Beranda / Romansa / Istana yang Retak / Bab 5. Awal Kehancuran Bram

Share

Bab 5. Awal Kehancuran Bram

Penulis: Lia Lintang
last update Tanggal publikasi: 2026-01-27 15:52:59

Langit siang tampak pucat ketika Bram melangkah keluar dari gedung kantor. Panas matahari tak mampu menghangatkan tubuhnya yang terasa beku. Dadanya sesak, napasnya berat, seolah setiap langkah yang ia ambil membawa beban yang kian menindih.

Ia baru saja dipermalukan.

Dipecundangi.

Dan lebih menyakitkan lagi tetapi dikhianati oleh rekan kerja yang dulu ia anggap keluarga.

Bram berhenti di parkiran, menatap mobilnya tanpa fokus. Bayangan wajah Twin dan Mifta masih menari di kepalanya. Senyum licik itu. Tatapan penuh kemenangan. Mereka bukan sekadar ingin menjatuhkannya… mereka ingin menghancurkan hidupnya.

Tangannya mengepal kuat.

“Kurang ajar…” gumamnya.

Ia masuk ke mobil dan membanting pintu keras. Mesin dinyalakan, tapi ia tak langsung melaju. Bram menunduk, menyandarkan kening ke setir.

Julia.

Hana.

Dua nama itu membuat dadanya makin nyeri.

Dengan tangan gemetar, ia menghubungi nomor klinik.

“Selamat siang, Klinik Harapan Sehat.”

“Ini suami pasien Julia Atmaja. Bagaimana kondisi istri saya?”

Suara perawat terdengar profesional, tapi dingin.

“Pasien masih lemah. Cairan racun sudah keluar, tapi secara psikologis beliau sangat drop. Mohon keluarga mendampingi.”

Bram menghela napas panjang.

“Anak saya?”

“Putrinya bersama pasien, tapi terlihat trauma. Anak itu terus menanyakan ibunya.”

Jantung Bram terasa diremas.

“Terima kasih… saya segera ke sana.”

Telepon ditutup.

Mobil melaju menembus jalanan kota yang terasa asing. Setiap lampu merah seolah menguji kesabarannya. Setiap detik terasa lambat, penuh rasa bersalah.

Di kepalanya, suara Twin terngiang.

Kalau aku gak bisa dapetin kamu… lebih baik Julia mati.

Bram menggigit rahangnya.

“Gila… perempuan itu benar-benar gila.”

Di klinik, Julia terbaring pucat di ranjang perawatan. Infus menetes perlahan, selang kecil menempel di punggung tangannya. Matanya terbuka, tapi kosong. Seolah jiwanya belum sepenuhnya kembali.

Di sisi ranjang, Hana duduk memeluk boneka Upin. Matanya bengkak, pipinya basah bekas air mata. Gadis kecil itu bahkan tak mau menjauh dari ibunya walau sebentar.

“Mama…” bisiknya lirih.

Julia menoleh pelan.

Tatapan ibu dan anak itu bertemu, tapi tak ada senyum. Hanya ada luka yang menggantung di udara.

“Maaf…” suara Julia nyaris tak terdengar.

Hana menggeleng cepat.

“Jangan bilang maaf, Ma. Mama jangan pergi lagi. Hana takut.”

Kalimat polos itu menusuk lebih dalam daripada pisau.

Julia memejamkan mata. Air mata mengalir diam-diam di pelipisnya.

Pintu ruang perawatan terbuka.

Bram masuk dengan langkah ragu.

Begitu Hana melihat ayahnya, tubuh kecil itu menegang. Ia mendekap bonekanya lebih kuat, seolah Bram adalah orang asing.

“Pa…” suaranya pelan, tak sehangat dulu.

Julia menoleh ke arah Bram.

Tatapan mereka bertemu.

Sunyi.

Tak ada pelukan.

Tak ada sapaan.

Hanya jurang yang terbentang di antara dua hati yang dulu saling percaya.

Bram mendekat perlahan.

“Julia....”

Julia memalingkan wajah.

“Kalau mau bicara, jangan di depan Hana.”

Kalimatnya datar, tapi dinginnya menusuk.

Bram terdiam.

Ia menatap putrinya.

“Hana, Papa ke luar sebentar ya sama Mama.”

Hana ragu.

“Papa jangan bikin Mama nangis lagi…”

Kalimat itu membuat Bram tercekat.

“Iya… Papa janji.”

Dengan berat, Hana turun dari kursi dan duduk di sofa kecil dekat pintu. Matanya tetap mengawasi.

Begitu hanya mereka berdua, Julia langsung berbicara.

“Kamu dipecat?”

Pertanyaan itu membuat Bram tersentak.

“Belum… tapi hampir.”

Julia tersenyum miris.

“Bagus. Hidup kita memang harus runtuh sekalian, Mas.”

Bram menelan ludah.

“Aku salah, Julia. Tapi aku gak pernah sentuh Twin. Demi Tuhan.”

Julia tertawa kecil. Pahit.

“Masih penting ya? Disentuh atau tidak?”

Ia menoleh tajam.

“Kamu sentuh hatinya. Kamu beri harapan. Kamu jadikan aku istri bodoh di rumah.”

Bram mendekat setengah langkah.

“Dia mengancam, Julia.”

Julia mengernyit.

“Maksud kamu?”

Bram menarik napas dalam.

“Twin bilang… kalau dia gak bisa dapat aku, lebih baik kamu mati.”

Wajah Julia berubah.

“Apa?”

“Dia gila. Dia sudah bukan cuma pelakor. Dia predator.”

Julia menggenggam selimutnya.

“Dan kamu yang membiarkan dia masuk ke hidup kita.”

Kalimat itu membuat Bram kehilangan kata.

Julia menatap lurus ke mata suaminya.

“Aku hampir mati, Mas. Bukan karena Twin. Tapi karena kamu.”

Bram menunduk.

“Aku tahu…”

Air mata jatuh dari mata lelaki itu.

“Aku bodoh. Aku egois. Aku pikir cuma main-main… tapi aku lupa kalau satu chat saja bisa membunuh seseorang.”

Julia memejamkan mata, napasnya berat.

“Aku tidak tahu apakah masih bisa hidup sebagai istrimu.”

Kata-kata itu menghantam Bram keras.

“Julia…”

“Aku lelah.”

Ia menoleh lagi.

“Aku capek berjuang sendirian.”

Sunyi kembali mengisi ruangan.

Di luar klinik, sebuah mobil hitam berhenti perlahan.

Kacanya terbuka sedikit.

Sepasang mata tajam mengintai ke arah bangunan itu.

Twin Handyta duduk di balik kemudi, bibirnya melengkung tipis.

Tangannya memainkan ponsel.

Ia membuka kamera, memotret papan nama klinik.

Klik.

Lalu ia mengetik pesan.

[Aku tahu kamu di mana, Bram.]

[Permainan baru saja dimulai.]

Twin tersenyum licik.

“Kalau aku jatuh… kalian ikut hancur.”

Keheningan di ruang perawatan terasa seperti tali yang mencekik leher. Julia menatap langit-langit putih klinik, sementara Bram berdiri kaku di samping ranjang, tak tahu harus berkata apa lagi. Semua kalimat seolah salah, semua pembelaan terdengar hina.

Di luar, Hana duduk sambil mengayun-ayunkan kakinya kecilnya, memeluk Upin erat. Sesekali ia mengintip ke dalam ruangan, takut melihat Mama kembali menangis.

Julia akhirnya membuka suara lagi, lirih tapi penuh luka.

“Mas tahu rasanya ingin mati itu seperti apa?”

Bram terdiam.

“Bukan karena ingin pergi,” lanjut Julia dengan mata berkaca-kaca. “Tapi karena sudah tidak kuat bertahan.”

Bram mengangkat wajahnya. Matanya merah.

“Aku membuat kamu sejauh itu…”

Julia tersenyum getir.

“Aku perempuan, Mas. Aku hidup dari rasa percaya. Sekali itu dihancurkan, sisanya cuma puing.”

Bram berlutut perlahan di sisi ranjang.

“Aku gak minta kamu memaafkan sekarang. Aku cuma minta satu kesempatan buat memperbaiki semuanya.”

Julia menatapnya lama.

“Memperbaiki apa? Kamu sudah memperkenalkan luka ke dalam rumah kita. Hana menyaksikan ibunya minum racun, Mas. Trauma itu tidak bisa kamu tambal dengan kata maaf.”

Bram mengepalkan tangannya.

“Aku akan melindungi kalian. Dari Twin. Dari siapa pun.”

Julia tertawa kecil.

“Lucu. Kamu bicara soal melindungi, padahal pintu ke neraka itu kamu sendiri yang buka.”

Kalimat itu membuat dada Bram seperti ditusuk belati.

Tiba-tiba, ponsel Julia yang tergeletak di meja samping ranjang bergetar.

Satu notifikasi masuk.

Julia refleks melirik.

Nomor tak dikenal.

Ia ragu, tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya. Ia membuka pesan itu.

Detik berikutnya, wajah Julia berubah pucat.

Tangannya gemetar.

Bram langsung sadar.

“Kenapa?”

Julia menelan ludah.

Ia memutar layar ponsel ke arah Bram.

Di sana terpampang sebuah foto.

Foto Hana… saat duduk sendirian di sofa klinik tadi.

Di bawahnya ada pesan singkat:

[Cantik ya anak kalian.]

[Sayang kalau tumbuh tanpa ibu.]

Napas Julia tercekat.

“Mas…” suaranya gemetar. “Dia sudah mulai.”

Bram membulatkan mata.

“Itu… Twin?”

Julia mengangguk pelan.

“Dia tahu kita di sini.”

Bram berdiri cepat, menoleh ke arah pintu tempat Hana duduk.

“Hana!”

Ia membuka pintu ruang perawatan.

Hana masih di sana, memeluk bonekanya, tapi wajahnya tampak bingung saat melihat Papa berlari ke arahnya.

“Pa?”

Bram langsung menggendong Hana, memeluknya erat seolah takut anak itu menghilang.

“Jangan jauh dari Papa.”

Hana memeluk leher ayahnya.

“Papa kenapa?”

Bram tak menjawab. Ia kembali masuk ke ruang perawatan bersama Hana.

Julia menatap putrinya dengan mata basah.

“Maafkan Mama…”

Hana menggeleng.

“Mama jangan sakit lagi.”

Julia hampir menangis keras.

Ponsel Bram ikut bergetar.

Nomor Twin.

Tangannya bergetar saat menerima panggilan itu.

“Twin, kamu sudah keterlaluan!” desis Bram.

Dari seberang, terdengar tawa kecil.

“Baru mulai, Bram.”

“Apa maumu?”

“Aku mau kamu datang.”

“Ke mana?”

Twin tertawa pelan.

“Sendirian. Tanpa Julia. Kalau tidak… aku akan terus muncul di hidup anakmu.”

Darah Bram seperti berhenti mengalir.

“Kamu ancam anakku?”

“Bukan ancam,” sahut Twin santai. “Mengingatkan.”

Bram mengepalkan tangan.

“Kalau kamu sentuh Hana—”

“Apa? Kamu mau lapor polisi? Dengan reputasimu sekarang?” potong Twin licik.

Bram terdiam.

Twin melanjutkan dengan suara rendah.

“Kamu pilih, Bram. Aku… atau ketenangan keluargamu yang tersisa.”

Sambungan terputus.

Bram berdiri membeku.

Julia memperhatikan wajah suaminya yang mendadak pucat.

“Apa yang dia bilang?”

Bram ragu menjawab.

Namun Julia menatap tajam.

“Jangan sembunyikan apa pun lagi.”

Bram menarik napas panjang.

“Dia suruh aku datang. Sendirian.”

Julia langsung menegang.

“Mas tidak boleh!”

“Julia, dia sudah berani kirim foto Hana.”

Julia memeluk anaknya refleks.

“Dia psikopat…”

“Iya,” sahut Bram pelan. “Dan aku yang memancing dia masuk ke hidup kita.”

Hana menatap keduanya polos.

“Mama… Papa… kita mau pindah rumah?”

Julia tersenyum pahit sambil mengusap rambut putrinya.

“Entah, Nak…”

Bram menatap Julia.

“Kali ini aku tidak akan lari.”

Julia menatapnya penuh ketakutan.

“Mas, jangan tambah kehancuran lagi.”

Bram mengangguk pelan.

“Aku pergi bukan untuk Twin.”

Ia menatap Hana.

“Tapi untuk melindungi kalian.”

Di balik jendela klinik, langit mulai menggelap, awan hitam berkumpul seperti pertanda buruk.

Istana kecil bernama keluarga mereka belum runtuh sepenuhnya tapi retaknya kini merambat sampai ke pondasi terdalam.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istana yang Retak   Bab 85. Surat Terakhir Kartika

    Ruangan penyimpanan tua itu terasa semakin sunyi ketika Julia memegang amplop yang baru saja ditemukan di antara halaman buku catatan milik Kartika. Tidak ada seorang pun yang berbicara.Bahkan suara angin yang masuk dari celah jendela yang rusak terdengar begitu jelas. Semua mata tertuju pada amplop berwarna kecokelatan yang telah tersimpan selama puluhan tahun itu.Amplop sederhana tersebut tampak tidak istimewa, tetapi semua orang di ruangan itu memahami bahwa isinya kemungkinan lebih berharga daripada seluruh dokumen yang telah mereka temukan sejauh ini. Haris menundukkan kepala.Bram berdiri di samping Julia dengan wajah tegang. Sementara Surya terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu vonis setelah bertahun-tahun hidup bersama rasa bersalah.Tangan Julia sedikit gemetar saat membuka segel yang mulai rapuh dimakan usia.Ia tidak tahu apa yang akan ditemukannya.Namun satu hal yang pasti.Apa pun isi surat itu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.Perlahan ia menarik lembar

  • Istana yang Retak   Bab 84. Orang yang Tak Pernah Dicurigai

    Ketegangan langsung memenuhi ruangan kecil itu ketika bayangan seseorang muncul di balik pintu yang setengah terbuka. Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik. Julia masih memegang buku catatan milik Kartika, sementara Bram berdiri sedikit di depannya seolah secara naluriah berusaha melindungi istrinya.Surya sendiri tampak menegang. Wajah pria itu berubah pucat saat melihat sosok yang perlahan melangkah masuk ke dalam ruangan. Debu yang beterbangan di udara tampak berkilauan diterpa sinar matahari yang masuk melalui celah atap, menciptakan suasana yang terasa semakin mencekam.Jantung Julia berdetak keras. Ada sesuatu dalam ekspresi Surya yang membuat perasaannya tidak tenang.Ketika sosok itu akhirnya terlihat jelas, Julia langsung membelalak."Bapak?" bisiknya.Orang yang berdiri di depan mereka tidak lain adalah Haris, ayah angkat Julia.Pria yang membesarkannya sejak bayi.Pria yang selama ini ia hormati dan cintai sebagai ayahnya sendiri.Haris tampak sama terkejutnya.Namu

  • Istana yang Retak   Bab 83. Jejak yang Mengarah ke Pelaku

    Malam itu, Julia hampir tidak tidur. Surat peninggalan Kartika tergeletak terbuka di atas meja kerjanya, sementara pikirannya terus memutar setiap kalimat yang tertulis di dalamnya. Semakin sering ia membaca surat tersebut, semakin ia menyadari bahwa ibunya bukan sekadar meninggalkan pesan perpisahan.Kartika sengaja meninggalkan petunjuk. Petunjuk yang mungkin terlalu samar bagi orang lain, tetapi cukup jelas bagi seseorang yang benar-benar ingin mencari kebenaran.Nama tempat yang ditemukan Julia di bagian bawah surat terus mengganggunya. Awalnya ia mengira itu hanya catatan biasa, tetapi setelah dicermati berulang kali, tulisan tersebut tampak lebih seperti penanda. Seolah Kartika sengaja menyembunyikan sesuatu di sana untuk ditemukan suatu hari nanti.Pagi-pagi sekali, sebelum Hana bangun untuk berangkat sekolah, Julia sudah duduk di ruang makan bersama Bram dan Surya. Ketiganya terlihat serius.Tidak ada lagi keraguan bahwa mereka sedang berada di tahap paling penting dalam penca

  • Istana yang Retak   Bab 82. Orang yang Paling Dipercaya

    Ruangan kecil tempat loker penyimpanan itu berada mendadak terasa sesak. Tidak ada seorang pun yang berbicara setelah Julia membaca isi surat peninggalan Kartika.Suara pendingin ruangan yang berdengung pelan menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di tengah keheningan yang menekan. Surat tua itu masih berada di tangannya, tetapi jemarinya terasa dingin. Berkali-kali ia membaca nama yang tertulis di sana, berharap matanya salah menangkap huruf-huruf tersebut.Namun setiap kali dibaca ulang, hasilnya tetap sama. Nama itu tidak berubah. Nama itu tetap tertulis jelas di sana, seolah sengaja diwariskan Kartika sebagai kebenaran terakhir yang harus diketahui putrinya suatu hari nanti.Bram yang sejak tadi berdiri di samping Julia akhirnya mengambil surat tersebut dengan hati-hati. Ia membaca bagian yang membuat istrinya membeku. Sesaat kemudian, ekspresinya berubah. Rahangnya mengeras. Tatapannya menjadi sulit dibaca."Ini tidak masuk akal," gumamnya.Surya yang berdiri di depan mereka p

  • Istana yang Retak   Bab 81. Pengkhianatan yang Tak Termaafkan

    Malam itu menjadi salah satu malam paling mengguncang dalam hidup Julia. Bahkan setelah ambulans membawa tubuh pria tua yang menjadi saksi terakhir tragedi masa lalu itu, ia masih berdiri mematung di dalam gudang yang dingin dan suram. Suara sirene yang perlahan menjauh terdengar seperti gema yang memantul di dalam kepalanya.Namun bukan kematian pria itu yang paling mengusik pikirannya. Bukan pula tembakan yang nyaris merenggut nyawa mereka. Yang terus berputar di benaknya adalah nama yang diucapkan sesaat sebelum pria itu mengembuskan napas terakhir.Nama yang selama ini tidak pernah masuk dalam daftar orang yang dicurigainya. Nama yang begitu dekat dengan hidupnya hingga Julia tidak pernah membayangkan bahwa orang tersebut menyimpan rahasia sebesar itu selama puluhan tahun.Bram berdiri di samping istrinya sambil memegang pundaknya erat. Ia bisa merasakan tubuh Julia sedikit gemetar. Bukan karena udara malam yang dingin, melainkan karena syok yang masih menguasainya."Kita pulang d

  • Istana yang Retak   Bab 80. Nama yang Selama Ini Disembunyikan

    Suara tembakan yang memecah kesunyian malam membuat seluruh isi gudang berubah kacau dalam sekejap. Pecahan kaca berhamburan ke berbagai arah sementara pria tua yang baru saja mengungkap sebagian rahasia masa lalu itu terjatuh ke lantai dengan tangan menekan dada kirinya.Darah mulai merembes di sela-sela jemarinya. Julia yang masih berada di balik tumpukan peti tua merasakan tubuhnya gemetar hebat. Semua terjadi terlalu cepat.Beberapa detik sebelumnya mereka sedang mendekati jawaban yang selama puluhan tahun terkubur, tetapi kini satu-satunya saksi yang berani berbicara justru menjadi target pembungkaman."Bram!" seru Julia panik."Aku di sini," jawab Bram cepat sambil menarik tubuh istrinya lebih rendah. Tatapannya menyapu ke arah jendela yang pecah. Instingnya mengatakan penembak masih berada di luar. "Jangan keluar!"Julia mengangguk, tetapi matanya terus tertuju pada pria tua yang terkapar beberapa meter dari mereka. Rasa takut dan rasa kemanusiaan bertarung di dalam dirinya. Ia

  • Istana yang Retak   Bab 6. Ancaman Pelakor

    Langit sore menghitam lebih cepat dari biasanya. Awan menggulung berat, seolah membawa pertanda buruk yang tak bisa dihindari.Di dalam ruang perawatan, suasana semakin menyesakkan.Julia masih memeluk Hana erat, seakan dunia di luar sana sudah tidak aman lagi untuk anaknya. Sementara itu, Bram be

  • Istana yang Retak   Bab 4. Tuduhan

    Keesokan harinya, Bram mulai kembali bekerja. Ia meninggalkan Julia dan Hana di klinik.Debar tak biasa mulai ia rasakan, ketika kakinya mulai menginjak lantai ruang kerjanya. Dan benar, rasanya tak nyaman, penuh tekanan. Semua seperti sengaja memperlihatkan raut wajah tak suka kepadanya.Beberapa

  • Istana yang Retak   Bab 3. Gadis Kecil yang Takut Ibunya Tiada

    Tiba-tiba saja suara petir terdengar menggelegar, diikuti suara hujan deras mengguyur atap rumah, tetapi di dalam kamar mandi, suasana lebih menegangkan.Seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun, bernama Hana, berlari ke kamar mandi sambil memeluk bonekanya, lalu mulai memanggil-manggil."Mam

  • Istana yang Retak   Bab 2. Cairan Berwarna Hijau

    Langit senja di luar jendela memancarkan semburat oranye yang biasanya menenangkan hati.Namun, sore itu, warna hangat langit tak lagi berarti apa-apa bagi Julia.Jantungnya terpacu cepat, seolah menekan ribuan pecahan kaca ke dalam dadanya.Tangannya gemetar saat membaca pesan yang terpampang jela

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status