Share

3. Kejam

Berdarah-darahlah dada itu. Kumbang menunduk menengok luka yang seketika membuat lumpuh tubuhnya. Dipegangnya panah sembari menengadahkan kepala menatap kekasihnya. Matanya memerah, mulutnya bergetar mengucap, “Dinda ....”

Siti terkesiap menangkap tubuh roboh Kumbang. Pandangannya berkeliling berupaya mencari bantuan di tengah hiruk pikuk pertempuran. Tidak ada, tidak ada yang bisa menolong kumbang bahkan ketika sekuat tenaga Siti menyalurkan tenaga dalamnya.

Kumbang memucat, bibirnya melirih pelan, “Din-da ....”

“Datuk, bertahanlah. Bertahan, kita tak akan terpisah lagi selepas ini.” Siti masih terus berusaha memulihkan Kumbang yang terkena panah beracun. Racun yang dibubuhkan Serintil pada ujung tombak, pedang dan anak panah pasukannya.

“Meski keadaannya seperti ini. Awak bersyukur masih bisa dipertemukan dengan Dinda.” Tangan  gemetar Kumbang terangkat bermaksud menyeka air mata kekasihnya. Namun belum juga sampai, kelopak mata kumbang mengatup. Tangannya jatuh tergelepai menyentuh tanah.

Siti menangis tersedu-sedu, menepuki pipi Kumbang sambil memohon-mohon,  “buka matamu Datuk! Jangan tinggalkan Dinda ... jangan tinggalkan Dinda lagi, Datuk ....”

Hari itu juga Siti membawa mayat Kumbang kepada Serintil. Siti menyadari kekuatannya hanya secuil dari kekuatan sang Nenek sakti. Mungkin sang Nenek dapat mengobati Kumbang. Siti tidak memiliki daya lagi, tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menolong kekasihnya selain membawa Kumbang ke pendopo milik sang guru.

“Nenek tolong ... tolong!” teriak Siti masih menangisi Kumbang.

Serintil yang tengah beristirahat seketika bangkit mendengar teriakan muridnya. Tergopoh-gopoh dia menghampiri Siti.

“Ada apa?” dilihatnya lelaki pucat berdarah-darah bersama Siti di pendoponya. “Bawa dia masuk! Cepat!”

Siti menceritakan pertemuan singkatnya dengan Kumbang pada Nenek Serintil. Sang Nenek tampak tak senang mengetahui kalau kumbang adalah suruhan Ki Putih klan Inyiak musuh sang Nenek di pertempuran tadi. Baginya menolong kumbang sama saja menjilati darah bangkai sisa peperangan tadi. 

“Aku tak bisa menolongnya,” ucap Serintil memunggungi Siti.

“Nek, Siti mohon. Apa pun akan Saya lakukan untuk mengembalikan kumbang. Meski harus menukar nyawa, Siti rela Nek ... asal bisa menolong orang yang paling Siti cintai. Bukankah Nenek sudah berjanji akan membantu Siti untuk bertemu Kumbang?”

“Aku memang sudah membantumu bertemu Kumbang, tapi jikalau kalian bertemu dalam keadaan seperti sekarang, itu adalah kehendak Batara Kala. Aku tidak mau ikut campur lagi.”

Siti bersimpuh di kaki Serintil. Menyatukan kedua tangannya memohon. “Tolonglah Nek, Siti sungguh-sungguh. Siti akan melakukan apa pun demi Kumbang. Hanya Nenek satu-satunya orang yang sangat Siti harapkan. Siti tahu dengan kekuatan ilmu hitam, Nenek bisa menghidupkan orang yang mati, apalagi Inyiak. Siti mohon Nek, Siti tidak bisa hidup tanpa Kumbang.”

Lama Serintil terdiam menimbang-nimbang sebelum akhirnya dia berkata pada Siti, “ada satu cara, tapi ini akan mengorbankan banyak hal dalam hidupmu Siti. Apa kau sanggup melakukannya dan menerima segala konsekuensinya?”

Sontak Siti memeluk kaki Serintil, menengadahkan kepala seraya menjawab, “Siti sanggup, demi apa pun Siti sanggup asal bisa kembali melihat Kumbang hidup.”

“Bangunlah, akan kuberikan sesuatu padamu.”

Sebuah tongkat sakti mandra guna Serintil berikan pada Siti. Hanya tongkat sakti berkepala tengkorak itu yang bisa mengganti kematian dengan kehidupan, menukarnya dengan tumbal. Tumbal kecantikan seorang perawan yang harus dikorbankan demi menghidupkan satu raga yang telah mati.

“Apa yang harus Saya lakukan dengan tongkat ini?” tanya Siti masih bingung memperhatikan tongkat berwarna hijau tua berkepala tengkorak dengan mata berhias permata hijau.

“Bila kau mengirimkan kekuatanmu melalui perantara tongkat ini. Kemungkinan besar Kumbang akan hidup. Tapi tongkat ini akan menghisap semua kecantikanmu, dan menjadikanmu penyihir hitam yang buruk rupa. Apa kau sanggup?”

Pandangan Siti berganti antara Srintil dan tongkat ajaib. Dia terdiam sejenak memandangi mata tengkorak yang mengilat-ngilat sembari membulatkan tekat. “Saya sanggup dan siap!”

Kemudian atas arahan Serintil, Siti mengacungkan tongkat itu ke tubuh Kumbang. Semerbak asap hitam keluar dari dalam tongkat mengelilingi tubuh Kumbang, masuk ke dalam raganya. Tubuh kumbang berguncang. Panah menghilang dari dadanya, daging-daging yang terkoyak menganga terjalin lagi merapat menutup semua luka. Darah-darah yang membasahi pakaiannya kering tanpa bekas. Wajah pucat itu kini menguning segar, bibir birunya kini kembali merona menandakan kehidupan. Dadanya naik turun tanda dia bernapas.

“Datuk ... kau sudah hidup?!” senyum merekah dari bibir Siti begitu mendengar Kumbang terbatuk-batuk. Meski tenaga Siti habis terkuras tapi bahagia menyelimutinya ketika melihat Kumbang siuman.

Kumbang beringsut duduk, memegangi kepalanya yang berputar. Pandangannya berkabut tidak jelas mengetahui siapa wanita yang tengah bersamanya. Kumbang melirih, “di mana Awak?”

“Berbaringlah dulu Datuk. Datuk belum pulih benar.” Siti berupaya membaringkan tubuh Kumbang lagi di tempat tidur.

“Jangan sentuh saya!” Murka Kumbang begitu mengetahui dia berada di tempat asing dengan orang asing yang tidak dikenalnya. Bayangan samar itu menjadi jelas, sesosok wanita keriput berambut panjang, berhidung bengkok, dengan tubuh bungkuk, senyum mengerikan, dan kuku panjang menyentuh wajah Kumbang. “Singkirkan tangan kau!”

“Ini Siti, Datuk ...”

Perempuan mengerikkan itu berkaca-kaca. Tak ibalah Kumbang melihatnya. Dia memegang tongkat tengkorak yang diketahui Kumbang adalah simbol kekuatan hitam. Kegelapan yang telah membunuh ribuan pasukannya, kawan-kawan Inyiak dan saudara-saudaranya. Perempuan itu juga pasti bermaksud membunuhnya. Ya dia pasti penyihir jahat yang selama ini meresahkan masyarakat.

“Kau bukan Siti!” Kumbang mendorong keras tubuh Siti sampai terperosok ke lantai. Melihat perempuan itu tersungkur lemah, terkesiap Kumbang berlari kencang meninggalkan markas penyihir berilmu hitam.

Siti menangis mengingat Kumbang tidak mengenalinya. Dia berusaha bangkit melihat bayangannya dalam cermin. Pantaslah Kumbang lari setelah melihatnya. Tidak ada lagi kulit halus selembut sutra. Tidak ada lagi senyum bak mawar merekah, tidak ada lagi rambut indah berkilauan yang di sanjung-sanjung kekasihnya. Siti kian menangis memegangi wajahnya.

“Sudah kuperingati sedari awal, tak payah menyesalinya.” Serintil muncul di dalam cermin tempat Siti mematut bayangan.

“Saya tidak menyesal memberi kehidupan pada Kumbang. Hanya terkejut pada perlakuannya.” Siti mengusap air matanya, berusaha menguatkan hati. “Kumbang mungkin juga terkejut, saya yakin kelak dia pasti mengenali saya.”

“Kalau dia sungguh mencintaimu, seperti apa pun rupamu dia akan tetap mengenalimu. Baru pantaslah lelaki seperti itu engkau pertahankan. Tapi bila dia semakin menjauh, maka kau telah salah menukar kecantikanmu hanya demi menyelamatkan pemuda Siluman. Tak patut bersedih Lampir, meski buruk rupa tapi kekuatan kau akan bertambah sakti.”

“Lampir?” tanya Siti kembali.

“Kuhadiahi nama Lampir di belakang namamu sebagai gelar kesaktian penguasa kegelapan. Mulai sekarang kau bukanlah manusia biasa. Kuturunkan takhtaku padamu Lampir sebagai penguasa Marapi. Tak ada lagi yang perlu kau takuti, manusia-manusia dan siluman akan tunduk di bawah kuasamu. Kau adalah pemimpin para siluman dan penyihir hitam. Kau adalah ratu kegelapan,  Siti Maymunah Lampir.”

Komen (2)
goodnovel comment avatar
Alnayra
......... sedih banget, cewek bisa mengorbankan semuanya buat cowok. tapi cowok gitu banget sih
goodnovel comment avatar
Pena Arsy
sebesar itu pengorbanan Siti
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status