Share

Bab 2

Author: A mum to be
last update Last Updated: 2025-11-05 23:00:28

           Alena duduk di sudut kafe yang agak sepi, sengaja memilih posisi yang paling tersembunyi dari keramaian Medan sore itu. Matanya menatap kosong pada segelas kopi yang mulai mendingin, uapnya sudah lama hilang, persis seperti keberaniannya yang kian menguap. Tangan Alena tak bisa berhenti menggenggam ujung kerudungnya, meremas kain itu pelan untuk menyalurkan kegugupan yang nyaris tak tertahankan.

“Kenapa jadi begini ya?” tanyanya pada diri sendiri. Ada rasa penyesalan yang pahit, namun lebih besar lagi rasa takut yang menghimpit.

            Jantungnya berdebar kencang, setiap detiknya terasa seperti ketukan vonis. Ia tahu, setelah pintu kafe itu terbuka dan sosok itu masuk, hidupnya tak akan pernah sama lagi. Ia akan bertemu Aziz. Pria yang di kampungnya dibicarakan dengan nada segan, pria dermawan yang tangan besinya konon tak segan meruntuhkan siapa pun yang membangkang.

            Pintu kafe terbuka. Alena tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah, menjadi lebih berat dan dingin. Seorang pria berjas hitam  melangkah masuk. Posturnya tinggi tegap, dengan garis wajah yang seolah dipahat dari batu karang, keras dan tajam. Tatapannya hanya melirik Alena sekilas, dingin dan tanpa ekspresi, sebelum ia melangkah mantap mendekat.

            Alena menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan. Ini dia. Om Aziz...

            Aziz berhenti di depan meja. Langkahnya begitu teratur, mencerminkan sosok yang terbiasa memegang kendali penuh atas segalanya.

“Kau yang bernama Alena?” tanyanya. Suara itu berat, dalam, dan tanpa basa-basi sedikit pun.

            Alena mengangguk kecil, tubuhnya mendadak kaku. “Iya... Om.” Suaranya bergetar, nyaris hanya berupa bisikan yang tertelan bising kafe.

            Tanpa menunggu dipersilakan, Aziz duduk di seberangnya. Ia memanggil pelayan dengan isyarat singkat, memesan kopi hitam tanpa gula dengan nada yang memerintah. Tak ada senyum, tak ada salam hangat, bahkan tak ada upaya untuk mencairkan suasana. Setelah pelayan pergi, Aziz kembali memaku tatapannya pada Alena.

“Aku tidak suka membuang waktu,” kata Aziz tajam. Matanya yang gelap seolah mampu menembus hingga ke dasar pikiran Alena.

            Alena mengerjapkan mata, merasa terintimidasi oleh intensitas tatapan itu. Ia merasa begitu kecil, begitu tidak berarti di hadapan pria yang tampak sangat dominan ini. “Ba... baik, Om,” jawabnya lirih, berusaha menjaga jemarinya agar tidak terus gemetar di atas meja.

            Aziz sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya terlipat di atas meja dengan angkuh. Ia menatap Alena lama, seolah sedang menilai barang dagangan yang akan ia beli.

“Kau tahu alasan kenapa kau ada di sini bukan?” tanya Aziz kemudian.

            Pertanyaan itu membuat dada Alena semakin sesak. Ia menunduk, tak sanggup berlama-lama membalas tatapan itu. “Karena... Mamak bilang, keluarga kami berhutang banyak pada Om. Dan... Om butuh seseorang di rumah.”

            Aziz tidak membenarkan, tapi juga tidak membantah. Ia hanya menatap Alena dengan senyum tipis yang terasa dingin. Senyum yang lebih mirip sebuah seringai penuh rahasia. “Ada banyak perempuan yang mengantre untuk posisi itu, Alena. Tapi kau yang ada di depanku sekarang.”

            Alena terdiam, merasa ada sesuatu yang tidak dikatakan pria itu. Sebuah alasan besar yang disembunyikan di balik tatapan tajamnya. “Tapi Om... saya ‘kan masih kuliah. Saya masih semester enam. Saya enggak tahu apakah saya bisa... memikul tanggung jawab sebesar ini.”

Aziz mengangkat satu tangannya ke udara, sebuah isyarat mutlak untuk menghentikan ucapan Alena. “Aku tidak peduli soal kuliahmu. Aku tidak akan melarangmu menyelesaikannya. Tapi kau harus paham, begitu kau masuk ke rumahku, ada hal-hal yang jauh lebih penting dari sekadar kuliahmu.”

            Alena menggenggam erat tepi meja. Pikirannya melayang pada dua anak remaja Aziz yang kabarnya sulit diatur. Bagaimana ia bisa menjadi ibu bagi mereka sementara ia sendiri merasa masih seperti anak kecil yang butuh perlindungan?

“Kau takut?” tanya Aziz tiba-tiba. Nadanya datar, namun ada nada mengejek di sana.

            Alena tak sanggup berbohong. Ia mengangguk pelan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Aziz kembali menyandarkan tubuhnya, tampak tidak terkesan dengan ketakutan Alena. “Aku tidak butuh rasa takutmu. Aku butuh kepatuhan. Kalau kau bisa menjalankan peranmu tanpa banyak mengeluh, hidupmu akan terjamin. Tapi kalau kau berniat membuat masalah...”

Aziz menggantung kalimatnya, membiarkan ancaman itu menggantung di udara kafe yang sejuk.

“Bagaimana kalau... anak-anak Om tidak bisa menerima saya?” tanya Alena dengan sisa keberaniannya.

Aziz hanya mengangkat bahu dengan acuh. “Itu urusanmu. Aku membayar semua hutang keluargamu bukan untuk mendengar keluhan. Kau akan menjadi ibu tiri mereka. Lakukan tugasmu, sisanya biar aku yang atur.”

Ibu tiri... Kata itu terasa begitu asing dan berat di telinga Alena.

            Alena terhenyak. Hutang budi, harapan ibunya, dan masa depan pendidikannya semua bergantung pada pria dingin di depannya ini.

“Kenapa harus saya Om?” tanya Alena dengan suara yang begitu pelan. “Apa karena keluarga saya punya hutang budi yang begitu besar? Apa tidak bisa kalau saya hanya jadi babu saja di rumah Om?”

Aziz terbahak. Tawanya begitu menusuk harga diri Alena. “Apa kau sedang bernegosiasi denganku?”

“Maaf, Om,” kata Alena sembari menggeleng lemah.

Aziz menatap dalam ke mata Alena yang mulai basah. “Kau pilih menjadi istriku dan tetap kuliah dengan fasilitas dariku... atau kau bisa pergi sekarang, berhenti kuliah, dan biarkan ibumu menanggung semua beban itu sendirian?”

           

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 171 Aku Mohon

    Hening yang menyusul permintaan Alena terasa begitu mencekik. Di dalam kamar yang biasanya menjadi tempat mereka beristirahat, udara mendadak terasa tipis, seolah oksigen ditarik paksa keluar dari ruangan. Aziz mundur satu langkah, menatap istrinya dengan pandangan tidak percaya. Tangannya yang tadi terkulai di sisi tubuh kini mengepal kuat, berusaha keras menahan getaran hebat yang menjalar dari ujung jari hingga ke bahunya."Len..." suara Aziz pecah, terdengar parau dan penuh luka. "Kamu pasti cuma capek. Kejadian Aca memang berat buat kita semua, tapi bukan berarti kita harus hancur seperti ini. Aku janji, Len, aku akan perbaiki semuanya. Aku akan berubah. Aku akan jadi suami yang kamu inginkan selama ini."Alena menatap Aziz, namun tidak ada binar harapan di matanya. Ia menggeleng pe

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 170 Talak Aku, Mas

    Suasana sore itu terasa sedikit lebih hangat di beranda belakang. Alena duduk di antara Sasya dan Zizi. Meskipun wajahnya masih pucat, ia mencoba memberikan senyum terbaik untuk kedua putri sambungnya itu. Kehilangan Aksara memang memukul mereka semua, tetapi Alena tahu kalau Sasya dan Zizi juga memikul beban rasa bersalah yang tidak seharusnya mereka tanggung.Zizi menunduk, memainkan ujung jilbabnya dengan mata berkaca-kaca. "Maafin Papa ya, Ma? Gara-gara Papa marah, semuanya jadi begini," bisiknya dengan suara bergetar.Alena menghela napas panjang, lalu merangkul bahu Zizi. "Sayang, semua sudah takdir. Jangan menyalahkan siapa-siapa lagi, ya? Mama juga sedang berusaha ikhlas."Sasya, yang biasanya lebih tegar, kali ini tampak sangat bimbang. "Ma, aku... aku sudah pikirkan lagi. Aku nggak akan kuliah ke Singapura. Aku ma

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 169 Aku Sudah Tidak Peduli

    Dua minggu setelah Aksara dimakamkan, rumah itu terasa sangat sunyi. Tidak ada lagi suara tawa atau langkah kaki kecil yang biasanya memenuhi sudut ruangan. Hujan yang turun tipis di luar membuat suasana di dalam rumah terasa makin dingin. Aziz duduk di kursi makan, menatap piringnya tanpa selera. Di seberangnya, Alena duduk dengan punggung tegak. Ia mengunyah roti perlahan, seolah hanya menjalankan kewajiban agar tubuhnya tetap terjaga. Tidak ada ekspresi di wajahnya, juga tidak ada kemarahan. Ia hanya terlihat sangat datar."Len, aku tadi beli bubur ayam langganan kamu. Masih hangat," ujar Aziz, mencoba memecah kesunyian. Ia menggeser mangkuk bubur itu ke arah istrinya. "Dimakan ya? Kamu butuh tenaga."Alena tidak menoleh. Ia meletakkan rotinya, lalu mengangguk kecil. "Terima kasih," jawabnya pendek."Sasya dan Zizi mau a

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 168 Tanpa Aku?

    Dunia seolah berhenti berputar tepat di depan mata Alena. Kata-kata Bu Ratih barulah sebuah kalimat pendek, namun dampaknya jauh lebih menghancurkan daripada suara monitor yang melengking panjang di ruang IGD semalam. Alena terpaku dengan satu kaki yang sudah menggantung di sisi ranjang. Ia tidak menjerit. Ia tidak meraung. Keheningan yang menyergapnya justru jauh lebih mengerikan, sebuah kekosongan yang membuat pupil matanya melebar tanpa fokus."Tanpa aku?" bisik Alena. Suaranya terdengar seperti gesekan kertas kering. "Kalian membuang dia ke tanah... tanpa aku?""Bukan begitu, Nak. Mamak yang minta mereka cepat. Cuaca buruk, dan kamu..." Bu Ratih mencoba meraih bahu putrinya, namun Alena menyentak pelan. Alena berdiri dengan kaki yang begitu lemah. Ia tid

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 167 Kalau Saja..

    "Mak?" Suara itu sangat lirih, hampir tenggelam oleh bunyi pendingin ruangan yang mendesis pelan. Alena mengerjapkan matanya yang terasa sangat berat. Langit-langit putih rumah sakit menyambut penglihatannya, memberikan rasa silau yang menusuk. Namun, saat ia menoleh ke samping, wajah letih yang sangat ia kenali sedang menatapnya dengan mata merah dan basah. Bu Ratih langsung mendekat, mengusap puncak kepala Alena dengan tangan yang gemetar. Alena tertegun sejenak, ingatannya yang tercecer mulai menyatu kembali seperti kepingan kaca tajam yang melukai batinnya. Bayangan Aksara yang kejang, bunyi monitor yang melengking panjang, dan wajah dokter yang tertunduk lesu menghantamnya sekaligus. Ale

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 166 Dek Aca..

    Sandra duduk di sofa dengan ponsel yang terus terjaga di genggamannya. Sementara di hadapannya, Sasya dan Zizi duduk mematung. Mata kedua gadis remaja itu sembab, lelah karena cemas yang tak kunjung menemui muara. Hingga kemudian atensinya teralihkan oleh getaran dari ponsel. Sebuah nama muncul di layar san. Bu Ratih. Sandra tersentak. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyesakkan paru-paru. Dirinya masih ingat betul, ia hanya pernah berbicara dua atau tiga kali dengan ibu kandung Alena yang berdomisili di Medan itu. Dengan jemari yang gemetar hebat, Sandra menggeser ikon hijau."Halo, Bu Ratih," suara Sandra hampir tidak keluar. Hening sejenak di seberang sana, sebelum sebuah isakan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status