Home / Romansa / Istri Kedua Om Kael / Kenapa harus aku?

Share

Istri Kedua Om Kael
Istri Kedua Om Kael
Author: Mom Three

Kenapa harus aku?

Author: Mom Three
last update publish date: 2026-06-18 21:06:30

Kamar pengantin yang luas itu terasa begitu menyesakkan bagi Aluna Diandra. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya keemasan yang hangat, tetapi kehangatan itu tak sanggup mengusir dingin yang merayapi tubuhnya.

Gadis berusia dua puluh tahun itu duduk di tepi ranjang sambil menangis sesenggukan. Bahu kecilnya bergetar hebat saat air mata terus menetes tanpa henti.

Di hadapannya, Kael Arlando berdiri dengan tatapan yang sulit dibaca. Pria itu kemudian berjongkok hingga posisi mereka sejajar.

"Kenapa kamu menangis, Nuna?" Suaranya rendah dan tenang, tetapi tetap menyimpan jarak yang tak tersentuh.

Perlahan, Kael mengangkat dagu Nuna dan memaksanya bertatapan. Namun, Nuna segera menunduk kembali. Ia tidak sanggup menghadapi tatapan yang terlalu tajam dan menekan itu.

"Kenapa Om mau menikah denganku?" suara Nuna bergetar. "Usia kita terpaut jauh. Om juga sudah punya istri."

Kael terdiam sejenak. Sorot matanya mengamati wajah gadis yang kini resmi menjadi istrinya—wajah yang terlalu muda untuk situasi semacam ini.

"Nuna," Kael mengembuskan napas pelan. "Bukan aku yang meminta semua ini. Kedua orang tuamu yang datang kepadaku. Tapi ada alasan yang kuat, aku menginginkan pernikahan ini."

Nuna memberanikan diri menatap mata tegas Kael.

"Apa?"

"Belum waktunya kamu tahu. Yang harus kamu pahami adalah... sekarang kamu membawa nama Arlando di belakang namamu."

Kalimat itu bagai pisau yang mengoyak luka di hati Nuna. Jadi benar, ia dijual, bukan dinikahkan. Dan embel-embel Arlando seperti mandat yang berat yang harus ia pikul.

Jari Kael bergerak perlahan menghapus air mata di pipi Nuna. Sentuhan itu membuat Nuna membeku.

"Kamu tidak perlu takut," bisik Kael jauh lebih pelan. "Aku tidak akan menyakitimu."

Nuna memberanikan diri menatap sepasang mata hazel di hadapannya. Di balik ketajamannya, Nuna melihat sesuatu yang lain: sesuatu yang gelap dan terluka.

"Apa yang sebenarnya Om inginkan dariku?"

Kael tersenyum tipis—sebuah senyuman yang justru membuat Nuna gelisah. Tiba-tiba, tangan Kael melingkar di pinggang Nuna dan menariknya hingga gadis itu kehilangan keseimbangan.

"Om!" Nuna terkejut saat tubuhnya jatuh ke pangkuan Kael. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan.

Kael mendekat hingga napasnya terasa di kulit Nuna. "Asalkan kamu menurut," bisik pria itu di dekat telinganya, "aku tidak akan pernah menyakitimu."

Tubuh Nuna menegang, ujung jarinya terasa dingin, dan wajahnya seketika memucat. "Tapi... bagaimana dengan Mba Ayu?"

Pertanyaan itu seketika mengubah ekspresi Kael. Tatapannya mengeras. Kilatan kebencian terpancar jelas dari matanya.

"Aku sudah menyiapkan rumah untukmu," ujar Kael seraya bersandar. "Aku tidak mungkin membiarkan kalian tinggal berdua."

"Tidak akan?" lirih Nuna.

"Aku bisa berada lebih lama bersamamu," tatapan Kael menajam, "atau lebih lama bersama Ayu. Siapa pun yang mampu mengambil hatiku."

Jantung Nuna serasa berhenti berdetak. Namun sebelum ia sempat mencerna ucapan itu, suara langkah kaki terdengar dari balik pintu.

Kael menoleh. Di luar sana, seorang wanita berdiri mematung sambil menggenggam map hijau. Napasnya memburu dan matanya memerah.

Ayu Diah Prameswara—istri pertama Kael.

Air mata Ayu mengalir tanpa bisa ditahan. "Mas Kael..." suaranya lirih, sarat akan luka dan amarah. "Sebenarnya apa maumu? Kenapa kamu tidak menceraikanku, tapi justru menikahi wanita lain? Dan wanita itu jauh lebih muda dariku."

Brak!

Kael menyunggingkan senyum tipis yang makin mengoyak hati Ayu. "Siapa di sana?"

Ayu terhenyak, lalu menjawab dengan suara parau, "Aku, Mas."

"Masuk."

Klik.

Pintu terbuka. Tatapan Ayu langsung membeku melihat Nuna masih berada di pangkuan Kael. Rasa cemburu yang ditahannya seketika meledak. Wajahnya memucat, tetapi matanya menyala penuh kebencian.

"Kamu..." tatapan Ayu tertuju tajam pada Nuna.

"Mba Ayu..." Nuna berusaha turun dari pangkuan Kael, tetapi Kael justru makin mempererat pelukannya.

"Jangan panggil aku Mba!" potong Ayu tajam.

Suasana kamar mendadak mendingin.

"Kamu hanya orang miskin yang menginginkan harta suamiku. Dasar gadis bodoh, rela menjual tubuhmu demi uang!" Ayu tersenyum remeh.

"Maaf..." ucap Nuna tak berdaya. Ia meremas ujung bajunya saat dadanya terasa makin sesak. Padahal, ia tak menerima sepeser pun uang dari ayahnya.

Kael berdiri. Sorot matanya menjadi gelap saat ia menggeser tubuh Nuna dengan lembut.

"Jaga ucapanmu, Ayu! Kamu tidak berhak berkata seperti itu di depan Nuna. Dia madumu, hormati dia selayaknya."

"Cih! Aku nggak pernah menganggap dia sebagai maduku, Mas!" Ayu menatap Kael yang kini terasa sangat asing. Dulu pria itu begitu mencintainya, tetapi sekarang telah berubah total.

"Di sini aku yang berhak mengatur semuanya," tegas Kael.

"Mas..." Mata Ayu berkaca-kaca.

"Untuk apa kamu menguping malam pertamaku, Ayu? Kamu sudah tidak sabar menunggu jatahmu?" Ucapan itu seperti sengaja Kael ucapkan.

"Ucapanmu sangat memalukan, Mas!"

Kael tersenyum puas melihat wajah istrinya yang memerah padam karena cemburu.

"Jangan pernah salahkan Nuna atas pernikahan ini. Kalau kamu tanya kenapa, harusnya kamu tanya pada dirimu sendiri."

Ayu membuang muka. Ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan.

"Aku nggak ada waktu untuk membahas hal tak penting itu, Mas. Aku ingin bicara berdua denganmu."

"Bicara di sini saja," sahut Kael dingin.

"Nggak bisa!"

Sikap menantang Ayu memancing amarah Kael.

"Jika kamu tidak mau bicara di sini, lebih baik tidak usah sekalian!"

Ayu kembali menatap madunya dengan kebencian yang kian dalam.

"Kenapa aku harus tunduk padamu, Kael? Kalau bukan karena alasan ini, aku nggak akan sudi berada di sini!"

BRAK!

Ayu melemparkan map hijau itu tepat ke dada Kael.

Kael menangkapnya dan membuka dokumen itu perlahan. Sorot matanya makin menajam setelah membaca isi surat dari Rumah Sakit Setiadi.

"Sekarang aku hamil, Mas."

"Apa? Kamu hamil?" suara Kael bergetar. Ia menelan ludah dengan kasar, seolah tak percaya dengan apa yang dibacanya.

Kael mendongak, menatap Ayu dengan raut wajah mengeras. "Siapa anak yang ada di rahimmu, Ayu?"

"A-apa maksudmu, Mas?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kedua Om Kael   Bab Kediaman Alpha

    "Apa kamu baik-baik saja di sini?" Nuna tersenyum tenang khasnya. "Aku baik-baik saja, Om.""Kamu bisa ubah panggilanmu sekarang, Nuna.""Emmm..." Nuna terlihat canggung. "Mas... Emmm.. Mas Kael?" salah satu alis Nuna naik ke atas. Ada senyum tersembunyi di balik wajah Kael. Pria itu masih berdiri di teras. Menatap sosok istri kedua dari ujung kaki hingga rambutnya. Nuna terlihat baik-baik saja. Bahkan dari kacamata yang ia lihat, gadis yang masih berusia dua puluh tahunan itu terlihat tampil lebih cantik. "Mas kesini kenapa nggak kasih kabar dulu?""Apa perlu aku memberitahumu? Aku bisa datang kapan saja semauku. Bahkan sebaliknya, Nuna."Nuna menaikkan bahunya. "Ya, aku tahu itu.""Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Kael dengan serius. "Baik, Mas."Kael berjalan lebih dulu masuk ke dalam perumahan mewah di kota Alpha itu. Semua interiornya adalah pilihan Nuna. Tidak buruk, bahkan terlihat elegan. Mereka duduk di ruang tengah, di sana ada lukisan yang baru

  • Istri Kedua Om Kael   Bab 13 Jatah Istri Kedua

    "Mas kamu mau kemana?" Kael berhenti sejenak. Sopirnya, Pak Handi membawakan koper berukuran kecil miliknya ke dalam mobil yang terparkir di halaman depan. "Hari ke empat dan lima,enam, aku ke rumah Nuna."Tangan Ayu mengepal dikedua sisi tubuhnya. Ia tak bisa protes apa yang sudah menjadi keputusan suaminya. Meskipun dalam hatinya ia merasa marah dan kecewa. "Oh ya, aku lupa. Kapan kamu akan pulang, Mas? Bukannya pekerjaanmu di sini, dan rumah Nuna ada di kota Alpha akan mengganggu waktumu?"Kael tersenyum dingin. "Aku sudah atur semuanya. Mungkin aku akan membuka cabang di kota Alpha. Ini baru rencana. Ya seperti yang kamu katakan, bolak balik dari sini ke rumah Nuna pasti sangat lelah."Mendengar ucapan Kael yang begitu tenang membuat genggaman tangan Ayu semakin mengepal erat. "A-Apa? Kamu akan membuat kantor cabang di sana?" Wajah Ayu sudah panik. "Iya. Ada yang salah?"Kael menjeda kalimatnya sejenak. Lalu menatap Ayu beberapa detik. "Aku bisa melakukan apa saja yang aku m

  • Istri Kedua Om Kael   Bab 12 Jika Ayu tidak mengandung anakku...

    Layar ponsel di tangan Kael menyala menampilkan notifikasi pesan singkat. Pengirimnya adalah Dokter Bayu—spesialis andrologi terkemuka yang menangani serangkaian pemeriksaan medis terkait kesuburan pria.[Pak Kael, hasil dari lab sudah keluar. Saya harap Pak Kael bisa menemui saya siang ini. Ada hal yang ingin saya katakan.]Seketika, udara di dalam kabin mobil terasa menipis. Pesan singkat itu tidak memberikan vonis secara langsung, namun cara penyampaiannya justru menyiksa batin Kael. Istilah medis mengenai kesuburan pria yang kerap menguji apakah seorang laki-laki memiliki kualitas sp3rma yang memadai untuk membuahi—berputar liar di kepalanya. Secara ilmiah, infertilitas pria dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan produksi sperma (seperti varikokel atau ketidakseimbangan hormon), penyumbatan saluran sperma, hingga faktor genetik dan gaya hidup.(sumber : google)Jika hasil laboratorium nanti menyatakan dirinya mandul, maka segalanya menjadi terang benderang. Ket

  • Istri Kedua Om Kael   Bab 11

    Hari ini hari yang dinanti oleh Aluna Diandra. Meneruskan kuliah yang sempat tertunda. Supir turun membuka pintu mobil SUV Hitam di depan gerbang Universitas Alpha. "Silahkan, Nona.""Terima kasih, Pak."Nuna melempar senyum pada Pak Dani, supir pribadi Kael. Pak Dani membungkuk. "Sama-sama, Nona."Kaki jenjang itu berjalan memasuki area kampus bergengsi di kota Alpha. Tidak sembarang orang-orang yang bisa masuk ke dalam universitas tersebut. Hanya orang-orang beruntung dan mempunyai koneksi saja. Dan Nuna, salah satu di dalamnya. Semua mata tertuju pada gadis bermata hazel itu. Tidak dipungkiri, Nuna memang cantik. Wajahnya terlihat tenang. "Aku nggak perduli dengan penilaian orang. Bukan itu yang aku cari di sini. Aku hanya ingin memanfaatkan fasilitasku sebagai istri kedua Om Kael," batinnya. "Hidupku sudah cukup pedih. Dan aku nggak ingin terus menjadi bodoh," imbuhnya. Ia terus berjalan menyusuri kampus Alpha. Kampus yang masih terasa asing untuknya. Ya, tujuan Nuna hanya

  • Istri Kedua Om Kael   Rahasia Ayu

    "Om, tunggu," ucap Nuna menghentikan langkah Kael. "Om, Kondisi Mba Ayu masih lemah. Kenapa Om pergi begitu saja." Sorot mata Kael tajam, menyimpan marah yang hampir saja meledak. "Kamu tahu, pria yang berpapasan denganmu di lobby?" Nuna seketika mengingat. "Ya.." "Dia sahabatku," balas Kael. "Terus kenapa dengan dia? Apa hubungannya dengan Mba Ayu?" Tatapan tajam Kael melesat tepat pada Nara. Seluruh bulu kuduknya merinding. "Kamu polos atau memang bodoh, Nara?" Lalu Nunamengernyit. "Maksud Om Kael... Pria itu..." "Mereka sudah berselingkuh sejak lama. Ayu merahasiakan semua ini dariku. Dia pikir aku tidak tahu apa-apa." Nuna menelan ludahnya. "Jadi... Ini alasan Om menikahi aku?" Kael menghela nafasnya. "Aku ingin membalas dendamku pada Ayu." Memang bodoh. Kenapa saat mendengar alasan Kael menikahinya karena balas dendam pada istrinya, justru Nuna merasa sakit hati. Bukannya ini bagus. Tapi perlakuan Kael padanya memang tidak terlalu buruk. Tidak s

  • Istri Kedua Om Kael   Ancaman Ayu

    Langkah Kael terhenti persis di ambang pintu. Tatapan matanya yang dingin sempat mencermati gesture Ayu—penuh dengan intrik dan kebencian yang terang-terangan diarahkan pada wanita di sampingnya. Di sisi Kael, Nuna mendongak pelan. Ada binar ketakutan dan ketidaknyamanan yang terpancar jelas dari manik matanya. "A-aku..." cicit Nuna, suaranya tercekat di tenggorokan. "Aku yang menyuruhnya datang ke sini," potong Kael cepat. Suara baritonnya memotong udara, menyisakan gema tegas yang seketika membungkam Ayu maupun Bu Rindu. Ayu mendesis sinis. "Lain kali, nggak usah bawa gundikmu ini, Mas. Aku nggak sudi melihat dia ada di sini!" Kael langsung menatap Ayu dengan sorot mata yang tajam. "Jangan sebut Nuna dengan sebutan yang tak pantas itu, Ayu! Apa kamu pikir kamu lebih baik darinya?" Ayu tersenyum pelik. "Kamu selalu membela dia di depanku, Mas. Kamu lupa semuanya? Semua tentang kita? " Kael berdehem pelan. Ia menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menampilkan gestu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status