/ Romansa / Istri Kedua Sang Presdir / Bab 211. Perintah Mengintai

공유

Bab 211. Perintah Mengintai

작가: Wijaya Kusuma
last update 게시일: 2025-10-11 23:53:53

Langit sore tampak kelabu, seolah meniru suasana hati seseorang yang sedang berperang dalam diam.

Dari jendela lantai delapan gedung kaca yang sunyi, Marco berdiri dengan tangan menyilang di depan dada. Rokok di tangannya mengepul perlahan, ujungnya membara merah sebelum padam diterpa angin AC yang dingin.

Sudah seminggu lebih sejak Neina menghilang dari radar siapa pun. Dan setiap hari tanpa kabar itu terasa seperti menunggu di tepi jurang—menanti tanah longsor yang entah kapan datang.

Tentu
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 281. Kembali Posesif

    Siang itu, bel pulang sekolah baru saja berbunyi ketika ponsel Neina bergetar di dalam tasnya. Ia melirik layar sekilas, langkahnya otomatis melambat di koridor sekolah yang ramai oleh suara anak-anak.Keandra.Alis Neina berkerut. Jarang sekali suaminya menghubunginya di jam seperti ini, apalagi dengan panggilan langsung.Ia menepi ke dekat jendela, memastikan Elena—putri kecil mereka—masih asyik bermain dengan teman-temannya di halaman sekolah.“Assalamualaikum,” ucap Neina pelan saat panggilan terhubung.“Waalaikumsalam,” suara Keandra terdengar rendah, tegang. “Kau di mana sekarang?”“Di sekolah Elena,” jawab Neina jujur. “Kenapa? Ada apa?” Ia bertanya penuh rasa penasaran. Di seberang sana, Keandra terdiam sejenak. Nafasnya terdengar berat. “Kau bisa ke kantor sekarang?”Neina terkejut. “Sekarang?”“Iya.”Neina menatap halaman sekolah lagi. “Aku masih di sekolah. Elena belum pulang.”Keandra menghela napas. “Baik. Kalau begitu… sepulang sekolah, kau dan Elena langsung ke kanto

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 280. Ingin Beristirahat

    Langit kelabu menggantung rendah di atas pemakaman keluarga Daniswara, seolah awan-awan tebal itu sengaja menahan napas untuk menghormati kesunyian. Angin berhembus membawa hawa dingin yang menusuk kulit, mengantar aroma tanah basah dan wangi melati yang berjajar rapi di atas pusara yang masih baru.Neina berdiri mematung. Matanya terpaku pada nisan bersih yang belum sempat tersentuh lumut, di mana nama "Olivia" terukir dengan sangat rapi. Huruf-huruf itu terasa begitu asing di matanya, seolah keberadaan nama itu di sana adalah sebuah kesalahan yang tak seharusnya terjadi.Tangannya gemetar di balik mantel hitam yang membungkus tubuhnya. Ia menatap gundukan tanah merah itu terlalu lama, sampai-sampai dadanya terasa sesak oleh beban yang tak kasat mata.Tepat di belakangnya, Keandra berdiri tegak dalam diam. Wajahnya mengeras, rahangnya terkatup begitu tegang. Ia mengenakan setelan hitam tanpa ornamen apa pun, tampak begitu berwibawa namun menyimpan luka yang rapat. Di kejauhan, Felix

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 279. Rasa Bersalah

    Pagi menyelinap masuk dengan malu-malu, menyusup di antara celah tirai tebal yang membentengi kamar itu dari dunia luar. Cahaya matahari yang masih muda jatuh lembut di atas ranjang, membelai wajah Neina yang masih terlelap. Nafasnya teratur, dadanya naik turun dengan tenang, sampai sebuah rasa hangat yang melingkar di pinggangnya perlahan menarik kesadarannya kembali.Ada sebuah lengan yang memeluknya erat. Sangat erat.Neina terbangun sepenuhnya. Ia membuka mata perlahan, nyaris tak berani bergerak karena takut momen yang terasa begitu rapuh ini akan pecah. Di sampingnya, ia menemukan wajah Keandra. Pria itu tertidur pulas, memeluknya dari belakang dengan dagu yang bertumpu di bahu Neina. Napas hangat Keandra sesekali menyentuh kulit lehernya, memberikan sensasi yang membuat hati Neina berdesir.Neina terpaku. Ia tidak langsung beranjak. Ada perasaan asing yang merayap di dadanya—sebuah campuran antara ketenangan, kehangatan, namun terselip rasa perih yang sulit dijelaskan. Saat mat

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 278. Menunggu

    Begitu pintu tertutup dan suara mobil Keandra perlahan menghilang di kejauhan, rasa tenang yang baru saja dirasakan Neina seolah ikut menguap terbawa angin malam. Kamar yang luas itu tiba-tiba terasa terlalu sepi.Neina duduk bersandar di kepala ranjang, matanya tak lepas dari jarum jam yang berdetak di dinding. Baru pukul sembilan malam. Seharusnya, belum waktunya untuk merasa secemas ini, tapi ada firasat aneh yang mulai merayap di benaknya—seperti kabut tipis yang dingin dan menyesakkan.Bayangan wajah Keandra saat berpamitan tadi terus berputar di kepalanya. Janji pria itu memang terdengar meyakinkan, tapi ketakutan tetap saja lebih lihai mencengkeram hatinya.Merasa sesak jika terus berdiam diri di kamar, Neina memutuskan untuk turun ke ruang tengah. Lampu-lampu kristal yang meredup menciptakan suasana hangat di ruangan itu, sangat kontras dengan badai kecil yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Ia meringkuk di atas sofa, memeluk bantal erat-erat, sementara matanya terus-mener

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 277. Pamit

    Lampu kamar yang temaram menciptakan bayangan panjang di dinding, menyusup malu-malu di balik tirai tipis yang masih tersingkap. Neina mencoba memejamkan mata, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam keempukan ranjang yang meski terasa asing, entah bagaimana terasa begitu mendekap. Hanya ada desir halus pendingin ruangan yang memecah kesunyian malam.Lalu, dalam setengah sadarnya, ia merasakan sesuatu.Sebuah sentuhan lembut mampir di puncak kepalanya. Jemari yang bergerak sangat hati-hati, menyisir helaian rambutnya dengan gerakan yang begitu ringan, seolah-olah sang pemilik tangan takut jika sentuhan itu akan memecahkan ketenangan tidurnya. Neina mengernyit, napasnya sempat tertahan sejenak sebelum perlahan ia membuka mata.Di sana, di tepi ranjang, Keandra sedang duduk memperhatikannya. Menatapnya dalam dengan pandangan yang begitu meneduhkan. Jasnya sudah entah ke mana, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sembarang hingga siku. Wajah pria itu tampak digeluti kelelaha

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 276. Pulang

    Keandra menatap Neina, sorot matanya yang biasanya tajam kini melunak, seolah bisa membaca keletihan di balik wajah perempuan itu.“Kalau capek, bilang ya. Jangan dipaksakan,” pesannya lembut. Ia mengusap lembut bahu Neina penuh kasih yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya dari pria itu. Neina hanya mengangguk pelan, tersenyum tipis. “Iya, terima kasih.” Ia pun membiarkan pria itu menjauh dari dirinya yang masih berdiri dekat sang pelayan. Begitu Keandra menjauh untuk menerima telepon, Neina mulai melangkah mengekor di belakang Bibi Raras. Ia diajak menyusuri setiap sudut bangunan itu, dan setiap kali pintu ruangan terbuka, hatinya semakin tak karuan.Ada ruang makan dengan meja kayu solid yang tampak kokoh namun elegan, dapur modern yang mengilat penuh peralatan canggih, hingga ruang keluarga yang begitu hangat—sebuah perpaduan yang pas antara kemewahan dan kenyamanan rumah tinggal. Bahkan, ada satu ruang baca dengan jendela raksasa yang langsung menghadap ke taman belakang yang as

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 206. Harapan yang Salah

    Neina menutup mata, menahan napas. Hujan di luar kini turun deras, membasahi trotoar di depan gedung. Orang-orang berlarian dengan payung, tapi ia hanya berdiri di situ, seperti patung.Tangannya bergetar. Ia menatap surat laporan di tangannya—hanya satu tanda tangan yang dibutuhkan untuk membuka s

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 205. Keputusan Berat

    Langit sore itu tampak buram, seolah meniru kabut di dada Neina. Dari jendela kamar di lantai dua mansion keluarga Daniswara, ia menatap halaman yang mulai dihujani gerimis halus. Daun maple yang berguguran menempel di kaca, menggoreskan warna coklat keemasan yang muram—seperti sisa kenangan yang

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 204. Luka Lama Terungkap

    Sementara itu, di rumah besar milik keluarga Daniswara—udara sore terasa berat. Dinding putihnya memantulkan cahaya senja keemasan yang tampak dingin. Suara detak jam antik menggema di ruang tamu yang luas, tapi keheningan di dalamnya begitu mencekam.Olivia duduk di ujung sofa panjang, menyilangka

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 203. Permainan Marco & Ronald

    Suara langkah sepatu beradu dengan lantai marmer kantor rival DS Company yang mengilap. Ronald berdiri di depan jendela besar, menatap gedung-gedung Jakarta yang diselimuti awan kelabu. Wajahnya tampak muram, seolah ikut berduka atas berita yang baru sampai ke telinganya—tentang kondisi Neina yang

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status