Home / Romansa / Istri Kedua Sang Presdir / Bab 266. Janji di atas Pusara

Share

Bab 266. Janji di atas Pusara

Author: Wijaya Kusuma
last update Last Updated: 2025-11-21 21:30:03

Gerimis baru saja pamit, meninggalkan jejak basah di mana-mana. Neina berdiri kaku di samping nisan yang masih tampak gelap dan mengkilap. Tanah di bawah kakinya terasa lembek, lengket, menempel bandel di ujung sepatu flats yang ia kenakan.

Udara yang baru disaring hujan terasa dingin menusuk hidung, membawa serta aroma tanah basah yang pekat, bersanding pilu dengan wangi manis bunga sedap malam yang masih segar, tertata rapi di atas gundukan pusara.

Di sana, di antara aroma duka dan dinginnya sore, tubuh Neina terasa dihimpit oleh paradoks emosi. Rasanya ringan karena semua beban, semua kesumat, seolah luruh bersama air mata yang tadi ia biarkan tumpah. Namun, ia juga merasa berat—sangat berat—oleh kenyataan pahit. pria tua itu telah pergi sebelum Neina sempat sungguh-sungguh mengucapkan kata "Maaf" yang telah ia simpan terlalu lama di tenggorokan.

Perlahan, ia meraih ponsel dari dalam tas. Jari-jarinya terasa sedikit gemetar saat mengetik pesan singkat, sebuah pertanyaan yang memua
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 270. Kehangatan yang Dingin

    Udara kamar rawat itu masih saja menggigit, terlalu dingin untuk sebuah hati yang baru saja berdetak normal kembali. Aroma tajam antiseptik rumah sakit berkelindan dengan manisnya air mawar, hasil upaya tulus Bibi Raras. Mesin monitor di sisi ranjang berdenting pelan, ritmis, seolah mengukur seberapa teguh napas itu kembali belajar berdiri.Neina duduk di kursi lipat dekat ranjang. Matanya sayu dan lelah, ia pun memilih untuk memejamkan mata. Sementara pria yang sudah tersadar beberapa jam yang lalu masih membuka mata.Keandra, akhirnya sadar. Pria itu hanya diam, menatap kosong ke langit-langit putih yang hampa. Luka di bahu yang terbalut perban tebal, jarum infus di tangan kanan—semua itu adalah bukti fisik kerapuhannya. Tapi anehnya, matanya tetap tajam, meski nyaris tak bergerak.Sudah tiga hari Neina tak menginjakkan kaki keluar ruangan. Ia melakukan segalanya di dalam kamar Keandra. Ia bahkan tak menyadari bagaimana tubuhnya sendiri mulai protes, tak nyaman, namun ia memaksanya

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 269. Terpaku oleh Tatapan

    Malam demi malam berlalu, pagi berganti siang, dan Neina tetap berada di ruangan itu, seolah waktu benar-benar beku di sekitar dirinya. Satu-satunya irama yang terasa nyata adalah bunyi beep mesin pendeteksi detak jantung Keandra—sebuah ritme kecil yang terus mengingatkannya bahwa pria itu masih ada, masih bernafas, masih berjuang untuk kembali.Setiap pagi, Neina melakukan ritualnya. Ia membersihkan tubuh Keandra dengan gerakan yang sangat hati-hati, penuh kelembutan, seolah sentuhan ujung jarinya adalah benang gaib yang bisa menarik ruh Keandra kembali ke permukaan.“Bangunlah, Pak…” bisiknya pelan, hampir tak terdengar, setiap fajar menyingsing. “Aku di sini. Aku nggak akan pergi. Kau janji untuk terus menjaga kami. Jangan lemah. Ini bukan dirimu yang ku kenal.”Tak ada sahutan. Hanya bunyi mesin yang menjawab. Tapi Neina tak pernah menyerah, suaranya menjadi penyeimbang heningnya ruangan.Bibi Raras, dengan penuh kasih sayang, rutin membawakan makanan, memastikan Neina tidak lupa

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 268. Tetap Menunggu

    Dinginnya malam rumah sakit selalu menusuk, seolah udara pun ikut membeku. Cahaya lampu yang memantul dari ubin lantai tampak begitu pucat, menciptakan suasana hening yang menyesakkan—rasanya seperti seluruh dunia sudah terlelap, kecuali mereka yang berjuang di balik dinding-dinding ini. Neina adalah salah satunya. Ia duduk tepat di samping ranjang suaminya, Keandra. Matanya memang sembab dan terlihat lelah karena kurang tidur, tapi di balik itu ada nyala keteguhan yang tak bisa dipadamkan.Tak jauh darinya, Felix berdiri gelisah. Kedua tangannya bertaut erat di depan dada, dan tatapannya penuh kekhawatiran tertuju pada Neina yang sejak tadi menolak untuk beranjak pulang.Jantung ruangan terasa berat, hanya diisi bunyi alat pemantau detak jantung Keandra yang ritmis dan monoton, seakan menghitung mundur waktu yang tak pasti.“Neina, seharusnya kau beristirahat di rumah. Kau harus baik, dan beneran harus istirahat,” ujar Felix pelan, suaranya terdengar sangat hati-hati.Neina menggel

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 267. Pengakuan Pak Aji

    Langkah Neina terhenti di ambang pintu mobil. Ia menoleh, melihat Pak Aji berdiri tegak, membiarkan angin membelai jas hitamnya. Wajah pria tua itu diselimuti keraguan yang kentara, seolah ia sedang menimbang: haruskah ia berbicara, atau membiarkan rahasia itu ikut terkubur sunyi bersama Daniswara.Akhirnya, keputusan dibuat. Pria itu menarik napas dalam.“Sebagai orang terakhir yang diberi kepercayaan penuh oleh Tuan Besar… ada satu hal yang harus saya sampaikan.”Neina mematung. Keheningan tiba-tiba terasa tebal. Di belakang Neina, Bibi Raras menatap Pak Aji dengan sorot mata penuh kewaspadaan, seakan siap menarik Neina menjauh jika terjadi sesuatu.“Apa maksud Pak Aji?” tanya Neina, suaranya pelan dan tertahan. Tentu ia penasaran dengan apa yang hendak disampaikan oleh Pak Aji padanya. Pak Aji mengalihkan pandangannya sebentar ke nisan yang baru ditimbun itu, lalu berkata dengan suara yang berat namun penuh ketegasan yang mutlak:“Penyakit yang diderita Tuan Besar itu… memang bena

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 266. Janji di atas Pusara

    Gerimis baru saja pamit, meninggalkan jejak basah di mana-mana. Neina berdiri kaku di samping nisan yang masih tampak gelap dan mengkilap. Tanah di bawah kakinya terasa lembek, lengket, menempel bandel di ujung sepatu flats yang ia kenakan. Udara yang baru disaring hujan terasa dingin menusuk hidung, membawa serta aroma tanah basah yang pekat, bersanding pilu dengan wangi manis bunga sedap malam yang masih segar, tertata rapi di atas gundukan pusara.Di sana, di antara aroma duka dan dinginnya sore, tubuh Neina terasa dihimpit oleh paradoks emosi. Rasanya ringan karena semua beban, semua kesumat, seolah luruh bersama air mata yang tadi ia biarkan tumpah. Namun, ia juga merasa berat—sangat berat—oleh kenyataan pahit. pria tua itu telah pergi sebelum Neina sempat sungguh-sungguh mengucapkan kata "Maaf" yang telah ia simpan terlalu lama di tenggorokan.Perlahan, ia meraih ponsel dari dalam tas. Jari-jarinya terasa sedikit gemetar saat mengetik pesan singkat, sebuah pertanyaan yang memua

  • Istri Kedua Sang Presdir   Bab 265. Maaf yang Terlambat

    Menjelang sore, kediaman megah Daniswara diselimuti aura duka yang pekat. Halaman rumah yang biasanya tenang kini riuh rendah oleh kehadiran para pelayat, didominasi oleh wajah-wajah penting dari kalangan pengusaha. Karangan bunga berjejeran, membanjiri setiap sudut, seolah turut merasakan kehilangan yang terjadi.Lampu-lampu sorot di halaman menyala terang, namun sinarnya terasa dingin, menelanjangi rasa patah hati dengan begitu gamblang. Neina berdiri terpaku di ujung tangga pintu utama, matanya menyapu barisan mobil mewah yang terparkir rapi.Di dalam, semua orang menjaga sikap, percakapan mereka terdengar pelan dan penuh rasa hormat. Begitu Neina dan Bibi Raras melangkah masuk, perhatian segera tertuju pada mereka. Beberapa pasang mata mengangguk sopan, sementara yang lain berbisik-bisik, mengamati Neina yang baru saja menjejakkan kaki di rumah mendiang kakek mertuanya.“Tuan Daniswara pasti akan bahagia kalau tahu cucunya mengunjungi,” sapa seorang pelayat seraya menyalami Neina

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status