ホーム / Romansa / Istana yang Retak / Bab 50. Surat Gugatan

共有

Bab 50. Surat Gugatan

作者: Lia Lintang
last update 公開日: 2026-05-24 17:29:23

Pagi itu rumah terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Tidak ada suara televisi menyala, tidak ada percakapan kecil di meja makan, bahkan langkah kaki Julia terdengar begitu pelan seperti seseorang yang tak lagi ingin meninggalkan jejak.

Bram terbangun di sofa ruang tamu dengan tubuh pegal. Semalaman ia tertidur di sana setelah terlalu lama memikirkan ucapan Julia.

'Kalau suatu hari aku benar-benar pergi… jangan salahkan siapa-siapa lagi.'

Kalimat itu terus menghantui kepalanya sampai pagi.
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Istana yang Retak   Bab 85. Surat Terakhir Kartika

    Ruangan penyimpanan tua itu terasa semakin sunyi ketika Julia memegang amplop yang baru saja ditemukan di antara halaman buku catatan milik Kartika. Tidak ada seorang pun yang berbicara.Bahkan suara angin yang masuk dari celah jendela yang rusak terdengar begitu jelas. Semua mata tertuju pada amplop berwarna kecokelatan yang telah tersimpan selama puluhan tahun itu.Amplop sederhana tersebut tampak tidak istimewa, tetapi semua orang di ruangan itu memahami bahwa isinya kemungkinan lebih berharga daripada seluruh dokumen yang telah mereka temukan sejauh ini. Haris menundukkan kepala.Bram berdiri di samping Julia dengan wajah tegang. Sementara Surya terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu vonis setelah bertahun-tahun hidup bersama rasa bersalah.Tangan Julia sedikit gemetar saat membuka segel yang mulai rapuh dimakan usia.Ia tidak tahu apa yang akan ditemukannya.Namun satu hal yang pasti.Apa pun isi surat itu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.Perlahan ia menarik lembar

  • Istana yang Retak   Bab 84. Orang yang Tak Pernah Dicurigai

    Ketegangan langsung memenuhi ruangan kecil itu ketika bayangan seseorang muncul di balik pintu yang setengah terbuka. Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik. Julia masih memegang buku catatan milik Kartika, sementara Bram berdiri sedikit di depannya seolah secara naluriah berusaha melindungi istrinya.Surya sendiri tampak menegang. Wajah pria itu berubah pucat saat melihat sosok yang perlahan melangkah masuk ke dalam ruangan. Debu yang beterbangan di udara tampak berkilauan diterpa sinar matahari yang masuk melalui celah atap, menciptakan suasana yang terasa semakin mencekam.Jantung Julia berdetak keras. Ada sesuatu dalam ekspresi Surya yang membuat perasaannya tidak tenang.Ketika sosok itu akhirnya terlihat jelas, Julia langsung membelalak."Bapak?" bisiknya.Orang yang berdiri di depan mereka tidak lain adalah Haris, ayah angkat Julia.Pria yang membesarkannya sejak bayi.Pria yang selama ini ia hormati dan cintai sebagai ayahnya sendiri.Haris tampak sama terkejutnya.Namu

  • Istana yang Retak   Bab 83. Jejak yang Mengarah ke Pelaku

    Malam itu, Julia hampir tidak tidur. Surat peninggalan Kartika tergeletak terbuka di atas meja kerjanya, sementara pikirannya terus memutar setiap kalimat yang tertulis di dalamnya. Semakin sering ia membaca surat tersebut, semakin ia menyadari bahwa ibunya bukan sekadar meninggalkan pesan perpisahan.Kartika sengaja meninggalkan petunjuk. Petunjuk yang mungkin terlalu samar bagi orang lain, tetapi cukup jelas bagi seseorang yang benar-benar ingin mencari kebenaran.Nama tempat yang ditemukan Julia di bagian bawah surat terus mengganggunya. Awalnya ia mengira itu hanya catatan biasa, tetapi setelah dicermati berulang kali, tulisan tersebut tampak lebih seperti penanda. Seolah Kartika sengaja menyembunyikan sesuatu di sana untuk ditemukan suatu hari nanti.Pagi-pagi sekali, sebelum Hana bangun untuk berangkat sekolah, Julia sudah duduk di ruang makan bersama Bram dan Surya. Ketiganya terlihat serius.Tidak ada lagi keraguan bahwa mereka sedang berada di tahap paling penting dalam penca

  • Istana yang Retak   Bab 82. Orang yang Paling Dipercaya

    Ruangan kecil tempat loker penyimpanan itu berada mendadak terasa sesak. Tidak ada seorang pun yang berbicara setelah Julia membaca isi surat peninggalan Kartika.Suara pendingin ruangan yang berdengung pelan menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di tengah keheningan yang menekan. Surat tua itu masih berada di tangannya, tetapi jemarinya terasa dingin. Berkali-kali ia membaca nama yang tertulis di sana, berharap matanya salah menangkap huruf-huruf tersebut.Namun setiap kali dibaca ulang, hasilnya tetap sama. Nama itu tidak berubah. Nama itu tetap tertulis jelas di sana, seolah sengaja diwariskan Kartika sebagai kebenaran terakhir yang harus diketahui putrinya suatu hari nanti.Bram yang sejak tadi berdiri di samping Julia akhirnya mengambil surat tersebut dengan hati-hati. Ia membaca bagian yang membuat istrinya membeku. Sesaat kemudian, ekspresinya berubah. Rahangnya mengeras. Tatapannya menjadi sulit dibaca."Ini tidak masuk akal," gumamnya.Surya yang berdiri di depan mereka p

  • Istana yang Retak   Bab 81. Pengkhianatan yang Tak Termaafkan

    Malam itu menjadi salah satu malam paling mengguncang dalam hidup Julia. Bahkan setelah ambulans membawa tubuh pria tua yang menjadi saksi terakhir tragedi masa lalu itu, ia masih berdiri mematung di dalam gudang yang dingin dan suram. Suara sirene yang perlahan menjauh terdengar seperti gema yang memantul di dalam kepalanya.Namun bukan kematian pria itu yang paling mengusik pikirannya. Bukan pula tembakan yang nyaris merenggut nyawa mereka. Yang terus berputar di benaknya adalah nama yang diucapkan sesaat sebelum pria itu mengembuskan napas terakhir.Nama yang selama ini tidak pernah masuk dalam daftar orang yang dicurigainya. Nama yang begitu dekat dengan hidupnya hingga Julia tidak pernah membayangkan bahwa orang tersebut menyimpan rahasia sebesar itu selama puluhan tahun.Bram berdiri di samping istrinya sambil memegang pundaknya erat. Ia bisa merasakan tubuh Julia sedikit gemetar. Bukan karena udara malam yang dingin, melainkan karena syok yang masih menguasainya."Kita pulang d

  • Istana yang Retak   Bab 80. Nama yang Selama Ini Disembunyikan

    Suara tembakan yang memecah kesunyian malam membuat seluruh isi gudang berubah kacau dalam sekejap. Pecahan kaca berhamburan ke berbagai arah sementara pria tua yang baru saja mengungkap sebagian rahasia masa lalu itu terjatuh ke lantai dengan tangan menekan dada kirinya.Darah mulai merembes di sela-sela jemarinya. Julia yang masih berada di balik tumpukan peti tua merasakan tubuhnya gemetar hebat. Semua terjadi terlalu cepat.Beberapa detik sebelumnya mereka sedang mendekati jawaban yang selama puluhan tahun terkubur, tetapi kini satu-satunya saksi yang berani berbicara justru menjadi target pembungkaman."Bram!" seru Julia panik."Aku di sini," jawab Bram cepat sambil menarik tubuh istrinya lebih rendah. Tatapannya menyapu ke arah jendela yang pecah. Instingnya mengatakan penembak masih berada di luar. "Jangan keluar!"Julia mengangguk, tetapi matanya terus tertuju pada pria tua yang terkapar beberapa meter dari mereka. Rasa takut dan rasa kemanusiaan bertarung di dalam dirinya. Ia

  • Istana yang Retak   Bab 5. Awal Kehancuran Bram

    Langit siang tampak pucat ketika Bram melangkah keluar dari gedung kantor. Panas matahari tak mampu menghangatkan tubuhnya yang terasa beku. Dadanya sesak, napasnya berat, seolah setiap langkah yang ia ambil membawa beban yang kian menindih.Ia baru saja dipermalukan.Dipecundangi.Dan lebih menyak

  • Istana yang Retak   Bab 4. Tuduhan

    Keesokan harinya, Bram mulai kembali bekerja. Ia meninggalkan Julia dan Hana di klinik.Debar tak biasa mulai ia rasakan, ketika kakinya mulai menginjak lantai ruang kerjanya. Dan benar, rasanya tak nyaman, penuh tekanan. Semua seperti sengaja memperlihatkan raut wajah tak suka kepadanya.Beberapa

  • Istana yang Retak   Bab 3. Gadis Kecil yang Takut Ibunya Tiada

    Tiba-tiba saja suara petir terdengar menggelegar, diikuti suara hujan deras mengguyur atap rumah, tetapi di dalam kamar mandi, suasana lebih menegangkan.Seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun, bernama Hana, berlari ke kamar mandi sambil memeluk bonekanya, lalu mulai memanggil-manggil."Mam

  • Istana yang Retak   Bab 2. Cairan Berwarna Hijau

    Langit senja di luar jendela memancarkan semburat oranye yang biasanya menenangkan hati.Namun, sore itu, warna hangat langit tak lagi berarti apa-apa bagi Julia.Jantungnya terpacu cepat, seolah menekan ribuan pecahan kaca ke dalam dadanya.Tangannya gemetar saat membaca pesan yang terpampang jela

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status