Se connecterTidak bisa mengambil keputusan terlalu lama. Akhirnya Kian membawa Arthur ke rumah sederhana peninggalan orang tuanya.
Kian juga memanggil dokter untuk mengobati luka di perut Arthur. Berjalan mondar-mandir menunggu Dokter selesai mengobati Arthur yang dia baringkan di kamarnya, akhirnya Kian melihat Dokter keluar.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Kian dengan tatapan panik.
Jika Arthur terluka parah, lalu mati di rumahnya. Kian yang akan terkena masalah.
Dokter mengembuskan napas kasar, lalu dia menjelaskan, “Lukanya tidak terlalu dalam, tapi itu luka tusuk dari benda tajam.”
Kian melebarkan bola matanya.
“Kalau dia sudah sadar, lebih baik segera minta dia pergi, jangan sampai kamu terkena masalah,” ucap Dokter lagi.
Kepala Kian mengangguk-angguk cepat. “Tapi, bisa tidak Dokter rahasiakan keberadaannya di sini?”
Kian sebenarnya bingung, apakah tindakannya benar atau tidak, hanya hati nuraninya tidak tega membiarkan Arthur tenggelam begitu saja di dasar sungai.
Dokter mengangguk. Dia memberikan obat ke Kian untuk Arthur sebelum akhirnya pergi.
Kian memandangi obat yang dipegangnya. Lalu pandangannya tertuju ke pintu kamar miliknya.
Kaki Kian melangkah pelan menuju kamar, dia membuka sedikit pintu kamar, melihat Arthur yang terbaring di atas kasurnya dalam kondisi tak sadarkan diri.
“Baiklah, hanya sekali ini saja. Kalau nanti dia sudah bangun, akan kuminta dia segera pergi,” gumam Kian diakhiri anggukan kepala kuat untuk mengamini niatnya.
Saat malam hari.
Kelopak mata Arthur mulai bergerak perlahan. Tubuhnya sangat lemas, bahkan kelopak matanya seperti memiliki beban yang begitu berat hingga membuatnya kesusahan untuk membuka mata.
“Akh!” pekiknya saat merasakan nyeri di perut bagian kiri.
Arthur menyentuh pelan bagian perutnya yang nyeri, dia membuka matanya lalu sedikit mengangkat kepala untuk melihat luka di perutnya.
Arthur menyadari kalau kemeja berharga jutaan miliknya, kini berubah menjadi kaus bekas. Dia menghela napas kasar, tubuhnya benar-benar tak bertenaga sampai membuatnya kembali menghempaskan kepala di bantal.
“Di mana aku,” gumamnya.
Arthur terdiam memandang langit-langit kamar yang sangat asing baginya. Dia mengingat penyerangan yang dialaminya, sebelum akhirnya mobilnya jatuh ke sungai.
Dan, Arthur ingat seseorang membawanya naik dari dalam sungai. Pakaian dan kamar ini pasti milik orang itu.
Menoleh ke meja kecil di samping ranjang, Arthur tak melihat sama sekali barang-barang miliknya di sana. Dia menghela napas kasar, ponselnya pasti tertinggal di dalam mobil dan tidak terselamatkan.
“Bagaimana caranya aku menghubungi Kendrick?”
Arthur memejamkan mata, lagi-lagi dia mendengkus kasar. Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, tapi jika dilihat, tempat ini sepertinya aman untuknya bersembunyi sementara waktu.
Saat masih diam mengamati kamar itu, terdengar suara pintu kamar terbuka, membuat Arthur segera memejamkan matanya lagi.
Kian masuk ke dalam kamar, dia melihat Arthur yang masih memejamkan mata.
Kian melangkahkan kaki perlahan masuk lebih dalam ke kamar. Begitu dia berdiri di samping ranjang, Kian mengulurkan tangan, lalu menyentuhkan punggung tangan di kening Arthur.
“Tidak demam, berarti tidak ada infeksi,” gumam Kian.
Kian mengedikkan kedua bahu, setelahnya dia kembali meninggalkan kamar itu.
Saat mendengar suara pintu kamar tertutup, Arthur membuka matanya dengan cepat. Tatapannya tertuju ke pintu dengan rasa tak percaya.
“Yang menolongku seorang wanita?”
**
Keesokan harinya.
Suara gedoran pintu begitu keras dari luar, membuat Kian yang masih tidur lelap di kamar mendiang ibunya, kini berjingkrak dari ranjang karena terkejut.
Masih dengan wajah bantalnya, Kian mendengar suara sang paman dan bibi berteriak-teriak dari luar kamar.
“Masih sepagi ini, kenapa mereka sudah membuat keributan di rumah ini?” gerutu Kian.
Kian bergegas bangun. Sebelum melangkah ke pintu depan, Kian sempat menoleh ke pintu kamar yang ditempati Arthur.
Membuka pintu sedikit kasar untuk menghentikan gedoran yang diciptakan paman dan bibinya, Kian kini menatap malas pada kedua orang tua ini.
“Ini masih sangat pagi, Paman, Bibi. Kenapa kalian menggedor pintu sekencang itu?” tanya Kian sambil menatap bergantian ke paman dan bibinya.
“Tidak peduli mau pagi atau siang. Kami tidak sabar lagi!” bentak sang bibi.
Kian mengerutkan kening, dia tetap tenang karena sudah biasa menghadapi kakak dari ibunya ini sering sekali mengamuk.
“Ada apa?” tanya Kian santai.
“Masih tanya ada apa? Kamu ini sadar tidak? Kamu gagal nikah dengan Julian, tapi kamu masih bisa bersantai-santai seperti ini?!” bentak sang paman.
Kian tersentak. Dia sampai menegakkan tubuhnya dengan bola mata membola lebar.
Sambil menunjukkan buku berisi catatan utang yang ditulis oleh sang bibi, wanita tua itu memperlihatkan ke Kian sambil berkata, “Kami ke sini mau menagih utang. Utang pengobatan ibumu saja belum kamu lunasi, lalu sekarang utang buat persiapan pernikahanmu yang gagal masa harus hilang gitu saja? Tidak bisa, kami tidak mau kehilangan sepeser pun, jadi sekarang, bayar!”
Kian menatap kesal. Dia baru saja patah hati, tapi saudara satu-satunya dari keluarga ibunya ini, malah tidak punya hati menagih utang sepagi ini.
“Aku pasti akan membayarnya, tapi sabar.” Kian bicara dengan nada tinggi karena kesal.
“Bayar? Kapan? Utang ibumu saja sudah berapa tahun belum kamu bayar, hah? Lihat ‘kan? Jadi wanita itu jangan bodoh, kerja siang malam buat kasih uang ke Julian, sekarang apa? Kamu dibuang ‘kan? Makanya, cari pria yang kaya sekalian biar bisa menghidupimu, bukan kamu yang menghidupinya!” ejek sang bibi sambil menunjuk-nunjuk kening Kian.
Kian benar-benar emosi, baru saja mulutnya ingin terbuka untuk membalas perkataan bibinya, terdengar suara pintu terbuka yang membuat Kian juga paman dan bibinya memandang ke arah dalam.
Kian terkejut melihat Arthur keluar dari kamar.
Sedangkan paman dan bibinya gelagapan melihat seorang pria berada di kamar Kian.
“Kian, si-siapa dia, hah? Gagal nikah sama Julian, kamu malah membawa pria lain masuk kamarmu? Dasar memalukan!” Sang bibi tiba-tiba memukul bertubi lengan Kian dengan sangat keras.
“Hentikan!”
Suara tegas dan dalam Arthur, membuat bibi Kian berhenti memukuli gadis itu.
Kian menatap Arthur yang melangkah pelan ke arahnya, saat tiba di sampingnya, Arthur tiba-tiba merangkul pundak Kian, membuat gadis itu syok dengan apa yang dilakukannya.
“Aku Arthur, calon suami Kian.”
Senyum Hendra terangkat kecil. Dia begitu tenang menghadapi Kian dengan segala pertanyaan wanita ini.“Kebetulan, saat datang ke perusahaan. Aku mendengar karyawan di kantor bergosip kalau kamu masuk rumah sakit. Aku juga tidak tahu dari mana mereka tahu. Saat aku lihat sendiri ke sini, ternyata benar kalau kamu sedang dirawat.”Kian mengangguk-angguk percaya.“Apa aku boleh tanya sesuatu? Tapi mungkin ini sedikit privasi.” Hendra bicara dengan sangat hati-hati agar Kian tidak takut padanya.Kian mengangguk ragu. “Jika memang bisa saya jawab, saya akan menjawab.”Kian menatap serius karena pertanyaan Hendra.Hendra mengangguk-angguk.“Aku hanya penasaran. Kamu tinggal di kota yang jauh dari sini, tapi tiba-tiba saja bisa menikah dengan Arthur. Bagaimana pertemuan kalian? Apakah sama sepertiku saat bertemu denganmu pertama kali?” Tatapan Hendra begitu dalam setelah selesai mengutarakan pertanyaannya.Kian tersenyum tenang. Walau, pertanyaan ini sedikit aneh untuknya.“Mungkin karena ka
Kening Kian berkerut dalam saat melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam kamar inapnya.Dia tidak mengenal pria ini, tapi kenapa pria ini sudah tersenyum lebih dulu kepadanya?Kian harus waspada, bahkan tangannya sudah memegang tombol pemanggil perawat jika pria ini berniat macam-macam.“Maaf, Anda siapa? Apa Anda salah ruangan?” Kian memastikan.Pria ini, Hendra, tersenyum pada Kian yang tampak waspada.Hendra berhenti melangkah. Dia menjaga jarak dari Kian agar tidak semakin membuatnya panik.Dengan senyum di wajahnya, Hendra memperkenalkan diri. “Aku Hendra, salah satu pemegang saham HW. Company.”Kian menurunkan kewaspadaannya saat mendengar perusahaan yang Hendra sebut.Jemarinya perlahan melepas alat yang dipegangnya.“Ah … jadi begitu.” Kian sedikit tenang. “Apa yang membuat Anda datang kemari, Tuan?”Hendra melangkah mendekat setelah melihat Kian tidak terlalu tegang.“Aku kebetulan baru saja cek kesehatan, setelah mendengar kalau kamu dirawat di sini juga, aku jadi datang
Keesokan harinya.Arthur masih di rumah sakit.Dia menemani Kian, memastikan istrinya baik-baik saja.“Arthur, semalaman kamu tidak beristirahat. Kamu pasti capek, apalagi kamu masih harus mengurus perusahaan.” Meski kondisinya sendiri masih lemah, tapi Kian mencemaskan suaminya yang sedang ditimpa banyak masalah.“Bagaimana bisa aku istirahat, jika melihatmu seperti ini?” Tatapan Arthur nanar. “Belum lagi, aku mencemaskan kondisi bayi kita, untung saja Kakek cepat membawamu ke rumah sakit.”Kian juga mencemaskan bayinya. Tapi sekarang bayinya masih bisa dipertahankan, setidaknya sampai usianya cukup matang untuk dilahirkan.“Dia sudah baik-baik saja. Bahkan aku sudah merasakan dia bergerak di dalam sana.”Mendengar ucapan Kian. Arthur segera menyentuh perut Kian.“Benarkah?” Tangan Arthur meraba perut Kian, mencari gerakan yang Kian katakan. “Mana, kenapa aku tidak merasakannya?”Kian tertawa kecil. “Tadi, Arthur. Sekarang mungkin dia sedang tidur.”Arthur mengembuskan napas pelan. D
“Jika aku menemukannya, aku pasti sudah menjebloskannya ke penjara.” Arthur benar-benar tidak bisa menahan dirinya.Kian terdiam. Dia hanya bisa menatap amarah suaminya.“Aku tidak peduli, aku akan menuntut paman dan bibimu juga sepupumu itu, aku tidak bisa lagi mentolerir perbuatan mereka.” Arthur bicara dengan nada tegas tak terbantahkan.Kian mengangguk lemah. Dia akan membiarkan apa yang akan Arthur lakukan.Awalnya Siska hanya merugikan perusahaan, lalu sekarang bibinya sendiri hampir membuat Kian kehilangan bayinya.Benar, seharusnya Kian tidak mengasihani paman dan bibinya, sedangkan mereka saja tidak pernah peduli pada Kian.Arthur menatap Kian yang
“Kian.” Arron langsung berlutut di samping Kian. “Kek, perutku sakit.”Arron panik melihat Kian kesakitan. Apalagi wajah Kian tiba-tiba memucat.“Cepat, bawa Kian ke mobil!” perintah Arron dengan suara lantang.Linda dan Rafka syok melihat Kian kesakitan. Mereka berlari meninggalkan rumah Arron karena takut terkena masalah.Sedangkan Arron tidak memedulikan Linda dan Rafka karena mencemaskan kondisi Kian.Kian segera dibawa masuk ke dalam mobil.“Beritahu Arthur kalau Kian dilarikan ke rumah sakit,” perintah Arron ke pelayan rumah sebelum ikut masuk ke dalam mobil.Kian terus meringis memegangi perutnya. Dia merasakan bayinya terus bergerak, membuat perutnya benar-benar semakin sakit.“Bertahan-bertahan. Kita akan segera sampai di rumah sakit.” Arron panik dan takut terjadi sesuatu pada Kian dan bayinya.Apalagi saat baru saja diangkat dari lantai, Arron melihat noda merah membekas di lantai.Sesampainya di rumah sakit.Kian langsung masuk ke UGD. Dokter dan perawat langsung melaku
Sore hari.Kian duduk di ruang tengah, melihat berita yang menayangkan penurunan saham di perusahaan suaminya.“Jangan melihat berita itu lagi.”Kian terkejut. Dia menoleh dan mendapati Arron sudah berdiri di dekatnya sedang menekan remote televisi.Layar besar di hadapan Kian kini padam, berubah hitam.“Aku hanya mencemaskan Arthur, Kek.” Tatapan Kian menyorot penuh kegelisahan. “Dia pasti sangat sibuk dan tertekan dengan masalah yang terjadi di perusahaan.”Kian menurunkan pandangan, tangannya mengusap perutnya yang besar. “Masalah seperti ini sering terjadi. Harga saham jatuh, rumor buruk beredar. Semua ini sudah biasa dihadapi oleh pelaku bisnis. Jadi, kamu jangan terlalu cemas.”Kian menatap pada Arron yang baru saja selesai bicara.Walau yang Arron katakan benar, tapi tetap saja Kian cemas dan bersalah sudah membawa Siska masuk ke dalam rumah.“Semoga masalah ini bisa segera terselesaikan, Kek.” Kian menatap penuh harap.Arron mengangguk-angguk.Baru saja mereka selesai bicara,
Arthur tak mengatakan ingin mengajak ke mana. Saat mobil mereka memasuki area parkir sebuah mall, mulut Kian terbuka dengan tatapan heran.“Kenapa kamu mengajakku ke sini? Kamu serius mau membelikanku laptop? Memangnya kamu ada uang?”Pertanyaan Kian membuat Arthur menoleh tepat setelah dia memberhe
Arthur duduk di ruang tengah. Satu tangannya memegang ponsel yang kini menyentuh telinga.“Bagaimana?”“Saya sudah mendapatkan informasi detail soal Julian, Tuan.”Tatapan Arthur menajam, dia mendengarkan informasi yang Kendrick sebutkan.Kendrick mengatakan kalau Julian sudah menjalin hubungan den
Suara lantang Kian membuat langkah pria penabrak terhenti. Kian segera mengayunkan langkah menghampiri pria tua yang pernah diselamatkannya di lampu merah waktu ini, kini Kian harus melihat pria tua itu ditabrak sampai jatuh di trotoar, bahkan makanan yang dibawa pria tua itu sampai jatuh.“Kamu j
Di rumah mewah Arron.Napas kasar berulang kali Arron embuskan. Kedua tangannya kini meremat kuat pangkal tongkat yang digenggamnya.“Apa Arthur sudah ada tanda-tanda mengajukan perceraian dengan wanita itu?” Tatapan Arron menajam saat tertuju pada Malvin–asisten pribadinya.Malvin menggeleng pelan







