Home / Romansa / Istri Kedua Dosen Dingin / Bab 69. Sambutan Atau Sindiran?

Share

Bab 69. Sambutan Atau Sindiran?

Author: Miss Caya 88
last update Last Updated: 2026-02-02 23:46:12
"Saya masih kuat, Pak. Bapak tidak perlu khawatir," Lala mengarahkan perhatiannya ke layar ponsel.

"Acaranya sudah mulai, Pak," celetuk Pak Nico.

Nampak MC dari salah satu anggota hima mulai membuka acara. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ada dua MC yang dipilih untuk menyemarakkan acara.

"Baiklah, setelah doa dan pembukaan, mari kita dengarkan sambutan dari dosen perwakilan panitian OSPEK jurusan prodi pertanian tahun ajaran ini, kepada saudari Rosi dipersilakan," ujar MC itu.

Rosi se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Kedua Dosen Dingin    Bab 77. Ayo Ikut Aku!

    "Ehm, gimana ya. Gue ada acara sebenarnya," Lala ragu menjawab ajakan Nolan. Mata Lala memandang ke arah Elric. Nampak tatapan mata Elric menatap tajam seolah tak suka. Tatapan itu disembunyikan dengan bermain ponsel. 'Sekali-sekali nonton juga nggak papa kayaknya,' batin Lala. "Lan, gue setuju. Sekalian kita ngobrolin proposal ya. Masih butuh temen lagi nggak buat anggota kelompok?" Lala sengaja mengeraskan suaranya. Tangan Elric tanpa sadar terkepal. Rokok elektrik itu dimatikan dengan kasar. "Bagus kalo lo bisa ikutan. Nanti gue jemput gimana?" Nolan terdengar antusias. Lala tertegun mendengar tawaran itu. "Ehm, filmnya tentang apa sih? Kalo horor gue pikir-pikir lagi. Jawab dulu, gue takut nonton horor." Terdengar suara tawa Nolan. "Nggak kok, tenang. Bukan horor. Fantasi ilmiah, itu film A si alien biru." "Oh, ya gue tahu. Yang punya kuncir itu ya. Tahu, tahu, boleh banget. Besok ketemuan aja deh di mallnya," sahut Lala. Terdengar sambungan telepon itu te

  • Istri Kedua Dosen Dingin    Bab 76. Sampai Kapan Harus Sembunyi?

    "Iya!" ujar Lala dengan suara lantang. Dia menatap Elric tanpa rasa takut dan ragu. Mata Elric membulat saat mendengar hal itu. Tangannya rasanya ingin memggebrak meja itu namun tertahan. Helaan napas panjang menghembus dari mulutnya. "Aku tak seburuk yang kau pikirkan, La," Elric menghisap lagi rokok elektriknya. Lala dengan santai memakan martabak itu. "Bapak dosen saya jika di kampus. Tapi suami saya jika di rumah. Saya kan hanya digunakan tanpa perasaan saja bukan?" 'Ayo, pria dingin, jawablah! Kau bilang sejujurnya apa yang ada di otakmu itu!' batin Lala. Elric masih nampak diam. Matanya justru menatap ke arah langit yang mulai gelap. "Kau seharusnya memang tak ada di sini," ujar Elric lirih. "Kalo begitu saya pergi saja, Pak," Lala sudah menggenggam ujung kruknya. Elric memegang bahu Lala. "Duduk, kita bicara." Lala tertahan oleh Elric. Dia kembali duduk di kursinya. "Baik, mulai sekarang aku akan meminta izin lebih dahulu," ujar Elric. "Tidak ada min

  • Istri Kedua Dosen Dingin    Bab 75. Dinginkan Kepalamu, Pak!

    "Kau masih saja suka melawan!" Elric akhirnya melepas cengkeraman di dagu Lala. Lala berusaha menjauhkan diri dari hadapan Elric. Kursi itu ditarik agar menjauh. Rasa sakit yang ada di kaki diabaikan. "Anak nakal ini juga butuh penjelasan, Pak. Saya manusia bukan benda mati yang hanya digunakan saja!" ujar Lala dengan nada meninggi. Elric tidak menyahut, dia menghela napas. Rokok elektrik itu kembali diambil dan dinyalakan. "Bapak sudah tua sebaiknya jangan merokok," sindir Lala. Mata Elric kembali menatap tajam. "Kau masih berani menyindirku!" balas Elric. Lala hanya menggangguk, ketakutan dalam dirinya dia sembunyikan. "Jika Bapak sakit saya juga yang repot. Proyek akhir saya bisa tertunda," sahut Lala. Mata itu sibuk menatap tulisan pada layar laptop. Elric meletakkan kembali rokok elektrik itu. Dahi Lala langsung dijitak tanpa permisi. "Aduh," keluh Lala. Tangan itu langsung memegang dahinya. "Pak, jangan main kekerasan. Nanti jika saya luka bisa te

  • Istri Kedua Dosen Dingin    Bab 74. Memang Bapak Cemburu?

    "Hah?" Lala tertegun. Dia tidak menyadari kehadiran Elric. "Bapak udah pulang?" "Ehm, kau belum menjawab pertanyaanku!" Elric mendesak Lala. Posisi tubuh Elric berada tepat di depan wajah Lala. Kedua tangan Elric memegang kedua sandaran kursi itu. Lala terkunci tepat di hadapab wajah Elric. "Apa maksud Bapak? Saya nggak paham," Lala membuang pandang. Dia berusaha mengelak. Wajahnya berpaling dari hadapan Elric. "Kau sengaja ya tadi?" Elric mendesak lagi. "Siapa dia?" "Sengaja apa, Pak? Saya cuma ikut lomba seperti biasanya. Kenapa Bapak harus marah? Bukannya harusnya senang mahasiswi bimbingannya ikut lomba?" balas Lala. Dagu Lala dipegang dengan kasar oleh Elric. "Meski rahasia bukan berarti aku tak mengawasimu!" ujar Elric. "Lepaskan!" Lala menepis tangan Elric. Mata Elric membulat saat menyaksikan reaksi tak terduga itu. Terus Bapak maunya apa?" balas Lala. Elric diam. Satu kata pun belum meluncur dari mulutnya. "Pernikahan kita rahasia, Pak. Memangnya s

  • Istri Kedua Dosen Dingin    Bab 73. Dar Der Dor Pedekate

    "Heh?" Lala tertegun sejenak. 'Ada yang mau pedekate sama gue? Duh, gue kan udah married. Tapi nggak papa deh anggap aja temen,' batin Lala. "Kita temenan dulu boleh kan?" sahut Lala. "Tuh, Lala maunya temenan dulu. Lo jangan dar der dor deh," ujar Rosi. Nolan hanya tertawa saja. "Aman-aman, gue nggak gigit kok. Gue orangnya tuh setia dan full of service." "Pinter amat mulut lo promosinya," celetuk Rosi lagi. "Udah, deh. Mau ngerjain proposal ini," protes Nolan. "Ih, modusnya pinter banget ya lo," protes Lala. Nolan nampak menatap ke arah layar laptop,"Nggak modus kok, beneran buat proposal lomba." "Udah, deh. Nanti lagi video call-nya," Nolan menutup panggilan telepon itu. Lala sedikit canggung, dia mulai menyantap kembali potongan buah pisang itu. "Mie-nya enak. Kantin sini emang rekomended. Oh ya, nyicip ya," Nolan dengan santai mengambil potongan pisang dari piring Lala. Lala merasakan Elric masih terus menatap tajam dari kursi tempat dia duduk. '

  • Istri Kedua Dosen Dingin    Bab 72. Ingat Siapa Dirimu!

    "Pak Elric," ujar Lala spontan. Nampak Elric sudah menghampiri meja tempat dimana Lala dan Nolan berada. Tatapannya dingin seolah menyimpan amarah. 'Ih, dia ngapain sih? Apa dia kepancing gara-gara gue deket sama Nolan?' batin Lala. "Ini tempat umum, jangan ribut di sini," Elric menatap tajam. "Kami nggak ribut, Pak," Nolan sudah berdiri. Mata Lala membulat melihat tingkah Nolan. Elric masih teguh menatap tajam ke arah Nolan. "Orang datang ke sini untuk makan. Jangan ganggu suasana dengan keributan," ujar Elric lagi. "Ada apa, La?" terdengar suara Rosi. Video call itu masih tersambung. "Ehm, ada Pak Elric. Mungkin baiknya aku sama Nolan pindah tempat ngobrol," Lala bingung harus menjawab apa. Nolan masih berdiri. Dia nampak tak mau mengalah. "Ini kantin, Pak. Bukan kelas, kantin adapah ruang terbuka. Saya dan Lala juga tidak memgganggu sispa pun. Kenapa Bapak harus marah?" tantang Nolan. "Kau udah ditegur masih berani membalas. Sudah saya bilang suara ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status