INICIAR SESIÓNKian membulatkan bola mata lebar, bahkan kini bibir mungilnya bergerak gagap. “Ap-apa?”
Paman dan bibi Kian sangat syok, mata mereka melotot seperti ingin terlepas dari tempatnya.
“Apa yang kamu katakan?” lirih Kian saat merasakan pundaknya diremas kuat.
Arthur menoleh Kian, ekspresi wajahnya datar, tapi tatapan matanya mengartikan sesuatu.
Kian meneguk ludah kasar. Tatapan mata Arthur seperti sedang mengintimidasinya, membuatnya tak berkutik dan panik.
Mengalihkan tatapannya dari Kian ke kedua orang tua di hadapannya, Arthur masih memberikan tatapan datar saat dia berkata, “Aku mencintai Kian dan aku yang akan menikahinya.”
Kian gelagapan mendengar ucapan Arthur, dia sampai menatap paman dan bibinya secara bergantian sebelum menatap pada Arthur lagi dengan tatapan panik.
Namun, Arthur begitu tenang, satu tangannya masih merangkul erat pundak Kian, sedangkan tatapannya tetap tertuju pada paman dan bibi Kian.
Meski terkejut dengan pengakuan pria muda di depannya ini, bibi Kian mencoba bersikap tenang dengan berkata, “Oh, ya bagus kalau kamu mau menikahinya. Jangan sampai Kian mempermalukan keluarga karena batal nikah karena satu kampung sudah tahu soal rencana pernikahannya.”
“Kalian tenang saja, aku pasti akan menikahinya,” balas Arthur masih dengan sikap tenangnya.
“It-itu ….” Kian panik. Dia mengetatkan giginya, lalu lirih berkata, “Kamu jangan main-main.”
Arthur menoleh ke Kian dengan tatapan datarnya. “Aku tidak pernah main-main.”
“Kalau mau menikah, menikah sekarang juga. Jangan sampai kalian berbohong, lalu membuat malu kami karena Kian sudah membawa pria ke rumah bahkan tidur satu kamar bersama,” sewot sang bibi.
“Aku tidak–”
“Tentu,” potong Arthur sebelum Kian melanjutkan ucapannya.
Kian semakin melongo mendengar perkataan Arthur. Pria ini benar-benar gila!
“Baiklah, kalian bersiaplah, kami tunggu untuk pergi ke kantor catatan sipil,” kata sang paman dengan tegas.
Sebelum pergi, sang bibi mengangkat telunjuk di hadapan Kian dan Arthur, lalu memberi peringatan, “Ingat, lalu setelah itu kalian harus bayar utang semua biaya yang sudah kami keluarkan!”
Kian kebingungan. Begitu paman dan bibinya pergi, Kian mendorong Arthur masuk, setelahnya menutup pintu rumah.
Berdiri saling berhadapan dengan Arthur, Kian berkacak pinggang sambil menatap Arthur yang masih saja memasang wajah datar tanpa rasa bersalah karena sudah membuat Kian berada di situasi yang sangat membingungkan.
“Biar kuperjelas,” kata Kian, sambil menggerakkan tangan ke arah Arthur dan ke dirinya sendiri saling bergantian, Kian berucap, “Kamu mengalami kecelakaan dan aku yang menolongmu. Kita tidak saling kenal, lalu untuk apa kita menikah, huh? Kenapa kamu berkata akan menikahiku?”
Kian menatap serius pada pria berwajah datar ini. Dia ingin tahu alasan Arthur bertindak gegabah.
“Apa kamu ingin dicemooh keluarga?” tanya Arthur.
Kian ingin membalas, tapi dia tidak bisa menjawab pertanyaan Arthur. Kian terdiam.
Arthur menatap Kian yang hanya diam. Menikahi Kian bukanlah suatu paksaan, tapi Arthur melakukan ini demi mengatasi masalahnya sendiri.
“Hanya menikah kontrak. Dengan begini kamu akan terbebas dari masalahmu dengan keluargamu, anggap juga ini balas budiku,” ucap Arthur, ‘dan aku terbebas dari masalahku,’ batinnya kemudian.
Kian menatap Arthur lagi. Dia menggigit bibir bawahnya, berpikir kalau ini satu-satunya jalan terbaik, Kian harus menerima ini.
“Baiklah, hanya menikah kontrak. Aku mau ada surat kontraknya,” kata Kian.
Arthur mengangguk. “Atur saja.”
Siang harinya.
Arthur dan Kian benar-benar digelandang oleh paman dan bibi Kian juga beberapa warga menuju kantor catatan sipil untuk menikah.
Setelah pernikahan kilat itu terjadi, kini Kian dan Arthur keluar dari gedung bersama paman dan bibi Kian.
Kian memandangi buku nikah miliknya. Dia memang ingin hidup membina rumah tangga, tapi bukan secepat ini dan bukan dengan orang asing yang baru semalam dikenalnya.
‘Tapi dengan ini, setidaknya aku bisa menyingkir dari dua manusia brengsek itu,’ batin Kian mencoba berpikir positif.
“Sekarang kamu sudah menjadi suami Kian, kamu akan ikut bertanggung jawab membayar utang-utang Kian pada kami, kan?” Bibi Kian bicara sedikit ketus, apalagi penampilan Arthur yang tidak ada tampang-tampangnya seperti orang kaya, walau wajah Arthur begitu tampan.
Kian terkejut sang bibi malah ingin menagih uang dari Arthur, ketika dia siap membuka suara untuk mencegah, Arthur sudah lebih dulu bicara.
“Aku akan ikut membayar hutang Kian, kalian jangan cemas.”
Satu bulan berlalu begitu saja. Sore hari yang sejuk membawa ketenangan yang luar biasa di halaman belakang kediaman Hadwin. Angin sepoi-sepoi menggoyang dedaunan hijau di taman, melaraskan irama alam dengan kedamaian yang tercipta di teras rumah yang megah.Kian duduk di kursi rotan yang nyaman, dengan perlahan mengayunkan tubuhnya sambil memangku Aria yang sedang tertidur lelap setelah menyusu. Bayi berumur satu bulan itu tampak begitu menggemaskan dengan pipi gembulnya yang kemerahan. Di samping Kian, Arthur duduk di lengan kursi, satu tangan kokohnya melingkar protektif di bahu Kian, sementara jemarinya yang lain mengusap lembut pipi mulus putri kecil mereka.Dari posisi duduk mereka, sepasang mata kedua orang tua itu menatap lurus ke arah tengah taman luas berumput hijau di hadapan mereka. Di sana, Kaylan sedang berlari-lari riang sambil mengejar bola plastik besar bersama Sienna. Tawa melengking Kaylan bersahut-sahutan dengan tawa renyah Sienna yang bergerak aktif menjaga a
Tujuh bulan berlalu dengan cepat.Perut Kian kini sudah membesar, usia kandungannya sudah 35 minggu. Satu minggu lagi dia akan menjalani operasi cecar untuk melahirkan anak keduanya. Hingga di malam yang dingin, keheningan di dalam kamar Kian pecah oleh rintihan tertahan yang lolos dari bibir Kian."Arthur ... akh! Arthur, bangun ...." Kian meremas lengan suaminya yang tertidur di sampingnya dengan sangat kuat. Peluh dingin mulai membasahi keningnya, dan sprei di bawah tubuhnya terasa basah karena air ketuban yang baru saja pecah. "Arthur ... sepertinya aku ... mau melahirkan sekarang."Mendengar kata 'melahirkan', Arthur yang biasanya selalu siaga dan memiliki kalkulasi matang dalam segala situasi darurat di dunia bisnis, seketika mengalami kegagalan sistem di otaknya. Pria itu melompat dari ranjang dengan mata membelalak panik."Melahirkan?! Sekarang?!" pekik Arthur dengan suara yang meninggi, sesuatu yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya. Pria bertubuh tegap itu
“Ap-apa?” Mata Arthur membola lebar.Kian juga terdiam dengan tatapan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.“Anda tidak salah memeriksa ‘kan, Dok? Anda yakin istri saya hamil?” Arthur memastikan.Dokter itu terkekeh pelan. Dia mengangguk-angguk. "Hasilnya memang benar positif hamil. Dokter spesialis kandungan sudah saya hubungi dan akan segera datang kemari untuk memastikan kondisi istri Anda.”Baru saja dokter selesai bicara, pintu ruangan kembali terbuka.Dokter spesialis kandungan masuk dan menyapa Kian juga Arthur lebih dulu.Hasil laboratorium diserahkan ke dokter kandungan, lalu wanita itu mulai memastikan kondisi Kian.“Apa kondisi saya benar-benar tidak apa-apa, Dok. Sepertinya saat hamil pertama dulu, saya tidak seperti ini.” Kian bertanya untuk memastikan.“Anda tenang saja, Bu Kian. Usia kehamilannya sudah memasuki minggu keenam. Kemungkinan kondisi Anda ini disebabkan oleh kelelahan fisik, apalagi dulu Anda memiliki riwayat Abortus Imminens yang mempengaruhi k
Enam bulan kemudian.Pagi itu. Kian baru saja bangun dan langsung berlari ke kamar mandi karena perutnya mual.Begitu berjongkok di depan closet, Kian langsung muntah-muntah. Wajahnya berubah pucat dan tubuhnya terasa lemas.“Kian, kamu baik-baik saja?”Terdengar suara Arthur dari luar.Kian belum bisa menjawab. Dia masih terus mual tapi tak bisa memuntahkan apa pun karena perutnya kosong.“Kian, aku masuk.”Suara Arthur kembali terdengar diiringi suara pintu kamar mandi terbuka.Kian menoleh pada suaminya. Dia benar-benar lemas, lalu berusaha bangkit dari posisinya.Ketika baru saja berdiri, kedua kaki Kian lemas sampai tubuhnya limbung dan hampir membentur dinding.Untungnya Arthur dengan sigap memegang kedua lengan Kian.“Kamu kenapa? Wajahmu sangat pucat.” Arthur menatap panik.Kian menggeleng, matanya sedikit terpejam.“Kita ke rumah sakit.” Arthur langsung meraup tubuh Kian.Arthur menggendong Kian keluar dari kamar dengan terburu-buru. Saat berpapasan dengan Arron dan Sienna y
Malam hari.Kian dan Arthur berada di dalam kamar setelah makan malam usai.Di dalam kamar yang luas ini, lampu sengaja diredupkan, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur di sudut ruangan dan pendar cahaya bulan yang menembus jendela kaca besar.Kian berdiri di dekat jendela, tubuhnya berbalut gaun tidur sutra tipis berwarna putih gading yang begitu anggun membingkai tubuhnya. Matanya menatap hamparan taman luas di bawah yang bermandikan cahaya bulan. Pikirannya sedang berkelana menikmati kedamaian hidup yang akhirnya dia miliki sekarang.Hingga sepasang lengan kokoh tiba-tiba melingkar dengan hangat di sekeliling pinggangnya dari belakang. Aroma maskulin yang sangat familier, campuran antara sabun mandi segar dan wangi kayu cendana seketika mengepung indra penciuman Kian. Arthur menarik tubuh istrinya hingga punggung Kian menempel sempurna pada dada bidangnya yang hangat."Belum tidur, hm?" bisik Arthur dengan suara bariton yang rendah, dia menyentuhkan bibirnya di peli
Dua bulan berlalu dengan sangat cepat sejak liburan menenangkan di pulau pribadi itu. Suasana sibuk begitu terasa di perusahaan HW. Company hari ini dengan energi yang jauh lebih positif. Pagi ini, aula utama gedung pusat HW. Company dipenuhi oleh jurnalis, fotografer, dan para mitra bisnis yang menghadiri acara peluncuran besar-besaran untuk produk makanan terbaru mereka.Sebagai perusahaan produsen makanan terkemuka, HW. Company kembali menggebrak pasar dengan meluncurkan lini camilan sehat organik premium. Namun, yang paling menarik perhatian publik hari ini bukanlah sekadar produknya, melainkan sosok model baru yang terpampang nyata di baliho raksasa di atas panggung utama.Mia berdiri di atas panggung dengan anggun, memakai gaun formal berwarna pastel yang sederhana tapi sangat berkelas. Senyum Mia merekah sempurna ke arah kamera, memancarkan aura segar, sehat, dan profesional yang sangat cocok dengan citra produk makanan HW. Company. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis asisten y
Senyum Hendra terangkat kecil. Dia begitu tenang menghadapi Kian dengan segala pertanyaan wanita ini.“Kebetulan, saat datang ke perusahaan. Aku mendengar karyawan di kantor bergosip kalau kamu masuk rumah sakit. Aku juga tidak tahu dari mana mereka tahu. Saat aku lihat sendiri ke sini, ternyata be
“Kian.” Arron langsung berlutut di samping Kian. “Kek, perutku sakit.”Arron panik melihat Kian kesakitan. Apalagi wajah Kian tiba-tiba memucat.“Cepat, bawa Kian ke mobil!” perintah Arron dengan suara lantang.Linda dan Rafka syok melihat Kian kesakitan. Mereka berlari meninggalkan rumah Arron k
Kian menghubungi Linda setelah tak berhasil menghubungi Siska.“Ada apa menghubungiku? Apa sekarang kamu baru ingat pada kami? Jangan bilang kamu menghubungi karena ada butuhnya saja.”Kian tidak menyangka mendengar suara Linda yang terdengar congkak.“Ada butuhnya, bukankah Bibi yang biasanya data
Di rumah yang Kian tempati sekarang.Kian hanya duduk dengan tatapan mengedar ke seluruh ruangan yang sekarang ditempatinya. Tidak banyak perabot di sana, tapi jelas kalau rumah itu termasuk mewah dengan desain interior yang cantik.Sejak kepergian Arthur, Kian tidak berani masuk ke dalam rumah lebi







