MasukSetelah Kian tertidur kembali.
Arthur keluar dari kamar.
Tatapannya tertuju pada kedua penjaga yang ditugaskannya.
“Sejak tadi kalian tidak meninggalkan depan kamar sama sekali, lalu kenapa kalian tidak melapor jika Hendra menemui Kian?”
Tatapan Arthur begitu tajam ke
Di HW. Company.Arthur duduk di balik meja dengan tatapan lurus yang tertuju tajam pada layar tablet digital di hadapannya. Jarinya sesekali bergerak mengusap layar, memeriksa langsung postingan video yang tengah menjadi perbincangan panas dan viral di berbagai platform media sosial sejak semalam. Berita buruk mengenai tuduhan kontaminasi produk makanan kemasan dan mie instan milik HW. Company telah menyebar dengan sangat cepat.Kendrick berdiri tegap di depan meja kerja Arthur. Dia terus memperhatikan raut wajah Arthur yang dingin.Kendrick diam menunggu instruksi selanjutnya untuk mengambil tindakan hukum atau merilis klarifikasi resmi.Namun, keheningan di dalam ruangan itu mendadak terpecah saat ponsel di saku jas Kendrick bergetar.Kendrick mengeluarkan benda pipih itu, dia membaca sebuah pesan singkat yang baru saja didapatnya.Mendapati itu pesan dari Ginny, Kendrick maju selangkah lebih dekat dengan tepian meja Arthur.“Tuan Arthur.” Kendrick memanggil pelan. Begitu tatapan
Kian tersentak mendengar kalimat terakhir yang meluncur dari bibir Sienna. Kening Kian berkerut dalam. Genggaman tangannya di jemari Sienna semakin mengerat.“Pergi? Apa maksud ucapanmu itu? Kamu mau pergi ke mana?” Kian memastikan, tatapannya begitu serius menunggu penjelasan Sienna.Sienna memaksakan senyumnya terangkat kecil, meski matanya kembali berkaca-kaca. “Tujuanku kembali ke kota ini sejak awal memang hanya untuk mencari tahu siapa orang tua kandung Kaylan, Kian. Aku tahu keterbatasanku, aku tidak akan bisa memberikan masa depan yang layak untuknya.”Sienna mengembuskan napas pelan, lalu kembali bicara. “Sekarang, karena tujuan itu sudah tercapai dan Kaylan sudah berada di tangan yang tepat, tugasku benar-benar sudah selesai. Aku tidak mau kehadiran atau masa laluku justru mengganggu kebahagiaan keluarga kalian.”“Sienna, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Kamu sama sekali tidak boleh pergi dari rumah ini!” Kian membalas dengan cepat.Kian menatap lekat wajah Sienna. “Sek
Tangis Kian semakin pecah setelah berhasil melepas sesak di dadanya hingga kini begitu lega.Tubuh Kian bergetar hebat sampai Arron harus merangkul pundaknya. Arron mengusap lengan Kian dengan perlahan untuk menenangkan. Meski Arron sendiri tak mampu membendung rasa hangat yang menjalar di dadanya setelah mengetahui siapa cicitnya.“Kaylan benar-benar bayiku, Kek. Dia bayiku yang hilang.” Suara Kian bergetar.Arron mengangguk-angguk. “Kita menemukannya.”Sienna menatap penuh rasa bersalah. Air matanya ikut luruh melihat tangis Kian yang membuat seluruh tubuhnya ikut bergetar.Sienna benar-benar tidak menyangka bahwa wanita baik hati yang selama ini menolongnya adalah ibu kandung dari bayi yang dia selamatkan lima tahun lalu.Mungkin, inilah yang dinamakan takdir.Dengan tubuh gemetar, Sienna bangkit dari duduknya lalu berlutut di lantai marmer, tepat di dekat kaki Kian.“Kian ... maafkan aku. Demi Tuhan, maafkan aku.” Suara Sienna terisak, dia menatap Kian yang kini memandangnya. “Aku
Arron sangat terkejut mendengar rengekan Kian. Sampai tatapan Arron kini tertuju pada Sienna.Arron menatap Sienna yang diam dan seperti ingin menangis.Arron melihat Kian yang sudah tidak bisa bersikap tenang, sehingga kini Arron yang berusaha menengahi. “Sienna, apa Kaylan benar-benar anak kandungmu? Aku harap kamu jujur, Sienna.” Meski nada suaranya pelan, tapi terselip penekanan di setiap katanya.Sienna menatap pada Arron, air matanya menetes begitu saja saat melihat tatapan penuh harap dari Arron.Sienna meremas jemarinya, ada kilat ketakutan yang menyorot dari matanya.“Soal ini … bisakah kalian mendengarkan penjelasanku?” Setelah bicara, tiba-tiba Sienna menjatuhkan lutut di marmer.Kian dan Arron terkejut melihat sikap Sienna, sampai Sienna kembali bicara.“Aku memang bukan ibu kandungnya. Tapi aku juga tidak tahu siapa orang tua Kaylan. Kumohon kalian percayalah padaku, aku tidak pernah berniat jahat. Aku sudah sangat berusaha selama ini menjaganya. Aku mohon.” Sienna mencen
Sienna dan Kian melangkah keluar dari kamar. Lalu Kian menutup pintu dengan pelan agar tidak mengganggu Kaylan istirahat.Begitu keduanya sudah ada di depan kamar Kaylan, tatapan Kian langsung tertuju pada Sienna. Sorot matanya tak bisa lagi menyembunyikan kegelisahan dan rasa penasaran yang sedang menguasai hatinya.Kian menatap pada Sienna yang tampak bingung karena ajakannya.Kian lebih dulu menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan.“Sienna, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, tapi aku harap kamu bisa jujur padaku.” Suara Kian sedikit tertahan. Napasnya seperti mau meledak di dadanya.Melihat perubahan sikap Kian yang biasanya tenang dan lembut menjadi sedikit agresif, Sienna mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Kian.Kian mencoba tenang, lalu dia mulai bertanya, “Sienna, aku ingin tanya soal tanda lahir di lengan kiri Kaylan. Apa tanda kemerahan agak ungu itu memang bawaan sejak dia lahir?”Sienna terkejut. Dia melihat tatapan emosional dari sorot mata Kian set
Tatapan Kian masih tak teralihkan dari lengan Kaylan.Tanda kemerahan sedikit ungu, tak menggoyahkan tatapan Kian sama sekali.Dada Kian berdesir hebat, jantungnya berdegup kencang hingga menimbulkan rasa sesak yang menyesakkan rongga dadanya. Mata Kian tiba-tiba berkaca-kaca, panas dan basah mengaburkan pandangannya.Ingatan Kian ditarik paksa, mundur ke lima tahun lalu.Kian teringat pada bayangan bayi mungilnya yang hilang tanpa jejak, bayi yang memiliki tanda lahir yang persis sama di tempat yang sama seperti milik Kaylan.“Kay ....” Suara Kian bergetar. Dia menahan napasnya sejenak. “Bibi boleh tanya sesuatu? Apa ... apa sejak kecil Kaylan sudah punya tanda lahir berwarna merah di lengan kiri ini?” Tatapan Kian kini tertuju pada wajah Kaylan, matanya menyorot penuh harap.Kaylan melirik ke lengannya. Namun, tepat di saat Kaylan hendak menjawab pertanyaan itu, terdengar suara pintu terbuka yang mengalihkan pandangan Kaylan dan Kian.Sienna melangkah masuk ke dalam kamar dengan n
Kian melajukan mobil lebih cepat untuk bisa segera sampai di perusahaan, setelah mendapat panggilan dari Ginny.Begitu tiba di perusahaan, Kian langsung naik ke lantai atas menuju ruangannya dan Kian melangkah keluar dari dalam lift begitu pintunya terbuka di lantai yang ditujunya.Ginny sudah mena
Kedua pundak Kaylan bergedik mendengar suara Kian.Dia berdiri perlahan, lalu membalikkan tubuhnya ke arah Kian. Tapi pandangannya terus diturunkan.Kaylan tidak berani menatap pada Kian.“Nyonya, maaf. Aku tidak sengaja merusakan mainan itu.” Telunjuk Kaylan terarah ke mobil-mobilan yang pintunya
Senyum Arthur terangkat sempurna.Bibir istrinya memang sangat manis saat bicara.“Apa yang harus kulakukan padamu, hm? Kamu senang sekali membuatku panik, kalang kabut, sampai kebingungan karena cemburu.” Tatapan Arthur begitu dalam pada Kian. “Apa aku harus menghukummu?”Arthur menundukkan kepala
Arthur tersentak mendengar apa yang sang kakek katakan.Dia menatap kakeknya yang bicara sangat serius. Arthur diam sejenak, lalu pandangannya kembali tertuju ke arah Kaylan dan Kian.Andai Kaylan tidak memiliki ibu, sudah pasti Arthur akan percaya kalau Kaylan mungkin saja putranya.Tapi, Arthur in







