Mag-log inErlan kewalahan ketika putrinya terus memintanya menikahi Alyn, seorang pramugari yang tanpa sengaja terlibat dengannya saat di pesawat. Ditambah lagi, takdir seolah menertawainya saat sang Ibu menjodohkan Erlan dengan Alyn. Lantas, bagaimana kisah keduanya? Terlebih, sang presdir dingin belum bisa melupakan mendiang istrinya yang sudah meninggal dan selalu bersikap dingin pada Alyn....
view more"Sayang, maaf karena telah membuatmu menunggu terlalu lama." Erlan menatap Alyn dengan rasa bersalah yang luar biasa. Hal itu dikarenakan banyaknya pekerjaan, hingga membuatnya sibuk dan tidak bisa pulang cepat.Alyn lantas tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti," ujarnya lalu menunduk dan mengusap rambut Gempi yang tengah tidur di pangkuannya."Mungkin lain kali memang kami tidak seharusnya ke mari. Mas Erlan jadi tidak terlalu fokus karena memikirkan kami juga." Wanita itu menambahkan. Tapi Erlan tidak setuju. "Kenapa bicara seperti itu? Aku tidak keberatan sama sekali. Lagipula ... kehadiran kalian malah membuatku lebih bersemangat!" sanggah Erlan dengan menggebu.Pria itu tidak sedang mengada-ada. Sebab memang seperti itu adanya.Sayang, pekerjaannya memang tadi begitu banyak. Hingga membuat Alyn merasa jika ia tidak seharusnya ada di sana. Tak ingin memperdebatkan hal itu, Alyn lantas mengangguk pelan. Setelahnya ia bertanya, "Apa sekarang pekerja
"Aku tidak menyangka jika kau memasang foto kita." Alyn cukup terkejut dengan hal itu, dan ia hanya bisa tersenyum tipis setelahnya. Erlan ikut tersenyum, lalu menoleh sebentar ke arah foto yang terpajang, lalu bertanya, "Apa tidak apa-apa?" "Hemm, aku tidak masalah," sahut Alyn diiringi dengan anggukan kecil. "Syukurlah, aku pikir kau keberatan," balas Erlan, lalu bernapas lega. Tapi kemudian tubuhnya tiba-tiba tegang saat mendengar celetukan Gempi. "Papa, jika fotonya diganti oleh foto mama, lalu kau simpan di mana foto mommy?"Refleks Alyn menoleh ke arah Erlan, sedangkan Erlan melihat ke arah Gempi. Pria itu lantas melirik ke arah Alyn, ingin memastikan bagaimana reaksi wanita itu. "Papa," tegur Gempi membuat Erlan kembali menoleh ke arahnya. "Iya, Nak?" sahut Erlan pelan. "Papa simpan di mana foto mommy? Biasanya foto mommya terpajang di mana-mana." Gempi mengulangi sambil menunjuk beberapa titik tembok yang biasa digunakan Erlan untuk memasang foto mendiang ibuny
"Papa ...!" Gempi yang juga melihat Erlan lantas berseru--memanggil pria itu. Hingga membuat Alyn melebarkan mata, tapi tak dapat berbuat apa-apa. Terlebih saat Erlan mendengar seruan tersebut.Refleks Erlan menoleh, lalu membelalak--cukup terkejut dengan kehadiran Gempi dan Alyn di sana. Segera Erlan menghampiri dengan diikuti oleh Mona yang berjalan, berlenggak-lenggok layaknya model. Melihat itu lantas membuat Gempi berlari ke arah Erlan. Sedangkan Alyn memilih tetap berdiri tempatnya. "Papa, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini!" ujar Gempi saat Erlan sudah menggendongnya."Sama sepertimu. Papa juga tidak menyangka!" balas Erlan lalu melihat ke arah Alyn.Pria itu kemudian menghampiri, lalu berdiri tepat di depan sang istri. "Sayang, sedang apa kau di sini?" tanya Erlan membuat Alyn tak dapat menghindar. Sambil memaksakan senyum, Alyn menjawab, "Tadi aku berniat mengajak Gempi jalan-jalan setelah menjemputnya, dan kemudian ingin berkunjung ke kantormu. Tapi sepe
"Siapa, Mas?" Alyn menatap Erlan dengan satu alis yang terangkat saat melihat perubahan raut wajah sang suami yang begitu ketara. Erlan mendesah pelan, lalu berkata, "Sekretarisku mengatakan ada sedikit masalah dengan perusahaan." "Kalau begitu, bukankah seharusnya kau pergi, Mas?" tanya Alyn dibalas anggukan pelan oleh Erlan.Mendadak mood Erlan ambyar. Pria itu masih ingin bersama dengan Alyn, tapi juga tidak mungkin membiarkan kekacauan di perusahaan. "Aku ingin tetap bersamamu!" Wanita itu langsung memutar bola matanya dengan malas saat mendengar rengekan sang suami. "Yang benar saja! Seharian kita sudah bersama kemarin." "Tapi itu kurang," keluh Erlan seperti anak kecil.Alyn gelen-geleng. Merasa tak habis pikir, tapi juga gemas."Sudahlah, jangan berlebihan seperti itu! Kita masih memiliki banyak waktu nanti," ujar Alyn kali ini membuat Erlan mendengus. "Jadi kau tidak akan menahanku?" tanya Erlan seolah mengulur waktu.Lekas Alyn menggeleng. "Aku tidak akan melakuk
“Ups!” Gempi menutup mulut dan matanya dengan kedua tangan yang disilangkan ketika ia masuk kamar Erlan, dan malah melihat papa dan mama sambungnya sedang berpelukan. Gadis manis itu terkekeh kecil hingga membuat Gian yang mendengar pun lekas menghampiri.“Gempi, apa yang terjadi?” tanya Gian penasar
Masih dengan posisi yang sama, Alyn menatap Erlan dengan serius. Namun, beberapa saat kemudian pria itu menepis lengan Alyn. “Kau tahu apa? Lebih baik kau kembali tidur.” Setelah mengatakan itu, Erlan memilih masuk ke kamar mandi. Sehingga membuat Alyn hanya mampu mendesah pelan.“Kenapa sulit sekali
Alyn : Mas, apa isi rapatnya?Erlan mengerutkan keningnya ketika sampai kantor dan mendapatkan pesan dari Alyn. “Ck! Bukankah wanita itu seharusnya beristirahat?” keluhnya seraya melihat pada jam yang tertera. Anda : Hanya acara akhir pekan. Para orang tua diwajibkan hadir dalam acara sebagai dukunga
Tiba di rumah, Alyn mengajak Gempi bermain. Setelahnya mereka yang merasa lelah pun tiduran di kamar Gempi sambil bercerita. “Apa yang terjadi di sekolah tadi?” Alyn yang tidur menyamping dengan satu tangan yang menyiku untuk menopang kepalanya pun menatap Gempi yang tidur terlentang. “Em … tadi aku












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.