LOGINKeesokan harinya.Arthur masih di rumah sakit.Dia menemani Kian, memastikan istrinya baik-baik saja.“Arthur, semalaman kamu tidak beristirahat. Kamu pasti capek, apalagi kamu masih harus mengurus perusahaan.” Meski kondisinya sendiri masih lemah, tapi Kian mencemaskan suaminya yang sedang ditimpa banyak masalah.“Bagaimana bisa aku istirahat, jika melihatmu seperti ini?” Tatapan Arthur nanar. “Belum lagi, aku mencemaskan kondisi bayi kita, untung saja Kakek cepat membawamu ke rumah sakit.”Kian juga mencemaskan bayinya. Tapi sekarang bayinya masih bisa dipertahankan, setidaknya sampai usianya cukup matang untuk dilahirkan.“Dia sudah baik-baik saja. Bahkan aku sudah merasakan dia bergerak di dalam sana.”Mendengar ucapan Kian. Arthur segera menyentuh perut Kian.“Benarkah?” Tangan Arthur meraba perut Kian, mencari gerakan yang Kian katakan. “Mana, kenapa aku tidak merasakannya?”Kian tertawa kecil. “Tadi, Arthur. Sekarang mungkin dia sedang tidur.”Arthur mengembuskan napas pelan. D
“Jika aku menemukannya, aku pasti sudah menjebloskannya ke penjara.” Arthur benar-benar tidak bisa menahan dirinya.Kian terdiam. Dia hanya bisa menatap amarah suaminya.“Aku tidak peduli, aku akan menuntut paman dan bibimu juga sepupumu itu, aku tidak bisa lagi mentolerir perbuatan mereka.” Arthur bicara dengan nada tegas tak terbantahkan.Kian mengangguk lemah. Dia akan membiarkan apa yang akan Arthur lakukan.Awalnya Siska hanya merugikan perusahaan, lalu sekarang bibinya sendiri hampir membuat Kian kehilangan bayinya.Benar, seharusnya Kian tidak mengasihani paman dan bibinya, sedangkan mereka saja tidak pernah peduli pada Kian.Arthur menatap Kian yang
“Kian.” Arron langsung berlutut di samping Kian. “Kek, perutku sakit.”Arron panik melihat Kian kesakitan. Apalagi wajah Kian tiba-tiba memucat.“Cepat, bawa Kian ke mobil!” perintah Arron dengan suara lantang.Linda dan Rafka syok melihat Kian kesakitan. Mereka berlari meninggalkan rumah Arron karena takut terkena masalah.Sedangkan Arron tidak memedulikan Linda dan Rafka karena mencemaskan kondisi Kian.Kian segera dibawa masuk ke dalam mobil.“Beritahu Arthur kalau Kian dilarikan ke rumah sakit,” perintah Arron ke pelayan rumah sebelum ikut masuk ke dalam mobil.Kian terus meringis memegangi perutnya. Dia merasakan bayinya terus bergerak, membuat perutnya benar-benar semakin sakit.“Bertahan-bertahan. Kita akan segera sampai di rumah sakit.” Arron panik dan takut terjadi sesuatu pada Kian dan bayinya.Apalagi saat baru saja diangkat dari lantai, Arron melihat noda merah membekas di lantai.Sesampainya di rumah sakit.Kian langsung masuk ke UGD. Dokter dan perawat langsung melaku
Sore hari.Kian duduk di ruang tengah, melihat berita yang menayangkan penurunan saham di perusahaan suaminya.“Jangan melihat berita itu lagi.”Kian terkejut. Dia menoleh dan mendapati Arron sudah berdiri di dekatnya sedang menekan remote televisi.Layar besar di hadapan Kian kini padam, berubah hitam.“Aku hanya mencemaskan Arthur, Kek.” Tatapan Kian menyorot penuh kegelisahan. “Dia pasti sangat sibuk dan tertekan dengan masalah yang terjadi di perusahaan.”Kian menurunkan pandangan, tangannya mengusap perutnya yang besar. “Masalah seperti ini sering terjadi. Harga saham jatuh, rumor buruk beredar. Semua ini sudah biasa dihadapi oleh pelaku bisnis. Jadi, kamu jangan terlalu cemas.”Kian menatap pada Arron yang baru saja selesai bicara.Walau yang Arron katakan benar, tapi tetap saja Kian cemas dan bersalah sudah membawa Siska masuk ke dalam rumah.“Semoga masalah ini bisa segera terselesaikan, Kek.” Kian menatap penuh harap.Arron mengangguk-angguk.Baru saja mereka selesai bicara,
“Rendah hati? Sadar?” Suara Arthur pelan tapi begitu dalam.Matanya menyorot ke satu persatu petinggi perusahaan yang hadir di ruang rapat ini secara bergantian.“Pak Hendra, setelah menikmati semua keuntungan dari HW. Grup di bawah kepemimpinan saya, bagaimana bisa Anda mengatakan kalau saya menjerumuskan orang-orang yang sudah mendukung perusahaan ini berkembang seperti sekarang?” Arthur bicara dengan nada pelan tapi penuh penekanan.Hendra tersenyum tipis.Dia adalah salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan HW. Company.“Kita di sini sama-sama ingin mendapatkan keuntungan, Pak Arthur. Jika tidak, untuk apa kita mengeluarkan uang banyak untuk mendukung bisnis ini?” Tatapan Hendra tajam, tapi bibirnya menipiskan senyum.Arthur tetap tenang, walau ucapan Hendra menekannya.“Perusahaan besar tidak pernah luput dari masalah besar juga, Pak Hendra.” Mata Arthur kini menyorot tajam pada Hendra. “Masalah ini jelas-jelas tidak aku abaikan. Aku langsung bertindak untuk menyelesaikan
Kian menghubungi Linda setelah tak berhasil menghubungi Siska.“Ada apa menghubungiku? Apa sekarang kamu baru ingat pada kami? Jangan bilang kamu menghubungi karena ada butuhnya saja.”Kian tidak menyangka mendengar suara Linda yang terdengar congkak.“Ada butuhnya, bukankah Bibi yang biasanya datang jika ada butuhnya?” Kian menekan emosinya agar tidak meledak.“Kamu, beraninya kamu mengatakan ini pada bibimu? Kamu benar-benar sudah sombong dan dibutakan harta!”Mendengar suara meledak dari seberang panggilan, membuat Kian semakin tersenyum miris.Benar-benar bibinya tidak pernah berubah.“Aku tidak mau membahas hal yang lainnya, aku ingin membahas soal Siska.” Setelah menyebut nama Siska, Kian tak mendengar apa pun dari seberang panggilan.Sampai suara Linda kembali terdengar.“Kenapa? Kamu iri sama Siska, makanya mau bahas dia? Siska nasibnya mujur, memangnya kamu saja yang punya nasib bagus?”Kian menghela napas kasar mendengar ucapan Linda.“Mujur? Bagus? Jadi, itu yang Bibi kira
Daniel terkapar dengan darah segar yang menggenang di lantai setelah Oliver mengambil ponselnya dan meninggalkannya begitu saja.Yang tanpa Oliver tahu, Daniel memiliki ponsel lain yang dia gunakan untuk menyimpan semua bukti-bukti kejahatan Oliver.Dengan napas yang berat dan kesad
Masih dengan pakaian dan tangan berlumuran darah Kian. Arthur pergi ke tempat Julian disekap.Begitu masuk ke sebuah ruangan yang gelap. Tatapan tajam Arthur tertuju pada sosok yang terikat di atas kursi.Perlahan, kakinya melangkah mendekat. Jas yang dipakainya dilepas lantas dilempar serampangan,
Bola mata Arthur membola lebar mendengar ucapan Kian. Namun, sebelum dia mengelak, Kian sudah lebih dulu berkata.“Tenang saja, aku akan menjaga batasan.”Arthur menatap Kian yang tersenyum manis padanya.“Walau sebenarnya, Pak Oliver menawariku menjadi asistennya.”“Apa?” Suara Arthur ketika terk
Kian melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambut tergulung handuk. Langkah Kian terhenti kala tatapannya tertuju pada Arthur yang berdiri di dekat jendela.Punggung lebar, tubuh tegap begitu sempurna, jika ada yang mengatakan kalau Arthur adalah orang kaya, Kian pasti akan percaya karena Arthur







