Teilen

Bonus Chapter 3

last update Veröffentlichungsdatum: 02.04.2026 14:53:09

Sore hari.

Kian duduk di kamar sambil meluruskan kaki di kursi kecil. Tatapannya tertuju ke luar, memandang langit yang perlahan memerah.

Tangannya mengusap pelan perutnya yang besar. Dia kekenyangan karena Arron membelikan es yang dia mau juga beberapa camilan.

Saat sedang menikmati suasana sore. Kian dibuat terkejut ketika suaminya tiba-tiba muncul mengecup pipinya.

“Kenapa? Capek?” Arthur duduk di kursi samping Kian. Dia meletakkan es boba di atas meja.

Mata Kian mendelik.

Arthur membeli es
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Adeena
hmmmm manis bgt.....
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Menipu Arron

    Rafka berjalan ke arah ruang keluarga, menghampiri Arron yang sedang duduk sendiri.“Selamat pagi, Tuan Arron.” Rafka menyapa ramah. Dia tersenyum pada Arron.Linda juga melakukan hal yang sama, meski tidak tahu apa yang akan dilakukan suaminya.Arron menoleh pada Rafka dan Linda. Pria tua ini tersenyum ramah.“Selamat pagi, duduklah, kalian mau teh? Biar pelayan siapkan untuk kalian.”Tanpa basa-basi, Rafka dan Linda duduk di dekat Arron, mereka langsung mengiyakan tawaran Arron.Setelah Arron meminta pelayan membuatkan teh. Dia menatap ke Linda dan Rafka.“Selain untuk menemui Kian, apa kalian ada tujuan lain?” Arron menatap bergantian Linda dan Rafka.Keduanya terkejut, apa Kian sudah memberitahu Arron soal sikap mereka pada Kian sebelumnya?“Maksudnya tujuan lain apa ya, Tuan Arron?” Rafka berpura-pura bodoh.“Maksudnya, mungkin kalian ada keperluan di kota ini, jadi kalian mampir ke sini.” Arron menjelaskan.Linda dan Rafka langsung bernapas lega karena ternyata maksud Arron tida

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Mengincar Uang

    Linda dan Rafka terkejut mendengar ucapan Kian.Walau mereka kesal Kian semena-mena, tapi demi rencana mereka. Lindan dan Rafka menahan diri.“Kian, kenapa kamu bilang begitu?” Linda membujuk. “Ya, Bibi tahu sudah salah padamu. Bibi menyesal dulu tidak memberimu kesempatan.”“Betul, Kian. Kamu jangan ambil hati sikap kami dulu, ya.” Rafka ikut membujuk.“Kami ke sini benar-benar untuk melihat kondisimu. Bagaimanapun, ibumu dulu memasrahkan masa depanmu ke kami. Jadi wajar bukan kalau kami datang untuk memastikan apakah kamu bahagia atau tidak.” Linda mengeluarkan kalimat-kalimat manis untuk membujuk Kian.Kian menarik napas dalam-dalam. Dia benar-benar habis kesabaran menghadapi Linda dan Rafka.“Lalu, untuk apa Paman dan Bibi mengambil barang-barang yang tidak seharusnya kalian ambil?” Kian menatap tajam, bergantian ke Linda dan Rafka.Linda dan Rafka panik, keduanya saling tatap sejenak.Wajah Linda memucat, sampai dia memaksakan senyumnya ketika kembali menatap ke Kian.“Ah … itu,

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Mulai Kesal

    Linda dan Rafka saling lirik mendengar apa yang Arthur katakan.Keduanya tetap tersenyum saat menatap lagi ke Arthur.“Tentu saja kami akan tetap menanyakan kabar kalian.” Linda mengelak.“Betul sekali. Bagaimanapun sekarang, hanya kami yang Kian miliki. Kami juga mencemaskannya, tapi syukurlah ternyata Kian menikah dengan pria kaya sepertimu.” Rafka mulai menjilat. Jangan sampai Arthur mengusir mereka sebelum rencananya berhasil.Arthur menatap dingin pada Linda dan Rafka.Tanpa kata, Arthur melangkah melewati Linda dan Rafka sambil menggandeng Kian menuju ruang makan.Linda menatap ke arah Arthur dan Kian pergi. Dia memberi isyarat ke suaminya untuk ikut menyusul keduanya.Setibanya di ruang makan.Arron sudah di sana, menyambut ramah ke semua orang.Linda dan Rafka menatap makanan yang tersaji di atas meja.Begitu mewah dan lengkap, penuh dengan lauk beraneka ragam, sangat bertolak belakang dengan mereka yang kadang makan seadanya.“Duduklah, ayo makan malam bersama.” Arron mempers

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Tak Senang

    Kian terus di kamar setelah kedatangan paman dan bibinya di rumah.Sampai sore hari. Kian menghabiskan waktu mengerjakan pekerjaannya di kamar ketika pintu kamar terbuka.“Ini sudah di luar jam kerja, dan kamu masih duduk menatap laptopmu?”Suara Arthur mengalihkan tatapan Kian.Kian menoleh ke sang suami. Senyum Kian terangkat lebar.“Kamu sudah pulang.” Kian memegang pinggangnya ketika akan berdiri.“Duduk saja, tidak usah berdiri.” Arthur buru-buru mencegah Kian bangkit.Apalagi Arthur tahu bagaimana sulitnya Kian jika disuruh banyak bergerak dalam kondisi perut besar.Senyum Kian terangkat kecil. Dia kembali duduk dengan nyaman, menatap suaminya yang juga ikut duduk di sebelahnya.“Bagaimana kabarmu hari ini?” Tangan Arthur mengusap pelan rambut Kian, sebelum mengusap perut besar istrinya.“Lumayan baik.” Kian mengangguk kecil.“Lumayan?” Kening Arthur berkerut dalam. “Ada apa? Kenapa wajahmu sedikit lesu? Apa kamu kurang sehat?”Arthur menatap cemas.Kian menggeleng pelan sebelum

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Kian Waspada

    Kian menatap ke Linda dan Rafka yang sudah ada di hadapannya.Apa pun niatan keduanya, Kian tidak boleh lengah.Namun, karena Arron begitu bersemangat, Kian akan menunggu. Jika paman dan bibinya melakukan hal-hal yang tidak baik, maka dia akan bertindak.“Kian, bagaimana kabarmu?” Linda membuka kedua tangan ingin memeluk Kian.Sayangnya, Kian mundur. Kedua tangan memegang perut, menghindari pelukan sang bibi.Linda berdiri kaku karena penolakan Kian, bibirnya tersenyum canggung meski dalam hatinya kesal karena Kian menghindarinya.“Kalian paman dan bibinya Kian ternyata.”Sapaan Arron mengalihkan perhatian Linda dan Rafka ke pria tua ini.“Betul, betul sekali.” Linda melebarkan senyumnya saat menatap ke Arron.Linda dan suaminya saling lirik, senyum mereka penuh arti melihat barang-barang bermerk yang melekat di tubuh Arron.Arron mengulurkan tangan. “Aku Arron, kakeknya Arthur sekarang kakeknya Kian juga.”Menyadari Kian disambut baik di rumah mewah ini, Linda dan Rafka semakin memil

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Tamu Tak Diundang

    Setelah mendapat izin dari Arthur.Kian tetap bekerja meski semua harus dilakukan dari rumah.“Bu Kian. Pak Arthur tidak tahu kalau saya yang kasih buah potong kemarin ‘kan, Bu? Saya takut kena masalah, apalagi sekarang Ibu juga bekerja dari rumah.”Kian menatap staffnya yang datang ke rumah untuk meminta tanda tangan. Dia tersenyum melihat kepanikan di wajah bawahannya ini.“Tenang saja, dia tidak tahu.” Kian membubuhkan tanda tangan di berkas setelah bicara. “Kamu jangan cemas, aku juga tidak mungkin menyalahkanmu.”Tangan Kian menutup berkas, lalu dia mengulurkan ke staffnya.“Soal aku bekerja dari rumah, sebenarnya karena kandunganku yang sudah cukup besar, jadi memang sudah keputusan bersama. Kamu jangan khawatir, ya.” Kian tersenyum lembut setelah selesai bicara.Staff tersenyum lega. Dia menerima berkas yang Kian ulurkan. “Baik, Bu. Saya paham.”“Jika ada desain yang perlu didiskusikan, nanti kita lakukan rapat secara daring, ya.” Kian kembali tersenyum setelah bicara.“Saya m

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status