Share

Bab 4

Author: A mum to be
last update Last Updated: 2025-11-05 23:01:27

Hari-hari setelah pernikahan Alena terasa semakin berat. Hubungan dengan Sasya dan Zizi tak kunjung membaik, bahkan cenderung semakin memburuk. Setiap kali mereka berada di ruangan yang sama, suasana menjadi tegang. Kedua anak itu jelas tidak mau menerima Alena sebagai bagian dari hidup mereka. Di mata mereka, ia hanyalah orang asing yang tiba-tiba muncul dan merebut tempat ibu mereka.

Pagi itu, Alena mencoba untuk lebih berusaha. Ia bangun lebih awal dan memutuskan untuk membuat sarapan. Meski tahu kemampuan memasak yang dimiliki sangat terbatas, tetapi setidaknya ini bisa menjadi upaya kecil untuk mendekatkan diri.

"Aku bisa, aku pasti bisa," gumamnya pada diri sendiri sambil membuka buku resep yang baru ia unduh dari internet. Pandangannya terhenti pada menu sederhana, omelet sayur dan roti panggang. "Enggak terlalu sulit ‘kan?"

Dengan semangat, Alena mulai memotong sayuran dan menyiapkan bahan-bahan lainnya. Namun, kenyataan segera menghantam. Telur yang ia kocok terlalu encer, dan roti yang ia panggang malah gosong di satu sisi. Kepanikan mulai menyerang ketika aroma hangus mulai tercium dari dapur.

"Oh tidak, gimana ini?" Alena berusaha keras memperbaiki keadaan, tapi semuanya sudah terlambat. Omeletnya gosong dan tak berbentuk, sementara roti panggangnya hampir tak bisa dimakan. Ia menatap hasil karyanya dengan putus asa.

Saat itulah, Sasya muncul di pintu dapur. Gadis itu menatap pemandangan di depan matanya dengan tatapan yang penuh ejekan. "Kau masak apa? Atau lebih tepatnya … kau membakar apa?"

Alena berusaha tersenyum meski malu. "Aku cuma mencoba bikin sarapan buat kalian. Maaf, mungkin enggak sempurna, tapi..."

"Jangan repot-repot," potong Sasya sambil melipat tangannya di depan dada. "Aku dan Zizi enggak butuh kau masakin. Kita udah biasa masak sendiri sejak mama pergi."

Alena merasa dadanya sesak mendengar kata-kata itu. Setiap kali Sasya menyebut "Mama", ada kepahitan yang jelas tergambar di wajahnya. Gadis itu belum bisa menerima kehadiran Alena, dan mungkin tidak akan pernah bisa.

"Tapi aku cuma ingin membantu..." kata Alena, suaranya hampir tak terdengar.

Sasya mendengus dan berjalan keluar dari dapur tanpa berkata apa-apa lagi, meninggalkan Alena sendirian dengan piring-piring yang berantakan di meja.

Satu jam kemudian, Aziz turun ke ruang makan. Ia melihat piring sarapan yang tak tersentuh dan menatap Alena yang duduk di meja dengan wajah muram.

"Ada apa?" tanyanya.

Alena menggeleng pelan. "Aku udah coba masak, tapi enggak ada yang mau makan."

Aziz menghela napas panjang. "Sasya dan Zizi masih butuh waktu. Jangan dipaksakan."

"Tapi sampai kapan?" Alena menatapnya dengan perasaan kecewa yang dalam. "Aku merasa seperti tamu di rumah ini. Aku mencoba mendekat, tapi mereka selalu mendorongku pergi."

Aziz menatap Alena dengan raut wajah yang sulit ditebak. "Aku tahu ini sulit, tapi kau harus lebih sabar. Sasya dan Zizi punya luka yang dalam, dan mereka butuh waktu untuk sembuh."

Alena hanya bisa terdiam. Kata-kata Aziz terdengar masuk akal, tetapi tetap saja, rasanya seperti ia sedang berjalan di atas kaca. Setiap langkah terasa salah, dan setiap kata yang ia ucapkan sepertinya memperburuk keadaan.

"Kenapa Om mau menikah denganku kalau Om tahu ini akan sulit?" Alena tiba-tiba bertanya, suaranya bergetar.

Aziz tampak terkejut dengan pertanyaan itu. Ia tidak segera menjawab, hanya menatap Alena dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan.

"Jangan selalu menanyakan hal yang sama. Sudahlah. Jalani saja peranmu. Kau dan aku sama-sama sedang menuruti perintah orangtua kita bukan?" kata Aziz akhirnya.

Alena menghela napas panjang. Mencoba mengumpulkan stok kesabarannya yang semakin menipis.

Malam itu, Alena duduk sendirian di ruang tamu, merenungkan kehidupannya yang berubah drastis dalam beberapa minggu terakhir. Aziz sibuk dengan pekerjaannya, dan anak-anak terus menjaga jarak. Ia merasa seperti orang asing di dalam rumahnya sendiri.

Tiba-tiba, Zizi muncul di ambang pintu. Gadis itu menatap Alena sejenak, lalu berjalan masuk dan duduk di sofa tanpa berkata apa-apa. Alena terkejut dengan kehadirannya, tapi ia berusaha tidak menunjukkan kegugupannya.

"Zizi, ada apa?" tanya Alena hati-hati.

Zizi hanya menggeleng pelan, masih menunduk tanpa menatap Alena. Gadis itu kemudian mengeluarkan buku gambar dari tasnya dan mulai menggambar, sementara Alena hanya bisa menatapnya dari kejauhan.

Setelah beberapa saat, Zizi tiba-tiba berkata pelan, "Kau enggak bisa gantiin Mama."

Alena merasa hatinya mencelos mendengar ucapan itu. "Aku tahu," jawabnya pelan. "Aku enggak berniat menggantikan posisinya."

Zizi berhenti menggambar dan menatap Alena dengan mata besar yang penuh kesedihan. "Kalau gitu, kenapa kau ada di sini?"

Pertanyaan itu terasa seperti tusukan di dada. Alena tidak tahu harus menjawab apa. Ia sendiri masih bertanya-tanya, kenapa ia ada di sana? Kenapa ia setuju menikah dengan Aziz ketika semuanya terasa begitu salah?

Sebelum Alena sempat menjawab, suara pintu depan terdengar. Aziz pulang dari kantornya, dan suasana di ruangan itu berubah. Zizi langsung berdiri dan berlari menuju ayahnya, meninggalkan Alena sendirian lagi.

Aziz duduk di meja kerja di kamarnya malam itu, sementara Alena berbaring di ranjang, menatap langit-langit. Ia merasa semakin terasing dari suaminya, seolah-olah jarak antara mereka semakin membesar. Setiap malam, Aziz sibuk dengan pekerjaannya, dan mereka jarang berbicara, kecuali hal-hal yang bersifat praktis.

Alena merasa kesepian, bahkan di hadapan orang yang sekarang menjadi suaminya.

"Om, kita harus bicara," ucap Alena akhirnya.

Aziz menoleh dari meja kerjanya dan menatap Alena sejenak sebelum berkata, "Bicara apa?"

"Tentang kita... tentang pernikahan ini. Aku merasa seperti orang asing di sini. Sasya dan Zizi jelas-jelas tidak mau menerima aku, dan Om..." Alena berhenti sejenak, suaranya bergetar. "Seperti menjauh dariku."

Aziz menghela napas panjang dan berdiri dari kursinya. "Aku tidak menjauh. Aku hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan semua ini."

"Tapi aku juga butuh Om," kata Alena lirih. "Aku enggak bisa terus menghadapi ini sendirian. Bukankah kita suami istri?"

Aziz menatap Alena dengan tatapan yang lembut, tapi ada sesuatu yang tertahan di dalam matanya. "Aku tahu. Tapi tolong beri aku waktu."

Alena hanya bisa mengangguk, meski di dalam hatinya, ia merasa waktu mungkin bukanlah jawabannya. Ada sesuatu yang hilang dalam pernikahan ini, sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Dan malam itu, Alena tidur dengan perasaan hampa yang terus menghantui hatinya.

Entah jam berapa sekarang. Namun, Alena terbangun dari tidurnya karena mendengar suara tangisan dari luar kamar. Saat membuka pintu, ia melihat Zizi berdiri di lorong, menangis sendirian di kegelapan. Apa yang membuat gadis itu menangis? Apa yang sedang terjadi di dalam rumah ini?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 171 Aku Mohon

    Hening yang menyusul permintaan Alena terasa begitu mencekik. Di dalam kamar yang biasanya menjadi tempat mereka beristirahat, udara mendadak terasa tipis, seolah oksigen ditarik paksa keluar dari ruangan. Aziz mundur satu langkah, menatap istrinya dengan pandangan tidak percaya. Tangannya yang tadi terkulai di sisi tubuh kini mengepal kuat, berusaha keras menahan getaran hebat yang menjalar dari ujung jari hingga ke bahunya."Len..." suara Aziz pecah, terdengar parau dan penuh luka. "Kamu pasti cuma capek. Kejadian Aca memang berat buat kita semua, tapi bukan berarti kita harus hancur seperti ini. Aku janji, Len, aku akan perbaiki semuanya. Aku akan berubah. Aku akan jadi suami yang kamu inginkan selama ini."Alena menatap Aziz, namun tidak ada binar harapan di matanya. Ia menggeleng pe

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 170 Talak Aku, Mas

    Suasana sore itu terasa sedikit lebih hangat di beranda belakang. Alena duduk di antara Sasya dan Zizi. Meskipun wajahnya masih pucat, ia mencoba memberikan senyum terbaik untuk kedua putri sambungnya itu. Kehilangan Aksara memang memukul mereka semua, tetapi Alena tahu kalau Sasya dan Zizi juga memikul beban rasa bersalah yang tidak seharusnya mereka tanggung.Zizi menunduk, memainkan ujung jilbabnya dengan mata berkaca-kaca. "Maafin Papa ya, Ma? Gara-gara Papa marah, semuanya jadi begini," bisiknya dengan suara bergetar.Alena menghela napas panjang, lalu merangkul bahu Zizi. "Sayang, semua sudah takdir. Jangan menyalahkan siapa-siapa lagi, ya? Mama juga sedang berusaha ikhlas."Sasya, yang biasanya lebih tegar, kali ini tampak sangat bimbang. "Ma, aku... aku sudah pikirkan lagi. Aku nggak akan kuliah ke Singapura. Aku ma

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 169 Aku Sudah Tidak Peduli

    Dua minggu setelah Aksara dimakamkan, rumah itu terasa sangat sunyi. Tidak ada lagi suara tawa atau langkah kaki kecil yang biasanya memenuhi sudut ruangan. Hujan yang turun tipis di luar membuat suasana di dalam rumah terasa makin dingin. Aziz duduk di kursi makan, menatap piringnya tanpa selera. Di seberangnya, Alena duduk dengan punggung tegak. Ia mengunyah roti perlahan, seolah hanya menjalankan kewajiban agar tubuhnya tetap terjaga. Tidak ada ekspresi di wajahnya, juga tidak ada kemarahan. Ia hanya terlihat sangat datar."Len, aku tadi beli bubur ayam langganan kamu. Masih hangat," ujar Aziz, mencoba memecah kesunyian. Ia menggeser mangkuk bubur itu ke arah istrinya. "Dimakan ya? Kamu butuh tenaga."Alena tidak menoleh. Ia meletakkan rotinya, lalu mengangguk kecil. "Terima kasih," jawabnya pendek."Sasya dan Zizi mau a

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 168 Tanpa Aku?

    Dunia seolah berhenti berputar tepat di depan mata Alena. Kata-kata Bu Ratih barulah sebuah kalimat pendek, namun dampaknya jauh lebih menghancurkan daripada suara monitor yang melengking panjang di ruang IGD semalam. Alena terpaku dengan satu kaki yang sudah menggantung di sisi ranjang. Ia tidak menjerit. Ia tidak meraung. Keheningan yang menyergapnya justru jauh lebih mengerikan, sebuah kekosongan yang membuat pupil matanya melebar tanpa fokus."Tanpa aku?" bisik Alena. Suaranya terdengar seperti gesekan kertas kering. "Kalian membuang dia ke tanah... tanpa aku?""Bukan begitu, Nak. Mamak yang minta mereka cepat. Cuaca buruk, dan kamu..." Bu Ratih mencoba meraih bahu putrinya, namun Alena menyentak pelan. Alena berdiri dengan kaki yang begitu lemah. Ia tid

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 167 Kalau Saja..

    "Mak?" Suara itu sangat lirih, hampir tenggelam oleh bunyi pendingin ruangan yang mendesis pelan. Alena mengerjapkan matanya yang terasa sangat berat. Langit-langit putih rumah sakit menyambut penglihatannya, memberikan rasa silau yang menusuk. Namun, saat ia menoleh ke samping, wajah letih yang sangat ia kenali sedang menatapnya dengan mata merah dan basah. Bu Ratih langsung mendekat, mengusap puncak kepala Alena dengan tangan yang gemetar. Alena tertegun sejenak, ingatannya yang tercecer mulai menyatu kembali seperti kepingan kaca tajam yang melukai batinnya. Bayangan Aksara yang kejang, bunyi monitor yang melengking panjang, dan wajah dokter yang tertunduk lesu menghantamnya sekaligus. Ale

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 166 Dek Aca..

    Sandra duduk di sofa dengan ponsel yang terus terjaga di genggamannya. Sementara di hadapannya, Sasya dan Zizi duduk mematung. Mata kedua gadis remaja itu sembab, lelah karena cemas yang tak kunjung menemui muara. Hingga kemudian atensinya teralihkan oleh getaran dari ponsel. Sebuah nama muncul di layar san. Bu Ratih. Sandra tersentak. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyesakkan paru-paru. Dirinya masih ingat betul, ia hanya pernah berbicara dua atau tiga kali dengan ibu kandung Alena yang berdomisili di Medan itu. Dengan jemari yang gemetar hebat, Sandra menggeser ikon hijau."Halo, Bu Ratih," suara Sandra hampir tidak keluar. Hening sejenak di seberang sana, sebelum sebuah isakan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status