LOGIN
"Kamar ini ya?"
Acara amal Universitas Lentera Harapan di Hotel Mulia masih berlangsung. 10 menit lalu, seorang kenalan memberitahu Lala jika dosen pembimbing mencarinya. Itulah alasan Lala berdiri di depan pintu kamar nomor 1001. “Kenapa harus di dalam kamar?” Lala sedikit curiga. Tangannya tertahan saat hendak memegang pintu itu. “Oh, mungkin alasan Pak Elric panggil aku ke sini karena data penelitian yang dibahas banyak. Ganteng, sih. Tapi, nyebelin banget. Kalo aku nggak datang, dia pasti bakalan marah-marah terus.” Usai menebak tujuan dosennya, Lala langsung menekan bel kamar. Baru satu kali tekan, pintu terbuka dengan kasar. “Permisi, Pak. Apa bener Bapak panggil saya untuk—” Tubuh Lala langsung ditarik masuk begitu saja. Lala goyah dan hampir tersungkur ke lantai. Tapi, seorang pria langsung menarik ke pelukannya. “Umph!” Pria tersebut menciumi bibir mungil Lala. ‘Pak Elric?’ batin Lala. Benar! Pria yang menciumnya adalah dosen pembimbingnya sendiri—Elric Darmareja. Sosok dosen muda beristri yang tampan, dingin, dan ketus. Jantung Lala berdetak kencang. Kepalanya tertahan oleh kuncian tangan Elric. “Ehm ….” Lala berusaha menutup rapat bibirnya. Tapi, Elric membuka paksa dengan lidah. “Stop, Pak!” Lala berusaha berteriak. Namun, itu justru mempermudah Elric mendapat ciuman yang diinginkannya. “Empphh!” Lala berusaha mendorong agar Elric menjauh. Namun, sia-sia. Elric justru semakin menempelkan tubuhnya. Semakin lama, Lala merasa tubuhnya menyerah dengan sentuhan Elric. Tubuhnya mulai terasa panas yang bergejolak. Tapi, sentuhan Elric mampu meredakannya. ‘Aku kenapa, ya? Tubuh aku kok aneh begini?’ "Ah!" Lala memekik ketika tiba-tiba Elric menggendongnya. Elric berjalan menuju kamar utama dengan langkah panjang. Sesampainya di sana, ia membuka pintu dengan kasar. Lalu, berjalan menuju ranjang besar. Suasana di dalam kamar begitu romantis dengan aroma lilin aromaterapi lavender dan pencahayaan yang temaram. Di atas nakas, terdapat buket bunga mawar beserta kotak berwarna merah, sama seperti mawarnya. Lala mengernyit. “Pak Elric! Sadar, Pak!” seru Lala dengan sisa tenaga yang ada. Namun, Elric seolah tuli. Ia mengabaikan seruan Lala. Lala mencium bau alkohol yang kuat dari diri Elric. 'Astaga! Dia mabuk, ya?’ Elric membaringkan tubuh Lala di atas ranjang. Ia menatapnya dengan penuh gairah. “Pak Elric, mau apa?” Suara Lala yang serak justru semakin membangkitkan hasrat Elric yang tertahan sejak tadi. Namun, panggilan itu seperti percikan api yang memercik ke diri Elric. “Pak, jangan! Empphh .…” Suara Lala tertahan kembali. Bibirnya kembali mendapat serangan dari Elric. “Hah?!” Lala terkejut saat Elric menindih tubuhnya. Lalu dengan perlahan, Elric memainkan lidahnya menelusuri leher Lala hingga ke area dada. “Freya sayang, aku udah lama nungguin kamu. Akhirnya, aku bisa lepasin hasratku malam ini sama kamu.” Telinga Lala menangkap suara Elric. ‘Freya? Itu … Istrinya Pak Elric, kan? Jangan-jangan dia salah ngira aku ini Istrinya?’ Lala ingin bertanya dan menghentikan Elric. Tapi dosennya itu merobek gaunnya dengan kasar. Kini, hanya tertinggal pakaian dalam berwarna hitam dan berenda saja yang melekat di tubuhnya. “Astaga!” teriak Lala, panik. Belum hilang rasa terkejutnya, Elric sudah membuka pakaiannya sendiri. Lalu, melemparkannya ke sembarang tempat. Elric menindih Lala lagi. Napas Lala menjadi terengah-engah. Tapi sentuhan Elric membuat tubuhnya merasa nyaman. “Ah! Sakit, Pak Elric!” Lala mengerang. Ia mencengkram erat sprei saat Elric memaksa kejantanannya masuk ke dalam pertahanan Lala. Elric pun semakin bergairah. “Udah tiga tahun nikah, punyamu ini masih sempit aja, Frey.” ** Pagi hari berikutnya. Lala membuka paksa kedua matanya. Ia menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk. Lalu, ia menatap tangan besar yang memeluk perut ratanya. Lala teringat malam bergairah bersama dosennya. Bagian intimnya berdenyut dan masih terasa sakit. “Astaga!” Teriakan Lala membuat Elric terbangun. Lala buru-buru menjauhi Elric sambil menarik selimut guna menutupi tubuhnya yang masih telanjang. “Lala? Kok kamu di sini?” Elric duduk sambil mencoba mengumpulkan kesadarannya. Setelah memori semalam muncul memenuhi ingatannya, Elric langsung melotot. “Astaga! Saya kira, perempuan yang datang semalam itu Istri saya.” Elric mengamati sekelilingnya. Lalu, turun dari ranjang. Ia mengambil pakaian dan memakainya kembali dengan cepat. ‘Sialan! Minuman semalam pasti dicampur obat perangsang,’ tebak Elric. Sementara itu, Lala menangis. Ia kalut. Karena Elric, ia kehilangan harga dirinya sebagai gadis single yang perawan. “Kenapa Pak Elric ngelakuin ini ke saya? Salah saya apa, Pak?” tanya Lala, lirih. Elric mengikuti arah pandangan Lala yang tertuju pada noda merah di sprei putih bermotif bunga. Elric tertegun. ‘Darah? Jadi, Lala masih perawan?’ Lala merasa, hidupnya sudah berakhir. Masa depan yang seharusnya cerah, kini berubah suram. Keluarganya di desa sangat mengharapkan dia pulang dengan gelar Sarjana Pertanian. Tapi sekarang? Lala merasa malu. Elric memegangi kepalanya. “Kita dijebak!” Elric duduk di sudut kamar membakar rokok. Ia gusar. Ia mengeluarkan ponsel, lalu mengirim pesan untuk asistennya. Elric: Bayu, seseorang menjebak saya. Cari pelakunya! Jemput aku di hotel Borneo. Pakai mobil lain selain mobil yang biasa aku pake ngajar! Tanpa menunggu balasan, Elric menyimpan kembali ponselnya. “Saya ke sini karena seseorang bilang, Bapak manggil saya,” kata Lala, mencoba menjelaskan. Lala telah selesai berpakaian. Tatapannya kosong. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi Elric yang masih merokok. “Jadi, siapa pelakunya?” tanya Lala. Perasaan bersalah menghantui Elric. ‘Gimana aku harus jelasin hal ini ke Freya?’ “Pak, saya nggak tahu apa-apa,” ujar Lala. “Tolong jangan libatin saya.” Elric memandangi mata sembab Lala tanpa berkata-kata. Karena tidak ingin beradu pandang, Lala segera memalingkan wajahnya. ‘Pak Elric udah punya istri cantik. Bu Freya model terkenal. Sedangkan aku? Hidupku hancur berantakan!’ batin Lala. Lala berkata dengan nada memohon, “Pak, tolong jangan kasih tau siapapun masalah ini. Saya nggak mau reputasi saya di kampus hancur.” Karena tidak ada respon, Lala berkata lagi, “Istri Pak Elric kan model terkenal di ibu kota. Kalo kejadian malam ini sampai bocor, reputasi Pak Elric dan keluarga pasti hancur juga. Terus, beasiswa saya pasti dicabut.” Mendengar kata-kata Lala, membuat Elric semakin merasa bersalah. Dengan sikapnya yang tenang, dia mengangguk. Elric mengepalkan tangan. “Awalnya, panitia siapin kamar ini buat saya dan Istri. Kami akan makan malam romantis. Tapi, bukannya Istri saya yang datang, kenapa malah kamu?” Elric memadamkan rokoknya di asbak. “Jelas, ini jebakan. Tapi, ayo kita lupain masalah ini.” Lala memberanikan diri memandang Elric. “Tapi, Pak … gimana kalo orang yang jebak kita mengancam saya?” Elric langsung membalas, “Tenang aja! Asisten saya lagi cari dalangnya.” Elric berdiri. “Ayo pergi!” Lala memaksakan diri untuk berdiri dan mengikuti langkah Elric. Mereka keluar dari dalam kamar utama menuju pintu. Begitu sampai di luar kamar 1001, sekelompok orang telah menunggu. “Wah! Lihat siapa yang baru aja check out!” Baik Lala ataupun Elric sangat mengenali pria yang berseru barusan. Wajah Lala pucat seperti mayat, sementara Elric akhirnya tahu orang yang sudah menjebak mereka. Pria itu adalah Rino Darmareja—rekan seprofesi Elric sekaligus kakak angkat Elric. Elric maju mendekati Rino. Namun, anak buah Rino bergegas memblokir pergerakannya. Mata Elric menyipit. “Bedebah! Jadi kamu otak di balik semua ini, Rino?!” Beberapa anak buah Rino memegangi tangan Elric dan Lala. Tubuh Lala menjadi gemetar. “Buka pintunya dan bawa mereka masuk lagi!” perintah Rino. “Baik,” sahut asisten Rino. Pintu kamar 1001 kembali terbuka. Rino masuk lebih dulu. Kemudian, anak buahnya menyeret Elric dan Lala kembali ke kamar. Karena situasi yang tidak menguntungkan, Elric memutuskan untuk mengikuti permainan Kakak angkatnya. Rino duduk sambil mengangkat kedua kaki ke atas meja oval. “Gimana, Adikku tercinta yang tampan? Puas nggak mencicipi tubuh mahasiswi kamu sendiri?” Rino tertawa angkuh. Rona wajah Rino sumringah karena rencananya telah berhasil. Ia memiringkan kepala. Lalu, melemparkan senyum sinis ke arah Elric yang berdiri bersama Lala di hadapannya. Rino mencibir, “Apa aku perlu telepon Adik ipar, hem?” Elric menoleh ke arah Lala dan melihatnya menangis lagi. Dada Elric bergemuruh naik turun. “Kalo kamu ada masalah, jangan libatin orang lain.” Rino tertawa lagi. Ia berdiri menghampiri Elric. Jari telunjuk Rino menyentuh dada Elric dan mendorongnya. “Elric, jadi orang jangan nggak tahu diri! Mana ucapan makasih kamu?” “Sebagai Kakak, aku tau. Pernikahan kamu sama Freya hambar. Jadi, aku bantu nyariin cewek buat melampiaskan hasrat kamu,” ujar Rino. Hati Lala seperti diremas-remas. Ia tidak habis pikir dengan nasib sial yang menimpanya. “Pak Elric, apa bener begitu?” tanya Lala. Rino melirik Lala. “Diam! Kamu nggak diajak ngomong.” “Saya nggak sangka. Pak Rino yang terkenal friendly, ternyata orang yang nggak berperasaan,” timpal Lala. “Kurang ajar!” pekik Rino. Elric tidak ingin Rino gelap mata dan menyakiti Lala lebih jauh. Karena ia tahu betul karakter Kakak angkatnya ini. “Apa mau kamu?” tanya Elric. Awalnya Rino ingin memberikan pelajaran pada Lala. Tapi begitu mendengar pertanyaan Elric, ia mengurungkan niatnya. Rino menepuk pundak Elric. “Hahaha! Gitu dong. Seandainya kamu sadar dari awal, mahasiswi kesayangan kamu ini nggak bakalan aku seret ke dalam masalah kita.” Jantung Lala berdegup kencang mendengar obrolan mereka. Ia tidak bisa berhenti menangis dan membayangkan nasib selanjutnya. ‘Apa mereka akan jadiin aku sebagai jaminan? Atau alat tukar?’ pikir Lala. Rino kembali duduk. “Elric, kamu kan anak kesayangan Papa Zen. Gimana kalo aku hancurin harga diri kamu?”"Ehm, gimana ya. Gue ada acara sebenarnya," Lala ragu menjawab ajakan Nolan. Mata Lala memandang ke arah Elric. Nampak tatapan mata Elric menatap tajam seolah tak suka. Tatapan itu disembunyikan dengan bermain ponsel. 'Sekali-sekali nonton juga nggak papa kayaknya,' batin Lala. "Lan, gue setuju. Sekalian kita ngobrolin proposal ya. Masih butuh temen lagi nggak buat anggota kelompok?" Lala sengaja mengeraskan suaranya. Tangan Elric tanpa sadar terkepal. Rokok elektrik itu dimatikan dengan kasar. "Bagus kalo lo bisa ikutan. Nanti gue jemput gimana?" Nolan terdengar antusias. Lala tertegun mendengar tawaran itu. "Ehm, filmnya tentang apa sih? Kalo horor gue pikir-pikir lagi. Jawab dulu, gue takut nonton horor." Terdengar suara tawa Nolan. "Nggak kok, tenang. Bukan horor. Fantasi ilmiah, itu film A si alien biru." "Oh, ya gue tahu. Yang punya kuncir itu ya. Tahu, tahu, boleh banget. Besok ketemuan aja deh di mallnya," sahut Lala. Terdengar sambungan telepon itu te
"Iya!" ujar Lala dengan suara lantang. Dia menatap Elric tanpa rasa takut dan ragu. Mata Elric membulat saat mendengar hal itu. Tangannya rasanya ingin memggebrak meja itu namun tertahan. Helaan napas panjang menghembus dari mulutnya. "Aku tak seburuk yang kau pikirkan, La," Elric menghisap lagi rokok elektriknya. Lala dengan santai memakan martabak itu. "Bapak dosen saya jika di kampus. Tapi suami saya jika di rumah. Saya kan hanya digunakan tanpa perasaan saja bukan?" 'Ayo, pria dingin, jawablah! Kau bilang sejujurnya apa yang ada di otakmu itu!' batin Lala. Elric masih nampak diam. Matanya justru menatap ke arah langit yang mulai gelap. "Kau seharusnya memang tak ada di sini," ujar Elric lirih. "Kalo begitu saya pergi saja, Pak," Lala sudah menggenggam ujung kruknya. Elric memegang bahu Lala. "Duduk, kita bicara." Lala tertahan oleh Elric. Dia kembali duduk di kursinya. "Baik, mulai sekarang aku akan meminta izin lebih dahulu," ujar Elric. "Tidak ada min
"Kau masih saja suka melawan!" Elric akhirnya melepas cengkeraman di dagu Lala. Lala berusaha menjauhkan diri dari hadapan Elric. Kursi itu ditarik agar menjauh. Rasa sakit yang ada di kaki diabaikan. "Anak nakal ini juga butuh penjelasan, Pak. Saya manusia bukan benda mati yang hanya digunakan saja!" ujar Lala dengan nada meninggi. Elric tidak menyahut, dia menghela napas. Rokok elektrik itu kembali diambil dan dinyalakan. "Bapak sudah tua sebaiknya jangan merokok," sindir Lala. Mata Elric kembali menatap tajam. "Kau masih berani menyindirku!" balas Elric. Lala hanya menggangguk, ketakutan dalam dirinya dia sembunyikan. "Jika Bapak sakit saya juga yang repot. Proyek akhir saya bisa tertunda," sahut Lala. Mata itu sibuk menatap tulisan pada layar laptop. Elric meletakkan kembali rokok elektrik itu. Dahi Lala langsung dijitak tanpa permisi. "Aduh," keluh Lala. Tangan itu langsung memegang dahinya. "Pak, jangan main kekerasan. Nanti jika saya luka bisa te
"Hah?" Lala tertegun. Dia tidak menyadari kehadiran Elric. "Bapak udah pulang?" "Ehm, kau belum menjawab pertanyaanku!" Elric mendesak Lala. Posisi tubuh Elric berada tepat di depan wajah Lala. Kedua tangan Elric memegang kedua sandaran kursi itu. Lala terkunci tepat di hadapab wajah Elric. "Apa maksud Bapak? Saya nggak paham," Lala membuang pandang. Dia berusaha mengelak. Wajahnya berpaling dari hadapan Elric. "Kau sengaja ya tadi?" Elric mendesak lagi. "Siapa dia?" "Sengaja apa, Pak? Saya cuma ikut lomba seperti biasanya. Kenapa Bapak harus marah? Bukannya harusnya senang mahasiswi bimbingannya ikut lomba?" balas Lala. Dagu Lala dipegang dengan kasar oleh Elric. "Meski rahasia bukan berarti aku tak mengawasimu!" ujar Elric. "Lepaskan!" Lala menepis tangan Elric. Mata Elric membulat saat menyaksikan reaksi tak terduga itu. Terus Bapak maunya apa?" balas Lala. Elric diam. Satu kata pun belum meluncur dari mulutnya. "Pernikahan kita rahasia, Pak. Memangnya s
"Heh?" Lala tertegun sejenak. 'Ada yang mau pedekate sama gue? Duh, gue kan udah married. Tapi nggak papa deh anggap aja temen,' batin Lala. "Kita temenan dulu boleh kan?" sahut Lala. "Tuh, Lala maunya temenan dulu. Lo jangan dar der dor deh," ujar Rosi. Nolan hanya tertawa saja. "Aman-aman, gue nggak gigit kok. Gue orangnya tuh setia dan full of service." "Pinter amat mulut lo promosinya," celetuk Rosi lagi. "Udah, deh. Mau ngerjain proposal ini," protes Nolan. "Ih, modusnya pinter banget ya lo," protes Lala. Nolan nampak menatap ke arah layar laptop,"Nggak modus kok, beneran buat proposal lomba." "Udah, deh. Nanti lagi video call-nya," Nolan menutup panggilan telepon itu. Lala sedikit canggung, dia mulai menyantap kembali potongan buah pisang itu. "Mie-nya enak. Kantin sini emang rekomended. Oh ya, nyicip ya," Nolan dengan santai mengambil potongan pisang dari piring Lala. Lala merasakan Elric masih terus menatap tajam dari kursi tempat dia duduk. '
"Pak Elric," ujar Lala spontan. Nampak Elric sudah menghampiri meja tempat dimana Lala dan Nolan berada. Tatapannya dingin seolah menyimpan amarah. 'Ih, dia ngapain sih? Apa dia kepancing gara-gara gue deket sama Nolan?' batin Lala. "Ini tempat umum, jangan ribut di sini," Elric menatap tajam. "Kami nggak ribut, Pak," Nolan sudah berdiri. Mata Lala membulat melihat tingkah Nolan. Elric masih teguh menatap tajam ke arah Nolan. "Orang datang ke sini untuk makan. Jangan ganggu suasana dengan keributan," ujar Elric lagi. "Ada apa, La?" terdengar suara Rosi. Video call itu masih tersambung. "Ehm, ada Pak Elric. Mungkin baiknya aku sama Nolan pindah tempat ngobrol," Lala bingung harus menjawab apa. Nolan masih berdiri. Dia nampak tak mau mengalah. "Ini kantin, Pak. Bukan kelas, kantin adapah ruang terbuka. Saya dan Lala juga tidak memgganggu sispa pun. Kenapa Bapak harus marah?" tantang Nolan. "Kau udah ditegur masih berani membalas. Sudah saya bilang suara ka







