Masuk“Papa, aku ingin bertemu mama.”
Pagi-pagi ketika hari libur, Gempi merengek yang membuat Erlan mengacak rambutnya. Pria itu pikir di hari liburnya ia akan menikmati hari dengan coklat panas dengan tenang. Namun, pikiran itu menghilang begitu saja setelah anaknya merengek.
“Ada apa ini?” Tiba-tiba saja Gian muncul membuat Gempi langsung berlari ke arah wanita paruh baya itu.
Dengan air mata yang masih berjatuhan, Gempi memeluk kaki Gian sambil mendongak. “Nenek, aku ingin bertemu dengan mama.”
Gian langsung mengembuskan napasnya dengan kasar. Terlebih ketika melihat Erlan yang malah pergi begitu saja. “Erlan!”Panggilan itu lantas menghentikan langkah Erlan. Ia menoleh lalu bertanya dengan satu alis yang terangkat. “Ada apa, Mam?”
“Kau antarkan Gempi ke rumah Alyn.”
Sontak Erlan langsung melebarkan matanya. “Mam, untuk apa? Dia bahkan bukan ibunya Gempi.”
“Tapi dia merindukan Alyn.”
Dengan cepat Erlan menggeleng. “Yang dirindukan itu ibunya. Bukan wanita itu!”Wanita itu lantas menghela napas kemudian pergi begitu saja. Membuat Erlan semakin frustasi. Terlebih tangis Gempi yang tidak juga surut.
“Baiklah, baiklah. Jika kau benar-benar ingin bertemu dengan wanita itu, kita ke sana sekarang!”
Pada akhirnya Erlan menyerah. Ia lantas menemui ibunya untuk menanyakan alamat rumah Alyn. Tentu saja Gian senang bukan main. Wanita paruh baya itu tersenyum dengan lebar.
“Pada akhirnya mama yang menang!”
Erlan mendengus sebal. “Mama ini bicara apa? Aku menemuinya hanya demi Gempi.”
“Ya, tapi mama yakin pada akhirnya kalian akan berjodoh.”
Pria itu memutar bola matanya dengan malas. “Itu tidak mungkin terjadi,” cetusnya sambil berlalu.
Namun, seruan Gian membuat Erlan berhenti melangkah sejenak. “Jangan terlalu banyak berpikir. Mama khawatir jika pusakamu tidak berfungsi karena terlalu lama menganggur!”
“Omong kosong macam apa itu?” keluh Erlan yang tidak lagi mendengarkan ocehan ibunya.
Ia memilih menemui Gempi lalu mengajak gadis manis itu untuk pergi. “Gempi, ayo kita pergi!”
“Ke mana, Pa?” Gempi menatap Erlan dengan mata yang basah. Sementara suaranya terdengar tersengal-sengal.
“Bukankah kau ingin bertemu dengan mamamu itu?”
Binar bahagia langsung terpancar di wajah Gempi yang sembab. “Mau, gempi mau bertemu mama!” pekiknya membuat Erlan tersenyum tipis.
Pria itu lantas menggendong Gempi yang tangisnya sudah hilang sepenuhnya. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Hingga akhirnya tiba di rumah sederhana yang menjadi tujuannya.
“Jadi ini rumahnya?” gumam Erlan sambil menatap rumah dengan cat berwarna putih abu.
“Papa, itu mama!” Gempi langsung berseru begitu melihat Alyn yang keluar dari rumah.
Gadis kecil itu berniat memanggil Alyn, tetapi dibekap oleh Erlan ketika tanpa sengaja ia melihat sebuah motor sport yang berhenti di depannya.
“Papa,” protes Gempi sambil melepaskan bekapannya.
“Jangan berisik, Nak. Sepertinya lain kali saja kita temui dia,” ujar Erlan dengan perasaan nyelekit ketika anaknya kembali menitikan air mata.
Oh, rasanya benar-benar gila!
“Gempi, lihat. Wanita itu akan pergi bersama kekasihnya.” Erlan menunjuk ke arah Alyn yang kini memakai helm.
Gempi langsung menoleh lalu menggeleng. Dengan nekat gadis kecil itu memanggil Alyn. “Mama … Mama!”
Sontak Alyn yang akan menaiki motor pun menoleh. Membuat Sam bertanya, “Ada apa, Alyn?”
“Aku mendengar seseorang memanggilku, Kapten.”
“Mungkin hanya salah orang,” ujar Sam.
Wanita itu mengangguk saja kemudian kembali menaiki motor. Namun, ketika Sam akan menjalankan motor … tiba-tiba saja Gempi berlari sambil memanggil Alyn. “Mama!”
“Kapten, tunggu sebentar!” Alyn menepuk pundak Sam yang membuat pria itu menghentikan motornya. Ia lantas menoleh ke belakang.
“Ada apa, Alyn?”“Ada Gempi yang menyusulku.” Alyn buru-buru turun lalu menghampiri Gempi yang sedang berlari.
Ia rentangkan tangannya. Sehingga begitu Gempi mendekat, Alyn tangkap begitu saja. “Hei, Manis. Apa yang terjadi?”
“Gempi rindu, Mama.” Gempi memeluk Alyn dengan erat, membuat wanita itu tersenyum tipis.
“Ekhem!” Deheman dari suara yang terdengar berat itu membuat Alyn yang berjongkok mendongak untuk melihat Erlan yang juga menatapnya.
Sehingga untuk beberapa saat pandangan mereka saling terkunci. Hingga pertanyaan Sam membuat Alyn mengalihkan perhatiannya. “Alyn, siapa dia?”
“Ah, Kapten. Ini Gempi, cucu dari teman ibuku.”
Sam mengangguk saja kemudian mengulurkan tangan untuk membantu Alyn berdiri. Segera Alyn menerima uluran tangan tersebut karena Gempi sudah melepaskan pelukannya.
“Terima kasih, Kapten.”“Sama-sama, Alyn. Em … apa kita bisa berangkat sekarang?”
Pertanyaan itu membuat Alyn bimbang. Hingga dapat dimengerti oleh Erlan. “Pergilah, saya hanya kebetulan lewat.”
Erlan menarik Gempi untuk ikut bersamanya, tetapi gadis manis itu berontak. “Gempi tidak mau. Gempi mau bersama, Mama!”Pria itu menghela napas, sedangkan Alyn merasa iba. Sehingga ia memberanikan diri untuk berkata, “Tuan, jika Anda izinkan … saya akan mengajak Gempi bersama kami.”
Sontak Erlan melebarkan mata, begitu juga dengan Sam. Berbeda dengan Gempi yang terlihat senang karenanya. “Gempi mau ikut, Mama!”
“Gempi!”
“Papa ….” Gempi mengiba kepada Erlan yang membuat pria itu mengembuskan napasnya dengan kasar.
“Tuan, saya berjanji akan menjaga Gempi. Lagipula kita hanya akan ke taman kota,” ujar Alyn membuat Sam garuk-garuk tidak gatal.
Sementara Erlan menatap Gempi dan Alyn secara bergantian. Setelahnya ia berkata, “Saya izinkan, dengan syarat saya akan ikut dengan kalian.”
Sontak Alyn dan Gempi kesenangan. Mereka tersenyum lebar kemudian gadis manis itu langsung berlari ke arah Alyn. “Mama, aku boleh ikut!”
“Ya. Tapi Gempi bersama papa dengan mobil,” ujar Erlan membuat Gempi merengut.
“Papa ….”
“Gempi, kau tidak pernah naik motor. Kau memiliki alergi debu,” ujar Erlan tetap pada pendiriannya.
“Tapi aku ingin bersama, Mama.”
Melihat persitegangan antara anak dan ayah, akhirnya Alyn mencoba membujuk Gempi. “Gempi, yang dikatakan papamu benar. Gempi naik mobil, ya?”
Terdiam sejenak, Gempi menatap Erlan dan Alyn secara bergantian. Setelahnya ia berkata, “Kalau begitu, Mama ikut bersama gempi di mobil!”
Lagi-lagi Alyn dan Erlan melebarkan mata secara bersamaan. Setelahnya mereka menggeleng. “Tidak, Gempi!”
“Huaaa … Papa dan Mama jahat.” Gempi malah menangis yang membuat mereka ripuh menenangkan.
Hingga pada akhirnya Sam yang merasa tidak tega dengan Gempi pun berkata, “Jika memang Gempi ingin seperti itu, maka kamu naik mobil saja, Alyn.”
Sontak Alyn menoleh ke arah Sam. Ia menatap Sam dengan tatapan tidak percaya. Begitu juga dengan Erlan.
Bukankah mereka sedang berkencan? Lantas apa yang dipikirkan Sam?
“Kapten, lalu bagaimana denganmu?”
“Tentu saja aku ikut denganmu juga. Boleh ‘kan, Tuan?” Sam menatap Erlan yang terkejut atas ucapannya barusan.
Pria itu mengusap tengkuknya pelan sebagai tanda jika ia tidak memiliki pilihan. Meski dalam hati ingin menolak. “Lalu, bagaimana dengan motor?”
“Aku bisa menyimpannya di sini. Benar ‘kan, Alyn?”
“Iya, Kapten,” jawab Alyn yang membuat Erlan benar-benar tidak dapat menolak.Pada akhirnya, mereka berangkat dengan mobil Erlan.
Oh, andai bukan karena Gempi. Sudah pasti Erlan tidak akan sudi mobilnya ditumpangi oleh orang lain!
"Sayang, maaf karena telah membuatmu menunggu terlalu lama." Erlan menatap Alyn dengan rasa bersalah yang luar biasa. Hal itu dikarenakan banyaknya pekerjaan, hingga membuatnya sibuk dan tidak bisa pulang cepat.Alyn lantas tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti," ujarnya lalu menunduk dan mengusap rambut Gempi yang tengah tidur di pangkuannya."Mungkin lain kali memang kami tidak seharusnya ke mari. Mas Erlan jadi tidak terlalu fokus karena memikirkan kami juga." Wanita itu menambahkan. Tapi Erlan tidak setuju. "Kenapa bicara seperti itu? Aku tidak keberatan sama sekali. Lagipula ... kehadiran kalian malah membuatku lebih bersemangat!" sanggah Erlan dengan menggebu.Pria itu tidak sedang mengada-ada. Sebab memang seperti itu adanya.Sayang, pekerjaannya memang tadi begitu banyak. Hingga membuat Alyn merasa jika ia tidak seharusnya ada di sana. Tak ingin memperdebatkan hal itu, Alyn lantas mengangguk pelan. Setelahnya ia bertanya, "Apa sekarang pekerja
"Aku tidak menyangka jika kau memasang foto kita." Alyn cukup terkejut dengan hal itu, dan ia hanya bisa tersenyum tipis setelahnya. Erlan ikut tersenyum, lalu menoleh sebentar ke arah foto yang terpajang, lalu bertanya, "Apa tidak apa-apa?" "Hemm, aku tidak masalah," sahut Alyn diiringi dengan anggukan kecil. "Syukurlah, aku pikir kau keberatan," balas Erlan, lalu bernapas lega. Tapi kemudian tubuhnya tiba-tiba tegang saat mendengar celetukan Gempi. "Papa, jika fotonya diganti oleh foto mama, lalu kau simpan di mana foto mommy?"Refleks Alyn menoleh ke arah Erlan, sedangkan Erlan melihat ke arah Gempi. Pria itu lantas melirik ke arah Alyn, ingin memastikan bagaimana reaksi wanita itu. "Papa," tegur Gempi membuat Erlan kembali menoleh ke arahnya. "Iya, Nak?" sahut Erlan pelan. "Papa simpan di mana foto mommy? Biasanya foto mommya terpajang di mana-mana." Gempi mengulangi sambil menunjuk beberapa titik tembok yang biasa digunakan Erlan untuk memasang foto mendiang ibuny
"Papa ...!" Gempi yang juga melihat Erlan lantas berseru--memanggil pria itu. Hingga membuat Alyn melebarkan mata, tapi tak dapat berbuat apa-apa. Terlebih saat Erlan mendengar seruan tersebut.Refleks Erlan menoleh, lalu membelalak--cukup terkejut dengan kehadiran Gempi dan Alyn di sana. Segera Erlan menghampiri dengan diikuti oleh Mona yang berjalan, berlenggak-lenggok layaknya model. Melihat itu lantas membuat Gempi berlari ke arah Erlan. Sedangkan Alyn memilih tetap berdiri tempatnya. "Papa, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini!" ujar Gempi saat Erlan sudah menggendongnya."Sama sepertimu. Papa juga tidak menyangka!" balas Erlan lalu melihat ke arah Alyn.Pria itu kemudian menghampiri, lalu berdiri tepat di depan sang istri. "Sayang, sedang apa kau di sini?" tanya Erlan membuat Alyn tak dapat menghindar. Sambil memaksakan senyum, Alyn menjawab, "Tadi aku berniat mengajak Gempi jalan-jalan setelah menjemputnya, dan kemudian ingin berkunjung ke kantormu. Tapi sepe
"Siapa, Mas?" Alyn menatap Erlan dengan satu alis yang terangkat saat melihat perubahan raut wajah sang suami yang begitu ketara. Erlan mendesah pelan, lalu berkata, "Sekretarisku mengatakan ada sedikit masalah dengan perusahaan." "Kalau begitu, bukankah seharusnya kau pergi, Mas?" tanya Alyn dibalas anggukan pelan oleh Erlan.Mendadak mood Erlan ambyar. Pria itu masih ingin bersama dengan Alyn, tapi juga tidak mungkin membiarkan kekacauan di perusahaan. "Aku ingin tetap bersamamu!" Wanita itu langsung memutar bola matanya dengan malas saat mendengar rengekan sang suami. "Yang benar saja! Seharian kita sudah bersama kemarin." "Tapi itu kurang," keluh Erlan seperti anak kecil.Alyn gelen-geleng. Merasa tak habis pikir, tapi juga gemas."Sudahlah, jangan berlebihan seperti itu! Kita masih memiliki banyak waktu nanti," ujar Alyn kali ini membuat Erlan mendengus. "Jadi kau tidak akan menahanku?" tanya Erlan seolah mengulur waktu.Lekas Alyn menggeleng. "Aku tidak akan melakuk
Pagi ini Erlan merasakan sesuatu yang berbeda. Pemandangan di pagi hari--di mana ia melihat Alyn dan Gempi yang tampak akrab membuat hati Erlan menghangat. Kini, pria itu baru menyadari betapa beruntungnya ia menikahi Alyn."Papa, apa hari ini kau akan mengantarkanku sekolah?" tanya Gempi ketika mereka tengah sarapan."Tentu saja. Memang siapa lagi yang akan mengantarkanmu?" "Tapi aku juga ingin diantar oleh Mama!" Gadis manis itu kemudian menatap Alyn dengan penuh harap. "Yeah, mama juga akan ikut mengantarkanmu!" balas Alyn membuat Gempi membelalak."Jadi kalian berdua akan mengantarku?" tanya Gempi penuh semangat.Alyn lantas mengangguk, membuat Gempi berseru. Sedangkan Erlan tersenyum tipis. Hingga lagi-lagi hatinya mensyukuri kehadiran Alyn di tengah-tengah gersangnya rumah setelah kepergian mendiang istrinya."Yeaay, mama dan papa sudah baikan!" seru Gempi membuat Alyn refleks menoleh ke arah Erlan, lalu melebarkan mata. "Gempi," ucap Erlan baru menyadari jika Gempi bisa mem
"Tadi Gempi merengek ingin ikut dan bertemu denganmu, jadi aku sengaja membawanya ke mari," terang Erlan setelah mereka menghabiskan waktu bersama dengan Gempi.Kini gadis manis itu sudah tidur di antara Erlan dan Alyn, dengan posisi memeluk lengan Alyn. Sehingga membuat Alyn sulit bergerak."Aku minta maaf, karena waktu tenangmu jadi terganggu." Erlan menambahkan sambil melirik ke arah Gempi.Dengan pelan Alyn menggeleng. Kemudian wanita itu berkata, "Tidak apa-apa, Mas. Mas Erlan tidak perlu meminta maaf.""Tapi tetap saja. Bukankah kau membutuhkan waktu untuk beristirahat?""Aku memang membutuhkannya, tapi aku rasa sudah cukup. Em ... besok aku juga akan pulang," terang Alyn membuat Erlan mengerjap beberapa kali, lalu menatap wanita itu dengan tatapan tak percaya."Maksudnya, kau akan kembali ke rumah kita?" Erlan memastikan jika dirinya tidak salah mendengar."Bukankah sekarang itu adalah rumahku juga, Mas? Kau suamiku, tempat aku pulang ketika masih berada di dunia adalah kau ...







