Masuk“Mau kamu apa, Rino?!” tanya Elric.
Ajudan Rino membawakan sebuah tablet. Sebuah video panas Elric dan Lala diputar di layar tablet itu. “Astaga!” teriak Lala. Dia tak tahu jika malam panasnya itu direkam. Netra Elric membulat seketika. Ia tidak menyangka kalau Rino merekam semua yang terjadi semalam. Rino tersenyum seolah mengejek. “Ini!” Rino menunjukkan kertas itu tepat di depan wajah Elric. Elric memicingkan mata, mencoba mencari tahu apa yang tertera di kertas tersebut. Spontan, netra Elric membulat setelah mengetahui kemauan Rino. “Kamu mau aku mundur dari jabatanku?! Dan nolak jadi pewaris?” Elric menatap Rino tajam. Rino mengangguk. Tangannya memegang tablet yang masih memutar video panas itu. “Gampang kan? Apa kamu lebih suka kalau kesehatan Papa memburuk?” ancam Rino lagi. Matanya menatap tajam Elric. Tablet itu didekatkan ke arah wajah Elric. “Bayangin reaksi Papa kalo lihat pemandangan panas ini tersebar di seluruh kota. Dia pasti lebih cepat masuk liang kubur! Hahaha!” Rino tertawa. Elric berusaha menjegal Rino dengan kakinya, tetapi sia-sia. “Jaga mulutmu, Rino!” Elric makin emosi. Rino menjauh dari Elric. Tangan Rino meletakkan surat itu di atas meja. “Well, keputusan ada di tanganmu, El. Setuju atau Papa mati?! Sakitnya bisa tambah parah,” ancam Rino. Elric tertunduk. Dia menghela napas. Tak ada pilihan lain selain setuju. “Oke, oke. Aku setuju. Tapi biarin aku tetap rawat Papa,” Elric mengajukan syarat. Tatapan tajam itu tetap terpancar dari mata Elric. “Oke! Aku juga nggak mau repot ngurus Si Tua Bangka itu.” Rino memberikan aba-aba untuk melepas borgol di tangan Lala dan Elric. Elric membaca kembali dokumen itu. Dia menghela napas. Lalu membubuhkan tanda tangannya. Selesai menandatangani kertas itu, Elric melempar pena, kesal. “Sudah kan?! Sekarang lepasin aku dan Lala!” Rino mengambil kertas itu. Dia tersenyum puas melihat tanda tangan Elric di sana. “Ya, ya! Cepat sana pergi! Sebelum aku berubah pikiran!” Rino menatap tajam Elric. Mereka pun segera keluar dari kamar hotel itu. Lala berjalan dituntun oleh Elric. Langkah kakinya gemetar. “Sembunyiin mukamu, La,” bisik Elric lirih. Lala langsung menuruti hal itu. Dia teringat acara amal yang diadakan di hotel itu. ‘Bener juga! Kenalan dari kampus bisa aja papasan di sini,’ batin Lala sambil menutupi wajahnya dengan jas milik Elric. Tiba di lobi hotel, mobil sedan asing sudah menunggu. Mereka pun segera naik, sebelum ada yang mengenali. “Aku anterin kamu pulang duluan. Di mana rumahmu?” tanya Elric saat memasuki mobil. Mulut Lala seolah kelu. Dia hanya menunjukkan alamat di aplikasi ojol langganannya. “Oke.” Elric menunjukkan alamat itu kepada sopir mobil itu. “Ke dekat alamat ini, Bayu,” perintah Elric. “Baik, Pak!” Sepanjang perjalanan Lala berusaha menghentikan tangisnya tapi sulit. ‘Gue pengen berhenti nangis, tapi nggak bisa-bisa!’ rengek Lala tanpa suara. ‘Masa depan gue udah hancur!’ Ekor mata Elric menangkap air mata yang jatuh membasahi pangkuan Lala. Namun dia tak tahu harus bagaimana menghadapi perempuan malang itu saat ini. Tak lama kemudian, mobil berhenti di sebuah halte. Elric sengaja mencari lokasi yang cukup jauh dari kawasan Universitas Lentera Harapan. “La, maaf. Kamu harus turun di sini,” perintah Elric. “Kita nggak tahu mata siapa yang berkeliaran di dekat sini.” Lala hanya menggamgguk pelan. Tangannya yang masih gemetar membuka pintu mobil itu. “Makasih, Pak,” ujar Lala tanpa memandang Elric. Lala turun tepat di depan halte. Dia berjalan pelan dengan tatapan mata yang seolah kosong. “Jangan nangis di sini. La. Kuat! Kuat! Harus sampe kos dulu.” Lala menyemangati dirinya sendiri. Sesampainya di depan kos Lala tak langsung masuk ke dalam. Dia masih merasa syok dengan peristiwa yang baru saja dialaminya. ‘Dari jutaan manusia di dunia kenapa harus gue? Gue udah dapat banyak cobaan dari kecil,’ batin Lala. Ingatannya kembali mengingat malam panas yang sudah merenggut hartanya yang paling berharga. Ancaman Rino juga seolah terngiang kembali di telinga Lala. “Sekarang, gimana gue pertanggungjawabin semua ini sama Ibu?” ujar Lala lirih. Tubuh mungil itu berjongkok dengan tembok pagar kos sebagai sandaran. Lala memeluk lututnya sendiri. “Lala?!” panggil seseorang. “Ngapain di situ?” Lala menoleh ke arah suara itu. “Rosi ….” sahut Lala lirih. Rosi Audrin. Teman satu kelas dan satu kos dengan Lala. Melihat Lala dalam kondisi menangis, Rosi langsung menghampiri dan memeluk Lala. “Astaga, La! Lo kenapa? Ke mana aja kemarin? Gue bingung nyariin lo semalaman.” Rosi memeluk Lala. Lala hanya bisa menangis. “Gue ….” Suara Lala tertahan. Dia teringat kesepakatannya dengan Elric. Mereka sudah setuju untuk melupakan kejadian semalam. Lala kembali bungkam. Dia hanya menggeleng sambil menatap Rosi. “Ya udah, nggak papa. Yang penting lo udah balik,” hibur Rosi. Rosi menuntun Lala masuk ke kamar kosnya. Dia hanya tertunduk sedari tadi. “Gue mau istirahat, Ros. Please, kasih gue waktu sendirian,” pinta Lala saat Rosi menyerahkan minum kepadanya. Rosi hanya mengangguk. “Iya, La. Lo kalau butuh sesuatu, bilang ya.” Lala tak lagi menjawab, sementara Rosi sudah keluar dan menutup pintu kamar Lala. ‘Dunia kejam banget. Gue nggak suci lagi,’ batin Lala. Lala meringkuk, terbaring di atas tempat tidur sambil memeluk guling. *** Lala memaksakan diri masuk kuliah keesokan harinya. Meski pun tubuh Lala masih demam tinggi. Mungkin karena tekanan stres yang terlalu besar. “La, Lo yakin nggak papa?” Rosi memeriksa dahi Lala. Lala hanya menggeleng. Dia tetap berusaha fokus membaca surat yang harus ditanda tangani itu. Kalau bukan karena Lala adalah ketua Himpunan Mahasiswa Prodi Ilmu Pertanian, mungkin dia sudah mengambil cuti satu semester. Masih banyak tugas yang harus Lala emban. terlebih karena mereka juga aktif mengadakan acara kampus. “Nggak papa, nggak perlu khawatir,” timpal Lala cuek. Tubuh Lala yang terasa tak bertenaga, bersandar penuh pada dinding ruangan sekretariat itu. Pikiran Lala sebenarnya masih kalut karena peristiwa kemarin. Itulah sebabnya, tubuh Lala jadi terpengaruh. “Ini font-nya dirapiin lagi ya. Beda-beda gini. Terus, jangan ada typo. Nih, masih banyak!” Tangan Lala mencorat-coret surat itu. Adik tingkat yang menjadi sekretaris dua hanya mengangguk patuh. Dia segera merevisi surat itu sesuai arahan Lala. “Lu pulang aja duluan, Ros. Gue masih harus ngurusin surat buat event prodi. Harus dapat tanda tangan Pak Nico hari ini.” Lala mengusir halus Rosi. Selain, tidak ingin membuat Rosi khawatir, Lala sebenarnya ingin sendirian dan menenggelamkan diri dalam tumpukan tugas dan pekerjaan di sekretariat. Lagipula, dia harus menyelesaikan tanggung jawabnya secepat mungkin. Namun, sebagai teman terdekatnya, tentu saja Rosi tak tega melihat wajah Lala yang pucat. “Ish! Gue temenin lah. Nanti mau minta tanda tangan ke ruang dosen juga, kan?” Lala hanya mengangguk pelan. “Tapi, gue aja yang minta tanda tangan Pak Nico, Ros. Biar lebih cepat selesai.” “Oke. oke! Seenggaknya ada yang nemenin.” Rosi bersikeras tetap berada di dekat Lala. “Gue takut lo pingsan atau apa di jalan.” Lala pun menyerah. Dia hanya berharap Rosi tidak lagi bertanya dan menyuruhnya pulang. Kalau sendirian lagi, dia pasti menangis mengingat kejadian itu. Setelah beberapa saat, surat untuk event Hima Pertanian sudah selesai direvisi dan dicetak. Sekretaris Hima pun memasukkan surat tersebut ke dalam map. “Kak, ini sudah.” Sang sekretaris segera menyerahkan map coklat tadi. Lala mengangguk dan berterima kasih. Ia membereskan pekerjaannya yang tanggung sebelum beranjak menuju ruang dosen. “Gue ke ruang dosen dulu ya. Minta tanda tangan Pak Nico.” Karena acaranya minggu depan, maka Lala harus segera mendapatkan tanda tangan dosen pembina Hima itu. “Weits! Ayo, gue temenin!” Rosi segera memasukkan ponselnya ke dalam tas dan merangkul tangan Lala. Lala dan Rosi berjalan menuju ke ruangan dosen prodi Pertanian. Di depan ruangan itu terpasang papan besar berisikan nama-nama dosen yang mendiami ruangan itu. “Gue lupa kalau orang itu ada di sini,” gumam Lala tanpa sadar saat membaca nama Elric. Hati Lala sesak kalau mengingat malam panas itu. Rosi yang mendengar gumaman pelan Lala tadi pun mengernyit. “Siapa maksud lo?” Lala mengerjap. Dia lupa kalau ada Rosi di sampingnya. Kemudian ia menggeleng pelan. “Nggak papa. Efek demam.” Lala beralasan. Rosi pun tak melanjutkan rasa penasarannya. Dia membantu mengetuk pelan pintu ruangan dosen itu sambil melihat ke arah ruangan. “Permisi— Eh, Pak Nico ada, La. Ayo, masuk!” Lala dan Rosi pun segera masuk ke dalam ruangan itu. Hanya ada beberapa dosen di sana. Yang lain mungkin sedang mengajar. Kebetulan juga, meja Elric bersebelahan dengan meja Pak Nico. Walau sebenarnya, Elric juga punya ruangan sendiri sebagai wakil direktur Universitas, terkadang dosen tersebut lebih suka menghabiskan waktu bersama rekan dosen lainnya. “Permisi, Pak Nico!” Rosi memulai pembicaraan. “Oh! Lala, Rosi? Ada apa?” Pak Nico yang sedang berbincang dengan Elric langsung teralih perhatiannya. Begitu mendengar nama Lala disebut, mata Elric langsung memandang ke sumber suara. Elric terkejut melihat Lala memakai jaket oversize. Mukanya pun sangat pucat. Dia terlihat lemas dalam gandengan Rosi. ‘Apa dia sakit karena peristiwa kemarin?’ batin Elric semakin merasa bersalah. “Ini, Pak.” Lala menyerahkan map coklat yang dibawanya. “Saya perlu tanda tangan bapak, buat surat izin event hima minggu depan.” “Oh ya, sini duduk dulu.” Pak Nico segera menepikan beberapa buku yang memenuhi mejanya dan meletakkan map tadi. “Kamu keliatan capek dan pucat banget, La? Kenapa?” tanya Pak Nico. Sebagai dosen pembina Hima, dia perlu juga memperhatikan para pengurus Hima agar tidak ada yang sampai memaksakan diri. Pak Nico menambahkan, “Kalau kamu mau istirahat, kasih kerjaan ke pengurus yang lain, La. Jangan memaksakan diri lho!” Kalimat dari Pak Nico semakin membuat Elric merasa bersalah. Lala membuang muka saat Elric menatap ke arahnya. “Nah, ini. Sudah saya tanda tangan.” Pak Nico segera memasukkan lagi surat itu dan menyerahkannya pada Lala. Sang dosen pembina pun melanjutkan, “Kamu mendingan pulang, Lala. Banyak istirahat, jadi minggu depan kamu fit lagi waktu acara!” Lala tersenyum menanggapi kekhawatiran dosen itu. “Terima kasih, Pak!” “Pamit ya, Pak!” Rosi sedikit melambai ke arah Pak Nico dan juga Elric. Sepeninggalan Lala, hati Elric yang memang sudah tak nyaman beberapa hari ini semakin dirundung badai rasa bersalah yang teramat sangat. ‘Kayaknya kami perlu bicara,’ batin Elric. Sang dosen segera membuka layar ponselnya dan mencoba mengirim pesan pada Lala. To Lala: Lala, temui saya segera sore ini di Restoran Green Tulip. Kita harus bicara. Elric juga sekalian mengirim koordinat restoran yang dimaksud, agar Lala tidak tersesat. Sementara itu, di depan pintu ruang dosen, Lala diam berdiri di sana. Dia merasa kesal melihat sikap Elric yang biasa saja. “Hah! Gue yakin dia pasti nggak peduli sama keadaan gue! Dasar dosen sialan!”"Ehm, gimana ya. Gue ada acara sebenarnya," Lala ragu menjawab ajakan Nolan. Mata Lala memandang ke arah Elric. Nampak tatapan mata Elric menatap tajam seolah tak suka. Tatapan itu disembunyikan dengan bermain ponsel. 'Sekali-sekali nonton juga nggak papa kayaknya,' batin Lala. "Lan, gue setuju. Sekalian kita ngobrolin proposal ya. Masih butuh temen lagi nggak buat anggota kelompok?" Lala sengaja mengeraskan suaranya. Tangan Elric tanpa sadar terkepal. Rokok elektrik itu dimatikan dengan kasar. "Bagus kalo lo bisa ikutan. Nanti gue jemput gimana?" Nolan terdengar antusias. Lala tertegun mendengar tawaran itu. "Ehm, filmnya tentang apa sih? Kalo horor gue pikir-pikir lagi. Jawab dulu, gue takut nonton horor." Terdengar suara tawa Nolan. "Nggak kok, tenang. Bukan horor. Fantasi ilmiah, itu film A si alien biru." "Oh, ya gue tahu. Yang punya kuncir itu ya. Tahu, tahu, boleh banget. Besok ketemuan aja deh di mallnya," sahut Lala. Terdengar sambungan telepon itu te
"Iya!" ujar Lala dengan suara lantang. Dia menatap Elric tanpa rasa takut dan ragu. Mata Elric membulat saat mendengar hal itu. Tangannya rasanya ingin memggebrak meja itu namun tertahan. Helaan napas panjang menghembus dari mulutnya. "Aku tak seburuk yang kau pikirkan, La," Elric menghisap lagi rokok elektriknya. Lala dengan santai memakan martabak itu. "Bapak dosen saya jika di kampus. Tapi suami saya jika di rumah. Saya kan hanya digunakan tanpa perasaan saja bukan?" 'Ayo, pria dingin, jawablah! Kau bilang sejujurnya apa yang ada di otakmu itu!' batin Lala. Elric masih nampak diam. Matanya justru menatap ke arah langit yang mulai gelap. "Kau seharusnya memang tak ada di sini," ujar Elric lirih. "Kalo begitu saya pergi saja, Pak," Lala sudah menggenggam ujung kruknya. Elric memegang bahu Lala. "Duduk, kita bicara." Lala tertahan oleh Elric. Dia kembali duduk di kursinya. "Baik, mulai sekarang aku akan meminta izin lebih dahulu," ujar Elric. "Tidak ada min
"Kau masih saja suka melawan!" Elric akhirnya melepas cengkeraman di dagu Lala. Lala berusaha menjauhkan diri dari hadapan Elric. Kursi itu ditarik agar menjauh. Rasa sakit yang ada di kaki diabaikan. "Anak nakal ini juga butuh penjelasan, Pak. Saya manusia bukan benda mati yang hanya digunakan saja!" ujar Lala dengan nada meninggi. Elric tidak menyahut, dia menghela napas. Rokok elektrik itu kembali diambil dan dinyalakan. "Bapak sudah tua sebaiknya jangan merokok," sindir Lala. Mata Elric kembali menatap tajam. "Kau masih berani menyindirku!" balas Elric. Lala hanya menggangguk, ketakutan dalam dirinya dia sembunyikan. "Jika Bapak sakit saya juga yang repot. Proyek akhir saya bisa tertunda," sahut Lala. Mata itu sibuk menatap tulisan pada layar laptop. Elric meletakkan kembali rokok elektrik itu. Dahi Lala langsung dijitak tanpa permisi. "Aduh," keluh Lala. Tangan itu langsung memegang dahinya. "Pak, jangan main kekerasan. Nanti jika saya luka bisa te
"Hah?" Lala tertegun. Dia tidak menyadari kehadiran Elric. "Bapak udah pulang?" "Ehm, kau belum menjawab pertanyaanku!" Elric mendesak Lala. Posisi tubuh Elric berada tepat di depan wajah Lala. Kedua tangan Elric memegang kedua sandaran kursi itu. Lala terkunci tepat di hadapab wajah Elric. "Apa maksud Bapak? Saya nggak paham," Lala membuang pandang. Dia berusaha mengelak. Wajahnya berpaling dari hadapan Elric. "Kau sengaja ya tadi?" Elric mendesak lagi. "Siapa dia?" "Sengaja apa, Pak? Saya cuma ikut lomba seperti biasanya. Kenapa Bapak harus marah? Bukannya harusnya senang mahasiswi bimbingannya ikut lomba?" balas Lala. Dagu Lala dipegang dengan kasar oleh Elric. "Meski rahasia bukan berarti aku tak mengawasimu!" ujar Elric. "Lepaskan!" Lala menepis tangan Elric. Mata Elric membulat saat menyaksikan reaksi tak terduga itu. Terus Bapak maunya apa?" balas Lala. Elric diam. Satu kata pun belum meluncur dari mulutnya. "Pernikahan kita rahasia, Pak. Memangnya s
"Heh?" Lala tertegun sejenak. 'Ada yang mau pedekate sama gue? Duh, gue kan udah married. Tapi nggak papa deh anggap aja temen,' batin Lala. "Kita temenan dulu boleh kan?" sahut Lala. "Tuh, Lala maunya temenan dulu. Lo jangan dar der dor deh," ujar Rosi. Nolan hanya tertawa saja. "Aman-aman, gue nggak gigit kok. Gue orangnya tuh setia dan full of service." "Pinter amat mulut lo promosinya," celetuk Rosi lagi. "Udah, deh. Mau ngerjain proposal ini," protes Nolan. "Ih, modusnya pinter banget ya lo," protes Lala. Nolan nampak menatap ke arah layar laptop,"Nggak modus kok, beneran buat proposal lomba." "Udah, deh. Nanti lagi video call-nya," Nolan menutup panggilan telepon itu. Lala sedikit canggung, dia mulai menyantap kembali potongan buah pisang itu. "Mie-nya enak. Kantin sini emang rekomended. Oh ya, nyicip ya," Nolan dengan santai mengambil potongan pisang dari piring Lala. Lala merasakan Elric masih terus menatap tajam dari kursi tempat dia duduk. '
"Pak Elric," ujar Lala spontan. Nampak Elric sudah menghampiri meja tempat dimana Lala dan Nolan berada. Tatapannya dingin seolah menyimpan amarah. 'Ih, dia ngapain sih? Apa dia kepancing gara-gara gue deket sama Nolan?' batin Lala. "Ini tempat umum, jangan ribut di sini," Elric menatap tajam. "Kami nggak ribut, Pak," Nolan sudah berdiri. Mata Lala membulat melihat tingkah Nolan. Elric masih teguh menatap tajam ke arah Nolan. "Orang datang ke sini untuk makan. Jangan ganggu suasana dengan keributan," ujar Elric lagi. "Ada apa, La?" terdengar suara Rosi. Video call itu masih tersambung. "Ehm, ada Pak Elric. Mungkin baiknya aku sama Nolan pindah tempat ngobrol," Lala bingung harus menjawab apa. Nolan masih berdiri. Dia nampak tak mau mengalah. "Ini kantin, Pak. Bukan kelas, kantin adapah ruang terbuka. Saya dan Lala juga tidak memgganggu sispa pun. Kenapa Bapak harus marah?" tantang Nolan. "Kau udah ditegur masih berani membalas. Sudah saya bilang suara ka







