Share

Bab 3

Author: A mum to be
last update publish date: 2025-11-05 23:01:07

Pagi itu terasa aneh bagi Alena. Setiap detik berlalu seperti sebuah mimpi, sebuah kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi secepat ini.

Sebentar lagi, ia akan menjadi istri seorang pria yang baru dikenal kemarin. Dia akan tinggal bersama Aziz, sang duda dengan dua anak yang berumur hampir sebaya dengannya.

"Ini benar-benar akan terjadi..." gumam Alena, meremas-remas ujung kerudungnya dengan gugup.

Aziz duduk di seberang ruangan, wajahnya tanpa ekspresi. Tampak tenang, namun ada sesuatu di matanya yang sulit diartikan oleh Alena.

Di sisi lain, Alena merasa hatinya terus berdenyut dengan cepat. Pernikahan ini bukan tentang cinta. Semua hanya tentang hutang budi yang harus dibayar.

"Kau sudah siap?" tanya Aziz dengan nada datar.

"Apa aku punya pilihan?" Alena membalas tanpa menatapnya.

Aziz menghela napas panjang. "Tidak ada."

Alena tahu itu benar. Keluarga Aziz telah membantu keluarganya saat mereka jatuh miskin setelah ayahnya meninggal. Kini, tanggung jawab itu menjadi beban di pundak. Aziz menuntutnya untuk menikah dan ia tidak bisa menolak.

Prosesi pernikahan sederhana itu berlangsung di ruang tamu rumah Aziz. Hanya ada beberapa saksi, tanpa teman-teman kuliahnya, tanpa keramaian, tanpa kebahagiaan. Alena bahkan merasa canggung dengan busana pernikahan yang terlalu sederhana, tanpa gaun putih seperti yang sering ia impikan. Aziz juga hanya mengenakan pakaian formal biasa, seolah ini hanyalah pertemuan bisnis.

"Sah!!"

Terdengar suara saksi pernikahan, menandakan bahwa Alena kini resmi menjadi istri Aziz. Dadanya terasa sesak, bukan karena bahagia, tetapi karena kenyataan yang begitu pahit untuk ditelan.

Alena duduk di pinggir ranjang, memandangi cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. Rasanya aneh, sangat aneh. Hanya beberapa minggu yang lalu, ia adalah seorang mahasiswi biasa yang menghabiskan hari-harinya di kampus, mengejar target untuk menghadapi skripsi dan bergosip bersama teman-teman. Tetapi sekarang, ia menjadi istri seorang duda berusia 38 tahun yang bahkan tidak ia cintai, dan tinggal di rumah besar yang terasa asing.

Pernikahan itu berlangsung dengan cepat, bahkan lebih cepat dari yang pernah ia bayangkan. Aziz, pria yang kini menjadi suaminya, memutuskan semua dengan tegas. Tidak ada waktu untuk persiapan panjang, tidak ada pesta meriah seperti yang sering dibayangkan kebanyakan wanita tentang pernikahan mereka. Semuanya serba sederhana, dan seolah hanya formalitas.

Alena bahkan tidak sempat memberitahu teman-teman kampusnya. Entah apa yang akan mereka katakan jika tahu ia menikah dengan pria yang jauh lebih tua, pria yang sudah memiliki dua anak remaja.

"Aku sudah menikah..." Alena bergumam pada dirinya sendiri, masih belum percaya dengan perubahan besar dalam hidupnya.

[Mamak tinggal dulu ya, Na. Mau mengantar paman dan bibimu yang langsung pulang ke kampung.] 

Begitu isi pesan sang ibu padanya selepas akad tadi. Alena merasa sendirian sekarang. Belum sempat dia mendamaikan diri, pintu kamar terbuka dan Aziz masuk. Pria itu tampak tenang, seperti biasa, seolah tidak ada yang berubah dalam hidupnya.

"Sudah siap bertemu dengan anak-anak?" tanyanya tanpa basa-basi.

Alena mengangguk pelan, meski jantungnya berdebar kencang. Ia belum bertemu dengan kedua anak Aziz. Mereka tinggal bersama nenek mereka sementara rumah disiapkan untuk kedatangan Alena. Sekarang, saatnya pertemuan yang selama ini ia takuti, bertemu dengan anak-anak tirinya.

Aziz menatapnya sejenak sebelum berkata, "Sasya dan Zizi mungkin butuh waktu untuk terbiasa. Mereka sudah cukup lama hidup tanpa ibu."

Kata-kata Aziz tidak banyak membantu menenangkan hati Alena. Ia hanya bisa berharap semuanya akan baik-baik saja, meskipun jauh di dalam hatinya, ia tahu itu tidak akan mudah.

            Ketika Alena turun ke ruang tamu, ia disambut oleh suasana dingin. Sasya, gadis berusia 15 tahun, duduk di sofa dengan raut wajah penuh skeptisisme. Sedangkan Zizi, yang lebih muda, hanya melirik Alena dengan tatapan tak terbaca. Tidak ada senyuman, tidak ada sapaan hangat. Hanya keheningan yang canggung.

"Hai, aku Alena..." Alena memulai percakapan, berusaha ramah. "Senang bertemu kalian."

Sasya menatap Alena dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah menilai setiap detail dari penampilan ibu tiri barunya. "Papa bilang kau masih kuliah?" tanyanya dingin.

Alena mengangguk, sedikit gugup. "Iya, aku memang masih kuliah di semester enam."

Sasya menyeringai tipis, lalu berkata dengan nada sinis, "Jadi, kau nikah sama Papa biar enggak usah kerja, ya? Enak juga hidupmu."

Ucapan itu seperti tamparan bagi Alena. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Aziz, yang berdiri di sampingnya, menghela napas panjang dan berkata tegas, "Sasya, cukup."

Namun, Sasya hanya mendengus dan mengalihkan pandangan ke layar ponsel di tangannya. "Aku cuma ngomong apa yang aku lihat."

Alena merasa tubuhnya kaku, dan suasana menjadi semakin tegang. Zizi, yang duduk di samping kakaknya, hanya diam, tidak menunjukkan reaksi apapun. Wajahnya datar, seolah tidak peduli dengan kehadiran Alena.

"Maaf kalau aku mungkin belum bisa jadi ibu yang baik," Alena berkata pelan, mencoba meredakan suasana. "Aku harap kita bisa pelan-pelan belajar saling mengenal."

Sasya hanya tertawa sinis. "Ibu? Jangan harap deh. Kami enggak butuh ibu tiri."

Aziz menatap putrinya dengan tatapan tajam. "Sasya, Papa bilang cukup."

Namun, gadis itu hanya mengangkat bahu acuh tak acuh, seolah tidak peduli dengan teguran ayahnya.

Alena menunduk, menahan perasaan sedih yang mulai menghimpit dadanya. Ia tahu ini akan sulit, tetapi tidak pernah membayangkan akan seberat ini. Pertemuan pertama dengan anak-anak Aziz sudah membuatnya merasa ditolak, dan ia tidak tahu bagaimana harus melanjutkan hidup dalam rumah tangga ini.

Setelah makan malam yang sunyi dan penuh kecanggungan, Alena kembali ke kamar. Kamar itu luas dan mewah, tetapi ia merasa terasing di dalam sana. Ini bukan rumahnya, bukan tempat di mana ia merasa nyaman.

Ia duduk di tepi ranjang, memandang cermin besar di sudut ruangan. Wajahnya terlihat lelah, lebih lelah dari biasanya. Pernikahan ini terlalu cepat, dan ia belum siap menghadapi semua perubahan yang datang bersamanya.

Saat ia tenggelam dalam pikiran, pintu kamar terbuka perlahan. Aziz masuk dan menatapnya dengan raut wajah serius.

"Aku tahu ini tidak mudah untukmu," kata Aziz sambil mendekat. "Tapi tolong beri mereka waktu. Sasya dan Zizi butuh waktu untuk menerima keadaan ini."

Alena hanya mengangguk, meski di dalam hatinya ia merasa ragu. Waktu? Berapa lama waktu yang diperlukan agar mereka mau menerima dirinya? Apakah ia bisa bertahan sampai saat itu tiba?

Aziz menghela napas dan duduk di samping Alena. "Tidak ada yang instan. Kita semua akan belajar menyesuaikan diri, butuh proses. Jadi bersabarlah."

Kata-kata itu terdengar tulus, namun entah mengapa Alena merasa masih ada jarak yang jauh antara mereka. Aziz selalu tenang dan rasional, seolah-olah semuanya bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Tetapi bagi Alena, ini lebih dari sekadar adaptasi. Ini tentang bagaimana ia harus menemukan tempatnya di dunia yang tidak ia pilih sendiri.

“Dan … maaf.” Aziz kembali bersuara. “Aku tahu kita masih butuh waktu untuk beradaptasi. Jadi sekarang aku … hmmm maksudku sebaiknya kita tidak perlu melakukan hal layaknya malam pertama. Kau mengerti maksudku bukan?”

“I-iya.” Alena mengangguk-angguk sekaligus bernapas lega. Ketakutan yang sempat menghimpit dadanya berangsur sirna.

Malam semakin larut dan Alena masih belum bisa tidur. Pikirannya terus berputar, membayangkan bagaimana ia harus menghadapi hari-hari ke depan. Pertemuan pertama dengan Sasya dan Zizi jelas tidak berjalan baik. Bahkan, rasanya seperti gagal total.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari salah satu teman kampusnya.

[Lena, kau ke mana aja? Kapan kita nongkrong lagi?]

Alena menatap layar ponsel itu dengan perasaan campur aduk. Bagaimana ia bisa menjelaskan semua kepada teman-temannya? Mereka tidak tahu apa yang terjadi, mereka tidak tahu bahwa Alena sekarang sudah menikah dan harus hidup dengan dua anak tiri yang membencinya.

[Maaf, aku sibuk banget akhir-akhir ini,] balas Alena, memilih untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.

Setelah mengirim pesan itu, ia menatap cincin di jarinya sekali lagi. Bagaimana hidupnya bisa berubah secepat ini? Dan apa yang akan terjadi selanjutnya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 213 Pelabuhan Terakhir (Tamat)

    "Aku sangat yakin, Mas. Mbak Sandra butuh kebahagiaannya sendiri.” Aziz menatap istrinya dengan kekaguman yang sulit disembunyikan. Ia menarik napas lega, seolah beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya luruh begitu saja. "Terima kasih, Sayang. Kamu jauh lebih bijaksana daripada yang aku kira." Satu bulan berlalu dengan cepat, membawa perubahan atmosfer yang luar biasa di kediaman mereka. Jakarta sedang memasuki musim yang lebih bersahabat, sama seperti hubungan Alena dan Aziz yang kini kian merekat. Tidak ada lagi sindiran tentang takaran gula aren atau kecemburuan buta. Semuanya terasa lebih ringan. Sore itu, halaman belakang rumah mereka tampak lebih ramai dari biasanya. Suara tawa pecah dari arah kolam renang. Sasya akhirnya pulang untuk liburan semester. Kehadirannya membawa energi baru yang ceria di rumah tersebut."Ma! Lihat Dek Arka, dia sudah bisa merespons panggilanku!" seru Sasya dengan riang. Ia mengenakan kaus santai, wajahnya t

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 212 Dia Tidak Tahu Apa-Apa

    "Tapi Mas Jimmy benar, Mas. Kamu memang enggak pernah melamarku secara romantis," ucap Alena lirih, memecah keheningan yang sempat menggantung setelah kepergian Jimmy yang terburu-buru. Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Jimmy baru saja pamit dengan wajah kikuk, membawa serta aura canggung setelah tanpa sengaja memantik api dari masa lalu yang sensitif. Sementara kini Alena memperhatikan Aziz yang masih berdiri mematung di dekat meja kerja. Napas suaminya masih sedikit memburu, rahangnya terkatup rapat, sisa dari pembelaan emosional yang baru saja ia lontarkan di depan Jimmy. Ada rasa bangga sekaligus haru yang merayap di hati Alena. Ia tidak menyangka bahwa Aziz akan sebegitu tersinggungnya saat sejarah pernikahan mereka dianggap remeh. Meski dimulai dengan kata terpaksa, Aziz seolah menegaskan bahwa proses setelahnya adalah sesu

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 211 Mbak Sandra??

    Tangisan Arka pecah, melengking tinggi bersahutan dengan isak tangis Alena yang tidak lagi bisa dibendung. Pertahanan yang ia bangun selama sebulan ini runtuh seketika melihat kemeja Aziz yang terbuka dan barang-barang wanita yang berserakan di sofa. Di mata Alena, ruangan ini bukan lagi kantor suaminya, melainkan bukti nyata dari pengkhianatan yang paling rendah.“Sayang, tenang dulu ya. Aku bisa jelasin,” Aziz mencoba mendekat dengan tangan gemetar.“Apa, hah?? Apa yang mau kamu jelasin, Mas?” jerit Alena pilu. “Sepatu ini? Pakaian ini? Atau kemejamu yang terbuka itu?” Tepat saat ketegangan itu berada di puncaknya, pintu jati besar itu kembali terbuka. Seorang pria bertubuh tegap masuk dengan wajah ceria sembari menenteng sekotak cokelat mewah. Namun, langkahnya terhenti seketika melihat Alena

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 210 Apa-Apaan Ini??

    Satu bulan telah berlalu sejak kepulangan Alena ke rumah itu. Perlahan namun pasti, Alena mulai menata kembali kepingan otoritasnya yang sempat tercerai-berai. Ruang makan kini kembali beraroma masakannya, dan setiap sudut rumah mulai memancarkan kembali seleranya yang lembut namun tegas. Pukul sebelas siang, matahari Jakarta sedang terik-teriknya, namun suasana di dapur Alena terasa sejuk. Ia baru saja selesai menata kotak bekal mewah berisi nasi daun jeruk, empal gentong, dan sambal goreng ati kesukaan Aziz. Hari ini, Alena memiliki rencana spesial. Ia ingin memberikan kejutan makan siang ke kantor suaminya, sesuatu yang sudah lama sekali tidak ia lakukan. Alena berdiri di depan cermin besar di lorong, merapikan gamis berwarna pastel yang ia kenakan. Kerudung senadanya

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 209 Biar Kamu Dengar Sendiri

    "Angkat saja. Nyalakan pengeras suaranya," kata Aziz sambil tersenyum penuh arti. Ia bisa merasakan tubuh Alena yang seketika menegang di dalam dekapannya. Aziz tahu bahwa istrinya kembali merasa tidak nyaman, sebuah naluri pertahanan yang wajar muncul setelah kejadian di meja makan tadi pagi. Ia ingin membuktikan sesuatu, ingin menunjukkan bahwa tidak ada rahasia yang ia sembunyikan di balik layar ponsel itu."Enggak ah. Kan hape Mas yang bunyi," sewot Alena. Ia membuang muka, mencoba mengabaikan getaran ponsel yang seolah-olah sedang menggedor pintu privasi mereka yang baru saja kembali rekat."Angkatlah, Sayang. Biar kamu dengar sendiri," rayu Aziz lembut, sambil menyodorkan ponselnya ke tangan Alena. Alena akhirnya menurut meski dengan bibir yang sedikit mengerucut. Ia menyentuh tombol hijau dan mengaktifkan pengeras suara. Seketika, suara Sandra yang menggebu-gebu memenuhi kesunyian kamar yang masih hangat itu."Mas, aku baru saja telepon pihak perwakilan

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 208 Kata Maaf

    Keheningan yang pekat mendadak jatuh di antara mereka, menelan sisa-sisa gema suara Aziz yang baru saja meninggi. Alena terdiam, napasnya masih memburu kecil, namun matanya yang tadinya tajam kini mulai melunak oleh rasa bersalah yang merayap. Di sisi lain, Aziz berdiri mematung, menatap istrinya dengan gurat penyesalan yang mendalam karena telah kehilangan kendali atas emosinya. Detik demi detik berlalu hanya dengan suara detak jam dinding yang seolah mengejek kekakuan mereka. Sampai akhirnya, bibir keduanya bergerak hampir secara bersamaan, memecah kesunyian dengan satu kata yang sama."Maaf..." Mereka tertegun sejenak, saling menatap dengan mata yang berkaca-kaca. Tanpa perlu aba-aba lagi,

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 79

    Aziz memasang wajah menyedihkan agar dia mendapatkan iba dari sang ibu, namun, wanita paruh baya itu tetap pada keputusannya.“Masa Ibu tega sama anak sendiri?” bujuk Aziz dengan wajah memelas.Bu Hasnah menggeleng lalu berkata, “Pulang ya, Ziz. Alena butuh istirahat sekarang.”Aziz terdiam, berusa

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 78

    [Mas, enggak sanggup sayang.]Pesan singkat itu membuat Alena terdiam. Ia bisa merasakan kegelisahan Aziz dari kata-katanya. Butuh beberapa detik baginya untuk merespons.[Sabar ya, Mas.]Jawaban singkat itu disusul pesan lain dari Aziz.[Mas pengen peluk kamu.]Alena menarik napas panjang sebelum

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 73

    Alena duduk di tepi ranjang dengan mata menerawang. Tubuhnya masih lemah, tetapi hatinya yang kini terasa lebih berat. Tak berapa lama kemudian Aziz masuk ke kamar perlahan, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak mengganggu. Ia berjalan mendekat, lalu tanpa ragu melingkarkan kedua tangannya di

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 72

    Pagi harinya, Alena terbangun dengan kepala terasa berat. Tubuhnya lemah, dan rasa mual langsung menyerang begitu ia mencoba bangkit dari tempat tidur. Dengan tangan memegang erat sisi ranjang, ia memejamkan mata, berusaha menenangkan gelombang mual yang seakan menguasai seluruh tubuh. Sementara di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status