LOGIN“Kaiden, coba lihat? Buket bunganya sangat indah, bukan?” Sang ibu mendongak, menatap ke arah Kaiden yang berdiri di puncak tangga sambil memperlihatkan buketnya.Kaiden menaikkan satu alisnya. “Dari mana Ibu mendapatkannya?”“Dari dua orang anak kecil—”Sebelum ucapan ibunya sempat terselesaikan, sebuah ledakan besar mendadak terdengar. Dalam sedetik, tubuh ibunya hancur lebur tanpa menyisakan apa pun.Kaiden membelalak, tangannya terulur, tetapi tubuhnya sudah terlempar ke belakang, menghantam dinding, lalu jatuh ke lantai yang telah retak. Aroma hangus dan karat darah memenuhi penciumannya.Kaiden mencoba menarik napas, tetapi dadanya terasa dihimpit keras. Dunianya berputar di sekelilingnya dan pandangannya menggelap.“Ibu...” panggilnya lirih. Darah terasa mengalir di sisi tubuhnya. “Ibu...”Tidak ada jawaban.“Ibu!”Masih tidak ada respon.Kaiden akhirnya berteriak sekuat tenaga, “IBU!”“Ibumu sudah mati, bodoh!”Sebuah tamparan keras melayang di pipi Kaiden. Ia membuka mata de
“Lepaskan tangan anak itu,” perintah Kaiden.Suaranya kelewat tenang, berbanding terbalik dengan ekspresinya yang mematikan. Tatapan matanya menusuk, dan ada ancaman yang nyata di dalamnya.Anna sudah pasti akan menerima hukuman atas ‘pemberontakan’ yang ia lakukan.Dan itu bukan hukuman ringan.Anna berada dalam masalah besar. Masalah yang sangat besar.Namun, ia merasa enggan untuk melepaskan tangan anak malang di hadapannya.Ia tidak bisa pergi begitu saja. Ia harus melakukan sesuatu.“Aku bilang, lepaskan tangan anak itu, Annalise York.” Kaiden mengulang ucapannya dengan suara sedingin es.Anna menggeleng pelan dan rahang Kaiden mengeras. Tangan kirinya terkepal kuat, sementara tangan kanannya yang memegang pistol menegang.Jantung Anna berdebar tak karuan. Ia melirik anak yang menunduk takut dibalik jeruji dan hatinya terasa ditusuk-tusuk.Apa yang harus ia lakukan? Apakah mungkin baginya untuk meminta pengampunan untuk anak ini?“Lepaskan tangannya. Ini peringatan terakhir.” Kai
Tidak mungkin...Anna mendekat dengan kaki gemetar. Kengerian yang luar biasa menyelimuti tubuhnya, membuatnya tidak bisa berkata-kata.Dalam sekejap, udara hangat di sekelilingnya menghilang. Suasana ruangan ini begitu berbeda, terasa lembap dan dingin. Aroma apak bersama amis darah yang pekat menusuk hidung, nyaris membuatnya muntah.Meskipun lampu bersinar terang di atasnya, koridor ini tampak suram.Kedua sisi koridor dipenuhi oleh sel penjara yang berdiri kokoh—berjejer rapi sampai ke ujung koridor yang gelap. Anna harus ke sana untuk membuat lampunya menyala dan memastikan di mana ujung jeruji besi itu. Namun, ia tidak bisa menggerakan kakinya.Matanya terpaku pada para tahanan yang dirantai di dalam sel. Ukuran jerujinya sangat kecil, mungkin sekitar 6 kaki. Masing-masing jeruji hanya berisi satu tahanan.Tidak ada alas, hanya lantai yang sedingin es. Pintu sel terkunci rapat dengan gembok yang sangat besar.Ada puluhan tahanan. Sejauh mata memandang, Anna memperhatikan bagaima
Pukul tiga dini hari. Anna mengintip di pintu, memperhatikan lorong yang temaram dan sunyi. Kaiden beranjak bangun dari ranjang sekitar 30 menit yang lalu. Dia pasti sedang berolahraga di halaman belakang. Kaiden akan langsung ke barak pada pukul 5 pagi untuk pelatihan prajurit. Jadi sebelum itu, Anna akan meminjam kuncinya. Ia nekat ingin membuka pintu besi itu. Setelah mendengar ucapan Kaiden, Anna sadar bahwa pintu besi itu cukup penting. Jika bukan untuk mengurung para pemberontak, memangnya apa lagi? Anna hanya ingin mengecek, sungguh. Ia tidak akan menyentuh apa pun yang ada di sana. Lantas melangkah keluar dari kamar, Anna menutup pintu perlahan. Tatapannya tajam, menatap sekitar dengan waspada. Pintu kamar Selena tertutup rapat dan tidak ada suara yang terdengar di sana. Anna memegang erat kuncinya, lalu mengendap-endap melewati lorong menuju lantai tiga. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia gugup. Jantungnya berdebar tak karuan, memikirkan kemungkinan kalau Kaiden
“Di mana Camila?” Kaiden berdiri memperhatikan Anna yang mencoba mengeringkan rambutnya sendiri—tampak kesulitan. Selama di distrik, Anna biasanya membiarkan rambutnya kering secara alami, mengingat ia tidak memiliki pengering rambut. Setelah tinggal di mansion, Camila yang selalu mengeringkan rambutnya. Sekarang karena rambutnya semakin panjang menuju pinggang, ia kesulitan menggunakan pengeringnya. “Camila agak pusing, jadi aku menyuruhnya beristirahat,” jawab Anna tanpa menoleh ke arah Kaiden. “Camila tetap ingin bekerja, tapi aku yang memaksanya beristirahat, jadi jangan salahkan Camila,” lanjut Anna cepat sebelum Kaiden bicara. Kaiden menghela napas dan mendekat. Ia baru selesai mengumpulkan berkas dan buku panduan di lantai tiga. Para pengawal telah mengemasnya ke dalam mobil dan membawanya ke barak. “Kau seharusnya tidak mandi di jam seperti ini,” komentarnya, melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. “Aku merasa akan flu, jadi mandi air hangat cukup membantu.” K
Anna melangkah cepat melintasi halaman menuju beranda, ketika sebuah mobil putih asing menarik perhatiannya.Ia tidak pernah melihat mobil itu.Apakah ada tamu?Biasanya, yang datang berkunjung ke mansion hanya Nyonya Brighton dan Alaric. Nyonya Brighton selalu diantar oleh pengawal pribadinya yang menunggu di mobil. Tidak ada pengawal di sana, yang berarti, mobil itu adalah milik Alaric.Wajah Anna berkerut. Setiap kali Kaiden sibuk di barak, Alaric pasti akan datang mengunjungi Selena.Apa fungsinya pria itu sebagai kolonel? Apakah dia tidak mengejarkan apa pun?Tampaknya, Alaric dan Selena tidak lagi peduli dengan pandangan para pelayan, mengingat para pelayan telah mengambil sumpah. Mereka tidak bisa membawa keluar segala hal yang mereka lihat di mansion.‘Yah, itu juga bukan urusanku.’Anna menghela napas dan melangkah ke dalam mansion.Jika Kaiden tidak peduli, maka ia juga tidak ingin membuang-buang waktunya dengan perselingkuhan Selena.Kakinya menyusuri aula utama yang hening







