LOGINAnna tidak bisa tidur.Mungkin karena ia tidur siang terlalu lama, jadi sekarang ia tidak mengantuk sama sekali.Di hadapannya, Kaiden sudah terlelap sejak satu jam yang lalu. Dadanya yang tidak dibalut apa pun terlihat naik turun dengan teratur. Tangannya terus memeluk pinggang Anna, meskipun Anna sudah bergeser sedikit untuk memperhatikan wajahnya.Mungkin selain karena tidur terlalu lama, pikirannya yang tidak mau beristirahat juga menjadi penyebab ia terjaga. Ia terus memikirkan berkas itu dan hubungannya dengan ayahnya.Ia sangat bingung.Semua bukti mengarah ke ayahnya, tetapi di sisi lain, ia masih ragu. Satu-satunya yang bisa memastikan ini semua adalah ayahnya sendiri. Namun, jika Anna bertanya, ayahnya bisa saja berbohong.Bagaimana Anna membuktikan ini semua? Bagaimana ia tahu kebenarannya? Apakah ayahnya benar-benar bagian dari Panthera Kroy atau bukan?Stresnya semakin meningkat setiap hari. Dan jika ia tidak segera mengetahui jawabannya, maka Kaiden pasti akan mengetahu
“Kurasa ini saatnya aku memperkenalkanmu pada keluargaku, Sayang. Terutama ibuku.”Anna termangu, tidak tahu harus mengatakan apa. Membicarakan ibu Kaiden otomatis mengingatkannya pada cerita Kaiden. Kematiannya yang tragis telah meninggalkan bekas mendalam di hatinya.“Ibuku pasti akan sangat senang memiliki menantu yang sangat cantik dan pintar sepertimu.” Kaiden tersenyum kecil dan membelai wajah Anna. Jemarinya bergerak turun, lalu ia membungkuk untuk memberi kecupan manis di sudut bibir Anna. “Aku sangat bersemangat ingin membawamu ke sana.”Hati Anna mencelos, tetapi ia tetap menarik sudut bibirnya untuk tersenyum lebar. Meskipun begitu, ia tidak bisa menyembunyikan sorot matanya yang berkaca-kaca.Kaiden yang menyadari hal itu dengan lembut menangkup dagunya. “Jangan sedih, Sayangku. Ini justru hari yang bahagia.”Anna mengangguk dengan senyum tipis. Kaiden sekali lagi mendaratkan kecupan semanis madu di bibirnya sebelum meraih tangannya.“Ayo berangkat.”“Ya.”Mereka berjalan
“Apa Kaiden masih berada di ruang kerjanya?” “Sepertinya begitu, Nyonya.” Anna melirik jam, sudah lewat pukul dua siang. Kaiden telah pergi ke lantai tiga sejak pukul sembilan pagi. Dia tidak pergi ke barak seperti biasanya dan katanya ingin menyelesaikan beberapa tugas pemerintahan di ruang kerjanya. Kaiden juga berniat mengajaknya ke suatu tempat hari ini. Untuk itu, setelah makan siang, Camila mulai mendadaninya. Anna sudah siap dengan balutan gaun sutra berwarna biru pastel. Rambut hitam kecoklatannya dikepang dan digelung ke belakang. Camila lalu memberikan hiasan mutiara yang sama persis dengan anting yang dipakainya. Anna duduk di sofa saat Camila mulai mengatur ulang sepatu yang sempat dia keluarkan. Di tengah itu, pintu kamar terbuka, menampilkan sosok yang sejak tadi memenuhi pikiran Anna. “Sudah selesai?” Kaiden mengangguk singkat. Ia mendekat, tatapannya terpaku menatap Anna dari ujung kepala sampai ujung kaki. Matanya berkilauan, sepenuhnya terpesona dengan penam
“Bagaimana hasil interogasinya?”Pagi itu, di ruang kerjanya di lantai tiga, Kaiden menelepon Gael untuk mengetahui hasil dari interogasi ulang yang mereka lakukan. Para pemberontak terus menolak untuk memberi informasi, meskipun mereka telah dikuliti sedikit demi sedikit. Kaiden ingin tahu berapa lama mereka akan bertahan sebelum memohon ampun.“Mereka masih bersikeras untuk tidak membongkar rahasia, tapi kami berhasil mendapatkan sedikit informasi, Jenderal,” ucap Gael di seberang telepon. Benda pipih yang menempel di telinga Kaiden menyalurkan suaranya dengan sangat jernih. “Mereka menyebut bahwa ada bunker tersembunyi di distrik satu yang menjadi salah satu dari markas mereka. Hanya saja, kami tidak tahu di mana titik pastinya. Mereka mengaku tidak mengetahui tempatnya.”‘Distrik 1?’, batin Kaiden, mengerutkan alisnya. Distrik tempat di mana Anna tinggal. Selama bertahun-tahun, seluruh informasi dari para pemberontak selalu saja berakhir di distrik 1. Tidak pernah di distrik lai
“Bagaimana kabar istri dan anakku?”Suara lembut Kaiden berembus masuk ke telinga Anna, membuyarkannya dari lamunan panjangnya. Anna menoleh dan Kaiden menghadiahkan sebuah kecupan manis di pelipisnya.“Apa yang kau lakukan di sini? Anginnya kencang, tidak baik untuk kesehatanmu.”“Hanya menikmati langit senja,” jawab Anna, berdiri dan menatap Kaiden yang tampak kuyu dan kotor. Ia mengusap keringat di pelipis Kaiden, lalu tangannya berhenti di pundak pria itu.Kaiden menatapnya dengan kening berkerut samar. Angin sore berembus menerpa tubuh keduanya. Anna menatap ke dalam sepasang mata Kaiden, memperhatikan sinar senja yang terjebak di sana, menciptakan kilau hangat di iris gelapnya. Tetapi entah kenapa, hatinya malah terasa pedih. Menyadari perubahan ekspresi Anna yang muram, Kaiden membelai lembut pipi istrinya. “Apa yang sedang kau pikirkan? Kau sepertinya sedang mengkhawatirkan sesuatu.”Anna mencoba untuk tersenyum, tetapi gagal. “Aku mengkhawatirkanmu,” bisiknya.“Aku?” Kaide
“Camila, aku benar-benar sangat mengantuk sekarang, jadi kau tidak perlu membangunkanku untuk minum teh di sore hari.” “Oh baik, Nyonya. Kalau begitu, saya akan membangunkan Anda pada pukul enam sore?” “Tepat sekali.” Camila mengangguk mengerti. Ia lantas berpamitan pergi, meninggalkan Anna yang pura-pura berbaring di tempat tidur. Ia memejamkan mata dan menunggu sampai terdengar bunyi ‘klik’ di pintu. Anna tidak langsung bangun, tetapi kembali menunggu hingga lima menit lamanya. Kemudian, ia beranjak bangun dan membuka pintu sedikit untuk mengintip. Lorong kamarnya sudah sepenuhnya sepi. Anna menutup pintu kamarnya kembali, lalu memutar kunci. “Akhirnya,” bisiknya, menghela napas panjang. Ini saatnya untuk membuka berkas ayahnya. Kaiden masih berada di barak dan mungkin akan pulang menjelang pukul enam sore. Camila juga tidak akan menemuinya sampai jam enam sore. Ini waktu yang tepat. Anna tidak pernah memiliki waktu untuk mengeceknya, dan sekarang, jant
Tidak mungkin...Anna mendekat dengan kaki gemetar. Kengerian yang luar biasa menyelimuti tubuhnya, membuatnya tidak bisa berkata-kata.Dalam sekejap, udara hangat di sekelilingnya menghilang. Suasana ruangan ini begitu berbeda, terasa lembap dan dingin. Aroma apak bersama amis darah yang pekat men
“Di mana Camila?” Kaiden berdiri memperhatikan Anna yang mencoba mengeringkan rambutnya sendiri—tampak kesulitan. Selama di distrik, Anna biasanya membiarkan rambutnya kering secara alami, mengingat ia tidak memiliki pengering rambut. Setelah tinggal di mansion, Camila yang selalu mengeringkan ram
“... Kami memiliki jenis terapi baru untuk Baliant yang kemungkinan besar bisa membuatnya bergerak, setidaknya untuk duduk. Walaupun, kami belum bisa memastikan keberhasilannya seratus persen. Untuk itu, aku ingin bertanya padamu terlebih dahulu.”Anna mengembuskan napas panjang mendengar penjelasa
Anna melangkah cepat melintasi halaman menuju beranda, ketika sebuah mobil putih asing menarik perhatiannya.Ia tidak pernah melihat mobil itu.Apakah ada tamu?Biasanya, yang datang berkunjung ke mansion hanya Nyonya Brighton dan Alaric. Nyonya Brighton selalu diantar oleh pengawal pribadinya yang







