Share

Penjelasan dokter

Penulis: iindwi_z
last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 08:30:48

Keheningan mencekam sempat terjadi selama beberapa saat di koridor rumah sakit itu. Papa Arturo masih terlalu syok untuk mencerna semuanya, sampai akhirnya Lucas kembali bersuara, membuat Papa dan aku seketika menoleh ke arahnya.

“Bagaimana kondisi Emelia?” tanyanya lagi, mengulang pertanyaan yang belum sempat terjawab karena perdebatan tadi.

“Dia masih belum sadar,” jawabku pelan. Dadaku kembali berdenyut perih mengingat kondisi istriku di dalam sana. Na

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Sadar

    Sudah hampir dua jam lamanya aku duduk membeku di samping bangsal, menunggu Samuel untuk segera bangun. Namun, suamiku itu masih tetap bergeming dalam diam dengan kedua kelopak mata yang terpejam rapat. Di tengah keheningan ruang ICU yang hanya diisi oleh suara ritmis alat pemantau jantung, tiba-tiba sebuah rasa takut yang teramat luar biasa kembali merayap, mencengkeram dadaku hingga sesak.​Bagaimana kalau kondisi Samuel sama seperti kondisiku dulu? Bagaimana kalau... bagaimana kalau Samuel ternyata dinyatakan koma?​Aku menggelengkan kepala dengan cepat, berusaha mengusir paksa pikiran buruk itu dari otakku. Tidak. Aku tidak akan sanggup jika hal itu sampai benar-benar terjadi pada Samuel. Dengan jemari yang masih gemetar, aku menggenggam erat telapak tangan kanannya, lalu mengecup punggung tangannya yang terasa agak dingin akibat pengaruh sisa obat bius.​“Samuel... bangun dong. Jangan tidur lama-lama, aku takut,” ujarku teramat pelan dengan suara para

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Ma, aku takut

    ​“Kenapa bisa sampai tertembak?! Bukankah dia menggunakan rompi antipeluru, hah?!” teriak Papa Arturo berang. Suaranya yang menggelegar dipenuhi kepanikan luar biasa saat melihatku masih memeluk erat tubuh Samuel yang tak sadarkan diri.​Papa Arturo langsung berlutut di sebelahku, memeriksa denyut nadi di leher anaknya dengan tangan yang ikut gemetar. “Emelia, bangun! Kita harus membawa Samuel ke rumah sakit sekarang juga! Dia butuh pertolongan medis secepatnya!”​Mendengar instruksi itu, dengan tubuh yang gemetar hebat, aku perlahan menjauh dan melepaskan dekapanku pada tubuh Samuel agar para petugas medis bisa memasangkan tandu. Saat aku mencoba berdiri, seluruh persendianku rasanya meloloskan diri begitu saja. Kakiku sudah teramat lemas dan mati rasa. Kalau saja Papa Lucas tidak sigap berdiri di belakangku dan menahan kendali tubuhku, mungkin aku sudah jatuh tersungkur di atas lantai yang bersimbah darah ini.​“Pa... Samuel, Pa...” ujarku dengan suara p

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Samuel, bangun...

    Pov Emelia ​“Daniel, stop!!!”​Aku menjerit histeris dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tenggorokanku. Air mataku luruh semakin deras, membasahi pipi yang terasa kaku karena ketakutan yang teramat masif. Menyaksikan Samuel—suamiku, pria yang selalu berdiri gagah melindungiku—kini berlutut tak berdaya di depan mataku sendiri karena dihantam pukulan mentah oleh Daniel, membuat dadaku terasa remuk redam.​Pria gila di hadapanku ini menghentikan gerakannya perlahan. Ia memutar kepala, menatapku dengan seulas senyum miring yang tampak begitu mengerikan. “Kenapa? Kamu mau menggantikan suamimu ini, hm?” tanyanya dengan nada suara yang begitu santai, seolah menyiksa manusia adalah sebuah hiburan renyah baginya.​“Jangan sakiti suamiku!” balasku lantang, mencoba menantang kilat kegilaan di sepasang netranya meskipun seluruh tubuhku sedang gemetar hebat di atas kursi kayu ini.​Daniel terkekeh rendah, tampak begitu puas melihat keputusasaanku

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Tertembak

    Pov Samuel Aku berusaha tetap mempertahankan ketenangan wajahku saat Daniel melangkah maju menghampiriku. Moncong pistol hitam yang dingin itu kini terarah tepat di depan keningku. Di bawah tekanan yang mematikan ini, otakku dipaksa berputar keras, mencari cara bagaimana bisa lepas dari cengkeraman pria gila ini. Bagaimanapun caranya, aku harus membawa Emelia keluar dari tempat terkutuk ini dalam keadaan bernyawa.​Saat sepasang netraku bergerak liar mencari celah di antara kepungan musuh, tatapanku tidak sengaja bersitatap dengan orang kepercayaan Papa Arturo yang ikut mengangkat tangan di sudut ruangan. Pria itu menatapku lekat-lekat sembari memberikan sebuah kode kerlingan mata yang teramat samar—sebuah isyarat bahwa Papa Arturo telah menyiapkan segalanya di luar sana.​Aku mengedipkan mata sekali sebagai jawaban. Embusan napas lega yang tipis lolos dari benakku; setidaknya aku tahu Papa sudah bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan kami.

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Pasukan khusus

    Pov Lucas.​“Mau ke mana kamu, Lucas?”​Mendengar instruksi bernada interogasi itu, aku seketika menghentikan langkah dan membalikkan tubuh. Kutatap Arturo dengan sorot mata setajam silet. Bagaimana bisa pria itu masih bertanya dengan begitu santai di saat situasi sedang kritis seperti ini? Apa otaknya sudah tumpul? Apa dia lupa kalau Emelia—putri kandungku yang juga merupakan istri dari anak kebanggaannya—saat ini sedang disandera oleh kawanan psikopat?​“Tentu saja aku akan membebaskan Emelia!” jawabku sengit tanpa menyembunyikan kilat amarah.​“Tenanglah dulu. Biarkan Samuel dan pasukannya yang maju lebih dulu ke baris depan,” ujar Arturo dengan nada suara yang teramat tenang.​Sikap dinginnya itu sontak membuat darahku mendidih seketika. Aku melangkah lebar, mencengkeram kerah kemejanya dengan emosi yang sudah menyentuh ubun-ubun. “Apa maksudmu bicara seperti itu, Arturo?! Meskipun kamu teramat membenciku, biar bagaimanapun juga Emeli

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Namaku Daniel.

    ​“Kenapa bengong? Apa kamu begitu terkejut melihatku?”​Suara parau yang sarat akan nada mengejek itu seketika menarikku paksa dari keterpakuan. Aku mengerjapkan mata, menatap sosok di hadapanku dengan kilat amarah yang berkobar hebat. Di bawah kungkungan pria itu, aku bisa melihat Emelia yang gemetar ketakutan dengan moncong pistol yang masih menempel ketat di pelipisnya.​“Siapa kamu sebenarnya? Diego?” tanyaku langsung, mencoba menuntut kepastian.​Bukannya menjawab, pria itu malah tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya menggema mengesalkan di dalam ruangan pengap ini. Tepat di saat beberapa anak buahku merangsek masuk dengan senjata terhunus, tawanya mendadak terhenti.​“Suruh anjing-anjingmu itu diam di tempat, atau aku benar-benar akan melubangi kepala istrimu ini sekarang juga, Kakak,” ancamnya dengan seringai dingin.​Aku langsung memberikan kode keras melalui tatapan mata kepada anak buahku agar tetap bertahan di posisi mereka. Ak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status