Share

Sadar

Author: iindwi_z
last update publish date: 2026-06-03 20:30:36

Aku dengan setia selalu menemani Emelia di ruang ICU. Setiap pagi, aku membasuh tubuhnya dengan handuk hangat secara perlahan. Aku tidak pernah absen mengajaknya berbicara setiap hari, meyakinkan diriku sendiri bahwa di dalam tidur panjangnya, Emelia bisa mendengar semua untaian kata yang kuucapkan.

"Coba kalau kamu bangun sekarang, kamu pasti sudah mendesah pelan karena kedinginan, Sayang," ujarku lirih saat mulai membasuh area bahu hingga batas dadanya dengan sangat hati-hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Memberi umpan

    Pov EmeliaAku benar-benar tidak habis pikir kenapa tadi Samuel bisa bicara seberani itu di depan Papa Lucas. Kalimat godaannya sukses memancingku untuk ikut-ikutan menyudutkan Papa sebelum kami pulang.Namun, jika dipikir-pikir kembali... ah, andai saja Papa dan Mama bisa benar-benar bersatu kembali sebagai sepasang suami istri sah, aku pasti akan menjadi orang pertama yang paling bahagia di dunia ini.“Samuel, kamu sebenarnya sedang merencanakan apa, sih?” tanyaku langsung tanpa basa-basi begitu kami berdua melangkah masuk ke dalam kamar utama rumah kami.Aku jelas tidak percaya begitu saja kalau Samuel sampai teledor meninggalkan ponselnya di rumah Papa. Mengingat bagaimana teliti dan perfeksionisnya seorang Samuel dalam segala hal, rasanya mustahil dia bisa seceroboh itu.Bukannya segera menjawab pertanyaanku, Samuel justru menyunggingkan seringai tipis. Dengan satu gerakan cepat yang tidak terduga, ia menarik pi

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Ide licik

    Sepasang mataku sejak tadi benar-benar tidak bisa lepas dari setiap gerak-gerik Melissa. Bahkan, ketika mereka semua sudah bersiap-siap di ruang tamu untuk berangkat ke rumah Samuel, aku secara spontan ikut bangkit berdiri dari sofa dengan gerakan yang terlalu terburu-buru.“Loh, Papa mau ikut ke rumah Samuel juga?” tanya Emelia langsung, menatapku dengan dahi berkerut heran.Aku tersentak kecil, lalu buru-buru menggelengkan kepala demi menutupi rasa salah tingkahku. “Ngg, enggak... Papa cuma mau mengantarkan kalian sampai depan pintu saja kok,” jawabku mencari alasan yang masuk akal. Padahal, jika boleh jujur, lubuk hatiku yang paling dalam berteriak ingin ikut masuk ke dalam mobil mereka. Tapi, ada rasa ragu dan gengsi yang terlalu besar untuk kuucapkan keras-keras.“Yah, kalau Papa memang mau ikut juga tidak apa-apa, Pa. Siapa tahu... Papa sebenarnya cuma tidak bisa jauh-jauh karena mendadak kangen sama Mama Melissa, kan?”

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Kegelisahan Lucas

    POV LucasSepasang mataku sama sekali tidak bisa berhenti memandang ke satu titik sejak Melissa kembali menginjakkan kakinya di rumah ini. Jujur, ada letup kebahagiaan yang teramat masih menyelimuti hatiku saat bisa melihat sosoknya lagi secara nyata setelah puluhan tahun lamanya terpisah oleh waktu.Namun, rasa bahagia itu seketika berbaur dengan gumpalan penyesalan yang teramat pekat begitu aku mengetahui seluruh kebenaran yang sesungguhnya. Mengetahui fakta bahwa ternyata perempuan malang itulah yang telah menyelamatkan nyawaku di malam berdarah itu.Mengingat masa lalu, aku merasa telah menjadi pria yang teramat brengsek dan buruk kepadanya. Dulu, aku dengan tega melabelinya sebagai wanita bayaran, hanya menjadikannya alat pemuas nafsu dan gairahku setiap malam.Sampai pada suatu titik, tanpa pernah kusadari, aku mulai merasa teramat nyaman dengan kehadirannya. Aku bahkan selalu didera rasa rindu yang aneh untuk tidur di dalam pelukan ha

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Menggoda Papa Lucas

    Pov Samuel“Lah, kenapa kamu malah ada di sini?”Aku seketika menoleh saat mendengar suara berat itu menginterupsi kesunyian malam. Alih-alih langsung menjawab pertanyaan Papa Lucas, aku memilih untuk kembali menyesap wine dari dalam gelas kaca di genggamanku secara perlahan, menikmati sensasi hangat yang membakar tenggorokan.Terdengar suara tawa renyah lolos dari bibir pria paruh baya itu. Sialan. Aku tahu persis pria tua di hadapanku ini pasti sedang mengejekku habis-habisan.“Hanya tidak tidur ditemani istri semalam saja, masa penampilanmu jadi semenyedihkan ini, Samuel?” sindirnya jenaka sembari melangkah maju, ikut bergabung berdiri di sebelahku. Tangan kekarnya meraih satu gelas kosong, lalu mengisinya dengan cairan merah pekat dari botol wine yang sama.Aku mengembuskan napas panjang secara perlahan untuk mengusir rasa penat. Aku menoleh, menatap Papa Lucas dengan raut wajah yang kembali tenang dan datar.

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Rasa bersalah

    Pov Emelia“Sayang, masa tidur dengan Mama sih?”Aku seketika menyunggingkan senyum lebar mendengar nada protes dari Samuel saat aku meminta izin untuk tidur bersama Mama malam ini. Bahkan, sejak tadi aku memang bersikeras tidak ingin diajak pulang ke rumah kami. Aku memilih untuk menginap di rumah Papa Lucas saja demi bisa menemani Mama.“Ayolah, Samuel... Hanya malam ini saja, ya?” ujarku manja sembari menatapnya dengan binar mata bulat yang sengaja dibuat semenggemaskan mungkin, berharap benteng pertahanannya runtuh dan memberiku izin untuk malam ini.Aku menggelayut di lengannya, lalu kembali memohon, “Aku ingin mengobrol banyak hal dan mendengarkan cerita Mama. Lagipula, kamu kan sudah tidur bersamaku setiap malam, Samuel. Hanya malam ini saja, ya? Ya?”Samuel mengembuskan napas panjang yang terdengar pasrah. Di bawah tatapan memohonku, pria bertubuh tegap itu akhirnya mengangguk perlahan

  • Istri Dadakan CEO Lumpuh    Janji Lucas

    Aku benar-benar masih tidak menyangka takdir akan membawaku bertemu dengan Samuel. Pria muda yang berwibawa itu ternyata adalah suami dari putri kecilku, Emelia.Ya Tuhan... sudah puluhan tahun aku tidak pernah melihat wajah anakku. Sudah puluhan tahun aku dikurung tanpa pernah mendengar sedikitpun kabar tentang dirinya. Dan sekarang, bayi merah yang dulu kutinggalkan di ambang pintu panti asuhan itu ternyata sudah tumbuh dewasa dan menikah.Jujur, di sepanjang perjalanan tadi aku sempat didera keraguan dan ketakutan yang luar biasa. Namun, untaian penjelasan lembut dari Samuel perlahan meruntuhkan dinding ketakutanku. Kalimat-kalimatnya membakar seluruh jiwaku, memicu rasa tidak sabar untuk segera bertemu dengannya. Aku ingin segera mendekap erat tubuhnya yang mungkin sekarang sudah jauh lebih tinggi dariku. Dan di dalam benak ini, aku teramat yakin bahwa putri kecilku pasti telah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik.“Bertemu siapa, Samuel?”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status