MasukTiba di taman, Gempi terus menempel kepada Alyn yang bersama dengan Sam. Sementara Erlan harus menjadi nyamuk di antara hubungan mereka. Ini benar-benar tidak nyaman, dan Erlan ingin sekali keluar dari situasi ini.
Namun, pria itu merasa tidak tega dengan Gempi yang terlihat senang bersama dengan Alyn. Hingga akhirnya ia memilih membiarkan, dan hanya sesekali memperhatikan Gempi.
“Papa!” panggil Gempi sambil berlari ke arah Erlan.
Erlan tersenyum sambil melambaikan tangannya. Melihat senyum Gempi yang manis selalu membuat hati Erlan terasa ringan.
Lantas, apa yang akan dilakukan Erlan jika senyum Gempi ada pada Alyn?
“Sudah?” tanya Erlan begitu Gempi berada di depannya.
Dengan cepat gadis manis itu menggeleng. “Belum. Aku masih ingin bermain dengan Mama!”
“Gempi, tapi ini sudah sore. Sebentar lagi malam,” ujar Erlan memberi pengertian, tetapi Gempi malah menangis.
“Papa jahat! Gempi mau bermain bersama Mama,” rengek Gadis manis itu membuat Erlan frustasi. Terlebih para pengunjung yang ada di sekitar langsung mengalihkan perhatian ke arahnya. Termasuk Alyn dan Sam yang kini memilih menghampiri.
“Gempi, apa yang terjadi?” Alyn berjongkok tepat di depan Gempi.
Wanita itu bahkan meraih tangan Gempi untuk ia genggam. Sehingga Gempi langsung mengadu. “Mama, Papa jahat. Aku masih ingin bermain, tapi Papa memintaku untuk pulang.”
Refleks Alyn mendongak untuk melihat Erlan yang berdiri sambil membuang muka. Membuat wanita itu mendesah pelan. “Alyn, yang dikatakan papamu benar. Kita harus pulang.”“Tapi aku masih ingin bermain bersama, Mama!” Tangis Gempi semakin kencang. Sehingga Alyn segera menenangkan.
“Kau jangan khawatir. Kita bisa bermain lagi lain waktu,” ujar Aly membujuk Gempi, tetapi gadis kecil itu masih setia dengan tangisnya.
“Gempi, dengarkan mama. Besok kita bermain lagi, kau mau?”
Mata Gempi langsung berbinar, meski masih menyisakan isak tangis. Gadis kecil itu lantas mengacungkan jari kelingkingnya di depan Alyn. “Mama janji?”
“Yeah, mama janji!” Alyn lekas menautkan jari kelingkingnya. Sehingga tangis Gempi benar-benar hilang, dan berganti dengan senyum ceria.
“Sekarang kita pulang, hemm?”
Pelan Gempi mengangguk lalu tiba-tiba saja tubuhnya melayang karena Sam menggendongnya. “Paman!” pekik Gempi dengan senyum mengembang.
“Paman tahu jika Putri kecil ini sedang lelah, jadi biarkan paman menggendongmu!”
Mereka lantas pergi dari taman menuju mobil Erlan. Sementara si pemilik mobil terlihat menatap pemandangan di depannya dengan jengah.
“Oh, ayolah. Aku papanya!” cetusnya merasa kesal.
Tunggu! Jangan katakan jika Erlan cemburu dengan pemandangan barusan. Andai pun ia, artinya ia merasa iri dengan kedekatan Gempi dan Sam. Ya, sebagai ayah yang sudah merawat Gempi, ia merasa cemburu karena gadis manis itu tidak pernah seceria ini sebelumnya.
Dengan penuh kekesalan Erlan melajukan mobilnya. Hingga akhirnya tiba di rumah Alyn.
“Nenek!” panggil Gempi begitu turun dari mobil.
Gadis manis itu langsung berlari ke arah mama Alyn. “Waaah, dari mana, Sayang?”
“Bermain di taman bersama Mama!”
Wanita paruh baya itu hanya terkekeh saja. Lalu mengajak Alyn dan dua pria lainnya masuk. “Tante, maafkan saya. Sepertinya saya harus pulang,” ujar Sam dengan sopan.
“Kenapa buru-buru? Kita makan malam bersama lebih dulu.”
Merasa tidak enak dengan Ibu Alyn, Sam memilih menghargai tawaran tersebut. Namun, sebelum itu terjadi ada Erlan yang tiba-tiba bicara, “Ibu, biarkan saja. Sepertinya memang Sam memiliki urusan.”
Sam melotot mendengarnya, sedangkan Erlan malah tersenyum penuh kemenangan ketika Ibu dari Alyn memaklumi. “Ya sudah, jika memang kau begitu sibuk. Lain kali kita bisa makan bersama.”
“Iya, Ibu.”
Pada akhirnya Sam tetap pergi. Sehingga kini tinggallah Erlan dan Gempi, juga Alyn dan ibunya di meja makan.
“Gempi, kau makan yang banyak!”
“Aku ingin disuapi oleh, Mama!”
Erlan langsung melirik ke arah Aly yang mulai menyuapi Gempi. “Ayo buka mulutnya, Gempi.”
“Aaa ….”“Pintar,” fuji Alyn sambil mengusap ujung kepala Gempi dengan gemas.Gempi tersenyum kemudian berkata, “Sekarang Mama suapi Papa!”
Sontak Erlan langsung melotot, sedangkan Alyn melirik sekilas ke arah prai itu. “Gempi, Papamu bisa makan sendiri, ya?”
Dengan cepat gadis manis itu menggeleng. “Tidak. Mama harus menyuapi Papa!”
“Gempi! Papa bisa makan sendiri,” cetus Erlan dengan sedikit meninggikan suaranya, yang membuat Gempi langsung diam.
Sementara Alyn dan ibunya saling pandang. Wanita paruh baya itu bahkan langsung menunjuk dengan dagunya agar Aly menyuapi Erlan.
Terang saja hal itu membuat Alyn cepat menolak, tetapi ketika melihat raut wajah Gempi membuat wanita itu mendesah. Dengan berat hati Alyn menyendokkan makanan yang kemudian diarahkan kepada Erlan.
“Tuan, maafkan saya.”
Erlan mengangkat satu alisnya. Menatap Alyn dengan bingung ketika wanita itu menggerakan matanya. “Apa?”“Buka mulutmu, Tuan.” Suara Alyn terdengar tertahan, tetapi langsung bisa dimengerti oleh Erlan.
Karenanya pria itu dengan ragu-ragu membuka mulut. Membuat Alyn dengan segera menyuapi Erlan.
“Gempi, lihat Mama sudah menyuapi Papa.”
Ucapan Erin membuat Gempi yang semula menunduk sambil mengaduk-ngaduk makanannya pun mendongak. Hingga tiba-tiba matanya berbinar. “Yeeey … Mama suapi Papa!”
Dengan cepat mood Gempi berubah. Gadis manis itu bahkan sudah ceria lagi. Sampai akhirnya mereka selesai makan.
“Gempi, kita pulang sekarang.”
“Tidak, aku ingin tidur dengan Mama!”
Lagi-lagi Erlan harus menahan dirinya agar tidak menampilkan kekesalannya. Ia menoleh ke arah Alyn yang langsung menggendong Gempi. Wanita itu lantas membawa Gempi ke kamarnya tanpa meminta persetujuan Erlan.
Sehingga pria itu sedikit menggeram, tetapi segera ditenangkan oleh Erin. “Nak Erlan, tunggulah. Nanti jika Gempi sudah tidur, kau bisa membawanya.”
Erlan mendesah lalu mengangguk saja. Setelahnya pria itu memilih menunggu di ruang tengah.
Cukup lama menunggu membuat Erlan mulai bosan. Sehingga ia memilih meminta izin kepada Erin untuk melihat Gempi di kamar Alyn.
“Bibi, saya izin melihat Gempi. Boleh tahu di mana kamar Alyn?” tanya Erlan dengan sopan.
“Ah, iya.” Erin lantas memberitahu jika kamar Alyn ada di sebelah kanan dengan cat berwarna biru.
Sehingga kini, Erlan lekas ke kamar Alyn yang pintunya tidak ditutup dengan sempurna. Ia buka dengan perlahan pintu tersebut. Hingga tampak Gempi yang tertidur pulas dalam pelukan Alyn.
Refleks Erlan menyentuh dadanya ketika melihat pemandangan tersebut. Karena entah kenapa dadanya merasa sesak.
“Sepertinya mereka kelelahan,” ujar Erin tiba-tiba membuat Erlan langsung menoleh ke belakang.
“Bibi.”
Erin tersenyum lembut lalu berkata, “Lihatlah Gempi, dia begitu dekat dengan Alyn. Coba kau pertimbangkan lagi untuk menerima perjodohan ini.”
Terdiam, Erlan lantas kembali memperhatikan Gempi dan Alyn lalu mendesah pelan. “Bibi, tapi bagaimana dengan—”
“Sam hanya teman Alyn. Tapi jika memang Sam menyukai Alyn dan melamar Alyn … maka bibi tidak bisa mencegah. Pikirkanlah, jangan sampai menyesal di kemudian hari,” ujar Erin menepuk pundak Erlan.
Memang Sam beberapa kali ke rumah, tetapi pria itu belum menunjukan keseriusannya. Sehingga Erin membebaskan Alyn dalam urusan asrama. Termasuk dengan perjodohan yang ia lakukan dengan Gian.
Semua ia lakukan semata-mata karena menghargai temannya. Andai Alyn tidak menginginkannya, maka ia tidak akan memaksakan itu.
Melihat Erlan yang diam membuat Erin tersenyum tipis lalu menepuk pundak pria itu. “Bibi tinggal dulu.”
Setelah kepergian Erin, Erlan kembali melihat Gempi dan Alyn sambil mengingat ucapan wanita paruh baya itu barusan.“Apa aku harus menerimanya?”
Erlan mendesah pelan kemudian memilih masuk secara perlahan. Begitu masuk ia berdiri sejenak di samping Gempi kemudian mulai merunduk untuk menyingkirkan dengan perlahan tangan Alyn dari tubuh Gempi, tetapi ketika ia memegang tangan Alyn … wanita itu malah menarik tangannya dengan keras sambil mengigau.
“Pasang sabuk pengamannya!”
Bruk!
Bersamaan dengan itu tubuh Erlan tertarik karena posisinya yang tidak siap. Alhasil ia menindih Alyn yang langsung membuka mata dengan lebar lantaran posisi yang merugikan.
“Aaa— eumph!”
“Sssttt jangan berisik!”
"Sayang, maaf karena telah membuatmu menunggu terlalu lama." Erlan menatap Alyn dengan rasa bersalah yang luar biasa. Hal itu dikarenakan banyaknya pekerjaan, hingga membuatnya sibuk dan tidak bisa pulang cepat.Alyn lantas tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti," ujarnya lalu menunduk dan mengusap rambut Gempi yang tengah tidur di pangkuannya."Mungkin lain kali memang kami tidak seharusnya ke mari. Mas Erlan jadi tidak terlalu fokus karena memikirkan kami juga." Wanita itu menambahkan. Tapi Erlan tidak setuju. "Kenapa bicara seperti itu? Aku tidak keberatan sama sekali. Lagipula ... kehadiran kalian malah membuatku lebih bersemangat!" sanggah Erlan dengan menggebu.Pria itu tidak sedang mengada-ada. Sebab memang seperti itu adanya.Sayang, pekerjaannya memang tadi begitu banyak. Hingga membuat Alyn merasa jika ia tidak seharusnya ada di sana. Tak ingin memperdebatkan hal itu, Alyn lantas mengangguk pelan. Setelahnya ia bertanya, "Apa sekarang pekerja
"Aku tidak menyangka jika kau memasang foto kita." Alyn cukup terkejut dengan hal itu, dan ia hanya bisa tersenyum tipis setelahnya. Erlan ikut tersenyum, lalu menoleh sebentar ke arah foto yang terpajang, lalu bertanya, "Apa tidak apa-apa?" "Hemm, aku tidak masalah," sahut Alyn diiringi dengan anggukan kecil. "Syukurlah, aku pikir kau keberatan," balas Erlan, lalu bernapas lega. Tapi kemudian tubuhnya tiba-tiba tegang saat mendengar celetukan Gempi. "Papa, jika fotonya diganti oleh foto mama, lalu kau simpan di mana foto mommy?"Refleks Alyn menoleh ke arah Erlan, sedangkan Erlan melihat ke arah Gempi. Pria itu lantas melirik ke arah Alyn, ingin memastikan bagaimana reaksi wanita itu. "Papa," tegur Gempi membuat Erlan kembali menoleh ke arahnya. "Iya, Nak?" sahut Erlan pelan. "Papa simpan di mana foto mommy? Biasanya foto mommya terpajang di mana-mana." Gempi mengulangi sambil menunjuk beberapa titik tembok yang biasa digunakan Erlan untuk memasang foto mendiang ibuny
"Papa ...!" Gempi yang juga melihat Erlan lantas berseru--memanggil pria itu. Hingga membuat Alyn melebarkan mata, tapi tak dapat berbuat apa-apa. Terlebih saat Erlan mendengar seruan tersebut.Refleks Erlan menoleh, lalu membelalak--cukup terkejut dengan kehadiran Gempi dan Alyn di sana. Segera Erlan menghampiri dengan diikuti oleh Mona yang berjalan, berlenggak-lenggok layaknya model. Melihat itu lantas membuat Gempi berlari ke arah Erlan. Sedangkan Alyn memilih tetap berdiri tempatnya. "Papa, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini!" ujar Gempi saat Erlan sudah menggendongnya."Sama sepertimu. Papa juga tidak menyangka!" balas Erlan lalu melihat ke arah Alyn.Pria itu kemudian menghampiri, lalu berdiri tepat di depan sang istri. "Sayang, sedang apa kau di sini?" tanya Erlan membuat Alyn tak dapat menghindar. Sambil memaksakan senyum, Alyn menjawab, "Tadi aku berniat mengajak Gempi jalan-jalan setelah menjemputnya, dan kemudian ingin berkunjung ke kantormu. Tapi sepe
"Siapa, Mas?" Alyn menatap Erlan dengan satu alis yang terangkat saat melihat perubahan raut wajah sang suami yang begitu ketara. Erlan mendesah pelan, lalu berkata, "Sekretarisku mengatakan ada sedikit masalah dengan perusahaan." "Kalau begitu, bukankah seharusnya kau pergi, Mas?" tanya Alyn dibalas anggukan pelan oleh Erlan.Mendadak mood Erlan ambyar. Pria itu masih ingin bersama dengan Alyn, tapi juga tidak mungkin membiarkan kekacauan di perusahaan. "Aku ingin tetap bersamamu!" Wanita itu langsung memutar bola matanya dengan malas saat mendengar rengekan sang suami. "Yang benar saja! Seharian kita sudah bersama kemarin." "Tapi itu kurang," keluh Erlan seperti anak kecil.Alyn gelen-geleng. Merasa tak habis pikir, tapi juga gemas."Sudahlah, jangan berlebihan seperti itu! Kita masih memiliki banyak waktu nanti," ujar Alyn kali ini membuat Erlan mendengus. "Jadi kau tidak akan menahanku?" tanya Erlan seolah mengulur waktu.Lekas Alyn menggeleng. "Aku tidak akan melakuk
Pagi ini Erlan merasakan sesuatu yang berbeda. Pemandangan di pagi hari--di mana ia melihat Alyn dan Gempi yang tampak akrab membuat hati Erlan menghangat. Kini, pria itu baru menyadari betapa beruntungnya ia menikahi Alyn."Papa, apa hari ini kau akan mengantarkanku sekolah?" tanya Gempi ketika mereka tengah sarapan."Tentu saja. Memang siapa lagi yang akan mengantarkanmu?" "Tapi aku juga ingin diantar oleh Mama!" Gadis manis itu kemudian menatap Alyn dengan penuh harap. "Yeah, mama juga akan ikut mengantarkanmu!" balas Alyn membuat Gempi membelalak."Jadi kalian berdua akan mengantarku?" tanya Gempi penuh semangat.Alyn lantas mengangguk, membuat Gempi berseru. Sedangkan Erlan tersenyum tipis. Hingga lagi-lagi hatinya mensyukuri kehadiran Alyn di tengah-tengah gersangnya rumah setelah kepergian mendiang istrinya."Yeaay, mama dan papa sudah baikan!" seru Gempi membuat Alyn refleks menoleh ke arah Erlan, lalu melebarkan mata. "Gempi," ucap Erlan baru menyadari jika Gempi bisa mem
"Tadi Gempi merengek ingin ikut dan bertemu denganmu, jadi aku sengaja membawanya ke mari," terang Erlan setelah mereka menghabiskan waktu bersama dengan Gempi.Kini gadis manis itu sudah tidur di antara Erlan dan Alyn, dengan posisi memeluk lengan Alyn. Sehingga membuat Alyn sulit bergerak."Aku minta maaf, karena waktu tenangmu jadi terganggu." Erlan menambahkan sambil melirik ke arah Gempi.Dengan pelan Alyn menggeleng. Kemudian wanita itu berkata, "Tidak apa-apa, Mas. Mas Erlan tidak perlu meminta maaf.""Tapi tetap saja. Bukankah kau membutuhkan waktu untuk beristirahat?""Aku memang membutuhkannya, tapi aku rasa sudah cukup. Em ... besok aku juga akan pulang," terang Alyn membuat Erlan mengerjap beberapa kali, lalu menatap wanita itu dengan tatapan tak percaya."Maksudnya, kau akan kembali ke rumah kita?" Erlan memastikan jika dirinya tidak salah mendengar."Bukankah sekarang itu adalah rumahku juga, Mas? Kau suamiku, tempat aku pulang ketika masih berada di dunia adalah kau ...







