paling benar.“Kalau kamu memang istri yang baik, harusnya kamu bantu keluarga suami!” hardiknya sambil menunjuk wajah Julia.Julia memejamkan mata sesaat.Biasanya ia masih mencoba menahan diri.Masih mencoba memahami.Namun entah kenapa malam itu, kesabarannya benar-benar berada di ujung tanduk.“Saya sudah bantu terlalu banyak, Bu.”Bu Sulastri mendengus sinis. “Bantu apa? Cuma kerja terus merasa paling berjasa!”Nita ikut menimpali sambil melipat tangan di dada. “Iya. Mentang-mentang sekarang punya uang jadi sombong.”Julia menatap mereka bergantian.Lucu.Saat dirinya tak punya apa-apa dulu, ia dianggap beban. Saat kini mampu berdiri sendiri, ia dituduh sombong.Tidak ada yang pernah benar di mata kel

  • Istana yang Retak   Bab 48. Retak yang Semakin Dalam

    Pagi datang tanpa kehangatan. Rumah kecil itu tetap berdiri seperti biasa, tetapi suasananya terasa berbeda. Tidak ada lagi obrolan ringan di meja makan. Tidak ada suara Julia yang mengingatkan Bram agar segera mandi atau meminum kopi sebelum dingin. Semua terasa asing, seolah mereka hanya tiga orang yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama.Julia sibuk menyiapkan bekal Hana tanpa banyak bicara. Rambutnya digelung sederhana, wajahnya tampak pucat karena kurang tidur. Sesekali ia memaksakan senyum saat Hana bercerita tentang teman TK-nya, tetapi setelah itu ekspresinya kembali kosong.Bram memperhatikan istrinya diam-diam dari meja makan.Ada sesuatu yang berubah.Julia masih menjalankan kewajibannya seperti biasa, masih memasak, masih menyiapkan kebutuhan rumah, masih mengurus Hana dengan penuh kasih. Namun justru itu yang membuat Bram semakin takut.Karena perempuan itu tidak lagi marah.Dan sering kali, diam seorang istri jauh lebih mengerikan daripada amarahnya.“Hari ini pul

  • Istana yang Retak   Bab 47. Perempuan yang Selalu Disalahkan

    Koridor rumah sakit mendadak sunyi setelah ucapan Bu Sulastri barusan. Hanya suara roda brankar yang sesekali melintas dan aroma obat-obatan yang menusuk hidung memenuhi udara. Namun bagi Julia, suasana itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada ruang sempit tanpa jendela.Ia berdiri diam dengan tangan mengepal pelan di sisi tubuhnya. Rahangnya mengeras, sementara dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang sulit dijelaskan.Lelah.Kecewa.Dan perlahan… mati rasa.Bram terlihat gelisah. Lelaki itu beberapa kali menatap ibunya, lalu berpindah menatap Julia dengan wajah penuh tekanan. Ia tahu siapa yang salah. Ia sadar semua kehancuran ini bermula dari dirinya. Namun di saat yang sama, Bram juga terlalu terbiasa menjadi anak yang selalu tunduk pada ibunya.Dan kebiasaan itu kini kembali menjeratnya.“Bu, jangan bicara sembarangan,” ucap Bram akhirnya, meski suaranya tak sekeras yang Julia harapkan.Bu Sulastri tertawa sinis sambil memegang dadanya dramatis. “Sembarangan? Kamu lihat sendiri s

  • Istana yang Retak   Bab 46. Rumah yang Kehilangan Hangatnya

    Hujan turun sejak dini hari, meninggalkan udara dingin yang merayap sampai ke dalam rumah. Namun anehnya, bukan cuaca yang membuat Julia menggigil pagi itu. Melainkan perasaan kosong yang semakin hari semakin besar di dalam dadanya.Ia berdiri di dapur sambil mengaduk kopi tanpa fokus. Matanya sembab karena semalaman nyaris tidak tidur. Video viral tentang Twin memang mulai mengalihkan perhatian publik, tetapi fitnah yang menyeret namanya masih tersisa di beberapa akun gosip. Beberapa rekan kerja bahkan diam-diam mulai membicarakannya di belakang.Dan itu melelahkan.Sangat melelahkan.Suara kursi bergeser membuat Julia menoleh. Bram duduk perlahan di meja makan sambil membawa map lusuh berisi beberapa lembar lamaran kerja yang kembali ditolak.Wajah lelaki itu tampak jauh lebih tua dibanding beberapa bulan lalu. Sorot matanya redup. Bahunya turun. Bahkan cara duduknya kini terlihat seperti orang yang kehilangan harga dirinya sedikit demi sedikit.“Mas udah sarapan?” tanya Julia pelan

  • Istana yang Retak   Bab 45. Serangan Balik

    Pagi itu berubah menjadi mimpi buruk lain bagi Julia. Jemarinya terus gemetar saat menggulir layar ponsel. Foto dirinya bersama Rendra tersebar luas di media sosial dengan narasi penuh fitnah. Beberapa akun anonim bahkan sengaja menambahkan bumbu seolah dirinya selama ini hanya berpura-pura menjadi korban perselingkuhan.Perempuan murahan. Sama saja ternyata. Kasihan suaminya.Komentar demi komentar bermunculan tanpa ampun.Julia mematung di tepi ranjang. Wajahnya pucat, sementara dadanya terasa sesak seperti dihimpit batu besar. Rasanya melelahkan sekali harus terus menjadi bahan gunjingan orang lain.“Aku capek…” bisiknya lirih.Bram yang berdiri di belakangnya mengepalkan tangan kuat-kuat. Rahangnya mengeras saat membaca isi komentar yang semakin liar.“Kurang ajar!” desisnya.Ia tahu.Ia sangat tahu siapa dalang semua ini.Twin.Perempuan itu belum selesai menghancurkan hidup mereka.Bram langsung mengambil ponselnya lalu berjalan cepat keluar kamar. Namun sebelum sempat menelepon

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status