Beranda / Romansa / Istana yang Retak / Bab 6. Ancaman Pelakor

Share

Bab 6. Ancaman Pelakor

Penulis: Lia Lintang
last update Tanggal publikasi: 2026-04-08 21:45:42

Langit sore menghitam lebih cepat dari biasanya. Awan menggulung berat, seolah membawa pertanda buruk yang tak bisa dihindari.

Di dalam ruang perawatan, suasana semakin menyesakkan.

Julia masih memeluk Hana erat, seakan dunia di luar sana sudah tidak aman lagi untuk anaknya. Sementara itu, Bram berdiri di dekat jendela, menatap kosong ke luar tapi pikirannya kacau.

Ancaman Twin bukan main-main.

Ia sudah melewati batas.

“Mas gak usah datang,” suara Julia tiba-tiba memecah keheningan.

Bram menoleh.

“Aku gak mau kamu terjebak lagi sama perempuan itu. Kita lapor polisi saja,” lanjut Julia, meski nada suaranya terdengar ragu.

Bram menggeleng pelan.

“Dengan bukti apa, Julia?” suaranya berat. “Dia gak pernah terang-terangan. Semua cuma tekanan psikologis.”

Julia menggigit bibirnya.

Ia tahu itu benar.

Twin bermain rapi… dan kejam.

“Kalau Mas datang… aku takut kamu gak akan pulang,” bisik Julia, nyaris tak terdengar.

Kalimat itu membuat Bram terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi… ia melihat ketakutan nyata di mata istrinya—bukan marah, bukan benci… tapi takut kehilangan.

Dan itu jauh lebih menyakitkan.

“Aku pasti pulang,” ucap Bram tegas, meski dalam hatinya sendiri ia tidak yakin.

Hana menarik ujung baju ayahnya.

“Papa mau pergi lagi?” tanyanya polos.

Bram berlutut di depan putrinya, mengusap pipi kecil yang masih basah.

“Iya, Nak. Tapi Papa janji… Papa balik.”

“Jangan lama-lama....” Hana memeluknya.

Pelukan kecil itu… seperti menahan Bram untuk tetap tinggal.

Namun ia tahu jika ia tidak menghadapi Twin sekarang, semuanya akan semakin buruk.

Satu jam kemudian....

Hujan turun deras saat mobil Bram berhenti di sebuah tempat yang dikirimkan oleh Twin.

Sebuah kafe tua di pinggiran kota.

Sepi.

Lampunya redup.

Terlihat seperti tempat yang sengaja dipilih untuk sesuatu yang… tidak baik.

Bram turun dari mobil, jasnya langsung basah oleh hujan. Namun ia tidak peduli. Langkahnya mantap masuk ke dalam. Pintu berderit pelan saat dibuka.

Dan di sana…Twin sudah duduk. Memakai gaun hitam ketat, rambutnya tergerai rapi, bibirnya merah menyala. Senyum tipis menghiasi wajahnya senyum yang dulu mungkin terlihat manis… tapi sekarang terasa mengerikan.

“Datang juga kamu,” ucapnya santai.

Bram berdiri di hadapannya, rahangnya mengeras.

“Apa maumu?”

Twin tersenyum.

“Langsung ke inti. Aku suka itu.”

Ia menggeser sebuah map di atas meja ke arah Bram.

“Buka.”

Bram menatapnya curiga, tapi tetap membuka map itu.

Dan detik berikutnya Wajahnya berubah drastis. Di dalamnya… ada foto-foto. Foto dirinya. Dengan beberapa wanita di kantor. Beberapa terlihat seperti hanya bercanda… tapi diambil dari sudut yang salah.

Terlihat… seolah-olah ia pria hidung belang. Ditambah Print chat. Yang sudah diedit. Yang membuatnya terlihat seperti predator.

“Ini… apa?” suara Bram bergetar.

Twin menyandarkan tubuhnya santai.

“Asuransi,” jawabnya ringan.

Bram menatapnya tajam.

“Kamu gila.”

Twin tertawa kecil.

“Enggak. Aku cuma pintar.”

Ia mencondongkan tubuhnya sedikit.

“Sekarang, kamu punya dua pilihan.”

Bram diam.

“Pertama… kamu tinggalkan Julia, dan kita mulai hidup baru. Aku akan hapus semuanya. Nama kamu bersih lagi.”

Jantung Bram berdetak keras.

“Dan yang kedua?” tanyanya dingin.

Senyum Twin melebar.

“Aku kirim semua ini ke HRD… ke bos kamu… ke orang tua kamu… bahkan ke media sosial.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap lurus ke mata Bram.

“Dan aku pastikan… anak kamu tumbuh sebagai anak dari seorang pemerkosa.”

DEG.

Dunia Bram seakan berhenti.

Tangannya mengepal keras sampai uratnya menonjol.

“Kamu… gak punya hati.”

Twin tersenyum tipis.

“Aku punya. Tapi kamu yang ngajarin aku buat jadi seperti ini.”

Bram menggeleng pelan.

“Ini salah kamu sendiri, Twin. Kamu yang terlalu jauh.”

“TERLALU JAUH?” suara Twin tiba-tiba meninggi.

Beberapa pengunjung menoleh.

“Siapa yang mulai duluan, Bram? Siapa yang kirim chat mesra duluan? Siapa yang bilang aku lebih menarik dari istrimu?!”

Bram terdiam.

Kesalahan itu… nyata.

Dan sekarang… menjerat lehernya sendiri.

Twin kembali tenang.

“Jadi jangan sok suci sekarang.”

Ia menyilangkan kaki.

“Jawab. Pilih aku… atau hancur.”

Hening.

Suara hujan di luar semakin deras.

Bram menunduk.

Lalu…Ia tertawa kecil. Membuat Twin mengernyit.

“Kamu pikir aku takut?” ujar Bram pelan.

Twin menyipit.

“Aku sudah kehilangan segalanya, Twin,” lanjutnya. “Istriku hampir mati. Anakku trauma. Pekerjaanku di ujung tanduk.”

Ia mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah. Tajam. Berani.

“Dan kamu pikir aku masih punya sesuatu untuk ditakuti?”

Twin terdiam sejenak. Ada sesuatu yang berbeda dari Bram sekarang. Lebih berbahaya. Lebih nekat.

“Aku gak akan ninggalin keluargaku,” tegas Bram.

Wajah Twin langsung mengeras.

“Baik.”

Ia mengambil ponselnya. Jari-jarinya mulai mengetik.

“Kalau begitu… kita mulai permainan sesungguhnya.”

Klik.

Pesan terkirim. Bram langsung merasa tidak enak.

“Ngapain kamu?”

Twin hanya tersenyum.

“Coba kamu cek rumah sakit.”

Jantung Bram langsung berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya. Beberapa notifikasi masuk bersamaan.

Salah satunya Pesan dari nomor tak dikenal. Dengan sebuah foto. Saat ia membukanya Darahnya seakan berhenti mengalir. Foto Hana.

Di luar ruang perawatan.

Bersama… seorang wanita asing yang memegang tangannya.

Pesan di bawahnya:

[Aku bilang… aku akan selalu dekat dengan anakmu.]

“GILA KAMU!” Bram membentak, hampir membalik meja.

Twin berdiri perlahan.

Wajahnya dingin.

“Sekarang kamu ngerti… siapa yang pegang kendali?”

Napas Bram memburu. Matanya merah. Dan untuk pertama kalinya Ia benar-benar merasa…keluarganya sedang berada di ujung kehancuran.

Di klinik....

Julia tersentak saat menyadari sesuatu.

“Hana mana?”

Kursi di sampingnya kosong. Boneka Upin tergeletak di lantai. Dan pintu ruang perawatan… sedikit terbuka. Dada Julia langsung sesak.

“HANA?!”

Tidak ada jawaban. Ketakutan yang selama ini ia rasakan…Kini menjadi nyata. Istana itu…benar-benar mulai runtuh.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istana yang Retak   Bab 54. Luka yang Belum Selesai

    Malam itu hujan belum juga reda. Titik-titik air masih jatuh membasahi halaman rumah, menciptakan suara yang monoton tetapi anehnya menenangkan. Bram masih duduk di teras dengan tubuh sedikit membungkuk, sementara secangkir kopi di depannya mulai dingin tanpa disentuh. Ucapannya beberapa menit lalu masih menggantung di udara.'Aku kehilangan rumah bahkan sebelum kamu benar-benar pergi.'Julia terdiam cukup lama mendengar kalimat itu. Perempuan itu memandang wajah lelaki di depannya lekat-lekat. Bram terlihat sangat berbeda dibanding beberapa bulan lalu. Tidak ada lagi aura percaya diri yang dulu melekat kuat pada dirinya. Kini yang tersisa hanya lelaki lelah dengan mata penuh penyesalan.Namun luka di hati Julia belum benar-benar sembuh.Dan ia sendiri tidak tahu apakah luka itu bisa sembuh.“Mas,” ucap Julia akhirnya pelan, “kadang penyesalan datang terlalu terlambat.”Bram tertawa kecil hambar sambil menunduk.“Aku tahu.”“Aku dulu percaya banget sama kamu.”Angin malam meniup pelan

  • Istana yang Retak   Bab 53. Rumah yang Tak Lagi Sama

    Hujan turun sejak sore, membasahi halaman rumah dan menciptakan suara rintik yang terdengar sendu di atap teras. Di dalam rumah, aroma sup hangat memenuhi ruang makan kecil mereka. Julia sibuk menuangkan makanan ke mangkuk sambil sesekali memperhatikan Hana yang sedang menggambar di lantai ruang tamu.Sudah beberapa hari berlalu sejak surat gugatan cerai itu diketahui Bram. Tidak ada pertengkaran besar setelahnya. Namun justru ketenangan itulah yang terasa paling menyakitkan. Mereka hidup serumah, tetapi seperti dua orang asing yang sama-sama takut membuka luka baru.Bram kini mulai bekerja di perusahaan distribusi kecil di pinggir kota. Gajinya jauh dari cukup dibanding kehidupan mereka dulu. Bahkan untuk membeli bensin dan kebutuhan rumah tangga saja, Bram harus menghitung berkali-kali.Dan itu menyiksa harga dirinya setiap hari.Malam itu, suara pintu depan terbuka pelan. Bram masuk dengan tubuh lelah dan kemeja yang sedikit basah terkena hujan. Wajahnya tampak kusut, jauh berbeda

  • Istana yang Retak   Bab 52. Luka yang Tinggal di Rumah Ini

    Pagi datang bersama langit mendung dan udara dingin yang merayap masuk dari celah jendela. Rumah itu masih sama, tetapi suasananya terasa jauh berbeda sejak malam penuh tangisan kemarin. Tidak ada suara pertengkaran, tidak ada bentakan, namun justru keheningan itulah yang membuat semuanya terasa semakin retak.Julia terbangun lebih pagi dari biasanya. Ia memandangi Hana yang masih tertidur di sampingnya sambil memeluk boneka Upin dengan erat. Bekas tangisan semalam masih terlihat jelas di wajah kecil putrinya. Mata gadis kecil itu sedikit bengkak, membuat dada Julia kembali terasa sesak.Perempuan itu mengusap lembut rambut Hana.Rasa bersalah perlahan merambat di hatinya.Ia terlalu fokus bertahan dengan lukanya sendiri sampai lupa bahwa anak mereka ikut tenggelam di tengah kehancuran rumah tangga ini.Sementara di luar kamar, Bram duduk sendirian di meja makan sejak subuh. Secangkir kopi di depannya sudah dingin, tetapi belum tersentuh sedikit pun. Matanya kosong menatap surat gugat

  • Istana yang Retak   Bab 51. Tangisan di Balik Pintu

    Malam itu menjadi malam paling sunyi sekaligus paling menyakitkan bagi rumah kecil mereka. Setelah kata cerai terucap, udara terasa berubah dingin. Bahkan suara detak jam dinding terdengar begitu jelas di tengah keheningan yang menyesakkan.Bram masih berdiri mematung di ruang tamu. Surat gugatan itu tergeletak di atas meja seperti vonis yang perlahan membunuhnya hidup-hidup. Sementara Julia tampak kelelahan secara emosional. Perempuan itu berdiri dengan mata sembab, tetapi sorot matanya tidak lagi penuh amarah seperti dulu.Justru kosong.Dan kekosongan itu jauh lebih menakutkan.“Apa udah gak ada sedikit pun kesempatan buat aku?” tanya Bram lirih.Julia menunduk sesaat sebelum menjawab pelan, “Aku gak tahu.”Jawaban itu menghancurkan sisa harapan Bram.Bukan penolakan yang membuatnya takut.Tetapi ketidakpastian.Karena itu berarti hati Julia benar-benar sudah berada di ujung batasnya.Bram berjalan perlahan mendekati istrinya. Wajah lelaki itu terlihat kacau. Rambutnya berantakan,

  • Istana yang Retak   Bab 50. Surat Gugatan

    Pagi itu rumah terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Tidak ada suara televisi menyala, tidak ada percakapan kecil di meja makan, bahkan langkah kaki Julia terdengar begitu pelan seperti seseorang yang tak lagi ingin meninggalkan jejak.Bram terbangun di sofa ruang tamu dengan tubuh pegal. Semalaman ia tertidur di sana setelah terlalu lama memikirkan ucapan Julia.'Kalau suatu hari aku benar-benar pergi… jangan salahkan siapa-siapa lagi.'Kalimat itu terus menghantui kepalanya sampai pagi.Ia mengusap wajah kasar lalu menoleh ke arah kamar. Pintu kamar Hana sedikit terbuka. Dari celah itu, ia melihat Julia sedang memakaikan seragam sekolah untuk putri mereka dengan wajah tenang.Terlalu tenang.Dan Bram mulai membenci ketenangan itu.Karena ketenangan Julia sekarang terasa seperti jarak yang perlahan tak bisa lagi ia gapai.“Papa!” Hana tiba-tiba melihatnya lalu berlari kecil menghampiri. “Hari ini anter Hana sekolah?”Bram memaksakan senyum. “Iya.”“Janji?”“Iya, Sayang.”Hana l

  • Istana yang Retak   Bab 49. Di Ambang Perpisahan

    Malam turun perlahan, tetapi ketegangan di dalam rumah itu belum juga reda. Udara terasa berat, dipenuhi amarah, kekecewaan, dan ego yang saling bertabrakan. Julia berdiri di dekat meja makan dengan wajah pucat, sementara Bu Sulastri masih mengomel tanpa henti seperti merasa dirinya paling benar.“Kalau kamu memang istri yang baik, harusnya kamu bantu keluarga suami!” hardiknya sambil menunjuk wajah Julia.Julia memejamkan mata sesaat.Biasanya ia masih mencoba menahan diri.Masih mencoba memahami.Namun entah kenapa malam itu, kesabarannya benar-benar berada di ujung tanduk.“Saya sudah bantu terlalu banyak, Bu.”Bu Sulastri mendengus sinis. “Bantu apa? Cuma kerja terus merasa paling berjasa!”Nita ikut menimpali sambil melipat tangan di dada. “Iya. Mentang-mentang sekarang punya uang jadi sombong.”Julia menatap mereka bergantian.Lucu.Saat dirinya tak punya apa-apa dulu, ia dianggap beban. Saat kini mampu berdiri sendiri, ia dituduh sombong.Tidak ada yang pernah benar di mata kel

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status