Share

Bab 2

Author: A mum to be
last update Last Updated: 2025-11-05 23:00:28

Alena duduk di sudut kafe yang agak sepi, jaraknya cukup jauh dari keramaian yang biasa memenuhi tempat itu. Matanya menatap kosong pada segelas kopi yang mulai dingin di hadapan. Tangan pun tak bisa berhenti menggenggam ujung kerudung, memainkan kain tersebut seolah itu adalah satu-satunya cara yang bisa mengalihkan kegugupan. Pikirannya berlarian tak menentu, antara kebingungan, cemas, dan... sedikit rasa penyesalan.

Kenapa aku mau datang?

Jantungnya berdebar tak karuan, semakin keras setiap detik, karena dia tahu pertemuan ini akan mengubah seluruh hidupnya. Pertemuan dengan orang yang tak pernah dia bayangkan akan menjadi suaminya—Aziz.

Aziz, pria berumur 38 tahun yang selama ini hanya dia dengar dari cerita orang-orang di kampungnya. Seorang pria yang dianggap dermawan, tetapi juga terkenal karena sifat tegas dan otoriter. Dan kini, dia berada di ambang menjadi istri pria itu.

Om Aziz...

Pintu kafe terbuka dengan suara halus, namun detik itu Alena tahu siapa yang datang. Seolah udara di sekitarnya berubah. Seorang pria berjas abu-abu masuk, dengan postur tubuh tinggi dan tegap. Wajahnya keras, garis-garis tajam di pipi dan rahangnya menunjukkan sosok yang tegas dan tak kenal kompromi. Matanya, sejenak melirik ke arah Alena, lalu kembali fokus pada langkahnya.

Alena menelan ludah. Ini dia.

Aziz menghampiri meja tempat Alena duduk. Langkahnya teratur dan mantap, seperti seseorang yang tahu persis apa yang diinginkan dan bagaimana mendapatkannya.

“Kau Alena?” tanyanya dengan suara berat, nyaris tanpa nada basa-basi.

Alena mengangguk cepat, perasaannya seperti terkunci di tempat. “Iya, Om Aziz.” Suaranya bergetar sedikit, tapi dia berusaha tetap tenang.

Aziz langsung duduk di seberang tanpa bicara lebih lanjut. Ia memanggil pelayan, memesan kopi hitam dengan nada singkat dan cepat. Tak ada senyuman, tak ada salam hangat—semua terasa dingin dan formal. Setelah pelayan pergi, barulah Aziz menoleh kembali ke arah Alena.

“Aku enggak suka basa-basi,” kata Aziz tajam, menatap langsung ke mata Alena. “Kita bicarakan langsung saja apa yang penting.”

Alena mengerjapkan mata, merasa tiba-tiba tenggelam dalam tatapan pria itu. Rasanya seperti ditelanjangi secara mental, seolah semua pikirannya bisa dibaca dengan mudah oleh Aziz. “Ba... baik, Om,” jawabnya, berusaha tetap tenang meski gugupnya tak tertahankan.

Aziz duduk dengan tubuh condong ke depan, kedua tangannya disilangkan di depan dada. “Kau tahu kenapa aku memilihmu?”

Pertanyaan itu membuat hati Alena semakin berdebar. Kenapa aku? Dia memang tahu sedikit alasan di balik semua ini, tetapi mendengarnya langsung dari pria di depan mata, membuat semuanya terasa lebih nyata.

“Karena... mamak saya bilang... kita berhutang budi pada keluarga Om,” jawabnya, menundukkan pandangan ke bawah, merasa kecil di hadapan pria yang begitu kuat dan mendominasi ini.

Aziz tersenyum tipis, tapi senyuman itu dingin, tanpa emosi hangat. “Bukan cuma itu. Aku butuh istri. Seseorang yang bisa ngurus rumah, ngurus anak-anakku, dan... yang enggak ribet. Kau cocok untuk itu.”

Alena terdiam. Kata-kata Aziz terasa seperti pukulan keras ke dalam hatinya. Hanya itu? Aku dipilih karena aku cocok untuk jadi ibu bagi anak-anaknya? Dia menelan ludah, mencoba mengatasi perasaan tidak nyaman yang menjalar di sekujur tubuhnya. “Tapi... Om, saya... saya masih kuliah. Saya enggak tahu apakah saya bisa...”

Aziz mengangkat tangan, menghentikan ucapan Alena. “Aku tahu kau masih kuliah. Itu bukan masalah buatku. Aku enggak akan melarang kau terusin kuliah. Tapi kau harus tahu, tanggung jawabmu di rumah itu lebih penting.”

Alena terdiam lagi. Kepalanya menunduk lebih dalam, jari-jarinya menggenggam erat tepi meja.

Anak-anaknya... dua remaja yang bahkan belum pernah aku temui. Bagaimana kalau mereka tidak suka padaku? Bagaimana aku bisa menjadi ibu yang baik untuk mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantam pikirannya, menambah kecemasan yang sejak tadi sudah memenuhi dada.

“Takut?” tanya Aziz tiba-tiba, nadanya masih sama dingin dan datar.

Alena tak bisa menjawab langsung. Tentu saja dia takut. Siapa yang tidak akan merasa takut dalam situasi seperti ini? Tapi melihat sorot mata Aziz, dia tahu jawabannya tak akan mengubah apa pun. Pria itu sudah memutuskan semuanya.

Aziz kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Alena dengan tatapan tajam dan dalam. “Aku enggak peduli kau takut atau tidak. Yang penting, kalau kau jadi istriku, kau tahu tugasmu. Kau tahu apa yang kuharapkan. Kalau kau bisa jalani peranmu dengan baik, enggak akan ada masalah. Tapi kalau tidak...”

Aziz menggantung kalimatnya, membuat Alena semakin merasa tertekan. Dia bisa merasakan ada ancaman terselubung di balik kata-kata itu.

Dengan susah payah, Alena memberanikan diri berbicara. “Bagaimana kalau... anak-anak Om enggak suka sama saya?”

Aziz mengangkat bahu. “Itu tugasmu untuk buat mereka suka. Mereka enggak suka sama siapa pun. Tapi aku butuh seseorang yang bisa buat mereka tenang. Seorang ibu tiri.”

Seorang ibu tiri...

Kata-kata itu membuat Alena merasa semakin tenggelam. Ini bukan hidup yang dia bayangkan. Dia belum pernah terpikirkan akan menjadi istri kedua seorang pria, apalagi menjadi ibu tiri bagi dua anak remaja yang bahkan tidak pernah mengenalnya.

Aziz bangkit dari kursinya, menoleh ke jam tangan mahal yang melingkar di pergelangannya. “Aku ada meeting sebentar lagi,” katanya singkat. “Aku harap kau pikirkan baik-baik. Kalau kau mau mundur, lakukan sekarang. Aku enggak butuh perempuan yang ragu-ragu.”

Alena terkejut mendengar ultimatum itu. Mundur? Apakah itu benar-benar pilihan yang dia punya? Keluarganya sudah banyak berhutang budi pada keluarga Aziz, terutama setelah ayahnya meninggal. Sang ibu sudah setuju, keluarganya sudah menyerahkan semua keputusan padanya. Mundur sekarang, artinya mengkhianati mereka.

“Saya...” Alena menghela napas panjang, suaranya terdengar kecil. “Saya enggak punya pilihan, Pak. Eh .. Om.”

Aziz menatapnya lama sebelum mendekatkan wajahnya ke arah Alena, berbicara dengan nada yang lebih rendah namun tegas. “Hidup ini soal pilihan. Jangan salahkan ibumu atau keluargamu. Kalau kau terima, jalani dengan baik. Kalau tidak, pergi.”

Aziz menatap tajam. “Kau paham maksudku?”

Alena menatap pria di depannya dengan mata berkaca-kaca, tetapi dia tidak bisa mengeluarkan suara. Suaranya seolah tersangkut di tenggorokan.

Aziz mendekat, berbicara dengan suara dingin, "Jadi, kau pilih mana? Menjadi ibu tiri dan istri... atau terpaksa menghentikan kuliahmu di tengah jalan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 123 Aku Akan Usahakan

    Keesokan harinya. Pagi itu datang tanpa hujan, tapi udara terasa lebih berat dari biasanya.Aziz bangun lebih dulu. Bukan karena alarm, melainkan karena kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang. Ia bangun sebelum semua orang, duduk di tepi ranjang, lalu menatap kosong ke lantai. Ia menghela napas panjang, seolah sedang menghitung sesuatu yang tak kasatmata. Angka. Waktu. Kemungkinan. Di sampingnya, Alena masih terlelap dengan satu tangan memeluk bantal, wajahnya tampak damai. Aziz sempat menatap istrinya cukup lama, lalu bangkit perlahan agar tak membangunkannya. Ia berjalan ke kamar mandi, membasuh wajah, dan menatap pantulannya sendiri di cermin. Wajah itu tampak lebih tua dari usianya.&

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 122 Belum Selesai

    Senin datang tanpa permisi. Udara pagi terasa lebih berat dari biasanya. Alena terbangun sebelum alarm berbunyi, jantungnya sudah berdegup tak wajar. Di sampingnya, Aziz masih berbaring telentang, mata terbuka menatap langit-langit. Sejak subuh, ia tidak bergerak.“Kamu enggak tidur, Mas?” tanya Alena pelan.“Tidur,” jawab Aziz cepat. Terlalu cepat. “Sedikit.” Alena tidak menimpali. Ia tahu, malam tadi bukan soal kurang tidur, melainkan pikiran yang tak pernah benar-benar berhenti. Di dapur, suara sendok beradu dengan cangkir terdengar kaku. Tidak ada obrolan ringan. Tidak ada candaan kecil. Bahkan aroma kopi pun terasa pahit sebelum disentuh.Aziz mengenakan kemeja putih. Dasi hitam. Terlalu formal. Terlalu serius.

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 121 Mereka Sudah Tahu

    “SHIT!!” Lagi. Suara itu meledak di kamar yang tadinya sunyi. Aziz menggeram penuh amarah, ponsel di tangannya bergetar hebat seiring jemarinya yang mengepal sempurna. Urat di lehernya menegang, napasnya ikut memburu.“Berita tentang perusahaan sudah naik ke media bisnis,” katanya tajam, lebih seperti meludah daripada berbicara. Alena tidak langsung mendekat. Ia berdiri beberapa langkah dari suaminya, menyandarkan punggung ke lemari. Dadanya naik turun perlahan. Tidak kaget. Hanya… lelah. Akhirnya sampai juga ke titik ini, batinnya. Ia sudah menduga sejak lama. Sejak pulang yang makin larut, sejak cerita yang terpotong-potong, sejak rokok yang tiba-tiba hadir di malam hari. Media hanya mempercepat sesuatu yang memang menunggu w

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 120. Masih Bisa

    “Kenapa memangnya?” Suara barusan membuat ketiga perempuan itu menoleh. Pun Aksara yang semula fokus menyusun mobil-mobilannya di lantai ruang tengah, ikut mengangkat kepala. Pintu kamar utama terbuka. Aziz muncul dari sana, masih mengenakan kaus rumah dan celana santai. Rambutnya sedikit berantakan, seperti seseorang yang baru saja mencoba beristirahat tapi gagal benar-benar tidur. Di tangannya, ponsel masih menyala.“Papa akan periksa email dari sekolah dan langsung menuntaskan semua syaratnya,” lanjut Aziz kemudian, suaranya datar tapi tegas.Sontak Sasya berjingkrak senang. Gadis itu berlari kecil dan memeluk ayahnya.“Makasih, Papa!” Aziz tidak menjawab. Ia hanya mengusap pelan punggung

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 119 Ambruk

    Suara Alena terdengar pelan, tapi cukup untuk memotong malam.“Mas…” suara Alena keluar lirih. “Kamu ngerokok di sini?” Aziz tersentak. Gerakannya cepat. Terlalu cepat. Ia mematikan rokok itu seketika, menekannya kasar ke asbak.“Kenapa kamu ke sini?” balasnya. Nada suaranya naik tanpa sadar.Alena menelan ludah. “Aku nyariin kamu.”“Jam segini?” Aziz mengusap rambutnya, berjalan mondar-mandir dua langkah. “Mau apa?”“Aku khawatir, Mas. Makanya aku susulin. Aku kira kamu cuma ke dapur.”Aziz hanya diam. Dia membelakangi Alena.“Mas,” lanjut Alena, masih berdiri di tempat yang sama. Ia tidak masuk, tidak juga mundur. “Kamu kenapa?”Pertanyaan itu membuat bahu Aziz mengera

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 118 Maaf Ya

    Tangisan Aksara mereda di pelukan Alena. Ia berdiri cukup lama di samping boks, menepuk-nepuk punggung kecil itu dengan ritme yang teratur. Bukan karena Aksara sulit ditenangkan, justru karena dirinya sendiri yang butuh waktu.Di ruang keluarga, suara langkah Aziz terdengar ragu. Tidak mendekat, tidak juga menjauh.“Len…” panggilnya pelan dari balik pintu. Alena tidak menjawab. Ia menunggu sampai napas Aksara benar-benar stabil, sampai mata kecil itu kembali terpejam. Baru setelanya, ia meletakkan tubuh mungil sang buah hati perlahan, menutup selimut, lalu berbalik.Pintu kamar terbuka ketika ia hendak keluar. Aziz berdiri di sana.“Aku …kebablasan,” katanya cepat. “Tadi. Maaf ya.” Alena menatapnya. Wajah suaminya tampak lelah, tapi juga defensif. Campuran yang belakangan sering ia lihat.“Enggak apa-apa,” jawab Alena singkat.Justru jawaban itu yang membuat Aziz makin gelisah.“Bukan, Len. Itu bukan maksudku.”Alena melangkah melewatinya. “Aku mau ambil air min

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status