LOGINKeesokan harinya, Bram mulai kembali bekerja. Ia meninggalkan Julia dan Hana di klinik.
Debar tak biasa mulai ia rasakan, ketika kakinya mulai menginjak lantai ruang kerjanya. Dan benar, rasanya tak nyaman, penuh tekanan. Semua seperti sengaja memperlihatkan raut wajah tak suka kepadanya.
Beberapa teman mulai berbisik-bisik. Ada tatapan aneh dari mereka yang mulai Bram rasakan. Ya. Tepatnya, tatapan benci. Bahkan beberapa dari mereka yang dulu dekat kini berubah mencibir.
"Cakep sih, tapi pengkhianat," bisik salah satu dari mereka.
Bram masih bisa mendengarnya. Meskipun begitu, ia mencoba santai.
"Ya, mau enaknya saja. Anak orang sudah dirusak keperawanannya kok gak mau tanggung jawab," celetuk teman lain yang menimpali.
Bram hanya bisa menggeleng dengan kepala tertunduk.
Kesal, tentu saja ia kesal. Orang-orang sekitar terkesan menghakimi secara sepihak. Mereka bahkan tak mau dengar sedikitpun penjelasan pemuda itu.
"Huum. Eh, tapi kasihan juga istrinya ... anaknya masih balita. Jadi apa nasibnya kalau cerai?"
Sungguh. Semua ocehan mereka sampai di telinga Bram dengan jelas. Membuat pria tampan bergaris wajah tegas itu mulai tak nyaman di lingkungan kerjanya sendiri.
Bram mencoba tenang, tapi tetap saja ia gelisah.
'Aku harus bertemu Twin. Dia akar masalah dari semua ini,' batin Bram lalu melangkah ke cubicle belakang.
Tak lama berselang, terjadi adu mulut antara keduanya. Memancing keributan dan mirisnya dijadikan tontonan seisi kantor.
Bram dilempar banyak kopi instan dan beberapa barang oleh pelakor itu. Ya. Kebetulan mereka bekerja diperusahaan kopi ternama di negara ini. Jadi wajar jika ada banyak kopi persediaan karyawan kantor.
"Kamu kan sudah tidur denganku berulang kali, ya tanggung jawab dong! Masa gara-gara ketahuan istrinya main tinggal gitu aja!" seloroh Twin tak tahu malu.
Mata Bram membulat, mengisyaratkan keterkejutannya. Lelaki muda itu bahkan menggelengkan kepalanya berulang kali. Entah apa maksudnya.
"Hey, jangan bohong kamu Twin. Kita hanya bercanda ya! Aku belum pernah sentuh kamu, cuma sekedar chat!" teriak Bram tak kalah murka dengan tuduhan Twin.
"Pokoknya, aku maunya kamu nikahin. Titik!" Twin terus mendesak. Membuat Bram semakin frustrasi dan meradang.
"Mau kamu apa sih? Aku gak pernah loh sentuh kamu. Ini fitnah ya namanya! Tahu kamu, gara-gara ulahmu ini, istriku minum racun dan mau bunuh diri. Gak punya pri kemanusiaan kamu!"
Twin justru menanggapi dengan senyuman sinis.
"Itu lebih baik. Dengar ya, Bram ... kalau aku gak bisa dapetin kamu ... lebih baik Julia mati!" seru Twin dengan nada mengancam.
Bram yang tersulut emosi akhirnya melakukan penyerangan. Dan lucunya, beberapa dari karyawan di perusahaan itu bukannya melerai, justru menjadikan pertengkaran itu sebagai tontonan.
Mungkin bagi mereka sangat menarik. Berita yang penuh bumbu drama seperti sinetron memang banyak peminatnya. Beberapa orang bahkan sengaja merekam.
Atau mungkin mereka penasaran? Entah.
*****
Bram diamankan oleh sekuriti kantor. Kini ia duduk dengan kepala tertunduk di ruang Manager. Kedua kakinya belum pernah gemetar seperti hari ini.
"Siapa dulu yang mau mulai cerita?" tanya Pak Edi, sang Manager.
Bram menghela napas berat, lalu memalingkan wajahnya. Entah apa maksudnya. Ia terlihat kesal dan lelah hari itu.
"Dia ini memperkosa saya, Pak! Sudah gitu, sekarang mau balikan ke istrinya. Ya mana mau saya, minimal nikahin dulu lah! Enak saja, habis manis sepah dibuang!"
Twin terus mengomel sambil melempar tuduhan. Sementara sorot matanya mengisyaratkan rasa tak suka yang teramat sangat kepada Bram.
Mendengar Twin sengaja menginjak-injak nama baiknya, Bram kembali tersulut emosi. Seluruh tubuhnya gemetar, panas dingin. Bukan gigil, tapi luapan emosi dan cemasnya begitu besar.
Bagaimana tidak? Edi terkenal garang, ia tak segan memecat siapapun yang melakukan kesalahan.
Terlebih Bram adalah staf yang hubungannya paling dekat dengan Edi dibandingkan semuanya.
Jujur saja, Bram pasti merasa namanya tercoreng. Malu.
"Fitnah, dia fitnah saya, Pak!" teriak Bram.
"Saya tidak berkilah, Twin bahkan sengaja meneror istri saya dengan nomor lain," balas Bram menuduh balik.
Twin tertawa sinis.
"Terserah kalau semua percaya. Lagi pula, bukan rahasia lagi kok kalau Bram ini memang suka ganggu wanita. Gak perlu menuduh, ada kok saksinya. Perempuan lain yang juga bekerja di sini juga kamu goda!"
Kini Bram menyipit mendengar hal itu. Seketika mata elangnya mengedar ke sekitar. Dan ... ya, ia melihat hal aneh di ruangan itu.
Mengapa Twin melempar senyum sambil menatap Mifta yang juga mengangguk sambil memasang wajah bahagia penuh kemenangan? Gelagat tak biasa seperti tertangkap basah.
Apa yang direncanakan perempuan ular itu? Bram mencoba mencari tahu.
Booom!
Mifta melempar setumpuk map di atas meja, tepat di depan Bram duduk saat itu. Pria itu bertingkat dengan mata merah membulat.
"Bram, kau bisa mengatur istrimu bukan?" Mifta menyerobot pembicaraan sembari menunjukkan benda pipih di genggaman tangannya kepada Edi.
Edi memperhatikan ponsel milik Mifta sejenak. Tak lama kemudian, ekspresinya penuh amarah. Wajahnya bahkan merah padam.
"Bram, hubungi istrimu sekarang, suruh dia hapus postingannya di f******k! Atau kamu saya penat!" ancam Edi dengan suara gemetar.
"Postingan?" Mata Bram menyipit, kemudian ia menatap satu demi satu orang di ruangan itu.
Kini ia merasa benar-benar disudutkan. Dikeryok seperti ini, belum pernah terjadi di sejarah hidupnya.
"Ya, postingan istrimu yang menjelek-jelekkan nama Twin," ungkap Mifta.
Pada akhirnya, perempuan yang tak lagi muda itu ketus menanggapi. Aneh. Bukannya setahu Bram Mifta lah yang mengungkapkan perselingkuhannya dengan Twin kepada sang istri? Kenapa sekarang berbalik menyerang?
Kening Bram berkerut. Kedua alisnya pun kini saling bertautan, pertanda ia bingung dengan sikap rekan kerjanya.
"Maaf, Mbak. Sebenarnya, Mbak Mifta memihak istri sah atau pelakor?"
"Diam kamu, Bram! Ini semua karena istrimu mencantumkan nama perusahaan di postingannya!" hardik Edi.
"Ya, saya akan tegur nanti," sahut Bram dengan suara samar.
"Sekarang, kamu pulang. Sebelum itu, minta maaf sama Twin!" seru Edi memaksa.
"Saya gak mau minta maaf. Karena menurut saya, itu hanya akal-akalan dia saja. Saya minta maaf pada semua selain dia, karena telah membuat gaduh," tutur Bram, kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan ruangan.
Suara tembakan yang memecah kesunyian malam membuat seluruh isi gudang berubah kacau dalam sekejap. Pecahan kaca berhamburan ke berbagai arah sementara pria tua yang baru saja mengungkap sebagian rahasia masa lalu itu terjatuh ke lantai dengan tangan menekan dada kirinya.Darah mulai merembes di sela-sela jemarinya. Julia yang masih berada di balik tumpukan peti tua merasakan tubuhnya gemetar hebat. Semua terjadi terlalu cepat.Beberapa detik sebelumnya mereka sedang mendekati jawaban yang selama puluhan tahun terkubur, tetapi kini satu-satunya saksi yang berani berbicara justru menjadi target pembungkaman."Bram!" seru Julia panik."Aku di sini," jawab Bram cepat sambil menarik tubuh istrinya lebih rendah. Tatapannya menyapu ke arah jendela yang pecah. Instingnya mengatakan penembak masih berada di luar. "Jangan keluar!"Julia mengangguk, tetapi matanya terus tertuju pada pria tua yang terkapar beberapa meter dari mereka. Rasa takut dan rasa kemanusiaan bertarung di dalam dirinya. Ia
Malam itu, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Setelah membaca pesan misterius yang berisi foto dokumen Kartika dan alamat sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan, Julia dan Bram nyaris tidak berbicara selama beberapa menit.Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mereka sadar bahwa setiap langkah yang diambil sekarang akan menentukan apakah misteri kematian Kartika akhirnya terungkap atau justru terkubur selamanya.Di ruang keluarga, jam dinding terus berdetak seolah mengingatkan bahwa waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Julia duduk sambil menatap layar ponselnya yang mulai redup.Hatinya dipenuhi keraguan. Selama beberapa bulan terakhir, terlalu banyak jebakan yang diarahkan kepadanya dan keluarganya. Terlalu banyak orang yang berpura-pura menjadi sekutu, lalu menusuk dari belakang.Namun kali ini berbeda. Instingnya mengatakan bahwa orang yang mengirim pesan itu benar-benar mengetahui sesuatu. Sesuatu yang selama ini disembunyikan oleh banyak pihak.
Kabar hilangnya dokumen milik Kartika menghantam Julia seperti gelombang besar yang datang tanpa peringatan. Selama beberapa menit setelah mendengar pengakuan Surya, ia hanya berdiri membeku di samping mobil.Angin sore berembus pelan, menggoyangkan dedaunan yang mulai menguning di halaman rumah tua itu, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Yang terbayang dalam benaknya hanyalah satu hal: jika dokumen asli itu benar-benar hilang, maka jalan menuju kebenaran bisa tertutup selamanya.Bram segera mengambil alih situasi ketika melihat wajah istrinya yang semakin pucat. Ia meminta Julia duduk terlebih dahulu sementara dirinya dan Surya mencoba menenangkan keadaan.Namun bahkan Bram sendiri tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Mereka baru saja menemukan secercah harapan untuk mengungkap misteri kematian Kartika, tetapi harapan itu kini terancam lenyap bahkan sebelum sempat mereka genggam."Siapa yang tahu lokasi dokumen itu?" tanya Bram.Surya mengusap wajahnya dengan t
Rumah tua itu terasa semakin sempit setelah pengakuan mengejutkan yang baru saja didengar Julia. Udara di dalam ruangan seolah menjadi lebih berat.Tangannya masih menggenggam surat tua yang sudah menguning, sementara pikirannya dipenuhi ribuan pertanyaan yang saling bertabrakan. Selama puluhan tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa dirinya mengetahui asal-usulnya. Ia mengenal kedua orang tuanya, mengenal keluarganya, mengenal kisah hidupnya.Namun hanya dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh fondasi yang selama ini menopang hidupnya runtuh satu demi satu. Ia ternyata anak angkat.Ibu kandungnya bernama Kartika. Dan yang paling mengejutkan, perempuan yang melahirkannya bukan meninggal karena sakit atau kecelakaan seperti yang selama ini dipercayai sebagian orang, melainkan menjadi korban sebuah kejahatan yang sengaja ditutupi selama bertahun-tahun.Julia duduk diam cukup lama. Air matanya sudah berhenti mengalir, tetapi rasa sesak di dadanya justru semakin kuat. Bram yang berada di
Malam itu, Julia hampir tidak bisa memejamkan mata.Pesan misterius yang diterimanya terus berputar di dalam kepala."Jika ingin tahu siapa dirimu sebenarnya..."Kalimat itu terdengar sederhana.Namun cukup untuk mengguncang fondasi hidup yang selama ini ia yakini.Di sampingnya, Bram juga belum tidur.Pria itu beberapa kali memandangi istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang."Kamu masih memikirkan pesan itu?"Julia mengangguk pelan."Aku tidak tahu harus percaya atau tidak."Bram terdiam.Ia memahami kebingungan Julia.Selama puluhan tahun, perempuan itu tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya mengenal keluarganya.Mengenal masa lalunya.Mengenal siapa dirinya.Namun satu foto tua telah membuat semua keyakinan itu retak."Aku akan ikut besok," kata Bram akhirnya.Julia menoleh."Tidak perlu.""Aku tetap ikut."Nada suaranya tegas."Kita sudah terlalu sering menghadapi masalah sendirian."Tatapan mereka bertemu.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Julia tidak membantah.Ka
Ruang kunjungan rumah tahanan terasa dingin.Namun dinginnya ruangan itu masih kalah dibandingkan perasaan yang kini menguasai Mifta.Perempuan itu duduk kaku di balik kaca pembatas. Tangannya yang memegang gagang telepon sedikit bergetar. Tatapannya tidak pernah lepas dari pria yang duduk di seberang.Pria yang selama ini berusaha ia lupakan.Pria yang menyimpan rahasia terbesar dalam hidupnya."Kamu masih hidup," bisik Mifta.Pria itu tersenyum tipis."Sampai sekarang, iya."Nada suaranya tenang.Terlalu tenang.Seolah mereka sedang membicarakan cuaca, bukan masa lalu yang penuh luka.Mifta menelan ludah."Apa maumu?"Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi."Aku hanya ingin melihat keadaanmu."Mifta tertawa pendek.Tawa pahit yang terdengar nyaris seperti ejekan."Kalau begitu sekarang kamu sudah lihat."Ia menunjuk seragam tahanan yang dikenakannya."Kau puas?"Pria itu tidak langsung menjawab.Tatapannya justru mempelajari wajah Mifta.Wajah yang dulu penuh ambisi.Penuh percaya
Hujan turun sejak dini hari, membasahi halaman rumah dan meninggalkan aroma tanah yang lembap. Namun suasana di dalam rumah jauh lebih dingin daripada cuaca di luar. Setelah menerima serangkaian pesan misterius dan mengetahui bahwa Dedi tidak bekerja sendirian, pikiran Bram dan Julia sama-sama dip
Malam itu terasa lebih sunyi daripada biasanya. Setelah menemukan surat misterius yang berisi dokumen lama perusahaan, suasana rumah berubah canggung. Bukan karena ada pertengkaran, melainkan karena muncul sesuatu yang lebih sulit dihadapi dibanding kemarahan.Keraguan.Julia duduk di ruang keluarg
Malam itu terasa lebih sunyi daripada biasanya. Setelah menemukan surat misterius yang berisi dokumen lama perusahaan, suasana rumah berubah canggung. Bukan karena ada pertengkaran, melainkan karena muncul sesuatu yang lebih sulit dihadapi dibanding kemarahan.Keraguan.Julia duduk di ruang keluarg
Setelah kepergian Bu Sulastri dan Ratih, rumah kembali tenang. Namun ketenangan itu tidak benar-benar menenangkan siapa pun. Kalimat polos yang diucapkan Hana siang tadi masih terngiang di kepala semua orang, terutama Bram. Bahkan hingga malam tiba dan rumah mulai sepi, pria itu masih duduk sendiri







