LOGINTut! Tut! Tut!Alarm di ponsel Felicia berdering nyaring sejak pukul lima pagi, memaksanya melompat dari tempat tidur meskipun seluruh otot tubuhnya masih terasa kaku akibat pindahan kemarin. Suasana rumah setengah berantakan, ruangan sempit itu masih dikelilingi kardus-kardus yang belum sempat dibongkar."Feli, ini bekal sarapanmu. Ibu baru sempat goreng telur dan roti mentega," kata Ibu dari arah dapur, menyodorkan sebuah kotak bekal stainless steel."Terima kasih, Bu. Feli harus berangkat sekarang, takut terjebak macet. Hari Senin begini biasanya bus kota penuh," sahut Felicia tergesa-gesa sambil mengancingkan blazer kerjanya. Matanya melirik ke arah kamar, tempat Sue masih meringkuk pulas di balik selimut. "Bu, hari ini Sue terpaksa bolos sekolah dulu ya. Feli benar-benar belum sempat mengurus berkas mutasinya ke sekolah baru,” katanya buru-buru.Ibu mengangguk paham, mengusap lengan putrinya dengan lembut. "Iya, jangan khawatirkan Sue. Hati-hati di jalan, Fel."Sepanjang hari,
Sambil melepas lelah, mereka duduk di teras rumah. Menatap bulan yang menggantung di langit dan merasakan embusan angin malam. Percakapan dan canda tawa itu berlanjut hingga larut malam. Mereka mengakhirinya dengan masuk ke kamar masing-masing. Sementara Sue sudah tertidur sejak tadi. **********.Matahari baru saja mengintip dari balik perbukitan Desa Porteni saat Felicia membuka mata. Dia menguap dan meregangkan otot-ototnya. Sue masih tidur dengan pulas. Felicia membetulkan selimutnya.Ibu sudah di dapur untuk membuat minuman hangat. Kompor, panci dan beberapa gelas sengaja tidak dirapikan bersama yang lain.Wangi teh menguar dari sana. “Bu,” sapa Felicia. “Duduklah” kata Ibu penuh perhatian.Mereka duduk di kursi. Ibu menatap dalam-dalam. Dengan hati-hati dia bertanya, “ gimana dengan Nak Barney? Apa kamu benar-benar sudah melepasnya?” Felicia mengembuskan napas panjang. “Belum, Bu. Aku sendiri masih nggak tahu harus gimana.” “Jangan mempermainkan perasaan orang,
"Maafkan aku, Barn. Mereka adalah duniaku, Sama seperti keluargamu adalah duniamu," kata Felicia lembut. Dia mulai merapikan kertas-kertas di mejanya, menandakan bahwa malam sudah terlalu larut. "Biarkan aku menata hidupku dan keluargaku dulu. Setidaknya aku sudah merasa pantas untuk berdiri di depan keluargamu,” kata Felicia.Barney bangkit dari kursinya, memakai kembali jaket wollnya. Senyumnya kembali, meski kali ini terlihat sedikit dipaksakan demi menenangkan Felicia. "Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Tapi ingat, aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku akan tetap di sini, menunggumu siap.” Barney mengecup kening Felicia dengan lembut.Felicia mendongak, menatap Barney yang kini berdiri di hadapannya.. "Terima kasih karena selalu mengerti.""Ayo pulang. Aku antar kamu sampai ke depan," ajak Barney sambil mengulurkan tangannya.Felicia mematikan monitor layar, mengambil tasnya, lalu menyambut uluran tangan Barney. Di bawah temaram lampu koridor kantor yang mulai padam satu per
Ariella yang tak berhasil mengajak Felicia keluar, dia memutuskan untuk pulang.“Fel, aku pulang duluan. Usahakan besok kita bisa jalan bareng, ya.” pamit Ariella.Felicia mengangguk dia merasa bersalah. “Iya, Ar. Akan aku usahakan.Ariella melangkah keluar, Felicia sedikit merasa lega. Dia tak harus membuat kebohongan lagi.Tak lama kemudian, Louisa juga berpamitan. “Ms. Feli. Aku pulang, ya,” pamitnya. Felicia tersenyum. “Iya, makasih, ya. Sampai jumpa besok.” Louisa melambaikan tangan dengan senyum lalu melangkah pergi membawa tas laptopnya yang berat.Kini, ruangan lantai empat itu sepenuhnya dihuni oleh Felicia seorang.Wanita cantik itu menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Dia mengembuskan napas panjang, membiarkan keheningan malam menyelimuti dirinya. Alih-alih merasa kesepian, dia justru menikmati momen ini. Matanya menatap tumpukan berkas dan layar monitor yang masih menyala, menampilkan grafik pencapaian proyek terbarunya. Dia masih ingin tinggal lebih lama. Bukan k
Pertemuan di restoran siang itu bukan sekadar makan bersama. Berawal dari proyek Cleopatra Agency dan C&C Cookies and Cake, nama Felicia mendadak menjadi perbincangan hangat di kalangan pebisnis kelas atas. Strategi periklanan yang dia rancang dinilai segar, berani, dan sangat menyentuh target pasar.Hanya dalam waktu singkat, beberapa perwakilan dari perusahaan besar mulai menghubungi nomor operatornya. Ruang tamu sempit di rumah sewanya yang lama benar-benar sudah tidak memadai lagi.“Fel, kamu serius masih mau bertahan di ruang tamu yang bikin lutut ketemu lutut ini?” tanya Ariella sore itu. Dia bersandar di kusen pintu sambil memperhatikan Felicia yang sedang memeriksa dokumen kontrak baru, sementara Louisa sibuk mengetik di meja sebelah.Felicia mendongak, menghela napas panjang lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Ya mau gimana lagi, Ar? Nyari tempat yang pas itu nggak gampang. Pengeluaran juga harus dihitung matang-matang. Aku baru merangkak naik,” jawab Felicia. Arie
Tatapan mata Felicia terarah pada tangan Gea yang siap mendarat di wajahnya.Namun Felicia tidak bergeming. Dia semakin tenang. Kepalan tangannya mengendur. Dirinya merasa menang. Di depan para netizen yang siap memberi penilaian. “Ms. Gea, kendalikan emosi Anda, publik sedang mengawasi saat ini,” Suara Felicia merendah sambil mengisyaratkan Gea untuk melihat sekeliling mereka. Satpam bergerak cepat, dia memegang tangan Gea supaya tak menyakiti Felicia. Felicia tersenyum. Wajahnya semakin mencerminkan sikap percaya diri.“Aku bukan perempuan seperti yang kalian tuduhkan. Finno nggak bertanggung jawab atas perbuatannya, dan calon tunanganmu … bukankah kamu yang meninggalkannya?” “Hi–ih!” Gea menggeram kesal. Dia menyeringai sambil menarik kasar tangannya dari cengkeraman satpam. Manajernya datang tepat waktu. Dia menarik Gea lalu segera meninggalkan tempat itu. Kedua orang tua Finno juga bergegas keluar. Tinggal Felicia yang kembali duduk dengan napas memburu. Dadanya turun naik







