Se connecter“Jika kamu mau, tentu saja boleh.” Liza mempersilakan.Awalnya Liza takut Kian emosional jika melihat bayi. Apalagi informasi dari suaminya, Kian sampai hampir terkena gangguan mental akibat kehilangan bayi.Sekarang, melihat Kian baik-baik saja, tentu Liza tenang.Kian menoleh pada Arthur setelah mendapat izin dari Liza. Menatap suaminya yang mengangguk, Kian melempar senyum penuh kelegaan pada suaminya.Liza membantu Kian menggendong bayi ini.Kian memeluknya dengan sangat hati-hati. Bayi mungil menggemaskan ini berjenis kelamin perempuan.“Siapa namanya?” tanya Kian. Dia menimang pelan bayi di gendongannya.“Diana. Usianya sudah lima bulan.” Liza menjawab lembut. “Tadi kamu sudah bertemu dengan putraku juga, kan? Namanya Daniel, usianya empat tahun, tapi biasa dipanggil Niel.” Liza lantas menunjuk ke putranya yang asyik minum susu di sofa.Kian menatap ke Niel, senyumnya terangkat kecil. “Iya,” katanya kemudian.Jonathan mendekat ke Arthur, tatapannya terus tertuju ke interaksi ant
Arthur dan Kian menoleh bersamaan.Kini, tak jauh dari pandangan mereka, seorang anak kecil memegang senapan mainan berdiri memandang keduanya.Kian berdiri dari duduknya. Tatapannya terus tertuju ke anak laki-laki ini. “Arthur, dia ….” Arthur ikut berdiri..“Niel, kamu jangan nakal.”Sebelum Arthur bicara, suara seorang laki-laki sudah menggema di ruangan ini.Niel, anak laki-laki yang baru saja menembakkan peluru mainan ke kepala Arthur, langsung berlari ke pria yang menginterupisnya.“Niel tidak nakal. Niel hanya sedang main.” Anak kecil berusia empat tahun ini berdiri di depan Jonathan–ayahnya–teman Arthur.“Masuklah dulu, bilang ke Mama, jangan terlalu lama di dalam,” ucap Jonathan pelan ke putranya.Tatapan Kian dan Arthur kini tertuju pada Jonathan. Kian melihat anak kecil tadi berlari masuk ke dalam, sebelum Jonathan memandang ke arah Kian dan Arthur.“Jo.” Arthur langsung menghampiri pria ini, sahabatnya.Jonathan memeluk sejenak pada Arthur. “Senang bisa melihatmu lagi.” Se
Sore hari.Kian berjalan menghampiri Arthur yang sudah menunggu di depan lobby.“Jadi, siapakah orang yang ingin kita temui?” Kian berdiri di hadapan Arthur, senyumnya terangkat lebar untuk suaminya.“Nanti kamu akan lihat.” Arthur membuka pintu untuk Kian.Kening Kian berkerut, dia tatap penasaran suaminya.“Main rahasia denganku?” Kian tersenyum kecil setelah bicara.Arthur mengedikkan kedua bahu saat membalas senyum istrinya.Walau tak bertanya lagi siapa yang akan suaminya temui, tapi tetap saja Kian masuk ke dalam mobil untuk ikut suaminya.Arthur segera ikut masuk ke dalam mobil, lalu meminta sopir untuk pergi ke tempat yang sudah dia tujukan.Kian memperhatikan jalanan yang mereka lewati. Dia mencari tahu ke mana suaminya ingin mengajaknya.Sampai tak beberapa lama kemudian.Mobil memasuki area perumahan elite di pinggiran kota.Kian menatap sebuah rumah besar yang begitu asri.Kian menoleh pada suaminya, keningnya berkerut samar, mewakili rasa penasarannya.“Ini rumah temanku.
Sore hari.Kian duduk di kamar milik bayinya.Dia melipat kembali pakaian yang sebelumnya sudah terlipat.Dia akan melakukan hal yang sama setiap harinya seolah ada bayinya di kamar ini.“Mama sudah kehilanganmu, Mama tidak akan membiarkan papa dan kakekmu kehilangan harapan juga.”Tatapan Kian tertuju ke mainan yang tergantung di atas baby box.Bibirnya tersenyum kecil.“Mama tidak akan pernah melupakanmu. Tapi Mama juga harus menemani papamu. Jadi, jangan marah jika terkadang Mama sibuk sendiri, hm.”Kian merasakan kepiluan.Tapi hidupnya tetap harus berjalan.“Ternyata kamu di sini?”Suara Arthur mengejutkan Kian.Kian menoleh ke arah pintu, suaminya masuk ke dalam kamar.“Kamu pulang lebih awal hari ini?” Kian meletakkan pakaian yang dilipatnya di atas ranjang.Kian berdiri menghampiri Arthur.Arthur mengangguk pelan.Saat sudah berdiri di hadapan Kian. Tangan Arthur mengusap lembut rambut istrinya.“Apa ada masalah di kantor sampai membuatmu pulang lebih awal? Atau kamu mau berub
Kian berdiri di depan Arthur yang sudah memakai kemeja rapi. Dasi kini dia ikatkan perlahan melingkar di kerah kemeja suaminya.“Jika sudah sehat, aku juga ingin masuk kerja. Tidak masalah jika tak digaji sampai pabrik mulai jalan.” Setelah bicara, Kian mengangkat pandangannya, bibirnya tersenyum lebar.Arthur menahan tawanya. “Kenapa? Kamu sudah rindu dengan suasana kantor?” Arthur memastikan.“Aku bosan tak melakukan apa pun di rumah. Jika di perusahaan, setidaknya aku bisa melakukan hal yang berguna untukmu.” Tatapan Kian penuh perhatian pada Arthur.Arthur mengembuskan napas pelan. Jari-jarinya merapikan helaian rambut Kian yang agak berantakan.“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Tapi, suasana kantor tidak akan seperti dulu. Hari ini aku akan meminta pertimbangan Kendrick untuk merumahkan beberapa staff untuk efisiensi dan menjanjikan kembali pekerjaan setelah pabrik mulai berjalan. Tentu saja, mereka juga berhak memilih apakah akan tetap ingin bekerja di HW. Company atau tida
Malam hari.Kian duduk di kamarnya, menunggu kedatangan Arthur.Sesekali Kian menatap ke arah pintu kamar, tapi belum ada tanda-tanda jika suaminya akan datang.Kian masih menunggu, sampai terdengar suara langkah kaki dari luar kamar.Saat Kian membuka pintu, tatapannya langsung tertuju pada Arthur.Suaminya sudah berdiri di hadapannya.“Kenapa kamu belum tidur?” Arthur menatap heran pada Kian.Kian mengambil jas yang ditenteng suaminya, setelahnya menarik masuk Arthur ke dalam.“Menunggumu, aku tidak bisa tidur sebelum melihatmu di rumah.”Arthur tersenyum melihat kondisi Kian sudah baik-baik saja setelah banyak hal yang mereka alami.Kian meminta suaminya duduk lebih dulu setelah dia meletakkan jas di keranjang pakaian kotor. Kian mengambilkan minum, memberikan perhatian kecil untuk suaminya yang lelah.“Terima kasih.” Arthur menenggak air putih pemberian Kian.Sedangkan Kian duduk di samping Arthur, menunggu sampai suaminya selesai minum.“Soal HW. Company, apa kamu benar-benar aka







