แชร์

Bab 206 : Dia ke Rumah Sakit (3)

ผู้เขียน: Fortunata
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-27 20:00:57

Diam lagi.

Lebih lama. Hadi memberi sedikit ruang untuk putrinya merenung sambil berbaring di sofa.

Lalita meraih bantal sofa dan mendekapnya erat, seolah benda itu bisa menahan rasa yang berkecamuk di dadanya.

Dan benar saja, prediksi ayahnya terbukti.

Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar dari luar. Lalita melirik ke arah jendela—mobil David terlihat berhenti sebentar di depan gerbang, lalu berbalik arah setelah berbincang singkat dengan satpam.

“Lihat itu,” ujar Hadi pelan. “Ada cowok yang lagi mati-matian ngejar kamu.”

Lalita menghembuskan nafas kasar. Lelah.

“Percuma, pa. Aku-nya gak mau.”

“Kenapa?”

“Hm… aku gak cinta.”

Hadi menoleh, menatap putrinya lebih lama dari biasanya. “Udah berusaha coba kasih dia kesempatan?”

“Udah pa. Tapi tetap aja gak bisa.”

“Sesuka itu sama Brian?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 213

    “Aku nggak ngerti sih apa yang ada di otaknya itu. Kok bisa ya orang nggak punya urat malu sama sekali.”Lalita sangat kesal sampai-sampai ia tak sadar melahap sandwich dengan potongan besar, nyaris tanpa jeda untuk mengunyah.Brian mengkhawatirkan Hadi. Bagaimanapun, Fuad dan Hadi bersahabat sangat dekat. Pasti lukanya masih membekas.“Aa… ka… mu… gi… ma… na….”Suara Brian terdengar sangat pelan, terputus-putus. Beberapa kali pun mencoba, Brian tetap tidak bisa melafalkan satu kata pun dengan jelas.Lalita yang berusaha untuk mendengar pun sama saja. Tidak bisa menangkap satu kata pun.Hanya saja, Lalita tidak ingin menyerah.“Hm?” Lalita menghentikan kunyahannya, lalu mendekatkan wajah ke arah Brian. “Kamu ngomong apa?”Brian kembali berusaha. Bibirnya bergerak perlahan, otot-otot wajahnya tampak tegang, setiap suku kata yang ia keluarkan terasa berat.Namun tetap saja, Lalita tak bisa mendengarnya.“P…a… pa…”Akhirnya, ia coba untuk menebak.“Papa?” Lalita mengernyit. “Maksud kamu…

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 212 : Permintaan Maaf

    Kediaman utama Wiguna berubah menjadi medan perang di hari tersebut. Deri, Darren, dan Roy—marah besar pada Sabrina.Tak satu pun dari mereka menyangka, perempuan yang selama ini berdiri sebagai ibu dan istri, tega memperlakukan anak perempuan orang lain seperti itu.Entah patut disebut beruntung atau tidak, Sabrina memang tak pernah memiliki anak perempuan.“Hati-hati karma, kamu juga punya anak perempuan” atau “Gimana perasaanmu kalau anak perempuanmu diperlakukan seperti itu?” Kedua kalimat nasihat di atas tidak akan berlaku untuk Sabrina.Namun kini, lihatlah Brian.Deri menelan nafas dalam. Jika karma memang benar adanya, mungkin inilah wujudnya. Karma tidak selalu datang dengan bentuk yang sama. Kadang ia hadir, menampar jauh lebih dalam—melalui orang yang paling disayangi.Kini, meski permintaan maaf yang mereka bawa terasa egois—karena berangkat dari keputusasaan seorang ayah—Deri tahu ia sungguh-sungguh menyesal

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 211 : Alasan

    [K... Kenapa? Kan lo lagi non... ton... drama, Lit?]Lalita terdiam cukup lama. Di seberang sana, Fauza bisa mendengar tarikan nafas yang terdengar ragu—seolah Lalita sedang menimbang antara bercerita atau tidak.[Lit, apa ada masalah? Lo… bisa kok cerita sama gue…]Beberapa menit kembali berlalu. Semua orang sedang menunggu dengan cemas.[Za… tapi lo janji jangan kasih tahu Dex, Nico, Rio, ataupun kakak-kakaknya Brian ya…]Fauza refleks menelan salivanya. Tangannya yang memegang ponsel sedikit bergetar. Ia bahkan tak berani menoleh ke arah mereka semua yang sejak tadi menunggu dengan nafas tertahan.[Iya, Lit. Janji. Emangnya ada apa?]Lita, maafin gue…teriak Fauza dalam hati.[Papa gak izinin.]Jantung Fauza langsung terasa jatuh. I… Ini alesannya serius.

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 210

    “Makasih ya, Lit… kamu udah mau jenguk Brian di tengah kesibukan kamu,” ucap Roy pelan.Dalam hati, Roy berharap setidaknya Brian terbangun. Berharap ada satu momen saja di mana adiknya bisa melihat Lalita datang untuknya.“Iya kak… kalau gitu Lita pulang dulu ya.”Roy hanya mengangguk.***Benar saja.Begitu Lalita sampai di rumah, Hadi sudah menunggunya di ruang tengah. Duduk tegak, tangan bersedekap, wajah datar.Lalita menatap ayahnya malas.“Kenapa, pa? Papa mau ngomel lagi?” tanya Lalita asal.“Percuma ngomelin kamu,” jawab Hadi singkat. “Toh kamu udah pergi. Tapi mulai sekarang, nggak boleh lagi. Pokoknya nggak boleh.”“Iya pa, iyaaa… next Lita nggak pergi,” sahut Lalita cepat, setengah menyerah.Hadi menghela napas. “Gimana keadaan Brian?”Lalita terdiam sejenak, lalu duduk di sofa dengan bahu merosot.“Entahlah, pa. Tadi Lita datang pas dia udah tidur. Kondisinya sesuai yang kak Roy ceritain siang tadi. Brian mute… enggak ngomong.”Ia menelan ludah, suaranya mulai berat.“Kel

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 209 : Kedatangan

    “Kak Roy? Kakak ada apa ke sini?” ucap Lalita begitu melihat dengan jelas wajah pria yang mendekati mereka.“Halo, Lita…” Roy tersenyum tipis. “Kakak memang sengaja mau ketemu kamu. Kebetulan banget kamu lagi di café ini. Tadinya kakak mau naik ke kantor kamu dan bikin janji dulu.”Roy ramah seperti biasa. Namun, Lalita merasakan sesuatu yang mengganjal di balik kedatangannya hari ini.Meski begitu, mereka berdua tampak kikuk. Seingat Roy mereka memang tidak pernah mengobrol berdua saja. Jadi, cukup aneh rasanya harus berbincang berdua hari ini.Menyadari udara di sekitar mereka berubah, Fina dan Olivia segera pamit dengan alasan kembali ke kantor. Lalita hanya sempat melambaikan tangan kecil sebelum kembali fokus pada Roy.“Silakan, kak. Duduk,” ucap Lalita canggung, menyadari Roy masih berdiri meski kursi di depannya kosong.Begitu pesanan datang dan suasana sedikit lebih tenang, Roy mulai berbicara. Perlahan, pria itu menjelaskan kondisi Brian yang kembali menurun—tentang pingsan,

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 208 : Ada apa?

    “Iya… dia influencernya.”Olivia mengangguk kecil. “Kalau denger cerita-cerita gemes kayak gitu, takdir tuh kerasa nyata sih. Kayak… apa pun yang memang ditakdirkan buat kamu, pasti bakal datang ke kamu, sekeras apa pun keadaannya. Tapi…”“Tapi apa?” tanya Fina menyipitkan mata.“Takdir juga bisa diubah, menurutku. Sama usaha dan doa. Misalnya kita jatuh cinta sama si A, terus kita berdoa supaya dijodohkan sama A. Menurutku itu bisa aja kejadian.”“Eiisshhh…” Fina menggeleng pelan. “Banyak juga yang nggak bisa.”“Bener sih,” Olivia terkekeh. “Tapi mana tahu kan? Bisa jadi kalau nggak berjodoh sama dia, ternyata orangnya jahat. Atau baik, tapi nggak cocok aja karakternya. Artinya, jodoh yang Allah kasih, itu memang sesuai sama yang kita butuhkan.”“Emang ada ya orang baik tapi nggak cocok?” Fina mengernyit. &ld

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status